Share

5. Pembicaraan Pertama

Darren mendengus kesal saat lagi-lagi tidak berhasil menemui Key. Sudah seminggu sejak kejadian dirinya menyapa Key di lobby dan sejak saat itu Key seperti menghilang dari pandangannya. 

“Darren!” Suara yang sangat tidak disukai Darren menggema di seluruh ruang kerja. Mood Darren yang sudah hancur belakangan ini semakin hancur dengan kedatangan Anna.

“Masih sibuk? Aku sudah booking tempat untuk fitting gaun pernikahan kita.” Hampir saja Darren tersedak ludahnya sendiri mendengar perkataan Anna.

“Siapa yang mengatakan kita akan menikah?” Pertanyaan dingin Darren membuat senyuman Anna hilang.

“Itu, orang tua kita sudah sepakat, bahkan mereka sudah menentukan tanggal.” Rahang Darren mengeras mendengar jawaban Anna.

“Batalkan.”

“Tidak bisa Darren, semua sudah dijadwalkan.”

“Batalkan.” Ulang Darren.

“Baiklah aku akan menghubungi pihak butik untuk mengatur jadwal ulang.”

“Batalkan semuanya Anna.”

“Pernikahannya maksudmu? Kalau itu kita harus mendiskusikannya kembali dengan orang tua kita. Aku sendiri tidak mungkin bisa membatalkan hal tersebut, lagi pula aku juga tidak mau membatalkannya. Kau tahu kan aku–”

“Batalkan!” Darren meninggikan suaranya memotong pembicaraan Anna. Anna yang terkejut langsung buru-buru berdiri.

“Aku tidak mau mendengar apapun lagi tentang pernikahan kita.” Anna hanya mengangguk sambil berusaha menahan air matanya. Dalam sekejap, Anna sudah menghilang dari pandangan Darren. 

Darren mencari ponselnya saat pintu ruangan sudah tertutup rapat. Ia tidak bisa menerima keputusan sepihak ini. Berkali-kali pria itu menghubungi nomor ibunya tetapi tidak ada jawaban seolah hal ini memang sudah direncanakan. 

Ibunya tidak mau menerima penolakan Darren dalam bentuk apapun itu.

Kesal. Darren kesal bukan main. Matanya bahkan memerah. Untuk kedua kalinya selama dirinya menjabat sebagai presdir di perusahaan ini, Darren melempar semua barang yang ada di depan matanya membuat ruangan yang bersih dan rapi itu menjadi seperti kapal pecah. Masih dalam kondisi kalut, Darren menelpon Lucas meminta pria itu memanggil Key ke ruangannya.

~

Key memasuki ruangan Darren lalu terkejut saat melihat isinya. Pria itu berdiri menghadap kaca besar, memperhatikan suasana kota. Key sedikit meringis melihat tangan Darren yang mengucurkan darah.

“Permisi pak,” Darren menoleh menatap Key dalam. Key terdiam. Bingung harus bereaksi apa.

“Key…” Darren mendesis lalu langsung berlari memeluk Key. Key yang terkejut berusaha memberontak melepaskan diri dari pelukkan Darren. 

“Lepas!” Seru Key tertahan akibat rasa sesak dari pelukkan Darren,

“Kita perlu bicara.”

“Lepaskan!”

“Aku akan lepaskan kalau kamu setuju untuk berbicara denganku.” Key menggeram kesal mendengar ucapan egois Darren. Tenaganya sudah habis untuk melawan dan nafasnya juga mulai tersengal-sengal akibat pelukan Darren yang sangat erat.

“Baik, lepaskan dan kita akan bicara.” Tepat setelah Key mengatakan itu, Darren langsung melonggarkan pelukannya. Pria itu menatap Key lama.

“Aku minta maaf Key.” Bagai tersambar petir di siang bolong Key terkejut dengan permintaan maaf Darren. Merasa tidak mendapat respon dari Key, Darren mencengkram pergelangan tangan Key membuat tangan Key ikut berlumuran darah dari lukanya.

“Kita obati dulu lukamu.” Tidak tahu harus merespon permintaan maaf Darren dengan apa, Key memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. Gadis itu melepaskan cengkraman Darren dan membuka satu persatu lemari yang ada disana untuk mencari kotak obat.

“Duduk dulu.” Key mengatakan itu dengan nada suara rendah. Gadis itu membuka kotak obat yang ditemukannya dan mulai mengambil kapas alkohol untuk membersihkan luka Darren.

“Key, ini bukan luka besar, aku hanya butuh kita bicara serius.” Darren enggan memberikan tangannya yang terluka untuk diobati.

“Kita bicara sekarang, dan pembicaraan selesai saat aku selesai mengobati tanganmu.” Darren langsung memberikan tangannya yang terluka untuk diobati.

“Bagaimana kabarmu selama ini?” Darren bingung harus mulai berbicara dari mana sehingga pria itu memulainya dari pertanyaan basa basi.

“Seperti yang kamu lihat, aku baik.”

“Apa kau ada kesulitan sejauh ini?”

“Hidupku memang sulit tidak seperti tuan muda Hamilton” Key menjawab dengan sarkas.

“Kamu kemana saja selama ini?” Key menghentikan gerakkan tangannya yang sedang membersihkan luka Darren dengan kapas alkohol.

“Kurasa kamu tidak perlu tahu.” 

“Aku mencarimu selama ini, Key.” Seolah tidak peduli dengan perkataan Darren Key terus mengobati tangan Darren.

“Apa yang ingin kau bicarakan sebenarnya?” Tidak tahan dengan arah pembicaraan Darren yang terkesan tidak penting, Key mulai mendesak pria itu. Jujur saja Key malas mendengar pertanyaan basa-basi tidak berguna dari Darren.

“Aku, aku minta maaf telah memperkosamu. Aku akan mengganti rugi semuanya. Kamu bisa katakan apa saja yang kamu inginkan dan aku akan memenuhinya. Tapi aku mohon jangan berpura-pura tidak mengenalku dan menghindar dariku. Aku benar-benar ingin memulai semuanya dari awal.”

Key terkejut dengan perkataan Darren. Gadis itu tidak mau menjawab dan malah mempercepat gerakkan tangannya yang sedang mengoleskan obat. Key tidak habis pikir dirinya dianggap apa oleh Darren? Setelah menghilang pria itu dengan mudah mengatakan mencarinya selama ini dan mengatakan ingin ganti rugi. Sialan.

“Aku rasa pembicaraan kita cukup sampai disini.” Key mengatakan itu tepat setelah merekatkan perban di luka Darren. Pria itu tidak bisa berkata apapun saat melihat Key berjalan keluar dari ruangannya.

Darren menatap perban di tangannya dengan tatapan nanar. Sekelebat bayangan masa lalu kembali menghampiri dirinya. Saat Key yang masih bersekolah mengobati tangannya yang terluka akibat jatuh dari motor. Itulah momen dimana dirinya pertama kali mengenal Key dan langsung jatuh cinta pada gadis itu.

Tanpa ia sangka matanya mulai berair. Darren tidak berusaha meredam tangisannya. Pria itu membiarkan dirinya larut dalam duka yang mendalam akibat ulahnya sendiri. Tubuhnya mulai bergetar hebat. Pikirannya sudah buntu, harus seperti apalagi agar Key bisa memaafkannya?

Darren tersenyum getir sesaat setelah memikirkan dirinya berusaha mendapatkan maaf Key. Seolah tertampar dan tersadarkan oleh kenyataan, Darren langsung menyadari bahwa tidak mungkin Key akan memaafkannya setelah apa yang ia lakukan pada gadis polos itu.

Tawa Darren mulai menggema di seluruh ruangan saat ia memikirkan Key akan kembali padanya. Tanpa ia melakukan kesalahan saja Key enggan bersamanya, apalagi setelah semua hal yang ia lakukan pada Key?

Miris. Darren hanya menertawai nasibnya. Cinta pertama yang tak pernah bisa tercapai oleh dirinya. Key yang tidak pernah bisa ia dapatkan selama ini, apakah masih ada sedikit saja celah di hati gadis itu untuk dirinya jika ia terus berusaha?

Hari ini dihabiskan Darren dengan menangis dan terdiam di dalam ruang kerjanya. Pria itu benar-benar sudah tidak memiliki tenaga untuk bangkit. Pikirannya kacau, terlebih reaksi Key benar-benar membuat dirinya terpukul bahkan setelah Darren berminggu-minggu menyiapkan diri pukulan batin itu terasa sangat kuat. 

Darren hanyalah seorang pria biasa yang bisa terluka dan menjadi lemah di depan wanita pujaannya.

DMCA.com Protection Status