Share

Bab 9. Beban

"Nggak mungkin pekerjakan orang tua. Itu pasti ada kesalahan saat lowongannya diposting," kata satpam mulai gerah, "lagian ini hotel bintang empat, Buk."

Berta menggeleng. Andai benar ada kesalahan, tentu mereka sudah merevisi iklan di media sosial. Nyatanya hingga hari terakhir lowongan dibuka, iklan itu masih seperti yang Berta baca. Kembali lagi ke rumah untuk persiapkan berkas juga tidak mungkin. Selain waktu yang mepet, uang yang menipis, Berta juga harus persiapkan pas foto sebagai salah satu syarat. Artinya, dia tidak punya uang lagi untuk semua itu.

"Coba Ibu ke rumah-rumah di komplek perumahan kaya, mungkin mereka ada yang butuh."

Bukan ide buruk saran yang dilontarkan satpam. Namun, Berta tidak mungkin melakukan itu. Perumahan elit lumayan menguras ongkos dan waktu pergi dan pulang. Jarak hotel tidak terlalu jauh dan bisa dicapai dengan ongkos yang murah.

Satpam meninggalkan Berta yang berdiri di teras hotel. Petugas itu menyambut tamu yang baru tiba, membukakan pintu mobil yang baru saja berhenti. Berta masuk ke lobby menemui resepsionis –menanyakan hal serupa dan jawaban yang sama.

"Tolong, Dek, bisa dilihat dulu ini postingannya. Nggak ada batas umurnya yang tercantum di sini," kata Berta bermimik dan bersuara memelas.

"Maaf, Buk, lowongan itu untuk usia maksimum 32 tahun. Memang ada kesalahan di sana dan kami nggak bisa memperbaikinya waktu kesalahan itu diketahui."

Bukan alasan yang masuk akal untuk bisa dierima akal sehat. Pandangan resepsionis tidak menghargai Berta sebagai tamu yang datang, karena keperluan pekerjaan apalagi berpenampilan yang tidak modis. Petugas resepsionis mengabaikan Berta hingga tersenyum ramah pada tamu yang memesan kamar.

Otak Berta dipaksa bekerja cepat mencari keputusan. Seperti menggenggam bom waktu yang siap meledak kapan saja. Waktu. Masalah Berta adalah waktu. Mungkin masih panjang untuk dihitung mundur dari senja, tetapi sangat pendek jika ditarik untuk merunutkan semua hal yang terkait.

Salah satunya adalah Wira. Dia tidak bisa ditinggalkan lebih lama dengan kesendirian di rumah. Tak ada yang menolongnya andai dia jatuh pingsan.

Lobby yang sejuk dan sofa empuk yang tidak sepenuhnya terisi, menggerakkan kaki Berta untuk ke sana. Menggerutu karena kecerobohan tidak akan mengubah keadaan. Mungkin akan ada yang berhati malaikat memberinya bantuan andai tadi Berta membawa ijazah. Koran yang tergantung di rak kayu menarik perhatian Berta. Dia mengambilnya lantas duduk di dekat lelaki tua gemuk dan buncit.

Halaman demi halaman dibuka, dibaca dengan teliti setiap tulisan yang mungkin mengiklankan pekerjaan tanpa batas umur. Napas Berta terembus kasar setelah tak menemukan lowongan apa pun untuknya. Dia melihat lagi ke lobby yang lengang, lantas ke samping dan lelaki itu masih dengan majalahnya dengan celana pendek berkantong. Lelaki tua yang jelek dan terlihat jelas seorang bandot tua.

Berta meletakkan koran di meja dan memilih pulang. Sepanjang jalan saran satpam hotel terngiang di kepala. Ada secercah harapan karena peluang besar mendapatkan uang dari bekerja di rumah elit. Lagi-lagi Berta terbentur jam kerja yang tidak pasti.

"Mi, gimana kalau kita buka binatu?"

Ide itu muncul ketika Wira sedang menjelajah internet mencari informasi yang mungkin berguna. Ketika matanya melihat iklan laundry, ide tersebut melintas di benak Wira. Dia menoleh pada Berta yang baru saja duduk meluruskan kaki usai menjemur pakaian.

Membuka jasa binatu bukan ide buruk tetapi mengingat kondisi Wira, Berta menganggap itu menjadi ide buruk. Ditambah modal yang harus dikeluarkan untuk perlengkapan, sementara kondisi keuangan Berta sudah sangat kritis. Berta justru terpikir untuk bekerja di laundry atau binatu daripada membuka usaha yang membutuhkan modal besar.

Berta akhirnya bersuara setelah tercenung beberapa lama. "Gimana caranya?"

"Kita bisa tawarin ke orang-orang Wira bisa promosiin di medsos untuk sekitaran yang sekota dengan kita."

Berta mengembus napas. "Kalau orang komplek sini 'kan udah pada tahu gimana kamu."

Wira terkesiap dan terpaku sekejap sebelum menggeser duduknya menghadap Berta. Ucapan Berta melukai relung hatinya, meski dia tahu mungkin Berta tak sengaja berucap. Wira sadar keberadaan dirinya menjadi penghalang sang ibu mengais rezeki. Kondisi kesehatannya juga berpengaruh jauh lebih besar. Andai Wira hanya mengidap Leukimia mungkin akan sangat mudah bagi mereka mencari rezeki. Namun, Wira justru mengidap penyakit menular lainnya.

"Kita bisa cari pelanggan dari luar komplek di internet," ucap Wira bergetar. Dia menahan gejolak tangis karena goresan lidah sang ibu.

"Wir, Mami pikir-pikir lebih baik Mami cari kerja daripada buka jasa setrikaan. Mami nggak punya lagi uang buat modal. Apalagi sekarang tukang gosok udah satu paket di tempat laundryan. Apa masih ada orang yang mau cuma menggosok kain aja?"

"Kalau kita buka laundry harus punya mesin cuci, sedangkan mesinnya udah dijual. Mami nggak mungkin nyuci pake tangan, dan kita juga harus punya tempat buat jemur kain dan bikin jemurannya. Modalnya malah jadi lebih besar daripada binatu."

Berta tertegun sekilas kemudian menoleh dengan kening mengerut. "Maksud kamu laundry rumahan?"

"Iya, dan kita bisa buka binatu di rumah. Modalnya nggak gede dech, Mi. Kan, nggak sewa tempat apalagi toko. Cuma perlu plastik yang gede aja," paparnya, jeda sebentar menarik napas kemudian melanjutkan, "Kalau laundry modalnya terlalu besar dan repot."

Berta menggeleng. "Masalahnya bukan cuma itu, Wir."

"Lantas apa, Mi?"

Berta bernapas dalam-dalam sebelum menjawab, "Mami kuatir bisa menular karena hepatitis kamu golongan C."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status