METANOIA

METANOIA

Oleh:  haniyahhputri  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
36Bab
6.5KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Tertukar jiwa dengan mantan? Jiwa Anna dan Zenith tertukar secara ajaib! Padahal mereka berdua adalah sepasang mantan kekasih yang sudah putus dengan cara tidak baik. Hal ini membuat mereka harus terhubung kembali walau sebenarnya enggan. Hanya ada satu peraturan dalam hubungan mereka sekarang : Dilarang saling jatuh cinta, lagi. Ternyata hal ini tidak semudah yang mereka duga. Mereka tertarik pada lubang konflik yang penuh misteri tidak masuk akal. Bisakah Anna dan Zenith bekerja sama untuk mematahkan kutukan tanpa kembali melibatkan perasaan pribadi?

Lihat lebih banyak
METANOIA Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
36 Bab
1. Jiwa Mantan Tertukar
Anna mengerutkan dahi mendengar suara dering alarm yang berbeda dari biasanya. Tangan Anna meraba-raba atas nakas untuk mematikan alarm. Setelah mematikan alarm, Anna duduk sambil berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya. Sadar jika berada di kamar berbeda, Anna membulatkan mata terkejut. Rasa kantuknya menghilang seketika. “Gue dimana?” Anna refleks menutup mulutnya, kembali dibuat terkejut mendengar suaranya sendiri yang menjadi bariton. Anna mengambil ponsel dan membuka kamera. Melihat yang dilihat ternyata wajah mantan kekasihnya, Zenith, Anna langsung kehilangan kesadaran. *** Brak! Brak! Brak! Mendengar gebrakan pintu berulang kali membuat Zenith terbangun. “BANGUN LO! CEPETAN MASAKIN GUE!” Zenith yang terbiasa bangun dalam suasana damai kali ini dikejutkan dengan hal tak biasa. Setelah mengumpulkan seluruh kesadarannya, Zenith menjadi panik menyadari dirinya berada di kamar berbeda
Baca selengkapnya
2. Zenith Histeris
“Lo ke sekolah naik apa?” Zenith bingung karena tidak dapat menemukan motornya di parkiran sekolah. “Gue? Naik ojek online. Gak mungkin gue ke sekolah naik motor gede punya lo,” Zenith mendengus. Seharusnya ia sudah tahu hal itu tanpa perlu ditanyakan.  “Lo gak pake anting tindik? Apa jadinya seorang Zenith tanpa tindikan anting?” Zenith baru menyadari jika Anna tidak memasang tindikan anting yang biasa Zenith gunakan sehari-hari.  “Lo mau kuping lo gue colok sampai berdarah?” balas Anna tak mau kalah. “Ya gak gitu juga,” gumam Zenith. “Udah pesen mobil?” tanyanya. “Udah, dua menit lagi.” Sadar jika ponsel yang di pegangnya sejak tadi bukan miliknya, Anna segera mengembalikan ponsel kepada Zenith. “Nih HP lo. Berisik banget HP lo dari tadi. Gue gak buka yang aneh-aneh kecuali aplikasi ojek sama kamera,” Zenith menerima ponselnya sembari bergumam. “Buka aplikasi pribadi juga enggak apa-apa,” “Ke
Baca selengkapnya
3. Akting Bikin Pusing
Anna dan Zenith menghabiskan sepiring sarapan roti yang diantarkan pelayan beberapa menit yang lalu. Mereka berdua menghabiskan makanan dengan rakus, saking laparnya belum makan dari pagi. Zenith menunjukkan layar ponselnya pada Anna, menyuruh Anna membaca ruang obrolan gank-nya. “Apa? Balapan? Gila aja lo nyuruh gue ikutan balapan,” tolak Anna mentah-mentah. “Kalau seorang Zenith nolak hal itu, gimana harga diri gue nanti?”  Anna mengarahkan pisau roti pada Zenith. “Lebih peduli mana, harga diri lo atau nyawa gue? Ini emang tubuh lo, tapi ada nyawa gue di dalamnya.” Sontak Zenith langsung terdiam. Tidak bisa menjawab.   “Sebisa mungkin gue harus meminimalisirkan kegiatan tubuh Zenith dengan teman-temannya. Lo gak mau ketahuan temen-temen bukan, kalau tubuh lo itu berjiwa cewek?” Zenith menggelengkan kepalanya berulang kali. Kemudian ponsel Zenith berdering, Arlan, salah satu sahabat Zenith menghubung
Baca selengkapnya
4. Jenga dan Kartu
Ezekiel menghela napas panjang. “Gue gak tahu masalah hidup kalian apa,” ujarnya tertuju pada si kembar. Sama seperti Anna, Ezekiel pun sebenarnya tidak menyukai permainan ini. Namun, seribu alasan pun mereka tidak bisa menolak dan mengakhiri permainan ini hingga benar-benar selesai. Padahal jika orang awam bermain jenga pasti di menit pertama pun sudah jatuh berantakan. Ezekiel tidak habis pikir jenga apa yang sebenarnya mereka gunakan hingga begitu sulit untuk mengakhiri permainan dengan cepat.  “Oke, cepetan mulai biar cepet beres.” Anna menyandarkan punggungnya ke sofa. Tidak memiliki pilihan selain menghadapi permainan ini. Permainan jenga si kembar sangat terkenal seantero sekolah, bahkan hingga sekolah lain pun tidak sedikit yang mengetahui permainan ini. Hanya saja yang menjadi perhatian orang-orang adalah ‘tidak sembarang orang’ yang bisa memainkan jenga bersama si kembar. Hanya orang-orang yang mendapatkan ‘undangan’ s
Baca selengkapnya
5. Ketahuan Ezekiel
Dikarenakan sekolah pulang cepat diakibatkan guru-guru harus mengadakan rapat, Ezekiel memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Tidak sampai lima menit Ezekiel rebahan di kasur tersayang, ponsel Ezekiel berdering, memberitahu ada panggilan masuk. “Halo?” “Kiel, kamu dimana nak? Katanya pulang cepat,” “Iya di rumah.” “Bagus. Kalau gitu jemput Bunda sekarang di Mall. Bunda tunggu di lantai dua di tempat biasa. Oke ganteng, Bunda tunggu ya, sekarang.” “Iya.” Setelah mengakhiri panggilan, Ezekiel mengambil kunci mobil dan bergegas menjemput Ibunya di salah satu pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari rumahnya. Ezekiel adalah anak penurut dan pendiam. Maka dari itu Bunda-nya lebih senang meminta tolong pada Ezekiel dibandingkan putra lainnya yang selalu mengeluh dan beralasan. “Kiel,” panggil sang Tania. “Iya Bund,” balas Ezekiel tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya, sedang mengendarai mobil men
Baca selengkapnya
6. Problematika A to Z
“Hai, Anna. Akting lo masih jelek  ya.”“Ze, lo—" Anna terdiam sebentar, berusaha memahami situasi.Anna menyenggol lengan Ezekiel seraya tertawa kaku. “Stress ya lo ngira gue Anna, jelas-jelas gue Zenith ganteng gini, bisa-bisanya lo manggil gue Anna.”Berusaha mencairkan suasana, Anna duduk di pinggir ranjang. Menepuk sampingnya, memberi kode agar Ezekiel duduk di sebelahnya. “Sini,”Ezekiel jalan perlahan mendekati Anna, tiba-tiba Ezekiel menarik kerah Anna dan membisikkan sesuatu, “Lo gak pintar berpura-pura di depan gue, Annastasia.”“Aiooo, kalian lagi ngapain?” tiba-tiba secara bersamaan Arlan dan Arkan masuk ke dalam kamar. Sebisa mungkin Ezekiel dn Anna menyembunyikan rasa terkejut mereka.“Alay lo. Gue tidur duluan, ngantuk,”Di dalam kamar terdapat dua ranjang sorong. Anna tidur di kasur atas, sementara Ezekiel di bawah. Waktu sudah men
Baca selengkapnya
7. Jangan Balikan
Zenith meletakkan dua buah kartu ATM, sejumlah uang, perlengkapan pribadi lainnya seperti Laptop, obat pribadi dan lain sebagainya. “Perlengkapan lo nanti ketik aja di chat, apa aja yang perlu gue bawain buat lo. Enggak mungkin juga’kan cowok asing dateng ke rumah lo,” Untuk kali ini Anna setuju dengan Zenith. Tanpa perdebatan. Alih-alih Villa, tempat paling aman untuk membicarakan hal ini adalah rumah Zenith. Rumah Zenith berpenghuni beberapa pembantu beserta Zenith. Hanya saja pembantu Zenith adalah mata-mata setia Kakeknya, akan melaporkan hal sekecil apapun yang dilakukan oleh Zenith. Kedua orang tua Zenith sudah tiada sejak kecil. Zenith hanya memiliki Ibu tiri yang kini sudah menikah lagi dan hidup bahagia di Jerman. Berhubung jam-jam segini pembantunya tengah sibuk berbelanja bahan makanan, Zenith dan Anna menjadi lebih mudah masuk ke dalam rumah. “Aden, udah pulang ke rumah?” Mendengar panggilan pembantunya, Zenith dan
Baca selengkapnya
8. Daily Shi!t
Hari ini sekolah sudah kembali normal. Ternyata hal yang  paling sulit dari menjadi seorang Zenith adalah terlalu menarik perhatian. Sejak menginjakkan kaki di gerbang sekolah pun, Anna sudah merasa kesulitan. “Zen!” Derryn berlari dari jauh dan langsung merangkul Zenith secara heboh. “Kaget anjrit!” “Anting lo kemana? Tumben gak pake tindikan anting,” Derryn menyadari ada sesuatu yang berbeda dari penampilan Zenith hari ini. “Oh itu, sengaja gue lepas dulu. Gue lagi nunggu anting model terbaru gue dateng,” alibi Anna. “Hai Kak Zen!” sapa salah seorang adik kelas manis. Anna hanya melambaikan tangannya pada adik kelas yang tidak ia ketahui namanya. Begitupu dengan Derryn yang ikut melambaikan tangannya. “Lo kenal?” yang dimaksud Anna adalah gadis tadi. “Lah ilah bocah. Masa lo udah lupa lagi sih? Dia Karina, adik kelas yang nembak lo Minggu kemarin.” “Oh.” Anna bingung hendak memberikan respon apa karena se
Baca selengkapnya
9. Ruang BK
Meski Anna dan Zenith hanya berjalan bersebelahan pun sudah kembali menimbulkan rumor. Di sekolah, bahkan tembok pun bisa berbicara saking cepatnya rumor beredar. Anna juga tidak bisa menghindar dari fakta bahwa pengaruh Zenith untuk sekolah sangatlah besar.“Nana,” Panggil Zenith pelan.“Iya?”“Pengin buang air,” cicit Zenith.“Terus?”“Bisa gak gue ke toilet cowok aja? Gue bakal ngerasa bersalah kalau ke kamar mandi cewek,” Zenith memajukan bibirnya, menatap Anna seperti anak anjing yang meminta dikasihani.Anna mendengus. Tidak ada yang lebih aneh dari tertukarnya jiwa mereka. “Lo punya dendam ya sama gue? Lo bener-bener mau malu-maluin gue?”“Yaa enggak gitu juga,” Zenith memelas.Tak kunjung berpindah tempat, Anna menarik Zenith ke depan toilet. “Cepetan masuk, gue tunggu di sini sampai lo selesai.”“Nana,” re
Baca selengkapnya
10. Bertengkar Lagi dan Lagi
Selepas kepergian Anna dan Zenith, Ezekiel tersenyum miring. Menunjukkan sisi dirinya yang sebenarnya. “Go away. Gak ada yang mau gue bicarain sama lo.” Usirnya dengan nada dingin. Dahi Inara mengernyit. Merasa bingung sekaligus terkejut. Rasa antusiasnya meluntur dalam sekejap. “Maksud lo?” ‘Gue cuma ngelakuin ini demi Anna.’ Ingin sekali Ezekiel bicara blak-blakkan seperti itu. Akan tetapi, sebesar apapun rasa benci Ezekiel terhadap Inara, Ezekiel masih menahan diri untuk tidak terlalu jujur seperti Zenith. Ezekiel tidak ingin mengadu domba Anna dan Inara. “Gue cuma mau lihat lo doang. Gak ada hal penting.” Dari sekian banyak kalimat yang sudah tersusun di benak Ezekiel, akhirnya hanya dua kalimat itu lah yang bisa ia ucapkan. Dikarenakan Inara tak kunjung memberi respons, Ezekiel mengedikkan bahu tak acuh dan pergi dari hadapan Inara. Merasa urusannya sudah selesai. Lagipula Anna dan Zenith sudah pergi jauh sejak tadi.
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status