Share

BAB 43

Alana.

Hari ini aku membuat janji dengan seseorang yang akan membeli rumah lamaku dan Mas Wildan. Dari kemarin Handi sudah beberapa kali menelpon menanyakan kapan dan di mana aku bisa bertemu dengan orang itu. Namun entah mengapa aku selalu menundanya. Bukan karena belum mau menjual rumah itu, tapi aku enggan untuk menghubungi Mas Wildan untuk mengabarinya. Meskipun Mas Wildan sudah mengatakan menyerahkan rumah itu padaku, tapi rasanya tak etis jika rumah itu berpindah tangan begitu saja tanpa kukabarkan padanya. Apalagi bisa saja masih ada barang-barang Mas Wildan di rumah itu.

Ponselku berdering. Aku yakin itu pasti Handi yang menelpon, karena tak ada yang tau nomor baruku selain Nafisa, Handi dan keluargaku di Bandung.

[Mbak, siang ini jadi kan ketemu di Jingga?] tanya Handi.

[Mbak usahakan ya. Ndi.]

[Kalau bisa jangan ditunda-tunda lagi, Mbak. Saya jadi nggak enak sama orangnya, takutnya dikira saya nipu.]

[Iya, maaf ya, Ndi. Beberapa hari ini Mbak kurang enak badan. Pokoknya Mbak
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status