MADU Titipan

MADU Titipan

Oleh:  Askama95  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
17Bab
4.6KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Aku–Anita–dikejutkan oleh suamiku–Mas Kamal–yang tiba-tiba membawa seorang wanita yang mengaku sebagai istrinya juga. Kata Mas Kamal sih wanita itu adalah titipan Bosnya. Apakah aku akan sanggup mempertahankan rumah tanggaku dengan kehadiran wanita itu di antara kami berdua? Ikuti terus kisah perjalanan hidupku yang rumit ini! Kritik dan saran sangat mendukung penulis. Follow ig @sitisyazwan6 Add fb @Askama Sembilanlima

Lihat lebih banyak
MADU Titipan Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
17 Bab
Mengancam Burungmu
Suara pintu diketuk berulang kali hingga membangunkanku. Segera kubangkit dari tempat ternyaman itu. Rasanya memang sulit meninggalkan kasur yang empuk kesayanganku.Mata kukerjapkan. Menguap beberapa kali. Meregangkan ototku yang kaku. Kemudian kupakai sandal jepit agar kakiku tak kedinginan saat bersentuhan dengan lantai keramik."Anita, buka Sayang! Mas pulang!" teriak seseorang dari luar. Ia menggedor pintu sangat keras. Hingga memekikkan telinga ini.“Iya, Mas. Tunggu sebentar!” sahutku dari dalam.Ya, namaku adalah Anita. Aku seorang ibu rumah tangga biasa. Tapi apakah aku bisa disebut seorang ibu rumah tangga sementara aku tidak akan dikaruniai anak? Kata Dokter sih, aku mandul. Tapi aku masih berharap akan ada keajaiban.Kuikat rambutku yang terurai dan kem
Baca selengkapnya
Kangen
"Mawar masuk!"Mas Kamal menyuruh wanita yang bernama Mawar itu masuk ke dalam rumah. Ia pun mengantarnya ke kamar yang biasa tamu gunakan.Sementara itu, aku hanya berdiri sambil memperhatikan gerak-gerik keduanya. Kulihat Mas Kamal membantu Mawar untuk membaringkan tubuhnya. Ia pun menyelimutinya juga."Astaga ... sudahlah, Mas! Dia juga 'kan bisa sendiri," dengkusku kesal. Ia begitu perhatiannya kepada wanita yang baru kukenal itu."Iya, Sayang. Sebentar," sahut Mas Kamal."Ayo kita tidur!" ajaknya padaku. Mas Kamal menggiringku ke kamar. Ia memegang kedua pundakku.Kami berada di kamar. Mas Kamal berbaring di kasur sedangkan aku duduk bersandar pada bantal.Sebersit pemikiranku bekerja. Kuolah hingga menjadi
Baca selengkapnya
Mandi Bersama?
Aku pergi ke dapur dan mendengar suara air mengalir. Memang biasanya letak dapur tidak jauh dari letak kamar mandi."Apa Mas Kamal lupa matiin keran?" pikirku.Saat hendak membuka pintu kamar mandi, tiba-tiba Mawar yang keluar. Aku terkejut dan segera mengambil langkah mundur."Mbak! Mbak belum masak, ya?" tanyanya. Rambutnya masih bercucuran air."Aku ... baru pulang dari pasar," jawabku agak kaku."Mbak, aku laper," katanya sambil memegang perutnya yang terhalang handuk itu."Ka-kalau begitu aku masak dulu.” Aku masih terbata-bata. Rasanya agak sulit untuk berucap dengan orang yang baru kukenal."Iya deh, Mbak. Oh iya, Mbak punya baju gede, ga?" Mawar terlihat kedinginan.Baca selengkapnya
Anak Siapa?
Mas Kamal meraih dan menggenggam tanganku. "Iya, Pak. Dia istriku,” jawabnya.Aku tersenyum, bahagia mendengar pengakuannya. “Kupikir dia tidak akan mengakui statusku,” batinku.Aku sudah berpikiran negatif dan takut diakui sebagai seorang asisten rumah tangganya saja.Pak Yanto terus memperhatikanku. Matanya tak beralih sedetikpun. Ia seperti tak suka jika aku diakui sebagai istri Mas Kamal juga."Oh, cantik juga. Ya ... tapi masih cantikan anak Bapak. Oh iya, Mawar mana?" Matanya berkeliaran mencari kesana-kemari.Aku tak suka dibanding-bandingkan seperti itu. Aku mengerucutkan bibirku. Jengkel."Di kamar, Pak,” jawab suamiku. Ia tak peduli jika istrinya sedang dibanding-bandingkan dan malah menyuruhku, "An, panggil Maw
Baca selengkapnya
Berebut
Setelah selesai makan, Pak Yanto dan Mas Kamal berbincang di teras rumah sambil melihat turunnya hujan. Kubuatkan kopi untuk Pak Yanto dan segelas susu untuk suamiku. Sementara Mawar dan Ibunya masuk ke dalam kamar.Aku kembali ke dapur dan merapikan piring bekas makan. Kucuci semuanya sampai bersih."Masa aku harus tinggal serumah dengan kedua orang tua Mawar juga?" gerutuku.Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelap meja makan. "Apa aku menginap dulu di rumah Mas Rendi? Mmm ... apa ga ada jalan lain?” pikirku."Ga mungkin. Masa aku nyerahin Mas Kamal gitu aja? Dia 'kan suamiku. Kalau aku pergi, ya ... sama aja aku kalah. Engga, ga mau aku kalau sampai jadi janda.” Kugosok nasi yang menempel di meja. Sudah lengket."Mas Kamal ada-ada aja, sih! Pake bawa Mawar ke rumah lagi. Jadi repot 'kan?!" Peluhku berjatuhan.Pukul dua siang aku tidur karena lelah dan mengantuk. Lalu pukul lima sore aku bangun dan kudengar suara hujan masih saja turun.Baca selengkapnya
Pergi
"Ah, bukan apa-apa, An!" ucap Mas Kamal. Ia mendorong tubuhku pelan. Memisahkan ketegangan di antara kami. Ya, maksudku ketegangan di antara aku dan Mawar."Apanya yang bukan apa-apa?" Aku kesal.Mawar menatapku penuh kebencian. Begitu pun aku yang tak kalah membenci dirinya. Aku jijik melihat wajahnya."Udahlah, Mas capek! Punggung Mas pegal.” Mas Kamal menjatuhkan bobot tubuhnya di atas tempat tidur. Ia benar-benar terlihat malas mendengar pertengkaran kami."Ya udah Mas, biar Mawar pijitin," saran Mawar. Ia duduk di samping suamiku dan memijat kaki Mas Kamal.Perbuatannya semakin menyulut amarahku. "Eh, eh, eh, jangan berani-berani pegang suami orang, dong!" bentakku kasar. Aku menarik tangan Mawar.Sebagai sesama wanita harusnya dia mengerti perasaanku. Namun sayang, Mawar malah berpura-pura naif dan polos."Loh?! Aku juga 'kan istrinya juga," jawab Mawar dengan polosnya.Mas Kamal yang kesal lalu mengacak-acak rambutnya. “Berisik!” katanya. “Pus
Baca selengkapnya
Mas Rendi Murka
Sambil menangis aku mencoba untuk mengeringkan rambut yang masih bercucuran air ini. Kuambil sisir di atas lemari. Pelan-pelan kugunakan sisir tersebut untuk merapikan rambutku yang kusut, berantakan.Lalu aku pun keluar dengan mata sembab. Cukup lama aku berada di dalam kamar, tapi tak ada satu orang pun yang mengetuk pintu. Ya, aku mengerti, mungkin mereka ingin memberiku waktu untuk sendirian. Berpikir.Kulihat ada keponakanku yang sedang bermain ponsel menonton film kartun di sofa yang lain karena sofa yang tadi menjadi tempat dudukku sedang dikeringkan memakai hair dryer.Kudekati keponakanku itu dan duduk di sampingnya. Kuusap rambutnya pelan. "Jika saja aku punya anak, mungkin aku tidak akan sesedih ini. Ya, mungkin Mas Kamal tidak akan mengkhianatiku."Hatiku tersuat-suat dengan nasib dan vonis yang diberikan dokter. Aku merasa telah gagal karena tidak akan pernah diberi kesempatan untuk menjadi wanita yang seutuhnya. “Aku memang punya ibu, tapi apa ben
Baca selengkapnya
Setan Apa yang Merasuki?
Halo readers! Bab ini mengandung adegan kekerasan. Harap bijak memilih dan memilah bacaan.Tolong jangan salahin author ya, kalo sampe kebawa emosi. Hehe. Terima kasih.Happy reading~***Mbak Rina memberikan anaknya padaku. "Mana wanita itu?" Ia lalu masuk ke dalam kamar."Oh ... jadi wanita ini?!" teriak Mbak Rina. Aku bisa mendengarnya dari luar. Dengan spontan kututup telinga anaknya takut jika Mbak Rina berkata kasar.Plak!Suara tamparan terdengar sangat keras. Mataku terbelalak. “Mbak Rina melakukan itu untukku?” batinku. Aku tak percaya Kakak Iparku begitu peduli padaku.Orang tua Mawar saat itu sedang menyaksikan Mas Kamal di lawang pintu. Mereka sepertinya mendengar suara tamparan itu juga dan sama-sama terkejut. Mereka berjalan cepat melewatiku dan masuk ke dalam kamar juga."Bagaimana ini? Aku harus menolong siapa? Apa aku harus menolong suamiku atau
Baca selengkapnya
Kamal yang Bodoh
POV KAMALPagi itu aku pergi bersama Bos Zenal. Ya, aku selalu ikut bersamanya karena aku bekerja sebagai sopir pribadinya. Kukendarai mobil mahal ini menuju ke sebuah hotel bintang lima."Berhenti di sini! Kita tunggu sebentar," titah Bos.Kuhentikan laju mobil di bahu jalan. "Memangnya ada apa Bos?" Aku ingin tahu, padahal harusnya aku sudah tahu jika ia sedang menunggu wanita pesanannya. Bosku memang suka jajan."Kamu banyak nanya, kaya yang belum kenal saya saja! Hahaha,” jawab Bos seraya menengok ke kanan dan ke kiri. Menatap kendaraan yang melintas."Maap, Bos."Beberapa menit kami menunggu, akhirnya datang sebuah mobil angkutan umum dan berhenti di ujung jalan.Lalu keluarlah seorang wanita. Ia menggunakan pakaian yang begitu seksi. Mataku sampai tak mampu berkedip melihat lekuk tubuhnya. Kulihat dari ujung kaki sampai ....Saat kulihat wajahnya. Ia nampak tak begitu asing bagiku. "Mawar?" sebu
Baca selengkapnya
Kejadian Tak Terduga
“Tapi ... nyatanya dugaanku salah.”POV KAMAL end***Aku mendengarkan apa yang diceritakan Mas Kamal dengan saksama. Sungguh aku merasa benar-benar telah dibohongi. Aku sangat geram. Jika diperkenankan aku ingin sekali meludah di wajahnya. Jika di dunia ini tidak ada istilah hukum, aku ingin sekali membunuhnya, menghabisi nyawanya sekarang juga. Namun, sayangnya aku masih dalam kondisi sadar. Hingga keinginanku yang bisa saja kulakukan masih bisa ditahan."Lalu maksudmu, itu anak siapa?" tanya Mas Rendi."Aku ga tahu." Mas Kamal menggeleng-gelengkan kepalanya."Ya ... itu anakmu dong, Mas!" ucapku begitu lantangnya sambil berkacak pinggang. Dadaku terasa sesak."Mas ...!"
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status