Share

Menikahi Bos Arogan
Menikahi Bos Arogan
Penulis: AIRENN

PART 1

“Pokoknya, aku harus bersembunyi saat ini juga. Tidak, lucu ‘kan kalau anak buah papa menemukanku. Memangnya sekarang masih zaman Siti Nurbaya yang dijodoh-jodohkan segala,” gumam Devano di dalam mobilnya yang baru saja pulang dari klub tempat nongkrongnya bersama teman-temannya.

Devano Yudhistira, laki-laki berusia 28 tahun itu anak seorang pengusaha ternama di negeri ini. Karena menolak perjodohan dengan Rianti, Devano lebih memilih kabur daripada bersanding dengan perempuan licik bak ular berbisa itu.

Kali ini, Devano tidak bisa berkutik lagi saat sebuah mobil sedan hitam melaju ke depan menghalangi jalannya. Anak buah papanya saat ini tengah mengepungnya dari arah depan dan belakang. Sehingga tidak ada cara lain bagi Devano menyerah. Kecuali, jalan satu-satunya adalah lari dari sana.

“Shit!” Devano membanting keras pintu mobil, lalu kabur dari kejaran mereka. Ditengah padatnya lalu lintas sore itu membuat sebagian jalanan macet karena aksi mereka yang berhenti di tengah jalan membuat pegendara lain protes. Terpaksa, anak buah dari Yudihistira menyingkirkan mobil mereka ke pinggir jalan. Sebagian sudah mengejar Devano.

“Apa yang kalian tunggu? Cepat cari, tuan muda!” titah salah satu anak buah Yudhistira yang  berdiri menatap mobil yang sudah berpindah tempat. Tanpa menunggu lama, mereka kembali berpencar menyusuri jalanan mencari keberadaan Devano

Devano melihat beberapa anak buah papanya itu semakin dekat mengejar dirinya. Dia lekas kabur agar tidak terlihat oleh mereka. Sampai terjebak di tengah gank buntu, Devano tidak tahu harus ke mana. Karena terdesak oleh keadaan dan tidak bisa berpikir jernih, terpaksa Devano melompati pagar setinggi dua meter yang ada di samping kanannya.

Brukkk!!!

Devano berhasil lompat pagar. Dia lekas bangun tidak mempedulikan badannya sedikit memar dan terluka. Melihat keadaan sekitar yang sepi. Ia melihat sebuah pintu kontrakan yang terbuka. Tanpa ragu dia langsung masuk ke dalam sana.

Sementara itu, seorang gadis yang tengah berbaring di atas lantai beralaskan karpet terbuat dari anyaman daun pandang terlelap begitu saja. Dia tidak menyadari keberadaan orang asing yang masuk ke dalam kamar kosannya. Karena saking lelahnya, Hani langsung saja merebahkan tubuhnya ke atas karpet usai melepas dua kancing bajunya setelah pulang kerja.

Sementara itu, Devano masuk ke kosan tersebut dengan mengendap-ngendap. Perlahan tangannya menutup pintu. Walau tidak terlalu rapat. Mengintip dari balik jendela memperhatikan jalanan di luar. Apakah anak buah papanya itu mengejar sampai ke sini.

Merasa aman, Devano lekas berbalik menelisik ruangan berukuran tiga kali empat meter yang dia masuki. Lalu bergumam “Apakah ini yang namanya kos-kosan,” gumamnya. Tidak sampai disitu, kedua netranya menangkap seorang gadis yang sedang tidur di atas lantai. Lantas, dia pun mendekat memperhatikan gadis tersebut.

Di sisi lain, pemilik kosan baru saja keluar dari kamar sebelah. Kebetulan melewati kamar Hani. Melihat pintu kamar Hani yang terbuka, dia pun ingin memastikan apakah pemiliknya ada di dalam atau tidak. Pasalnya sudah dua hari ini Hani lembur dan pulang jam sepuluh malam. Pasalnya, ibu kosan khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Perlahan ibu kos mendorong pintu kamar Hani dan betapa terkejutnya saat ia melihat seorang laki-laki sedang duduk di samping Hani. “Astagfirullah! Apa yang kalian berdua lakukan di dalam kamar?!” tanya ibu kos terkejut sembari membuka pintu kosan Hani lebar.

Hani yang terkejut mendengar suara ibu kos, langsung tiba-tiba bangun tanpa mengancing bajunya kembali. Ia pun terkejut, saat melihat seorang laki-laki asing di sampingnya.

Suara ibu kos yang menggelegar membuat penghuni kos yang lain turut berdatangan masuk ke dalam kamar Hani melihat situasi yang terjadi. Mereka terkejut saat melihat laki-laki tampan duduk di samping Hani.

 “Wah, Bu mereka berdua telah berbuat zina di dalam kamar kos ini. Ini tidak bisa dibiarin! Bisa-bisa penghuni kamar lain juga ikut-ikutan berbuat zina!” tuduh penghuni kamar lain memandang sinis ke arah Hani.

“Iya, Bu, benar! Peraturan kos harus ditegakkan agar tidak terjadi kejadian serupa pada penghuni kamar kos lainnya.” Imbuh yang lain.

“Iya, Bu, benar itu! Kami, tidak ingin nama kami ikut tercemar dengan Zina yang mereka lakukan,” timpal yang lain memandang rendah Hani.

Devano hanya diam saja melihat mereka mengoceh satu per satu. Laki-laki itu sepertinya tidak terpengaruh dengan omongan mereka sejak tadi. Yang dia pikirkan hanya satu, yakni menghindar dari papanya untuk sementara waktu.

Hani yang tidak tahan mendengar ocehan dan tuduhan dari teman kosnya merasa emosi tidak terima. Lantas, ia langsung berteriak.

“Cukup!” Bisa tidak kalian mencari bukti terlebih dahulu. Jangan langsung menuduh sembarangan!” tantang Hani berkalut emosi.

“Kami tidak perlu bukti lagi. Karena penampilan kalian sudah menjadi bukti bagi kami!” tantang penghuni kamar yang lain memandang sinis ke arah Hani.

Kamar kos yang mereka tempati diperuntukkan khusus kos perempuan. Kebetulan, ibu kos dan suaminya seorang yang sangat patuh dan menghargai adat dan agama. Oleh karena itu, dia pun lantas angkat suara menghentikan perdebatan yang terjadi saat ini.

“Sudah. Sudah. Cukup! Masalah ini kita langsung selesaikan saja. Bagaimanapun, kalian berdua tunggu di sini sampai suami saya datang!” titah ibu kos memandang Hani dan Devano secara bergantian.

“Kalian juga. kembali ke kamar kalian masing-masing!” perintah ibu kos menatap penghuni kamar kosan lainnya.

Awal keberadaan Hani menjadi penghuni kamar kos di sini tidak mendapat sambutan hangat dari rekan lainnya. Entah, apa yang membuat mereka sampai tidak menyukai Hani. Hanya ibu kos yang berbaik hati kepada Hani. Bahkan, Hani dianggap seperti anak sendiri. Tetapi, melihat Hani berduaan dengan seorang laki-laki membuat ibu kos, kecewa kepada Hani.

Tidak berselang lama, seorang laki-laki paruh baya datang bersama seorang pemuka agama. Setelah mendengar penjelasan dari ibu kos secara terperinci dan juga tidak ada penolakan dari Devano, akhirnya mereka sepakat mengambil kesimpulan menikahkan Hani dan Devano saat itu juga.

“Tunggu dulu, Pak, Bu. Bisa dengar penjelasan kami berdua dulu?” Harap Hani dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena dia tidak bisa menikah begitu saja.” Kami berdua  tidak melakukan apa—apa. Lagian, saya sama sekali tidak mengenal laki-laki ini. Mengenai keberadaannya di dalam kamar kos saya, itu juga saya tidak ta-“

“Sudah cukup! Kamu tidak perlu mengelak lagi. Karena apa yang saya lihat, itulah yang sebenarnya terjadi!” Ibu kos sudah tidak menerima lagi penjelasan.

“Saya, tidak bisa menarik kata-kataku kembali. Sebab, yang kutakutkan anak-anak penghuni kos lainnya akan mengikuti jejakmu. Sebelum itu terjadi, lebih baik saya turun tangan pada masalahmu!” lanjut ibu kos bertubuh besar itu menatap hani dengan tatapan bengis. Hani menelan salivanya melihat raut wajah marah ibu kos di hadapannya. Bagi hani tidak ada gunanya lagi untuk mengelak.

Sementara itu Devano memanfaat siatuasi ini agar terbebas dari perjodohan yang direncakan papanya. Dengan lantang ia pun berkata,” Saya, pacar Hani, Bu. Tidak maslaah kami melakukan pernikahan ini. Lagian, saya sangat mencintai Hani dan tidak ingin kehilangannya,” dusta Devano menatap Hani sembari meraih tangan gadis itu. Ia sengaja berkata tersebut agar bisa meyakinkan orang tua yang ada di hadapannya.

Pengakuan Devano yang tiba-tiba membuat Hani tidak habis pikir dengan jalan pikiran laki-laki tersebut. Ia terkejut saat Devano berkata mereka sepasang kekasih.

“Laki-laki ini bohong, Bu. Saya tidak pernah mengenal laki-laki ini. Dan saya pun tidak tahu kenapa dia bisa masuk ke dalam kamar saya secara tiba-tiba.” Hani melirik sinis kepada Devano. “Ibu ‘kan tahu kalau saya tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun,” protes Hani berharap ibu kos membatalkan rencana pernikahannya.

Meraih tangan Hani, lagi-lagi Devano pun membuka suara. “Sayang, kamu kok gitu, sih tidak mengakui hubungan kita. Jadi selama ini, kamu anggap apa semua perhatian dan kasih sayang yang kuberikan padamu?” Devano menatap lekat kedua manik hitam Hani.

“Apa kau hanya menganggap yang kita lewati selama ini hanya angin lalu saja?,” tanya Devano dengan raut wajah kecewa. Devano berakting dengan sungguh-sungguh layaknya seorang artis papan atas.

Pengakuan macam apa ini, aku saja tidak pernah mengenal laki-laki gila ini. Bertemu dengannya sekalipun tidak. Lalu kenapa dia bisa muncul tiba-tiba di dalam kamarku dan mengaku sebagai pacar, sih!” batin Hani. Ia memandang dengan penuh amarah kepada Devano.

 “Itu tidak benar, Bu. Semua yang dikatakannya bohong. Saya ti-“ perkataan Hani terhenti saat ibu kos menaikkan satu tangan.

 “Cukup, Hani. Saya tidak mau mendengar omonganmu lagi. Mau atau tidak, kamu harus menikah saat ini juga. Saya tidak mau kosan ini menjadi tempat perzinahan. Apalagi semua bukti sudah jelas. Jadi, apa kau masih mau mengelak?!” ibu kos menatap Hani kecewa.

Hani tidak bisa berkutik lagi. Tanpa pikir panjang keduanya langsung dinikahkan saat itu juga oleh seorang ustaz.

“Saat ini, kalian berdua sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Walau secara agama, tetap saja kalian sudah mengikrar janji di depan Tuhan,” ujar pemuka agama di hadapan mereka berdua. Disaksikan oleh ibu pemilik kos beserta suaminya.

Sebelum beranjak keluar dari kamar Hani, ibu kos kembali berkata. “Sekarang, kalian sudah bebas melakukan apa saja, tanpa ada yang menegur. Bukannya mengusir, tapi desakan dari penghuni kamar lain yang tidak menginginkan keberadaan kamu di sini yang sudah berbuat ulah, saya tidak bisa berbuat apa-apa,” ucap pemilik kos sembari berlalu.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status