Share

Putri Kecil Sang CEO
Putri Kecil Sang CEO
Penulis: momonlittlemonster

1. Kesha Ellena

Suara air mendidih bercampur dengan suara rengekan anak kecil menambah keributan di pagi hari. Seorang gadis dengan rambut digelung ke atas sibuk berlarian kesana-kemari. Ia adalah Kesha Ellena atau yang akrab disapa Key dan baru saja genap berusia 24 tahun pada tahun ini. Tangan kirinya memegang botol susu dan tangan kanannya sibuk mengaduk sayur di dalam panci.

“MAMIIIII!” Rengekkan anak perempuan itu berubah menjadi jeritan. Key segera mematikan kompor lalu menghampiri sumber suara tersebut.

“Anak mami jangan rewel ya, ini susu kamu.” Key mencubit pipi gadis kecil yang baru saja terbangun dari tidurnya seraya memberikan botol susu yang sedari tadi sudah ia pegang. Itu adalah anaknya, Eugene Miguella.

“Key, sudah biar mami saja yang mengurus Eugene kamu siap-siap kerja dulu.” Suara seorang wanita paruh baya itu hampir tidak terdengar karena Eugene yang terus merengek. Key menoleh menatap ibunya dan mengucapkan terima kasih.

Eugene memang selalu merengek setiap bangun tidur dan alasannya selalu berbeda-beda. Entah itu mimpi buruk, lapar, atau bahkan yang paling konyol karena ketika terbangun ia bukan berada di cerita dalam mimpinya. Hal ini sontak saja membuat Key dan ibunya kebingungan untuk mengatasi Eugene.

Setelah menyerahkan Eugene ke ibunya, Key segera mengganti pakaiannya dan bersiap-siap ke kantor. Hari ini merupakan hari terakhir ia ke kantor, sebulan yang lalu ia mendapatkan pemberitahuan kalau ia mendapat promosi dan akan bekerja di kantor pusat. Key sangat senang. Itu artinya ia bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anaknya Eugene dan ibunya.

“Aku pergi dulu ya mi, bye bye Eugene!” Key berpamitan lalu mencubit pipi tembem Eugene. Anaknya sudah duduk di meja makan dan makan sereal kesukaannya. Key memang sudah mengeluarkan Eugene dari taman kanak-kanak karena minggu depan mereka sudah berangkat ke kota jadi untuk sementara Eugene mendapatkan libur.

Key duduk di kursi bus. Gadis itu melamun. Ia senang mendapat promosi dan bisa bekerja di kantor pusat tapi masalahnya adalah lokasi kantor pusat berada di kota kelahirannya. Kota tempat ia dibesarkan dan kota itu jugalah yang memberikan kenangan pahit dalam hidupnya.

Pikirannya melayang ke kejadian 6 tahun yang lalu. Saat tiba-tiba ia terbangun tanpa busana di kamar seorang pria yang sangat ia kenal. Pria itu adalah Darren. Lelaki yang usianya 2 tahun lebih tua dari dirinya. Key mengenal Darren dari acara seni di sekolahnya dan mulai saat itu Darren sering muncul di hadapannya sekadar untuk mengganggu.

Key sama sekali tidak mengingat kejadian tersebut dan langsung meninggalkan Darren di kamar itu. Setelah kejadian itu Key tidak pernah lagi melihat Darren sampai dua bulan kemudian gadis itu sadar bahwa dirinya hamil.

Kejadian itu masih membekas di ingatan dan hati Key. Ia ingat betul dirinya yang begitu ketakutan saat itu. Key sudah mencoba mencari Darren melalui teman-temannya namun pria itu tidak pernah muncul lagi. Setelah hampir satu bulan mencari Darren tanpa hasil, Key menyerah dan menceritakan hal ini pada ibunya.

Mulai saat itu kehidupan Key hancur. Ia mulai menjadi bahan omongan orang-orang disekitarnya karena perut yang mulai membuncit. Seolah tidak sampai disitu saja penderitaannya, salah satu teman sekolah Key yang kebetulan tinggal di sekitar rumahnya menyebarkan hal tersebut di grup angkatan. Ia sempat terpukul dan ingin bunuh diri karena terlalu malu dengan gunjingan masyarakat tapi untungnya sang ibu selalu ada di sisi Key dan meyakinkan Key bahwa anak itu adalah anugerah. 

Berkat bantuan ibunya, Key mulai bisa mendapatkan jati dirinya kembali. Ia mulai bisa menerima kehamilannya dan mulai mendaftarkan diri di berbagai lembaga pendidikan daring. Setelah melahirkan Eugene, Key mulai berkuliah jurusan bisnis dan berhasil mendapatkan gelar sarjana dengan predikat cumlaude.

Oleh karena itu Key tidak pernah menyesal melahirkan Eugene. Berkat Eugene dirinya yang dulu hanya gadis tanpa keahlian apapun bisa menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun dan  menjadi tulang punggung keluarga dengan penghasilan bulanan yang mencukupi.

Key mengusap air mata yang mengalir tanpa sadar. Ia berdiri di dekat pintu keluar bus saat menyadari tujuannya sudah dekat. Gadis itu menyemangati dirinya. Kota itu luas, tidak mungkin semudah itu ia akan bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya.

~

“Mami, Gene mau beli mainan.” Key menoleh ke arah Eugene yang duduk di sofa. Key menghampiri anaknya lalu mensejajarkan tubuhnya dengan Eugene.

“Eugene mau beli mainan apa?”

“Mau boneka besar mami!” Eugene menjawab dengan semangat.

“Nanti setelah kita sampai di kota mami belikan ya.” Key mengelus kepala anaknya. Awalnya Eugene terus menangis karena tidak mau pindah ke kota. Alasannya tentu saja khas anak kecil yaitu tidak mau berpisah dengan teman-temannya. Setelah 3 hari key mulai menemukan cara untuk membujuk Eugene. Ia mengatakan akan membawa Eugene ke toko mainan dan gadis kecilnya itu boleh memilih mainan apapun yang ia mau.

Setelah Eugene menjadi lebih tenang Key kembali merapikan barang-barang bersama ibunya. Besok pagi jasa pindahan akan membawa barang-barang mereka dan mereka harus menyelesaikan packing hari ini juga.

Key memasukkan baju-baju milik Eugene ke dalam koper besar. Beberapa barang penting seperti pakaian dan kebutuhan lainnya akan mereka bawa sendiri menggunakan kereta saat pindahan nanti. Key sibuk menghitung berapa banyak baju yang harus ia bawa karena jasa pindahan baru akan tiba sekitar 5 hari setelah mereka tiba di kota.

“Mami aku mau bobo.” Eugene membuka pintu kamar Key lalu memeluk Key.

“Udah ngantuk ya? Mami buatkan susu dulu ya. Eugene tidur dulu di kasur ya.” Gadis itu itu mengangguk dan langsung melompat ke tempat tidur. 

Key keluar dari kamar tidur menuju dapur untuk membuatkan Eugene susu formula. Anaknya itu memang memiliki kebiasaan harus minum susu sebelum tidur dan tentunya Key juga harus menemaninya hingga Eugene benar-benar terlelap.

Memikirkan hal tersebut membuat Key tersenyum kecil. Dirinya masih tidak menyangka akan menjadi ibu secepat ini. Namun jika ada orang bertanya apakah ia menyesal melahirkan Eugene, Key akan dengan mantap menjawab tidak. Ia begitu mencintai malaikat kecilnya sampai jika dirinya bisa mengulang waktu ia juga akan mengulangi kesalahan yang sama agar tetap dapat bertemu dengan Eugene.

Key tidak bodoh, hanya saja dirinya sangat mensyukuri kehadiran Eugene yang dapat mengubah dirinya dari anak mami yang malas menjadi seorang ibu yang luar biasa sekaligus menjadi tulang punggung keluarga. Key sangat menyukai kehidupan yang ia jalani kini dan bahkan jika tidak ada yang mengingatkannya dirinya juga tidak akan mengingat Darren.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status