Muda dan Liar

Muda dan Liar

Oleh:  Pentol2  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
23Bab
1.4KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

"Aku hanya menginginkanmu. Kenapa kau memikirkan yang lain?" ~~ Dalam hidup Tamara, tunduk akan perintah Ibu adalah sebuah keharusan. Menjadi anak yang baik adalah sebuah poin penting. Namun Tamara sudah lelah, ia ingin pergi dari kehidupan yang mengekang itu. Tapi, mengapa sekarang ia malah terjebak dalam obsesinya mendapatkan pria yang ia suka? Dan merusak kepercayaan sang Ibu. Lantas, akankah Tamara bisa kembali seperti dulu? Dimana semua masih terkendali dan rahasia kelam yang ada tetap tersembunyi darinya?

Lihat lebih banyak
Muda dan Liar Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
23 Bab
Prolog - Malam yang Panjang
"Kau datang,” ucapnya dengan suara serak. “Ya,” jawabku pelan. Wajahnya yang setengah mabuk membuatku sedikit gugup. Apa yang akan terjadi setelahnya? “…” Ia berbicara sesuatu, tapi aku tak mendengarnya. “Musiknya terlalu kencang, aku tak bisa mendengarmu,” bisikku ditelinganya. Mataku lalu menjelajahi sekitar. Melihat banyaknya orang mabuk yang memenuhi tempat itu. “Apa tempat seperti ini yang ia suka?” lirihku pelan sambil menatap pria dihadapanku kembali. “Aku tak bisa mengulangi perkataanku tadi. Tapi aku bisa menunjukannya untukmu.”  Aku tak mengerti maksudnya, namun aku hanya tersenyum membalasnya.Setidaknya aku tidak membuat masalah dengannya. “Ini akan jadi malam yang Panjang, apa kau siap?”Baca selengkapnya
Chapter 1 - Hari Pertama
"Aku tak pernah membencinya. Tapi, aku hanya tak menyukainya.” ** “Semoga harimu menyenangkan,” ucap pria tua itu dengan senyum tipis dari dalam mobil. Aku pun membalasnya dengan senyuman sebelum masuk ke halaman sekolah.  “Tam!” Sebuah panggilan membuatku menoleh kebelakang dan ternyata itu adalah sahabatku. Ia memberikan senyuman ceria dihari pertamanya sekolah. Berbeda denganku yang sama sekali tak memberi ekspresi Bahagia. Karena aku sedang kesal. “Apa ada yang membuatmu begitu senang selain hari pertama di sekolah ini?” tanyaku to the point. “Apa kau mau tau?” Gadis berambut pirang ini malah menggodaku balik. Pasti ada berita menarik yang ia bawa. “Tentu saja,” balasku sambil melangkah menuju kelas. “Emm … Tommy menyatakan perasaa
Baca selengkapnya
Chapter 2 - Payung Merah dan Ingatan
"Jika aku tidak ada dalam hidupnya. Apakah ia akan lebih Bahagia?” ** Aku baru selesai membersihkan sepatuku dan untung saja sepatu ini berwarna hitam. Jadi, tidak terlalu kelihatan jika basah.  “Masih sedikit bau. Apa tidak papa?” tanya Sandra yang berdiri disebelahku dengan tangan membawa tisu basah. “Ya.” Aku tidak mempermasalahkan bau itu. Setidaknya sepatu ini cepat kering sebelum aku pulang. Sandra yang mendengar perkataanku mengangguk singkat, lalu menyodorkan air mineral yang ia beli tadi.  “Makasih.” Setelah meminumnya, aku segera mengajak Sandra ke kelas. Namun Sandra menolak dan melepaskan gandenganku. “Ada apa?” “Emm … aku akan pergi mengunjungi Tommy. Kau bisa duluan.” “Kau ya
Baca selengkapnya
Chapter 3 - Berbohong
"Ketika orang menceritakan betapa hebatnya ‘ia’ , aku mungkin akan bercerita betapa menyebalkannya ‘ia’ dan aku sama sekali tak takut jika ia marah nantinya.” ** Gelang tangan berhiaskan Mutiara itu benar-benar menarik perhatianku sedari tadi. Gelang itu bergerak kesana kemari bersamaan dengan tuts yang harus ditekan oleh Wanita disampingku.Aku sangat terpesona dan menginginkannya. “Tam, apa kau memperhatikanku dengan baik?” tanya Wanita yang biasa kupanggil Guru itu. Ia membuyarkan lamunanku dalam sesaat dan secepat itu aku juga menjawab pertanyaannya dengan anggukan singkat. “Kalau begitu bagus, kau bisa mencobanya sekarang!” “Apa harus sekarang? Tidak bisakah hari ini aku libur saja? Lagi pula, kemarin Ibu sudah menyuruhku memainkan banyak lagu bersamaan. Tanganku masih sakit,” keluh
Baca selengkapnya
Chapter 4 - One Night
"Dia berharap aku menghargainya, namun ia sendiri tak pernah menghargaiku.” ** Aku mengikuti Langkah Nicky bagaikan anak ayam, dan Nicky sebagai induknya. Dan aku sungguh tak tahu, kemana ia akan membawaku pergi?Kuharap ia bukanlah pria aneh-aneh. “Apa kau pernah membolos?” tanya Nicky kepadaku. Aku pun menggeleng cepat sambil tetap fokus melihat kedepan. Lalu, tiba-tiba tangannya yang besar menggandeng tanganku yang kecil. Aku reflek menatapnya. “K-kenapa menggandeng tanganku?” tanyaku yang terkejut. Bukannya menjawab, ia malah tersenyum simpul padaku. Dan aku sama sekali tak mengerti artinya. Apa ia sengaja melakukan ini? “Ayo kita bolos!” ajak Nicky dengan wajah santai dan ia benar-benar berhasil membuatku membisu seketika. “Kenapa? Kau tak mau?”
Baca selengkapnya
Chapter 5 - Cemburu
"Aku berpikir, bagaimana jika aku bertukar peran dengannya? Pasti akan sangat menyenangkan.” ** Ceklek! Pintu kamar yang ingin kubuka pelan itu masih saja menimbulkan suara yang keras. Padahal, aku berniat supaya Ibu tidak terbangun, tapi begitulah. Ceklek! Aku spontan melihat ke kamar sebelah, dimana Ibu sudah berdiri dengan menggunakan piyama berwarna pink muda bermotif bunga Sakura. Ia begitu segar seakan dia barusan selesai mandi. “Good morning!” sapa Ibu yang langsung kubalas senyum tipis dan anggukan kecil. Sebenarnya aku sedikit penasaran, apakah pria semalam sudah pulang? Tapi, Ibu biasanya tidak langsung mengusir pria yang dibawa sebelum sarapan.Apa hari ini juga akan sama? “Ahhh … hari ini Ibu tidak akan sarapan dan langsung ke kantor. Apa kau bisa membuat sarapanmu sen
Baca selengkapnya
Chapter 6 - Menghindar
"Untuk pertama kalinya, aku nyaman dengan seseorang setelah kejadian waktu itu. Apakah kali ini semua akan lebih baik?”**“Tipe idealku? Dia? Gak mungkinlah!” jawabku dengan tegas.“Benarkah?” Lagi-lagi ia menggodaku. Aku tahu, pasti aku yang akan kalah jika terus menjawabnya. Lebih baik aku diam.“Oh ya, jam istirahat nanti ke taman belakang ya! Akum au ngenalin kamu ke temenku yang lain,” ungkapnya yang sekaligus mengalihkan topik pembicaraan kami barusan.Tunggu, dia bilang mau mengenalkanku? Apa-apaan ini? Kenapa rasanya seperti ia akan mengenalkanku sebagai pacarnya? “Kita hanya teman dan aku hanya memperjelas status kita,” sambungnya yang seakan membaca pikiranku.Sial, aku benar-benar malu sekarang. Ditambah senyuman mengejek dari pria disebelahku.“Ingat! Kau harus datang! Karena aku tidak menerima penolakan!” tegasnya yang setelah itu
Baca selengkapnya
Chapter 7 - Adu Mulut
"Bagaimana bisa aku terus melangkah disaat semua itu terjadi?” ** “Semua pria selalu mengatakan hal yang sama. Aku tahu itu,” balasku tanpa menatap wajahnya. Aku lalu mencoba pergi, tapi pria ini mencekal lenganku. Ia takkan melepasku jika terus begini. Apa yang harus kulakukan? Padahal ini sudah waktunya masuk ke kelas? “Beri aku kesempatan, baru aku akan melakukan!”  Lagi-lagi dia mengatakan hal yang aneh, memangnya kesempatan apa yang harus kuberikan?  “Kesempatan? Aku tidak paham. Memangnya apa yang bisa kau tunjukkan? Rasa sayangmu kepadaku? Atau sesuatu yang lain?” balasku yang terkesan meremehkan. “Apa kau bisa memegang kata-kataku? Aku hanya ingin mendengarnya,” celetuknya yang masih belum menyerah. “Baiklah. Aku bisa memegang kata-katamu. J
Baca selengkapnya
Chapter 8 - Pelukan
"Aku kesal, karena aku merasa iri.” ** “Kau benar. Aku dan gadis pemarah ini sangat cocok,” ungkap Nicky yang malah setuju dengan pendapat Alexi. Aku pun hanya bergidik ngeri dengan ungkapannya. Memang darimana kami terlihat cocok? Dari kaca pembesar?  “Lalu, apa kalian akan jadian?” tanya Alexi yang semakin membuatku terdiam. Aku yakin, Alexi memang sengaja memancing kami berdua. Ia pasti ingin tahu sejauh mana hubungan kita. Padahal, aku dan Nicky sama sekali tidak akan sampai kearah sana. Semoga, Nicky tidak menjawab pertanyaan Alexi. “Mungkin,” balas Nicky yang langsung mengerutkan keningku. “Memangnya apa yang salah jika kita jadian? Aku bahkan menginginkan itu setelah Tamara menerimaku,” lanjutnya sambil melirikku. Aku tidak percaya, dia terus berbicara
Baca selengkapnya
Chapter 9 - Dalam Gudang
"Ini catatan terakhirku. Nanti aku akan Kembali lagi.” ** “Tom! Hentikan geli!” pintaku saat tangannya itu terus menggelitikku.  “Tidak mau!” balasnya dengan nada seperti anak kecil. Tapi, aku tidak tahan dan langsung memaksa tangannya untuk diam. Setidaknya untuk beberapa menit aku bisa berhenti tertawa. Namun, kenapa pria dihadapanku ini malah memasang wajah sedih? Padahal aku tidak melakukan hal yang buruk. Dasar manja! “Kenapa? Kau marah?” godaku sambil menyentuh pipinya dengan lembut. “Kau sih!” “Apa lagi?” tanyaku balik. Tapi bukannya menjawab, ia langsung memelukku Kembali. Sama seperti dulu, Ketika ia kesal, ia akan memelukku dan aku menepuk punggungnya. Akhirnya, kita Kembali Bersama, meski ada kain tipis yang memisahkan. Setidaknya, peras
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status