Share

05. Perjanjian

Matahari telah berada tepat di atas ubun-ubun, menyinari kota kecil bernama kota Biru. Di siang hari yang panas itu, Akara berjalan dengan muka yang murung dan sorot matanya begitu sayu. Orang-orang yang sedang berlalu-lalang sontak terkejut melihatnya, mereka kemudian saling berbisik.

"Bukankah anak itu yang kemarin tidak mampu memadatkan aura ranahnya?"

"Benar, tadi juga menantang tuan muda keluarga Beton,"

"Keluarga beton!?" serunya, tidak mampu menutupi keterkejutannya. Suaranya cukup keras, hingga terdengar di telinga Akara.

Sorot mata yang tadinya sayu, seketika berubah menjadi tajam saat melihat orang-orang yang membicarakannya.

"Hei, dia dengar!" bisik orang di sampingnya dengan sedikit berteriak.

Para warga yang membicarakan Akara langsung berpura-pura tidak tau dan memalingkan wajahnya, mereka kembali beraktivitas seperti biasanya.

Setelah itu Akara kembali berjalan, namun tidak lama kemudian ada yang membicarakannya lagi.

"Dia sudah dipukuli oleh tuan muda Cor Beton, padahal dia sendiri yang menantangnya,"

"Kasihan sekali, dosa apa yang ia perbuat di masa lalu, sampai tidak bisa memadatkan aura energi,"

Akara yang mendengarnya dari kejauhan, mulai meraih pegangan pedang di pundaknya. Akan tetapi, ia teringat kembali persyaratan yang diajukan oleh gadis bertopeng kepadanya.

"Baiklah," jawab sang gadis sambil berdiri tegap kembali, membuat ekspresi wajah Akara berubah 180 derajat.

"Benarkah!?" serunya dengan begitu gembira.

"Akan aku berikan sebuah teknik latihan ranah, namun dengan syarat,"

"Apa syaratnya!? Akan aku lakukan!" Akara sontak kegirangan dan tanpa pikir panjang mengiyakan, sebelum gadis itu memberikan syaratnya.

"Dalam satu minggu ini, jangan sampai ada luka sedikitpun di tubuhmu. Kalaupun kamu bertengkar, harus menang tanpa ada luka,"

"Satu minggu!? Itu terlalu lama!" teriak Akara sampai-sampai terlihat ingin menangis.

"Kalau tidak mau yaudah." Gadis itu menggoda Akara, dengan mengeluarkan dua buah gulungan kertas, lalu digoyang-goyangkan.

"Aku lakukan!" teriak Akara tanpa basa-basi dan langsung berjalan pergi.

"Mau ke mana?" Gadis itu tiba-tiba berada di depan Akara dan menghalanginya untuk pergi.

"Pulang!" seru Akara, kemudian berjalan menghindarinya.

Saat Akara melewatinya, tiba-tiba gadis itu berbalik dan meraih pedang di punggung Akara.

"Apa yang kau lakukan!?" Akara sontak berbalik dan menerjang untuk mengambil kembali pedangnya.

Gadis tadi menghindar hanya dengan satu lompatan kecil ke belakang, namun menyebabkan tubuhnya melayang. Dia terlihat seakan lebih ringan dari bulu yang tertiup angin. Gaun merah mudanya berayun bebas saat angin menerpanya dari belakang, begitu juga rambut hitamnya yang terkadang sampai menutupi topengnya.

"Cewek jelek, kembalikan!" teriak Akara, berusaha berlari mengejarnya.

"Kalau tidak mau memanggilku cantik, panggil pakai namaku!" Ia mencopot topengnya perlahan, memperlihatkan wajah cantiknya, sambil tetap melayang ke belakang.

"Namaku Lisa!" lanjutnya sambil menunjuk ke arah alis, kini bibir manisnya tersenyum lebar hingga membuat matanya menyipit.

"Lisa jelek!" teriak Akara, namun gadis itu hanya tersenyum, lalu memasang kembali topengnya dan melayang membelakangi Akara.

"Kejar aku!" Lisa melayang ke arah lebatnya pepohonan di hutan, menjauh dari sungai, membawa kabur pedang kayu milik anak kecil itu.

"Berhenti! Kembalikan!"

"Awas kepala." Lisa menarik ranting pohon, lalu melepaskannya hingga terhempas ke arah Akara.

Plakk!!

Seperti tamparan keras, ranting pohon tadi mengenai wajah anak kecil itu hingga hampir terjatuh.

"Awas kau!" Akara terus berlari, walau wajahnya ada bekas memerah seperti distempel oleh ranting pohon.

"Wajahmu terluka lho, masih ingat perjanjian kita tadi?" Lisa berbalik badan dan menggoda Akara.

"Itu ulahmu!" teriak Akara membuat Lisa tertawa puas.

Gadis itu masih dalam keadaan terbang mundur, hingga tidak memperhatikan bahwa ada ranting pohon di arahnya terbang.

"Perhatikan depan!" Akara berteriak panik dan mempercepat larinya.

"Ada apa?" Lisa dengan santainya berbalik badan, namun ranting pohon sudah tepat di depannya.

Brukkk!!

Akara tersungkur ke tanah karena melompat ingin menolong Lisa, namun ternyata gadis itu sudah berhenti tepat di depan ranting. Wajahnya hanya berjarak beberapa centimeter saja dari ranting, lalu beberapa saat kemudian ia turun.

"Sakit?" Lisa cukup khawatir, dapat dilihat dari caranya mengulurkan tangan kepada Akara.

"Kamu tidak apa-apa?" Akara berbalik badan, memperlihatkan luka lebam di dagunya karena terbentur tanah.

"Hahaha, kamu yang jatuh kenapa malah bertanya kepadaku?" Lisa kini terbang mengitari anak kecil yang sedang duduk di rerumputan, memperhatikan luka di tubuhnya.

"Kamu bilang wajah itu aset yang berharga? Berhati-hatilah, jangan sampai melukai wajahmu," ucap Akara dengan tenang, membalikkan kata-kata yang sebelumnya Lisa katakan kepadanya.

"Hahaha, pintar bicara." Lisa terbang semakin tinggi, hingga mencapai ranting yang sebelumnya hampir ia tabrak dan duduk di sana.

"Sudah tidak ingin mengambil ini kah?" Lisa menunjukkan kedua pedang kayu milik Akara, lalu digoyang-goyangkan lagi.

Akara tidak menjawabnya, kemudian berdiri dan berusaha memanjat pohon. Pada kesempatan pertamanya, ia langsung terjatuh dan membuat Lisa menertawakannya. Akara terus mencoba memanjat hingga beberapa kali terjatuh, namun akhirnya berhasil. Walaupun begitu, ia langsung kaget ketika Lisa sudah tidak ada di sana.

"Lambat." Lisa menjulurkan lidahnya, ia sudah terbang menjauh meninggalkan Akara.

"Licik!" Akara bergegas turun, hingga membuatnya merosot dan lengannya terparut oleh kulit pohon.

Anak kecil itu terus mengejarnya, bahkan sampai terperosok ke dalam lubang dan dilempari sarang lebah oleh Lisa. Gadis cantik itu terus mengusilinya dan tertawa jika berhasil mengenai Akara.

Saat matahari sudah tepat berada di atad ubun-ubun, Akara keluar dari hutan dan muncul di pinggir sungai. Di sana sudah ada Lisa yang tadi meninggalkannya. Kondisi Akara saat ini sudah sangat berantakan, tubuh serta pakaiannya kotor, lalu luka di lengannya dan benjolan di muka akibat sengatan lebah. Wajah Akara terlihat lucu, karena pipi dan bibirnya yang membengkak, membuat Lisa tak kuasa menahan tawanya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status