Share

Bab 56

"Cahaya! Kenapa secepat ini kamu pergi, Nak?"

"Bangun, Sayang. Ini Nenek datang untukmu, huhuhu ...!"

Aku tersenyum masam melihat aktris-aktris yang tengah beradu akting di sana.

Pantas saja Mawar pandai sekali bersandiwara, karena ibunya pun sama. Di depan semua orang yang datang memberikan ucapan belasungkawa, mereka menangis seolah-olah merasa sangat kehilangan.

Di sini, aku hanya jadi penonton mereka seraya duduk bersandar pada tembok. Air mataku sudah hilang. Kering dan tak lagi turun seperti di rumah sakit tadi.

Bukan karena aku sudah tidak sedih, tapi diri ini sedang berdamai dengan takdir. Belajar merelakan meskipun teramat berat.

"Bunda ...."

Aku menoleh ke samping di mana Shanum duduk di pangkuan ayahnya.

Sejak datang bersama Ibu dan Bapak, anak itu tak mau jauh dari Mas Sandi. Sesekali dia mengusap kepala kakaknya yang tertutup kain kafan.

"Apa, Nak?" tanyaku.

"Kakak, kok tidak bangun-bangun, ya Bunda ...."

Aku memaksakan tersenyum, tapi enggan untuk menjawab.

Tub
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status