Share

6. Pelampiasan Hasrat

         "Argh!" 

          Fayre berteriak saat sebuah benda tumpul menyeruak masuk. Mahkota yang dia jaga baik-baik terenggut sudah. Bukan dengan orang yang dicintai, bukan oleh sang suami melainkan lelaki asing yang baru dia temui. Fayre merelakan kesucian miliknya bujan tanpa alasan, semua hal tersebut diperbuat dengan tekanan rasa sakit hati dan frustrasi. Air bening meleleh dari sudut mata.

          "Tahan sebentar, Sayang. Akan kubuat kau melayang. Awal memang sakit, tetapi itu akan membaik setelahnya. Akan kubuat pengalaman pertamamu ini berkesan," kata Aliando. Dia mengecup bibir Fayre, kedua tangannya menjeremba tubuh mulus itu.

         Aliando begitu menikmati setiap inci lekuk indah Fayre, sempurna tanpa celah baginya. Terlebih keperawanan yang dia renggut dengan sangat kejam. Tanpa ampun Aliando menghujamkan miliknya, bukan tiada hati hanya saja Aliando tidak lagi mampu menolak hasrat yang meminta ingin dituntaskan.

        'Ini sangat sempit sekali,' bisik Aliando mulai menggerakkan tubuhnya. "Kau cantik, Sayang," pujinya.

           Kata-kata manis terlontar dari bibir sensual Aliando sangat berarti bagi Fayre. Entah lelaki itu berbual atau tidak Fayre sendiri tidak peduli. Rasa sakit perlahan memudar tergantikan rasa melayang, berwarna ibarat pelangi sulit untuk dideskripsikan. Perasaan Fayre melambung terlalu tinggi, teriakan serta erangan saling menuntut bergema berulang kali. Entah berapa kali Aliando menyetubuhinya setelah pelepasan pertama. 

        Tubuh sexynya terguncang-gucang tanpa aturan. Seolah Aliando ingin menghisap adalah kumbang yang hinggap pada putik bunga, menghisap sari madu hingga luruh. Rasa sakit Fayre telah tergantikan menjadi rasa haus. Tidak lagi memikirkan hal lain, Aliando begitu sempurna membuat keindahan juga rasa nyaman baginya.

         "Akan aku gantikan suamimu untuk menghamili. Akan aku pastikan benihku tumbuh dalam rahim milikmu," tegas Aliando mengakhiri permainan.

         Napas keduanya tersengal, peluh membasahi tubuh pertempuran panas itu berakhir. Aliando ambruk di samping Fayre, lelaki itu kemudian menarik tubuh sang gadis yang telah berubah menjadi wanita seutuhnya itu dalam pelukan.

        "Kau menyesal?" tanya Aliando.

        "Sudah berapa kali Paman menanyakan itu?" keluh Fayre. Menyesal, bagi Fayre rasa itu entahlah bagaimana.

         "Fay, ceraikan suamimu dan hidup bersamaku. Aku pastikan mengganti kepedihanmu dengan bahagia atas rasa sakit yang suamimu torehkan," bisik Aliando, lelaki itu memeluk tubuh Fayre dari belakang.

          Fayre tertawa kecil, "Sudah kita sepakati dari awal. Jika esok hari tiba di antara kita tidak akan ada lagi hubungan Paman Al," jawab Fayre.

          Aliando menarik mesra Fayre agara menghadap ke arahnya. "Kau yakin?" tanya lelaki tersebut dengan satu alis terangkat.

          "Aku merasa bukan seperti diriku hari ini," jawab Fayre ragu.

          "Kau menyesal memberikan kesucianmu padaku, Sayang?" 

          Fayre menatap lurus ke arah bola mata Aliando, terasa teduh dan merasa nyaman. "Aku tidak pernah menyesali segala sesuatu yang telah kuperbuat, hanya saja aku tidak ingin lagi dibodohi sesuatu yang mengusik di sini." Fayre menyentuh dada miliknya. 

         Sesak mengingat betapa bodohnya dia dalam mencintai hingga jatuh kekubangan lumpur. Tidak menyesal, entahlah Fayre tidak tahu apa dia akan menyesalinya esok hari. Satu hal pasti, cinta itu menyakitkan, seperti ada tembok besar nan kokoh berdiri menjulang untuk kembali percaya pada perasaan dan seorang lelaki. 

          Aliando tidak lagi mengoceh, mata gelap tajamnya tertutup. Ah, secepat itu seorang lelaki tidur usai melampiaskan hasratnya. Fayre pelan melepas pelukan tangan berotot itu. Untuk kesekian kali dia memperhatikan lekuk tubuh Aliando yang sempurna. Dia tersenyum kecut, meraba sebentar bagian dada bidang Aliando. 

          "Lelaki itu membombardir hingga sulit bergerak," keluh Fayre.

         Gadis yang telah menjadi seorang wanita seutuhnya itu meringis saat beringsut menjauh dari Aliando. Terasa sedikit sakit pada bagian selangkangan. Mata Fayre melebar ketika tangan Aliando kembali manarik tubuhnya. Dalam balutan selimut kedua kulit tubuh nan lengket berkeringat kembali bertemu.

           "Jangan berpikir untuk menjauh apalagi menghindar Fayre. Atau kau mau aku membombardir dirimu lagi," sindir Aliando dengan mata terpejam.

         'Astaga, lelaki ini tidak tidur ternyata,' keluh Fayre dalam benak. Mau tidak mau dia diam di tempat takut bergerak. Rasa tegang dalam diri perlahan terkalahkan oleh kantuk. Sayup angin membawa Fayre memejamkan mata.

Bersambung….

@lovely_karra

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status