Share

Mulai Bekerja

Aidan menatap ponsel mahalnya yang terjatuh dan kini sudah retak. Ia melihat gadis ceroboh yang menabraknya.

“Kamu!”

Aila yang menyadari kesalahannya hanya bisa menunduk takut dan berulang kali meminta maaf.

“Memangnya dengan minta maaf ponselku bisa kembali seperti semula? Selain hutang budi, kamu juga hutang uang kepadaku. Kamu harus membayar ponsel yang baru aku beli kemarin ini dengan potong gaji,” ucap Aidan kesal. Entah, bertemu gadis ini ia merasa ketiban sial.

“Bagaimana bisa potong gaji, Pak? Aku sendiri baru melamar kerja di sini sesuai perintah Bapak yang menyuruhku untuk melamar,” jawabnya ragu.

“Pak Amin, tolong antar gadis ini kebagian HRD, bilang ke Pak Wijaya suruh nempatkan gadis ini di bagian cleaning servis atau office girl. Dengan hanya lulusan SMA, hanya pekerjaan itu yang cocok, apalagi dia melamar tidak  menyertakan berkas lamaran,” ucapnya disertai ejekan, bahkan Aidan memutar bolanya malas melihat gadis itu.

Kalau tidak untuk menghormati permintaan Pak Samsi, sopir keluarga yang sudah bekerja lama sebelum dirinya lahir itu pun ia tidak akan sudi berurusan dengan Aila. Semalam Pak Samsi memohon dengan sangat pada Aidan supaya mau membantu Aila, mulai dari mengurus dua preman, memberikan kartu nama, dan juga sekarang memberi pekerjaan.

Aidan berlalu pergi meninggalkan Aila bersama satpam yang tertulis di name tagnya bernama Amir.

“Mari, Mbak. Saya antar. Pak Aidan biasanya keras dan tegas, apalagi Mbaknya sudah menghancurkan ponsel barunya. Beruntung Mbak Cuma kena marah sebentar, bahkan memberi pekerjaan pada Mbak dengan rekomendasi dari beliau secara langsung,” ucap Pak Amir yang berjalan bersisian dengan Aila.

“Begitu, ya, Pak. Maaf, saya benar-benar tidak sengaja. Saya sangat ceroboh,” ucapnya lirih.

“Kerja di sini harus hati-hati. Pak Aidan itu orangnya perfect. Dia enggak akan mentolerir kesalahan yang memang benar-benar disengaja atau hal yang menyangkut kepentingan perusahaan,” ucap satpam itu lagi.

“Insyaallah saya akan lebih berhati-hati. Terima kasih, Pak sudah memberi informasi,” ucap Aila sopan.

Keluar dari lift mereka berdua menuju ruang HRD. Di sana mereka sudah disambut seorang laki-laki yang berusia kisaran empat puluh lima tahunan bernama Wijaya.

Pak Amir segera menjelaskan apa yang diucapkan Aidan tadi. Pak Wijaya tersenyum tipis mengangguk karena selain mendengar dari Pak Amir, Aidan sudah meneleponnya terlebih dahulu.

“Berhubung kamu tidak menyerahkan berkas lamaran, tolong serahkan kartu identitasmu supaya saya bisa memasukkan nama lengkap, alamat, dan data kamu yang lain,” ucap Pak Wijaya.

Aila pun menyerahkan kartu identitasnya pada laki-laki itu. “Baiklah, kamu bisa mulai bekerja hari ini. Saya akan menelepon Bu Laras, selaku kepala bagian cleaning servis, OG dan OB. Beliau akan menjelaskan tugasmu,” ucap laki-laki itu. Aila mengangguk sopan sembari tersenyum senang.

Ingin rasanya berteriak kegirangan, tetapi ia tahan. Ia bersyukur bisa bekerja di perusahaan besar ini, meskipun hanya sebagai cleaning servis atau office girl.

Selama ini Aila sudah melamar di beberapa perusahaan untuk posisi cleaning servis dan office girl, tetapi tidak kunjung mendapatkan. Ternyata sekarang malah mendapatkannya di perusahaan terbesar di kotanya, bahkan tanpa menyertakan berkas lamaran. Lebih bersyukur lagi pemilik perusahaan sendiri yang merekomendasikan.

“Terima kasih Pak Aidan, aku sudah berhutang banyak padamu. Pak Aidan itu dingin, datar, cuek, juga menyebalkan, tapi baik kok,” gumamnya.

“Ehm.” Deheman seseorang membuyarkan lamunan Aila. Di hadapannya sudah ada sosok  wanita berusia kisaran empat puluh tahunan berdiri tidak jauh darinya, sedangkan Satpam bernama Amir tadi sudah tidak ada.

“Belum bekerja sudah melamun,” cibir wanita itu dengan tatapan tajam dan tegas. Aila hanya tersenyum tipis merasa sungkan.

“Baiklah kamu ikut ke ruangan saya sekarang juga!” ajak wanita itu.

“Pak Wijaya saya permisi,” pamit wanita yang diyakini Aila bernama Laras itu.

Sesampainya di ruangan wanita itu menyuruhnya untuk duduk. “Namamu siapa?” tanya wanita itu.

“Saya Aila, Bu.” Aila menjawabnya  dengan sopan.

“Tugasmu adalah sebagai office girl merangkap juga cleaning servis. Tugasmu membersihkan ruangan  di lantai paling atas. Tahu lantai paling atas?” tanya wanita itu.

Aila menggeleng. “Lantai paling atas adalah lantai di mana tempat CEO, direktur utama, sekretaris, manajer, dan staf-staf penting. Kamu harus bekerja dengan baik melayani mereka,” ucapnya.

“O iya, namaku Laraswati, kamu bisa panggil aku Bu Laras,” ucapnya memperkenalkan diri.

“Baik, Bu. Saya akan berusaha memberi pelayanan terbaik.” Aila tersenyum mantap.

“Ya, sudah seharusnya begitu. Setiap hari, kamu harus menyiapkan minuman terlebih dulu ke ruangan CEO sebelum membersihkan ruangannya dan ruangan yang lain. Kamu harus datang lebih awal, usahakan sebelum beliau datang,” ucap Bu Laras kembali menjelaskan.

“Baik, Bu.”

“Bekerjalah mulai sekarang. Di sana sudah ada dua orang sebagai timmu. Kamu bisa bertanya pada mereka kalau ada yang belum kamu pahami. Mari aku antar!” ajak Bu Laras.

Bu Laras memperkenalkan Aila pada Widya dan Agus sebagai timnya. Aila senang, mereka merespons baik kehadirannya. Bu Laras segera meninggalkan mereka bertiga setelah menjelaskan semuanya.

Setelah mengobrol sebentar dan saling mengenal, mereka melanjutkan pekerjaan. Agus berusia empat tahun lebih tua dari Aila, sedangkan Widya lebih tua dua tahun darinya.

“Ai, tolong kamu antar ini ke ruangan Mbak Sandra, ya. Beliau sekretaris CEO,” pinta Agus menyerahkan cangkir berisi teh hijau.

“Baiklah, Kak.”

Dengan langkah riang, Aila menuju ruang sekretaris. Namun, tiba-tiba ada seorang wanita yang buru-buru keluar dari pintu lift menabraknya.

Bruk!

Teh hijau itu tumpah mengenai pakaian wanita itu. Tatapan tajam Aila dapatkan dari wanita cantik nan sexy itu, membuat bulu kuduk Aila berdiri.

DMCA.com Protection Status