Share

Bab 2. Penyesalan

Berta memandangi anaknya dalam diam. Di ambang pintu dia berdiri dengan mata yang masih merah dan sembab, kepalanya terasa berat, dan napasnya putus-putus. Tak terkira rasa sesal, rasa bersalah, dan marah yang bersemayam dalam hati. Tubuh Wira yang ringkih mengiris hati Berta setiap kali melihatnya. Kurus kering dan semakin lemah dari hari ke hari.

Kemoterapi yang dijalani dan beragam obat yang harus ditelan, tidak cukup memperbaiki kondisi Wira atau setidaknya bertahan agar tidak memburuk. Pengobatan menggunakan layanan kesehatan dari pemerintah, harus Berta terima dan lakukan mengingat dirinya tak punya uang untuk mengobati Wira dengan pengobatan canggih.

Setumpuk obat dokter di atas kursi dekat kasurnya akan segera habis. Tersisa untuk nanti malam dan besok pagi setelah sarapan, sebelum kembali ke rumah sakit untuk jadwal kemoterapi. 

Berta menarik napas dalam-dalam lantas menutup pintu perlahan. Masih di pintu kamar, Berta berdiri diam dengan pikiran buntu. Matanya tak sengaja melirik ponsel di dekat figura, yang baru dia ingat bahwa tadi dia tidak membawa ponsel.

Hari menjelang sore di pukul empat, waktunya Berta mengurus Wira. Menyiapkan makanan sehat dan memandikannya. Berta memulainya dengan makanan Wira dan melakukannya dengan cepat. Dia kembali ke kamar dan membangunkan Wira.

“Waktunya mandi, Wira.” 

Berta menepuk pelan dada Wira. Dada yang dulu padat berisi, kini tulangnya menonjol di balik kulitnya yang pucat dan keriput. Wira tidur karena efek obat tidur yang diminum. Laki-laki itu tidak tidur semalam karena menahan rasa sakit. Saat dia membuka mata, ibunya mengusap lengannya sangat pelan.

"Mami dari mana?" 

Berta enggan untuk menjawab. Sesak setiap kali harus mengingat dan menyebut tentang ayahnya. Namun, suara Wira yang samar dan lemah menusuk hatinya agar tidak mengabaikan. Wira hanya butuh tahu dan tidak lebih dari itu.

"Dari rumah kakek," sahutnya bersuara sedikit parau.

Wira tidak suka mendengarnya. Berkali-kali dia melarang ibunya menemui kakeknya setiap kali pria tua itu meminta ibunya datang. Akhir dari petemuan itu selalu berakhir dengan pencemoohan. Pria tua itu tak menganggapnya ada, maka Wira juga tak menganggap kakeknya pernah ada.

Pelan-pelan Wira bangun, sekuat tenaga mengupayakan di tengah rasa kantuk yang masih dirasakan. Dia keluar kamar ke kamar mandi yang berada di dapur. Berta memapahnya dengan sabar dan telaten seperti hari-hari sebelumnya.

"Mami jangan datang lagi ke sana."

Berta tidak menanggapi karena sudah ke sekian kali dia mendengarnya. Dia juga tak sudi memijakkan kakinya di rumah itu. Rumah yang seharusnya menjadi tempatnya berteduh dan bertempat tinggal. Rumah yang seharusnya menjadi miliknya karena warisan. Namun, keserakahan ayahnya membuatnya tersingkir dengan begitu mudah.  

Wira melepas baju kaos biru gelap. Baju yang dulu terlihat bagus ketika dia pakai, sekarang menjadi longgar karena kurus badannya yang signifikan. Kulit cokelat terangnya tak cukup mampu menutupi tonjolan tulang rusuk dan bahu. Tampilannya tak kurang dari lelaki berumur tiga puluhan. Berta keluar dan menutup pintu. Dia duduk menunggu di kursi makan sembari berpikir mencari uang tambahan.

Pekerjaannya sebagai penjual tas imitasi dan pakaian secara online, tidak cukup memenuhi kebutuhannya sehari-hari ditambah Wira yang harus berobat. Tidak sedikit uang yang harus Berta keluarkan untuk membeli obat yang tidak ditanggung pemerintah atau tersedia di apotek yang ditunjuk. Satu hal yang pasti, Berta harus angkat kaki dari kota tempatnya tinggal.

Andai Berta bisa, maka dia akan berteriak pada orang-orang yang mencemooh dan mengucilkan dia dan anaknya. Berta terasing di lingkungan tempat tinggalnya, bahkan sempat diusir saat mereka tahu Wira adalah seorang mantan pelaku homoseksual.

Tiga tahun bertempat tinggal di sana, tahun kedua adalah yang tersulit untuknya. Menghadapi hantaman hukuman sosial, ditambah Wira yang mulai sakit-sakitan, mental Berta dari segala sisi benar-benar diuji. Sebagai manusia, Berta tidak berbohong bahwa dirinya tidak sanggup lagi menghadapi masalah seorang diri. Sebagai ibu, dia dituntut harus kuat demi Wira yang membutuhkannya lebih dari ketika Wira kecil. Sebagai anak, Berta tak berhenti dihadang sang ayah yang dia sendiri tidak mengerti apa yang ayahnya inginkan darinya.

"Mami, maaf."

Berta terkesiap ketika suara Wira mengalun. Dia melihat Wira sudah berdiri di pintu kamar mandi mengenakan handuk. Lebih dari kata yang ada di dunia, Berta merasa perih setiap kali matanya melihat kondisi tubuh sang anak. Wira menyadari ibunya kepayahan akan dirinya yang tak berguna.

"Wira nyusahin, Mami," lanjutnya sambil berjalan pelan-pelan.

Berta bangun dan membantunya berjalan. Mereka kembali ke kamar tanpa tanggapan apa pun dari perempuan itu. Berta mengurus anaknya dengan cepat lantas mengambil handuk dan keluar kamar. Gilirannya sekarang untuk mandi dan mencuci pakaian setelahnya. Dia yang sebelumnya hidup cukup dan memiliki mesin cuci, sekarang harus menggunakan tangan untuk mencuci kain.

Di kamar mandi, Berta kembali termenung. Memikirkan ke mana dan uang dari mana untuk keluar dari kota tempatnya tinggal. Dia harus pergi agar hidupnya tenang dan sehat. Butuh waktu untuk menjual rumah kecilnya dan beberapa perabot yang mungkin bisa laku terjual. Berta harus memutus hubungan dengan ayahnya secara total. Tak ada lagi yang perlu dipertahankan. Wira sudah cukup baginya dan dia akan mengupayakan segala jalan demi membuat anaknya tetap hidup.

"Kamu mau makan?"

Berta melihat anaknya sudah di meja kecil setelah membuka pintu kamar mandi. Meja kayu tinggi yang dijadikan meja makan sejak dua tahun silam. Segelas air yang sudah diteguk sebagian dan dua mangkuk berisi ikan dan sayur, serta beberapa potong tempe di piring kecil. Sederhana –sangat sederhana kehidupan Berta dua tahun belakangan. Berta bahkan bisa dikategorikan hidup miskin dengan statusnya yang terlahir dari orang yang cukup berada. 

"Nggak, Wira cuma mau duduk aja. Bosan di kamar terus," sahutnya dengan lirikan sayu. "Mami jangan lagi datang ke sana. Dia nggak pernah peduli sama kita."

Berta tertegun sebentar sebelum menuju ke kamarnya. Tak lama berselang dia keluar usai berpakaian dan menyisir rambut. "Kita harus pergi dari sini."

"Kenapa?"

Berta membuka sebagian pintu dapur, agar ruangan sedikit terang karena sinar matahari dan sejuk karena angin sepoi. Dia menarik kursi di hadapan Wira.

"Mami mau kita hidup tenang di tempat lain, di tempat orang bisa menerima kita —"

"Maafin Wira, Mi." 

Wira kemudian menyentuh tangan Berta. Mereka tak lagi berkata selama beberapa menit ke depan, kecuali saling menggenggam. 

"Pindah ke mana, Mi?"

Berta menggeleng. "Mami harus kumpulin uang dulu sambilan nunggu rumah ini laku dijual."

Wira tertegun memandangi ibunya. Pindah dengan menjual rumah artinya tidak kembali ke tempat asal. Menjual rumah juga bukan perkara mudah. 

Wira melihat setiap sisi rumahnya yang sangat sederhana. Dia tidak ingat pasti berapa kali mereka pindah rumah sejak kecil. Yang dia ingat rumahnya yang sekarang adalah rumah kesembilan. 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status