Dijodohin

Dijodohin

Oleh:  ElleAine  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
Belum ada penilaian
32Bab
5.9KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Salsa anak nakal, suka clubbing, ngerokok, nongkrong gak jelas bareng temen-temennya. Dijodohin dengan Alvin. Seorang dokter muda ganteng, bersifat dingin tapi anak baik, nurut sama orang tua, kalem, dan rajin ibadah. Dua manusia yang bertolak belakang dijodohin untuk menikah dan hidup satu rumah? Bisa bayangin nggak, bagaimana kondisi rumah tangga mereka? Belum juga Alvin yang masih suka sama mantan kekasihnya yang ditinggalkan karena dirinya dijodohin. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Bisakah mereka hidup bahagia dengan Alvin yang masih suka pada mantan kekasihnya?

Lihat lebih banyak
Dijodohin Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
32 Bab
1. Mau atau tidak?
Ceritanya malam Minggu ini, gue mau nongkrong bareng teman-teman di cafe. Sambil nunggu larut malam, baru habis itu pergi ke klub malam, bersenang-senang.   Sedikit minum alkohol supaya mabuk dan enak dibawa berjoget-joget di bawah lampu kerlap-kerlip yang diiringi musik jedad-jedud.   Namun, karena nyokap bilang mau ada tamu istri dan anaknya sahabat bokap. Yang sekarang istri sahabat bokap gue udah jadi temen dekat nyokap.   Ya, karena mereka berdua punya kesukaan yang sama, yaitu; Arisan, bikin kue, dan sama-sama wanita single.   Nyokap nyuruh gue gak boleh pergi, disuruh menyambut kedatangan mereka dan nanti ikut ngobrol.   Gue iya-in aja deh, daripada
Baca selengkapnya
2. Dijemput
Gue dan teman-teman geng gue sedang jalan menuju parkiran, mau ke mobil Amel.   Biasa, nebeng. Kita berempat yang bawa mobil cuma Amel. Jadi, ya nebeng semua ke mobil dia. Rencananya, gue dan teman-teman mau ke mall pulang kuliah ini.   Saat lagi asik jalan di lorong kampus menuju parkiran sambil mengobrol bercanda, salah satu temen gue—Clarin—dia nepuk bahu gue nyuruh untuk berhenti.    "Tunggu," pintanya.   Gue berhenti melangkah lalu menoleh ke kiri, arah Clarin "ada apa?" Begitu kesan tolehan pala gue.   "Itu bukannya Kakak lu, Sa? Ka Alvin, cowok ganteng yang kata lu dinginnya melebihi es balok," kata Clarin sambil menatap dan nunjuk ke arah parki
Baca selengkapnya
3. Jemput Calon Istri
"Kenapa Mas mau jemput Salsa gak bilang dulu? Ini pasti perintah Ibu, ya, Mas? Maafkan Ibu Salsa, ya, Mas. Sudah nyuruh Mas untuk jemput Salsa. Ngerepotin Mas, aja. Padahal, Salsa biasa pulang nebeng ke temen, kok. Ibu ada-ada aja," kata gue yang nebak ini pasti ibu yang nyuruh Mas Alvin untuk ngejemput gue.   "Nggak, Tante gak nyuruh Mas untuk njemput kamu. Ini inisiatif Mas sendiri ingin ngejemput calon istri."   Oh, tidak! Dia bilang apa? Calon istri?   Mata gue memelotot galak ke dia. Masa bodo tentang hal yang harus bertindak baik ke dia.   Eh, dianya malah tersenyum. Apa- apaan coba? Sumpah demi Tuhan pencipta langit dan bumi, gue berharap tadi gue salah dengar dan temen- temen gue gak dengar ucapan itu.Baca selengkapnya
4. Bukan Kencan
Lagian juga gue masih muda, masih bisa cari pasangan yang pas buat gue. Yang se-frekuensi, yang sayang, dan cinta ke gue.   Gue bukan manusia yang sudah berusia cukup tapi belum nikah dan diharuskan bersegera nikah. Jadi, gak harus 'kan gue nerima perjodohan ini?   "Maaf, Tan. Tapi Salsa ...."   Gue jawab belum selesai tapi sudah dipotong sama perkataan Mas Alvin.   "Gak usah dijawab sekarang," potong Mas Alvin yang dengan spontannya gue langsung menghadap ke dia.   "Jalani saja dulu. Maksud Mas, kita, Salsa dan Mas lebih dekat dulu. Bila sama-sama cocok, yaudah lanjutkan perjodohan ini," tambah Mas Alvin dan gue setuju dengan pendapat dia. &
Baca selengkapnya
5. Dibangunin
Ngerasa ada yang beda hari ini, deh. Biasanya, nyokap kalau bangunin gue tuh dengan suara keras dan menggoyangkan tubuh gue lalu buka gorden yang bikin mata gue silau.   Mba pun begitu. Kalau misal nyokap sibuk atau sudah berangkat, beliau bakal nyuruh mba bangunin gue. Mba kalau bangunin gue, ya emang gak bersuara keras tapi dengan penuturan kata lembut, "Kak bangun, Kak udah siang. Kata Ibu ...." Mba akan jelaskan apa yang nyokap perintah.   Misal, " Kata Ibu, Kakak mau kuliah. Nanti telat. Ayo bangun." Atau apa lah. Setelah itu mba buka gorden lalu berucap lagi bangunin gue.   Di sini emang gitu, ya. Maksud gue, emang mbak kalau manggil gue itu "kakak" bukan "non". Karena nyokap yang nyuruh. Lebih enak kata nyokap kalau manggil gue kakak dari pada non. &nbs
Baca selengkapnya
6. Marah
Mata kami saling bersitatap sebentar, sebelum akhirnya Mas Alvin memutuskan tatapan itu karena jalan menuju meja makan.   Saat jalan di hadapan gue, Mas Alvin gak nyapa apa gitu. Basa-basi gitu, paling nggak senyum tipis, bukan ngelewatin begitu saja. Padahal gue aja rela senyum merekah, walau hati kesal padanya.    Dah gitu, saat dia jalan gak ngadep ke wajah gue. Jalan lurus gitu dan gue yakin, Mas Alvin gak liat kalau gue senyum padanya.   Sia-sia buang tenaga dikit untuk senyum yang tidak dianggap dan tidak dihargai. Gue menghembuskan napas dengan berlalunya Mas Alvin, lalu teriak manggil mbak.   "Iya, Kak, bentar," sahut mbak yang terdengarnya suara itu dari samping.   Baca selengkapnya
7. Amarah Luntur
Gue jalan sambil mati-matian nahan air mata. Coba bayangin aja, orang yang katanya kakak sendiri gak mau disentuh sama gue, jijik sama gue. Emang gue seburuk itu? Gue bukan bangkai atau kotoran. Gue manusia!   Kalau gak boleh, bilang! Gak perlu cara nolak seperti itu. Sudah buang tenaga dan sudah nginjak harga diri gue. Kalau jijik sama gue, bilang! Gue gak bakal susah-susah berusaha hanya untuk cium tangannya.    "Sialan!" umpat gue marah dalam hati.   Sudah hilang rasa sabar gue selama ini, gue diam bukan berarti gue terima atas perlakuan dia selama ini. Dia baik, tapi dia songong.   Kalau benci ke gue, ngomong! Gue gak masalah. Dan gue gak harus berpura-pura baik di depan dia.   
Baca selengkapnya
8. Bertemu Kak Meysha
Mas Alvin turun dari mobil setelah sampai di area parkir kampus. Sebelumnya sudah gue larang nganter sampai sini. Tapi dia tidak mau menggubris.   Gue siap-siap turun, tidak mau keburu dia mengitari mobil terus bukain pintu untuk gue.   "Haa," gumam dia saat gue baru ke luar dari mobil. Entah apa maksud gumaman dia.   "Makasih sudah nganter Salsa," kata gue.   "Belajar yang bener," sahut Mas Alvin.   Gue ngangguk-ngangguk terus salim ke dia, izin pamit. Dia ngusap-ngusap pala gue, pemirsa. Dede lemes.   "Alvin ...." Tiba-tiba ada yang manggil nama Mas Alvin. Gue langsung noleh ke arah suara.
Baca selengkapnya
9. Empat Tahun Berakhir Putus
PoV Meysha Aku tersenyum tipis dan melambai kecil ke arah pintu kafe yang baru saja dibuka oleh sosok pria gagah rupawan, bertumbuh tinggi, tegap, berpakaian kemeja hitam berlengan panjang yang dipadukan dengan celana pants warna abu-abu tua, dan sepatu pantofel berwarna hitam.   Pria itu membalas senyumanku, senyuman dia mengembang, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membuat matanya mengecil membentuk seperti bulan sabit, dan tangannya juga melambai ke arahku. Dia melangkah cepat mendekat ke mejaku.   Pria itu kekasihku—namanya Alvin Sanjaya—kami sudah menjalin hubungan selama empat tahun lebih.   Pertemuan kali ini berbeda dari pertemuan biasanya. Biasanya kami bertemu untuk temu kangen, menumpahkan rasa rindu. Tapi kali ini, ka
Baca selengkapnya
10. Ketahuan Mas Alvin
PoV Salsa   Malam ini nih gue lagi clubbing bareng temen geng dan juga Bagas. Awalnya kami duduk di satu meja mesen cocktail. Tapi karena Clarin sama Maya udah turun ke dance floor, udah joget-joget binal gak karuan.    Akhirnya gue ngajak Amel ikut turun. Awalnya si Bagas nglarang gue, nyuruh gue duduk ngobrol aja sambil ngerokok. Tapi gimana ya, gue gak kuat lihat Maya sama Clarin. Jiwa joget gue minta diluapkan.   Gue joget-joget di antara beberapa laki-laki. Sengaja gue goyangnya yang nakal. Asyiknya tuh ada cowok nanggepin gue dan tangan dia melingkar di pinggang gue. Udah deh gue lupa semuanya, dunia malam memang asik buat ngilangin stress.   Tapi tiba-tiba orang yang joget ama gue ditarik seseorang terus dipukuli. Gue kira ya
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status