Katalog
168 chapters
Count Invit
Tanka merengek seperti anak kecil agar bisa ikut denganku.    Rengekannya membuatku pusing. Bagaimana tidak, dia berteriak di telingaku meminta agar  dia bisa ikut.    “Ajak saja Tanka, Tuan Akion.”   Wajah Tanka berubah senang, Levian membelanya. Wajahnya menggambarkan bahwa dia mendapatkan sekutu yang mendukung keinginannya.   “Bukankah Tanka lebih baik tinggal di sini dan menjaga harta ini?”   “Ayolah Tuan Akion, gunung Berk sendiri pun, tidak akan bisa dimasuki oleh sembarang orang.” Wajah Tanka cemberut.    “Aku sudah terkurung di sini selama empat ratus  tahun. Aku ka
Baca selengkapnya
Hadiah Yang Tidak Bisa Kau Lupakan
“Tuan Akion, ada urusan apa ke sini?” Levian sedikit merasa terganggu dengan orang-orang berbaju putih yang memandangi kami dengan penasaran.    “Bisakah kami ke perpustakaan kuil?” tanyaku lembut kepada seorang pendeta pria yang berpapasan dengan kami.    “Y-ya, tentu ....” Dia sedikit terbata. Namun menjelaskan kepadaku dimana letak perpustakaan dengan baik.    “Bolehkah saya tahu siapa Tuan?” tanyanya.    “Aku Akion Naal Sanktessy.” Matanya sedikit membulat, dia terlihat kaget sebentar. Lalu menyentuh dahinya sedetik.    “Maafkan saya jika bersikap lancang sebelumnya.“   Baca selengkapnya
Permintaan dan Transaksi
Aku sedang memakan sarapanku di cafe terkenal, di Invit. Di Bumi dulu, anak muda suka sekali mengobrol dan menikmati waktu sambil  untuk eksplorasi makanan.    Aku pun juga sama, menikmati makan pagi dengan menu baru yang ada di Invit. Aku memesan menu bernama Atlantic cod fillet and poached lobster, dan itu sangat enak. Ikan yang lembut dan segar membuat mulutku begitu berair, dan lobster yang kaya rasa sungguh membuatku terbang.    “Hmm ....”   Tanpa sadar aku mengeluarkan suara karna saking enaknya. Tanka dan levian memperhatikanku yang tampak seperti bocah, “Apakah begitu enaknya, Tuan Akion?"   Aku mengangguk. Selama datang di dunia ini, aku tidak pernah memakan hasil laut, hasil laut termasuk la
Baca selengkapnya
Istirahat Hanya untuk Orang Pemalas
Aku tersenyum tipis akan tawaran itu, tapi aku belum menyetujuinya. Itu hanya ucapan terima kasih menurutku. Dan inilah namanya berbisnis.    Kantong jubahku bergerak, aku tahu Tanka pasti terbangun sekarang. Pembicaraan ini lebih menarik.    “Berikan aku setengah dari sahammu.” Aku tersenyum. Senyumanku disambut dengan wajah masam dari Verion. Ekspresi baru yang kulihat dari diwajahnya.    “Ayah, itu terlalu berlebihan.” Verion berbisik di telinga kanan ayahnya, tapi ayahnya mengangkat tangan menghentikan semua perkataannya.    “Baiklah. Jika anda bisa membawa anakku,.    Aku melirik Verion.    Baca selengkapnya
Waktunya Untuk Pulang
Kami tidak mengambil banyak waktu untuk beristirahat.  Setelah kami menyelesaikan sarapan, Marquis Kingston dikirim pulang oleh penyihir Madaf.    Sebuah portal sihir yang cukup besar berada di desa ini, tampaknya ini semua adalah uang dari Marquis Kingston, sehingga orang-orang yang ada di sini menghormati dan melindunginya.    Walaupun, ini desa kecil, tapi mereka tampak makmur.    Portal sihir itu menggunakan tujuh buah batu Mana berukuran sebesar telapak tanganku, lalu Madaf merapalkan sihir. Sihir pertama telah dia rapalkan, lalu untuk kali keduanya dia merapalkan sihir lagi. Sihir itu menyatu seperti sebuah roda ya dan membuka portal.    “Aku tidak akan melupakan jasamu. Untuk urusan p
Baca selengkapnya
Lily Emas
Tanka mengeluh padaku, dia marah karna rumah ini tidak terurus. Bisa dilihat banyak dinding yang retak, perabotan yang lama, dan kebun yang tidak mewah.    Sepengingatannya, rumah Sanktessy mempunyai pemandangan indah. Aku menanggapinya dengan tertawa. Mau bagaimana lagi, inilah kenyataannya. Waktu memakan segalanya.    Aku malah lebih penasaran dengan apa yang Tanka bawa dari Redvet.  Aku belum bertanya saat di Redvet, karna baru sekarang dia mengeluarkan apa yang dia bawah.    Di dalam kamarku, dia meletakan semua tanaman itu di atas meja.    Ada semacam tumbuhan seperti lobak dengan dua sisi berkelok berdaun coklat, lalu seperti beri berwarna merah, dan rerumputan berbagai jenis. Baca selengkapnya
Aku Melupakannya
“Tidak kusangka Akion begitu hangat pada adiknya,”   Tanka duduk sambil menggerakkan kakinya. Aku mengelap rambutku yang basah dengan handuk.    “Memangnya apa yang kau pikirkan?”   Aku dan Tanka bertemu untuk kali pertamanya tanpa Tanka pernah mengenal sosok asli Akion yang kaku. Tidak mungkin untuknya memikirkan aku yang kejam.    “Aku hanya menggodamu,” celetuknya.    “Sekarang, apa kau ingin melihat tubuhku?”   Aku geli saat mengatakan ini. Bagaimana bisa aku begitu percaya diri mengatakan hal yang menjijikkan ini?    Baca selengkapnya
Pesta Para Kesatria
Ini pesta yang tidak terlalu mewah. Hanya dilaksanakan di taman mansion Sanktessy. Walaupun begitu, pesta ini dipersiapkan dengan sangat baik oleh kepala pelayan Sanktessy, Bastian.   Pesta dengan gaya garden party. Sebuah konsep untuk ksatria yang menyukai kebebasan, dan untuk merekatkan hubungan bersama. Setiap kesatria yang menjalan tugas dengan tuan yang sama, mereka harus mempunyai ikatan yang jelas, agar bisa menyelesaikan tugas dengan baik.   Aku muncul setelah para kesatria telah berdatangan, sambil memegang tangan Renia, aku memandangi mereka.  Renia menggunakan gaun kuning yang kupilihkan, gaun kuning yang kuberikan sangat cocok padanya.    “Dia persis seperti Lily emas."    <
Baca selengkapnya
Tarian Ajaib
Akhirnya aku tahu kenapa mabuk itu berbahaya.    Mataku menyipit saat matahari masuk dari jendela, kepalaku masih pusing, telingaku berdenging. Ini adalah waktu bangun tidurku yang paling siang. Pukul sepuluh, aku melewatkan sarapan, dan latihan serta urusan lainnya.    Tampaknya, tubuh ini tidak kuat dengan alkohol. Salahku menganggap bahwa Akion yang bisa minum segelas wine, bisa minum sebanyak kemarin. Aku tersenyum lirik. Kujatuhkan badanku lagi di atas kasur, hari ini lebih baik aku bermalas-malasan.    Terkadang masa muda harus diisi dengan kemalasan  kecil untuk mencari inspirasi.    “Dasar lemah."    Itu adalah suara ya
Baca selengkapnya
Wajah Ibuku
Bagaimana wajah ibuku?    Dia mempunyai rambut berwarna coklat terang, dan mata yang biru. Rambut panjang, khas wanita Kekaisaran mana pun yang menjunjung tinggi mahkota wanita itu. Rambut selalu menjadi penghias terbaik bagi para wanita. Dia elegan, terdapat lesung pipi di pipi kanannya, dan tahi lalat kecil di dagunya. Dia sangat cantik.    Ibuku adalah putri dari Count Invit sebelumnya, ya dia sedarah dengan paman brengsek itu.    Ibuku adalah anak bungsu, dari 4 bersaudara dan 3 saudara perempuannya. Merekalah yang mengusir ibuku ke Sanktessy, beranggapan sebagai hama yang harus dibuang pada tempatnya.    Ibuku mencintai ayahku, bahkan dalam hard
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status