Mantan Suamiku Seorang Tentara

Mantan Suamiku Seorang Tentara

Oleh:  Queen Moon  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
9.9
Belum ada penilaian
154Bab
405.4KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Raelina Yuswandari kembali setelah lima tahun diusir oleh keluarga mantan suaminya ke negara asing. Dia tidak kembali untuk membalaskan dendam setelah ditelantarkan di negara asing, melainkan untuk memulai kembali hidupnya di negara kelahirannya yang ditinggalkannya selama lima tahun. Tetapi pertemuannya dengan mantan suaminya membuka kembali keping-kepingan masa lalu yang ingin dilupakannya. Luka lama yang ingin dilupakannya kembali terbuka dengan kehadiran sang mantan suami yang kembali mengusik hidupnya.

Lihat lebih banyak
Mantan Suamiku Seorang Tentara Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
154 Bab
Kembali Setelah Lima Tahun
“Kasian sekali, masih muda sudah kehilangan kedua orang tuanya.”“Dia tidak punya siapa-siapa. Tidak ada kerabat yang mau mengurusnya.”“Kau adalah kerabatnya, mengapa tidak memberi sedikit biaya agar dia bisa makan.”“Anak itu sudah besar dan sudah lulus SMA. Dia bisa mengurus dirinya sendiri atau bekerja.”“Setidaknya kasih uang kek buat biaya hidup.”“Hidup keluargaku sudah sulit. Bagaimana bisa nambah orang untuk diberi makan.”“Aku tidak bisa mengambil tanggung jawab anak itu. Dan lagi Pak Dody memiliki banyak utang yang menumpuk. Siapa yang mau mengambil tanggung jawab utang-utang itu.”“Ini salah Pak Dody, sudah tidak punya istri yang bertanggung jawab untuk anak itu, masa ninggalin banyak utang.”“Anak itu kasihan sekali.”“Sudah ibunya melarikan diri dengan alasan merantau sekaliannya tidak pernah pulang selama sepuluh tahu
Baca selengkapnya
Sebagai Orang Asing
Raelina menghela napas dan terdiam sejenak memandang ke sekeliling bandara, melihat beberapa orang membawa koper dan berpelukan dengan bahagia dengan orang yang menjemput atau ada beberapa orang yang sendirian seperti Raelina.Raelina tersenyum pahit memandang ke sekitar. Dia lahir dan besar di negara ini, tetapi dia seperti orang asing di tempat ini. Tidak memiliki keluarga yang menjemputnya dan sendirian seperti orang asing. Raelina menghela napas dan menarik kopernya untuk keluar dari bandara. Tetapi baru beberapa langkah, dia tiba-tiba berhenti dan merasakan jantungnya berdegup memandang ke depan. Dia mematung memandang lurus sosok pria yang berdiri di garis khusus untuk penjemput.Pria itu tinggi dan berotot memakai setelan kasual. Bukan seragam tentara yang selalu dipakainya sepanjang yang diingat Raelina. Meskipun begitu, dia memiliki kehadiran yang kuat. Wajahnya
Baca selengkapnya
Sendiri di Negara Asing
“Apa kau sendirian?”Raelina mendongak memandang dengan mata berkaca-kaca seorang gadis berwajah asing, tetapi menggunakan bahasa negara Raelina dengan lancar.Itu adalah pertama kali Raelina bertemu dengan Stella, gadis asing berdarah blasteran. Dia mengulurkan tangannya dengan ramah pada Raelina.“Namaku Stella. Aku datang menjemput ibuku yang baru pulang dari negara asalnya dan kebetulan melihatmu sendirian selama satu jam di sini.” Dia menatap gadis muda yang seumuran dengannya dengan tatapan simpati. Dia sudah menunggu ibunya selama satu jam di bandara dan melihat gadis berwajah Asia seperti ibunya berdiri sendirian di luar bandara larut malam sambil menangis. Kemungkinan memikirkan gadis itu ditipu dan tinggalkan di bandara.Dia memiliki setengah darah ibunya dan merasa bersimpati dengan orang yang berasal dari negara ibunya. “Kau mengingatku pada ibuku. Jika kau tidak keberat
Baca selengkapnya
Pertemuan Kembali
Angin sepoi-sepoi berembus memainkan anak rambut Raelina. Tatapannya menatap sendu gundukan tanah merah yang sudah ditumbuhi rumput. Kapan terakhir kali dia mengunjungi makam ayahnya? Dia tidak pernah mengunjungi makam ayah sejak 'pria itu' membawanya untuk tinggal bersama. Dia bahkan tidak memiliki waktu untuk mengunjungi makam ayahnya setelah perceraian mereka dan diusir ke luar negeri oleh keluarga mantan suaminya. “Maafkan aku ayah, karena baru mengunjungimu,” bisiknya dengan suara lirih. Ada banyak hak yang ingin dia cerita pada ayahnya seperti yang selalu dia lakukan semasa ayah masih bersamanya. Ada banyak tahun yang terlewatkan tanpa bisa dia cerita pada ayah. Tetapi Raelina tidak tahu harus memulai dari mana. Dia hanya bisa dia membisu dalam keheningan pemakaman. Bahkan jika dia menceritakannya, apakah ayah akan mendengar dan menghiburnya seperti dulu? Ketiadaan terasa menyesakka
Baca selengkapnya
Membawanya ke Keluarga Rajjata
“Dari mana kakak memungut gadis gembel ini?”Seorang gadis muda cantik duduk di sofa mewah bersama dengan seorang wanita paruh baya, mengerutkan hidung mungilnya memandang gadis berpakaian lusuh yang berdiri di sebelah kakak laki-lakinya.Raelina menundukkan kepalanya sambil meremas rok berwarna cokelat yang hampir pudar. Dia melirik kemeja kotak-kotak berwarna merah tua yang sudah kusut tidak peduli berapa kali dia menyetrika bajunya.Pakaian dikenakannya merupakan pakaian terbaik yang dimilikinya, tetapi disebut gembel oleh gadis cantik di depannya.Matanya berkaca-kaca dengan pandangan menunduk ke lantai. Dia sudah bersusah payah mempersiap pakaian terbaik yang dimilikinya dan menyetrikanya berulang kali untuk bisa tampil rapi di depan keluarga pria yang mengatakan akan ‘menjaganya’.Pria itu mengatakan dia adalah kenalan ayahnya dan membawanya untuk tinggal bersamanya. Raelina setuju mengikutiny
Baca selengkapnya
Ingatan Masa Lalu
Raelina menatapnya ragu-ragu dan tidak melepaskan cengkeramannya dari seragam Yosua. Ketika melihat tatapan Wina dan Arina yang memandangnya tidak tahu diri, dia melepaskan cengkeramannya dari seragam Yosua dengan kepala tertunduk, merasa malu karena terlalu bergantung pada pria itu.“Baiklah.” Dia mengikuti pembantu kediaman Rajjata sembari membawa tas berisi pakaiannya dengan kepala terus menunduk.Bibi itu membawanya ke kamar yang akan ditempatinya.“Mulai sekarang, kau akan tinggal di kamar ini,” ujar Bibi itu membuka pintu kamar Raelina.Gadis itu mengangakan mulutnya melihat kamar yang akan ditempatinya. Kamar ini lebih besar daripada ukuran ruang di rumahnya. Kamar ini bahkan memiliki kamar mandi sendiri.Bibi itu kemudian meninggalkan Raelina di kamarnya setelah berbicara sebentar.Raelina dengan hati-hati duduk di ranjang yang berukuran cukup besar. Merasakan keempu
Baca selengkapnya
Menangis dalam Diam
Setelah diusir ke negara asing, dia mencoba mati-matian melupakan masa lalunya dan memfokuskan dirinya pada studinya. Butuh tiga tahun baginya untuk melupakan kenangan masa lalunya. Tetapi sejak dia kembali ke negara ini dan bertemu lagi dengan mantan suaminya, memori masa lalunya kembali terbuka seolah mengejek usahanya yang sia-sia untuk melupakan masa lalunya bersama pria itu.Meskipun sudah lima tahun berlalu dia masih mengingat setiap detail kenangan masa lalunya bersama Yosua seolah dia baru mengalaminya kemarin.Dia memandang gelas kaca di tangannya dengan senyum muram mengingat saat dia dibawa Yosua ke dalam keluarga Rajjata. Dia tidak pernah melupakan kebahagiaan yang dia rasakan saat itu ketika Yosua mengatakan akan menikahinya.Tidak ada pesta pernikahan seperti dibayangkan Raelina. Dia dan Yosua hanya menandatangani catatan pernikahan mereka di kantor urusan sipil, dan mengadakan perjamuan sederhana yang hanya dihadiri a
Baca selengkapnya
Mantan Ibu Mertua
Ketika Stella terbangun di pagi hari dan keluar dari kamarnya, hendak ke kamar mandi untuk mencuci muka, dia dikejutkan dengan kehadiran Raelina yang sedang duduk di sofa ruang tamu dan menonton TV dengan lingkaran hitam di bawah kelopak matanya. “Apa kau begadang semalam?” Stella duduk di sebelahnya setelah mencuci mukanya dengan membawa botol air dingin di tangannya. Dia masih memakai piyamanya. Hari ini adalah hari Minggu. Dia mendapat jatah libur hari ini dan tidak pergi ke rumah sakit. Berbeda dengan Raelina yang mulai bekerja Senin besok. “Bisa dibilang begitu,” jawab Raelina dengan lesu. Dia dengan malas menonton berita pagi sambil bersandar di lengan sofa. “Ada apa dengan matamu? Apa kau habis menangis?” Penglihatan Stella cukup tajam untuk melihat mata Raelina merah dan bengkak. “Apa terjadi sesuatu kemarin?” <
Baca selengkapnya
Duo Iblis
“Ibu ....” Arina langsung mengeluh begitu melihat ibunya datang. “Aku yang duluan melihat gaun itu, tetapi perempuan murahan itu mengambilnya.”Raelina memutar bola matanya dalam hati. Sudah begitu dewasa masih kekanak-kanakan untuk mengeluh pada ibunya di depan umunya. Tampaknya waktu tidak mengubah sifat asli Arina.Wina menatap perempuan muda yang ditunjuk Arina. Seperti putrinya, dia merasa familier dengan wanita itu.“Ibu, dia si udik bau itu,” bisik Arina di samping ibunya.Setelah mendengar kalimat Arina dan mengamati sebentar, dia mengenali Raelina. Keningnya berkerut melihat Raelina dari bawah ke atas, dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dan penghinaan di matanya.Raelina menatap ibu dan anak itu dengan wajah tanpa ekspresi. Dulu dia berpikir ibu dan anak itu bersikap sombong padanya sesuai dengan status keluarga mereka.Tetapi setelah beberapa pikiran dia mencibir m
Baca selengkapnya
Janda Muda
“Bagaimana hari pertama magangmu?” Stella bertanya dengan kedua tangan di masukan di saku jas putih khas dokter. “Lumayan ....” Raelina di sebelahnya memakai jas dokter yang sama. Dia sudah mulai magang di rumah sakit yang sama dengan Stella. Mereka berdua berjalan menuju ke kantin sambil mengobrol tentang hari pertama magang Raelina. Raelina mengikuti Stella mengambil nampan dan mengisi nampannya dengan lauk. Stella membawanya menuju ke salah satu meja berisi empat orang berjas dokter. Stella menyapa mereka sebelum duduk di samping dokter bergender wanita. Raelina mengikutinya dan duduk berhadapan dengan tiga dokter laki-laki. Mereka mendongak memandang Raelina dengan rasa ingin tahu dan menyapanya. “Hai, apa kau dokter magang baru?” Seorang dokter laki-laki yang terlihat lebih muda di antara mereka mengulurkan tangannya pada Raelina dengan se
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status