Kenapa Aku Harus Peduli?

Kenapa Aku Harus Peduli?

Oleh:  Rizkia  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
25Bab
2.0KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Hu'um ... Capek ya! Tapi kamu tidak bisa mengelak lagi dengan kehidupanmu, semua sudah diatur. Jadi, ya tinggal jalani aja bukan? Inilah kisahku, dimana aku tak ingin mengetahui apa yang terjadi. Tapi nyatanya hati kecil ini selalu memberontak merespon apa yang terjadi dan mengakibatkan tekanan di dalam dada.

Lihat lebih banyak
Kenapa Aku Harus Peduli? Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
25 Bab
Kesalahan
"Permainan yang menarik bukan? Semua tersembunyi di balik sebuah topeng kebohongan."***Nahla tersenyum tipis menatap gadis kecil di hadapannya saat ini. "Kak Nahla," ujarnya membuat Nahla menggeleng kecil."Yuk kita masuk," ajak Nahla mengendeng tangan mungil itu masuk ke dalam rumahnya.Anin, gadis kecil itu hanya diam sambil menunduk tidak mau beranjak dari tempatnya sekarang. "Anin.""Anin takut," cicit gadis itu sambil menggeleng."Ada Kakak," ujar Nahla. Anin mendongkakan kepalanya menatap Nahla."Janji," ujar Anin sambil mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Nahla.Nahla mengangguk dan mengaitkan jari kelingkingnya sebagai janji di jari mungil Anin.Mereka segera masuk ke dalam rumah, Anin masih takut-takut dan memegang
Baca selengkapnya
Tiga Perkara
"Maaf jika hanya dengan kata-kata aku memberi dorongan, tanpa aksi yang nyata."***"La," panggil Syifa teman sebangkunya yang baru datang."Hmm," gumam Nahla tanpa menoleh karena asik membaca novel."Lo ...." Nahla meletakan novel ke atas meja, ia melirik Syifa. "Apa?""Nggak bersahabat banget," celetuk Syifa meletakan tasnya di atas meja."Emang iya." Nahla menghela napas gusar."Ya-ya udah ketebak," dengkus Syifa meletakkan kepalanya di atas tasnya."Btw, nanti ijinin gue ya," ujar Nahla mengeluarkan buku berwarna hitam dari tasnya."Masih pagi?" tanya Syifa menghela napas, bolos lagi ini anak."Malas," gumam Nahla bangkit dan meninggalkan Syifa.Nahla memilih pergi ke perpustakaan dan tidak lupa membawa buku berwana hita
Baca selengkapnya
Kekesalan Nahla
"Ketika rasa tidak lagi bisa dipahami, dan ketika keadaan menjadi tempat pelampiasan."***Nahla membanting handphonenya ke lantai, sekarang ia kesal. Kesal karena pesan yang baru saja ia terima. "Ck."Dia mengambil tas selempangnya yang berada di atas nakas dan bergegas turun ke bawah. "Nahla, kamu mau kemana?" tanya Ilen dari dapur bersama Anin. Gadis kecil itu tersenyum menatap Nahla. "Anin juga anak Mama," ujarnya menjawab kebingungan Nahla melihat mereka berdua.Nahla mengangguk paham, ia merasa l
Baca selengkapnya
Kenapa Dia?!
Kau menyuruhku untuk melupakanmu?***Nahla berjalan tergesa-gesa menelusuri koridor kelas. Ia tidak memerhatikan jalan hingga menabrak seseorang."Nahla!""Eh, maaf," gumam Nahla menunduk. Orang yang ditabrak Nahla berdehem dan menyodorkan buku berwarna hitam ke hadapannya. "Mau cari ini, kan?" tanya Gilang membuat Nahla langsung mengambil buku tersebut."Makasi," ujarnya langsung pergi setelah mengambil buku itu dari genggaman Gilang."Kita ada masalah?" tanya Gilang sedikit berteriak, untuk saja sekolah masih sepi.Teriakan Gilang membuat Nahla menghentikan langkahnya. Ia menghela napas dan memilih segera pergi menuju kelasnya yang berada di lantai dua. Gilang menghela napas gusar. "Oke," gumamnya, dia memilih menyusul Nahla ke lantai dua. Syifa melirik Nahla yang barusan datang. "Tumben telat," celetuknya membuat Nahla menghela napas. "Mood gue lagi hancur, jan mulai deh," desis Nahla melet
Baca selengkapnya
Bodoh!
           Aku hanya butuh dipahami itu saja!                                   ***"Gilang!" pekik Syifa membuat siempu hanya diam. "Kenapa?" tanya Rendi mengampiri, dia melirik Gilang yang tengah duduk di tengah tumpukan kardus. "Gila lo yah, dari tadi kami sibuk nyariin nyatanya lo di sini kek anak hilang," gerutu Syifa. Gilang hanya diam menatap Syifa, dia melirik Nahla yang hanya diam tanpa menoleh atau menghampirinya."Sadboy benaran, baru nemuin gue," ujarnya menatap penampilan Gilang yang sebelumnya rapi saat dia pertemu tadi pagi dengannya. "Pergi kalian," usirnya menatap kosong ke depan. "Mau jadi apa lo!" Sekarang giliran Rendi yang berbicara, dia 'tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu."Nggak usah ikut campur," ketusnya menatap tajam ke Rendi."Kepal
Baca selengkapnya
Menangislah selagi bisa!
                 Berdamailah dengan dirimu!                                     ***Nahla menatap perkarangan rumah di depannya. Sepi, itulah yang tergambar dalam pikirannya saat ini.Apa di sini tidak ada kehidupan sama sekali sampai-sampai perkarangan depan rumah tersebut tidak terawat.Nahla melangkahkan kakinya masuk, ia menatap sekitaran hingga suara seseorang mengagetkannya."Ngapain lo ke sini?!" tanyanya menatap Nahla datar.Nahla hanya diam sekarang ia fokos dengan penampilan pria yang ada di depannya saat ini."Gue ...." ucapan Nahla belum selesai tapi tubuhnya langsung dipeluk oleh Gilang.Dia menangis?Gilang menangis didekapan Nahla, tanpa sadar ia ikut membalas pelukan dari Gilang.

Baca selengkapnya

Liburan Terencana
Semua akan terbayar!Terik cahaya matahari membuat pandangan Nahla mengkabur. Ia menunduk dan berjalan cepat mencari tempat yang teduh. Huft kenapa hari ini terasa panas sekali, menyebalkan."Nahla," panggil Ilham membuat dirinya menoleh ke belakang karena sumber suara dari sana."Oh, ya bisa ikut saya?" tanyanya. Nahla menjerit heran, ia mengangguk dan mengikuti langkah Ilham.Ilhma mengambil kunci pintu dari dalam saku almamater biru tuanya. Perlahan pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan isinya.Ruangan Osis"Beberapa bulan lagi jabatan saya bakal berakhir," ujarnya duduk di kursi dimana ada papan segitiga di atas meja bertulisan Ketua Osis.Nahla hanya diam ia duduk di sofa yang biasa digunakan tempat anak osis sekedar berkumpul dan melepas penat."Begitu juga dengan saya," ujar Nahla karena sekarang ia menduduki sebagai wakil ketua
Baca selengkapnya
Cowok Ganteng
"Nahla, Nahla," decak seseorang membuat Nahla menoleh ke belakang.Dia Gadis, teman Nahla yang telah lama tidak bertemu. "Gadis," sapa Nahla dengan ekspresi sama, datar. Gadis mengangguk. "Udah lama tidak berjumpa," ujarnya tersenyum miring. Nahla mengangguk, ia memilih duduk di bangku yang ada di depannya. Gadis mengikuti Nahla dan duduk di sampingnya. "Btw, lo sendiri aja?" tanya Gadis menatap lurus ke depan. Desiran angin malam ditambah suara ombak membuat rasa nyaman tersendiri bagi keduanya."Iya, lo sendiri?" tanya Nahla balik. "Sama pacar," jawab Gadis tersenyum tipis. Nahla mengangguk singkat. Canggung, mungkin itu yang mereka rasakan sekarang. "Kabar Gilang gimana?" tanya Gadis membuat Nahla diam bergeming.Dua hari belakangan ia belum bertemu sama sekali dengan Gilang. Apa keadaan baik? Ia rasa tidak. Nahla menggeleng tanda tidak tahun bagaimana kabar Gilang saat ini.Gadis mengangguk singkat i
Baca selengkapnya
Semua Menjauh?!
Apakah aku harus menerima pilihan kembali? Kurasa iya.****"La," tegur Syifa karena sadari tadi Nahla hanya melamun."Ha?""Lo kenapa sih?" tanyanya bingung. "Kenapa?" tanya Nahla balik. "Nggak apa-apa sih," jawab Syifa bertumpu tangan.Nahla bekelik kesal, kemudian merebahkan kepalanya ke atas meja. "La," panggil Syifa lagi.Nahla tidak bergeming. Ia hanya diam sambil memejamkan matanya. "Nahla bantu gue." Terdengar suara bisikan membuat Nahla mendongkan kepalanya. "Lo ngomong tadi?" tanya Nahla memicingkan matanya menatap Syifa."Cuman manggil aja," jawab Syifa masuh diposisi bertumpu tangan.Nahla hanya ber 'oh' kemudia bangkit dari bangkunya. "Eh! Lo mau kemana?" tanya Syifa bergegas bangkit.Nahla memicingkan matanya sekita tawanya meledak melihat Syifa tersungkur di lantai. "Anjir," gerutu Syifa menatap sekeliling untung hanya mereka berdua saja di kelas.
Baca selengkapnya
Diantara Ribuan Bintang
Kaki jenjang Nahla terus melangkah menyusuri koridor rumah sakit. Bau obat sangat menyengat yang biasa tidak disukai Nahla. Tapi, sekarang mati-matian membiarkan itu."Nahla." Rendi menghadang jalan Nahla."Ngapain lo ke sini?" tanyanya dengan nada yang tak bersahabat."Urusan lo?" tanya Nahla balik dengan nada yang sama."Pergi!" Rendi mengusir Nahla, bukan tanpa sebab dia mengusir Nahla tapi ini semua sebab Nahla."Oke," gumam Nahla menatap kosong ke depan. Ia pergi dari hadapan Rendi. Bagaikan tak ada semangat Nahla duduk di salah satu bangku di koridur rumah sakit tersebut. Ia menghela napas berat, apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi.Ia menunduk sambil mengusap-usap tangannya yang dingin karena hawa angin malam. "Nahla," panggil wanita paruh baya yang mendekat ke arahnya. Nahla mendongkakan kepalanya. "Tante Iren?" tanyanya bingung. Wanita tersebut mengangguk lalu duduk di samping
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status