Secret Romance

Secret Romance

Oleh:  Azuretanaya  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
10Bab
1.5KDibaca
Baca
Tambahkan
Report
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Tidak hanya terkenal memiliki sikap dingin dan mimik angkuh di area profersionalnya, di lingkungan keluarga serta sosialnya pun demikian. Namun, tetap saja sosoknya sangat dielu-elukan oleh kaum hawa. Bahkan, banyak perempuan yang bermimpi ingin menjadi kekasih dari seorang Levin Adelard Adyatama. Seperti kebanyakan kaum hawa sebelumnya, Sandara Pramesthi Baskara pun sangat memuja Levin yang tak lain merupakan dosennya sendiri. Bahkan, ia selalu salah tingkah sendiri saat mengikuti kelas yang diberikan oleh laki-laki tersebut. Oleh karena sikapnya itu, tak jarang Levin pun selalu menyempatkan diri menyindirnya tanpa ampun. Siapa sangka, Levin dan Sandara terikat dalam sebuah hubungan yang tak biasa karena suatu kekhilafan sesaat. Dari hubungan tersebutlah semua penilaian akan sosok masing-masing terpatahkan satu sama lain. Akankah mereka bertahan dan melanjutkan hubungan tersebut atau memilih memutuskannya di tengah jalan?

Lihat lebih banyak

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

Komen
Tidak ada komentar
10 chapters
SR 1
Sepasang netra berwarna cokelat kehitaman memandang kagum sosok tinggi yang berjalan tegap melewati tempat duduknya. Walau mengetahui pasti senyuman tipis yang diterimanya merupakan sikap profesional dari laki-laki tersebut, tapi tetap saja berhasil menciptakan rona kemerahan pada kedua pipinya. Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Sandara Pramesthi Baskara saat diberi senyuman tipis nan memabukkan oleh laki-laki yang sangat dielu-elukan seantero tempatnya menuntut ilmu. Apalagi dari kabar yang didengarnya, laki-laki tersebut sangat banyak mempunyai penggemar rahasia. Salah satunya adalah dirinya sendiri.Mata Sandara langsung mengerjap. Bahkan, ia memekik nyaring karena saking terkejutnya saat tiba-tiba saja pipinya tersengat benda dingin. Ia spontan menutup mulutnya saat menyadari dirinya kini menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di kantin. Sambil menyengir kaku ia mengangguk canggung sebagai tanda permintaan maafnya karena telah membuat kegaduhan. Ia langsung m
Baca selengkapnya
SR 2
Levin memelankan laju kuda besi yang dikendarainya saat melihat seorang perempuan sedang menuntun motor matic-nya. Tanpa mengetahui siapa perempuan tersebut, Levin langsung menepikan mobilnya. Setelah memastikan mobilnya yang terparkir tidak menghalangi pengguna jalan lain, ia pun segera keluar dari balik kemudi."Kenapa dengan motornya, Mbak?" Levin bertanya setelah berjarak beberapa langkah dari perempuan tersebut.Perempuan tersebut langsung menoleh ke belakang saat mendengar seseorang bertanya padanya. Alangkah terkejutnya perempuan tersebut saat mengetahui pemilik suara yang beberapa detik lalu bertanya padanya. "Pak Levin," ucapnya kaget."Sandara?" Levin tak kalah terkejutnya saat mengenali perempuan tersebut. "Kenapa motormu?" tanyanya ulang setelah kembali dari keterkejutannya."Bannya pecah, Pak," jawab Sandara sedikit gugup dan tanpa berani menatap wajah Levin yang kini telah berdiri di sampingnya."Sepertinya di depan ada bengkel motor,
Baca selengkapnya
SR 3
Levin mendengar rengekan Barry kepada ayah mereka saat ia memasuki rumah keluarganya. Selama ini ia memang masih tinggal dalam satu rumah bersama orang tua dan adiknya. Sebenarnya ia sangat ingin hidup mandiri dengan tinggal di rumah pribadinya, tapi sang ibu tidak menyetujui pemikirannya tersebut. Daripada membuat sang ibu sedih, akhirnya ia pun memutuskan untuk mengalah. Sang ibu mengizinkannya hidup terpisah saat ia telah berkeluarga nanti."Vin," panggil sang ibu dari arah dapur sambil membawa nampan saat melihat kedatangan putra sulungnya.Karena kedua tangan sang ibu masih memegang nampan, Levin memutuskan hanya mencium kening wanita yang sangat disayangi dan dihormatinya tersebut. "Mereka lagi bahas apa, Ma?" tanyanya pada sang ibu."Pesta ulang tahun," Dianti Cantika Adyatama menjawabnya sambil tersenyum.Levin hanya menanggapinya dengan anggukan tak acuh. Bukannya Levin tidak peduli kepada Barry, hanya saja ia memang jarang ikut campur menyangkut uru
Baca selengkapnya
SR 4
Levin melakukan kegiatan wajibnya di pagi hari sebelum melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai tenaga pengajar di kampus, yakni berjoging mengitari kompleks tempat tinggal keluarganya. Jika biasanya ia melakukannya seorang diri, tapi tidak dengan pagi ini. Barry ikut dengannya joging mengitari kompleks. Bukan Levin yang mengajaknya, tapi Barry sendiri yang ingin ikut. Seperti biasa, aktivitas pagi Levin selalu diiringi oleh musik kesukaannya melalui earphone bluetooth yang terpasang pada telinganya. Menurut Levin ikut tidaknya Barry bersamanya, rasanya tetap saja sama. Tidak ada yang istimewa. Ia selalu menikmati kegiatannya seperti hari-hari biasa. Tidak tahan dengan kebisuan di antara mereka, Barry pun menghentikan gerak kakinya. Ia mendengkus sambil mengembuskan napas dengan sedikit keras, walau yakin tidak akan didengar oleh Levin karena telinga kakaknya tersebut telah tersumpal earphone. Sejak mulai menggerakkan kakinya, sang kakak se
Baca selengkapnya
SR 5
Hari ini kesialan tengah menimpa Sandara sehingga membuatnya harus menahan malu di hadapan semua teman-teman di kelasnya, termasuk Ranty dan Barry. Setelah kelas berakhir, Sandara langsung diminta ikut ke ruangan dosen oleh pengajar yang tadi memberinya materi perkualiahan. Alhasil, kini ia pun sedang duduk sambil menundukkan kepala di hadapan seorang dosen muda dan tampan. Rasa malunya semakin membumbung ketika di dalam ruangan dosen tersebut terdapat seseorang yang selama ini sangat dielu-elukannya. Terlebih kemarin sempat memberinya pertolongan dan mentraktirnya bersama Ranty makan malam di sebuah restoran ternama. Entah kenapa rasa malu yang menderanya kini jauh lebih besar kepada Levin dibandingkan dosen tampan di hadapannya. Padahal sangat jelas urusannya saat ini dengan dosen tampan yang duduk tepat di hadapannya. “Sampai kapan kamu akan terus menundukkan kepalamu seperti itu, Sandara?” Dimas bertanya sambil terkekeh melihat mahasiswi di hadapannya. “Saya tidak marah atas tinda
Baca selengkapnya
SR 6
Di kediaman Adyatama, pasangan Saguna dan putri bungsunya sedang berkunjung sekaligus untuk memenuhi undangan makan malam dari sang tuan rumah. Firman Saguna dan Gibran sudah menjalin persahabatan sejak keduanya masih menduduki bangku sekolah menengah pertama. Bahkan, setelah sukses dengan bisnis masing-masing dan sudah sama-sama berkeluarga pun keduanya masih menjadi sahabat akrab, meski mereka tidak selalu bisa menghabiskan waktu bersama. Sebenarnya acara makan malam berlangsung satu jam lagi, tapi keluarga Saguna sengaja datang lebih awal dari waktu yang diberitahukan, karena sang istri ingin membantu Dianti membuat hidangan. Lagi pula tidak ada salahnya juga bagi Firman untuk datang lebih awal, jadi ia bisa mengajak Gibran bermain catur sambil menunggu istri masing-masing dibantu sang putri membuat hidangan makan malam."Anak-anakmu belum ada yang pulang, Bran?" Firman bertanya kepada Gibran saat mereka sedang bermain catur di ruang keluarga kediaman Adyatama."Sudah. Mereka ada d
Baca selengkapnya
SR 7
Menyadari saat ini dirinya masih bersama orang tuanya di dalam mobil setelah meninggalkan kediaman Adyatama, Sava berusaha keras mengontrol bibirnya agar tidak menyunggingkan senyuman lebar dan semringah karena besok ia akan bepergian bersama Levin satu hari penuh. Untuk mengalihkan pikirannya dari ingatan atas setiap obrolannya tadi bersama Barry dan Levin, Sava sibuk memainkan benda pipih kesayangannya. Sava hanya tidak ingin perasaan antusias sekaligus kegirangan hatinya disadari atau tertangkap basah oleh orang tuanya, karena hal tersebut akan membuatnya sangat malu.Sava langsung mengalihkan perhatiannya dari ponsel di tangannya saat mendengar pembicaraan orang tuanya yang menyebut nama Dinda, salah satu sepupu perempuannya dan yang paling dekat dengannya. Sava baru menyadari bahwa mobil yang ditumpanginya bersama orang tuanya ternyata sudah memasuki halaman rumah keluarga Saguna. Setelah mobil yang membawanya beserta orang tuanya terparkir rapi di carport, Sava pun turun lebih d
Baca selengkapnya
SR 8
“Sudah tiba dari tadi, Kak?” Barry bertanya saat melihat Levin berjalan ke arahnya. Ia menunda membuka pintu bagasi mobilnya untuk mengambil barang belanjaannya.“Kurang lebih sepuluh menit yang lalu,” jawab Levin sambil menyandarkan punggungnya pada pintu bagasi mobil Barry.“Sava mana?” Barry kembali bertanya ketika tidak melihat kehadiran anak dari sahabat orang tuanya yang datang bersama sang kakak.“Ada di dalam mobil. Oh ya, sepupunya juga ikut ke sini. Dinda,” Levin memberi tahu Barry mengenai keikutsertaan Dinda.Walau Barry cukup terkejut mendengarnya, tapi ia tetap mengangguk gamang. “Nanti aku akan mengenalkan mereka kepada ketiga temanku,” ucapnya.“Mana barang belanjaan yang harus aku bawa, Bar. Eh, ada Pak Levin. Siang, Pak,” sapa Sandara sopan ketika melihat Barry sedang bersama Levin.Sandara cukup kaget melihat penampilan Levin sekarang yang sangat berbeda jika dibandingkan ketika laki-laki tersebut berada di kampus dengan mengenakan setelan formalnya. “Pak Levin terl
Baca selengkapnya
SR 9
Sejak jam lima sore Barry dan para sahabatnya sudah mulai sibuk mempersiapkan acara makan malam bersama sekaligus sebagai perayaan sederhana ulang tahunnya. Berhubung cuaca mendukung, Barry pun memutuskan akan makan malam di luar ruangan sambil menikmati pemandangan alam di malam hari. Supaya acara memanggang nanti lancar, Barry menyuruh Sandara dan Ranty membantu Bi Sri menyiapkan semua bahan-bahannya di dapur, termasuk bumbu. Ketika tiba saatnya untuk memanggang, baru semua bahan-bahan yang telah siap tersebut dibawa ke halaman samping vila.Sandara menoleh di sela-sela kegiatannya mengiris jamur karena nanti ia juga ingin memanggang beberapa jenis sayuran. Ia tersenyum tipis saat melihat Dinda memasuki dapur. “Hai, Din,” sapanya berbasa-basi.“Hai,” Dinda membalas sapaan Sandara seadanya. Tujuannya ke dapur untuk melihat jenis minuman yang nanti mereka konsumsi saat acara makan malam. “Barry benar-benar payah. Perayaan macam apa yang akan dibuatnya, jika minuman beralkohol rendah s
Baca selengkapnya
SR 10
Malam semakin larut, udara pun kian dingin menusuk pori-pori kulit walau tubuh telah berlapis pakaian tebal. Setelah bersama-sama menaruh kembali perlengkapan yang digunakan saat memanggang di halaman ke dapur, semua orang pun bergegas memasuki vila untuk melindungi diri dari dinginnya udara malam. Kecuali Levin, semuanya menempati kamar yang ada di lantai dua di vila tersebut. Sebelum memasuki kamar masing-masing dan mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah, Barry mengumpulkan teman-temannya di ruang keluarga. Ia mengajak teman-temannya tersebut membuat kegiatan untuk besok pagi, mengingat mereka akan kembali ke Jakarta ketika siang atau sore harinya. Tidak mungkin mereka akan menghabiskan waktunya untuk rebahan atau berdiam diri di dalam vila saja.“Bar, aku izin mengambil power bank sebentar ke kamar,” interupsi Dinda di sela-sela Barry dan yang lainnya merembugkan tentang kegiatan besok.“Din, tolong ambilkan juga power bank punyaku,” Sava menimpali karena daya baterai ponselnya j
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status