The Bad Life

The Bad Life

Oleh:  Hanabelle  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
47Bab
1.1KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Rara, yang hidupnya tidak pernah bisa seperti hidup orang lain. Keluarganya gagal, kisah cintanya tidak pernah berhasil. Lalu apa yang dilakukan Rara setelah itu? Akankah dia dapat melanjutkan hidup dengan baik? Atau dia menyerah begitu saja?

Lihat lebih banyak
The Bad Life Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
47 Bab
Awal
Suara tangisannya menyenangkan semua orang yang ada di dalam ruangan itu. sudah dua hari sang ibunda menunggunya hadir di dunia ini. Namun, dirinya masih terlalu nyaman di dalam dekapan hangat ibunda. Apakah dia tahu nanti jalan hidupnya jauh dari kata normal sehingga masih enggan untuk hadir menemui sang ibunda yang nantinya menjaga hingga ia mampu menjaga dirinya sendiri? “Alhamdulillah, sudah lahir dengan selamat dan tanpa kurang sedikitpun, selamat ya ibu!” Suara yang mengikuti suara tangisan bayi itu, juga menenangkan sang ibunda yang baru saja mengeluarkan segala energinya untuk menghadirkannya di dunia ini. Sang ibunda yang mendengarkan itu tentu saja sangat tenang. Anak pertama, cucu pertama, cicit pertama. Betapa berat beban yang dipikul di pundaknya. Pada saat itu, semua yang hadir sangat senang dengan tangisan yang tetiba semerbak di dalam ruangan itu. Kecuali satu orang, setelah mengumandangkan adzan di telinga anak perempuannya, ia langsung keluar dari r
Baca selengkapnya
Rara, Ryan, Rehan
“Kak, bangun! Sudah jam enam! Telat entarr!” Kata bunda sambil menyiapkan baju ku yang belum sempat kusiapkan karena aku bangun terlalu siang. Aku yang terkejut akan mimpi itu masih diam beberapa saat dan bunda menanyakan keadaanku. Apakah aku mengalami mimpi buruk lagi seperti beberapa hari lalu. Aku mengangguk dan pergi mandi.Sesampainya di sekolah aku langsung bergegas untuk menuju kelasku dan mengikuti pelajaran hari itu, meskipun terkadang merasa ngantuk dan akhirnya tertidur. Ketika istirahat, aku dan teman-temanku menuju ke kantin dengan langkah yang begitu cepat agar mendapatkan tempat duduk disana.“Eh, Ra! Ditunggu Ryan di kelas!” Kata Arya sambil pergi begitu saja bersama kekasihnya.Aku yang kala itu sedang di kantin bersama teman-temanku memutuskan untuk pergi kembali ke kelas lebih awal. Sesampainya di kelas aku melihatnya sedang bercengkrama dengan teman kelasku kala itu.“Ada apa? Tumben banget.” Kataku
Baca selengkapnya
Ayah dan Bunda
Setelah itu, pelajaran di sekolah hari itu berjalan dengan baik dan seperti biasanya. Pulang sekolah aku dijemput oleh bunda dan adik-adik.“Gimana kak? Lancar gak sekolahnya?” Tanya bunda seperti biasanya.Seperti biasanya, bunda menjemputku dengan mata yang sembab dan suaranya bergetar. Adik yang biasanya selalu ceria menyapaku, mengajakku bercanda juga diam tidak berkutik di kursi sebelah bunda. Dalam hati aku sudah mengetahui mengapa ini terjadi, pasti karena ayah.Sesampainya di rumah aku langsung beberes dan bersih diri lalu istirahat. Baru saja tertidur, ayah datang dengan membanting pintu depan.“Bodoh banget si jadi orang? Udah tau galon abis kenapa ga pesen-pesen si?” Ucapnya sambil membentak abunda.“Saiki, lapo meneng ae?” (sekarang, kenapa diam aja?)Aku yang mendengarkan langsung keluar kamar dan jelas, ayah melihatku dan ikut memakiku juga.“Deloken. Ibumu goblok! O
Baca selengkapnya
Selesai
Kriiiing, bel istirahat sudah berbunyi. Tak lama, aku dan teman-temanku bergegas ke kantin, membeli makanan ringan dan beberapa minuman yang sedikit menyegarkan. Tiba-tiba terdengar suara seseorang berlari mengejar kami, dan ternyata itu adalah Ryan. “Apa Yan? Ngapain lari-lari?” tanyaku heran kepadanya. “Kamu belum buka line ku?” “Ngga, belom. Tar aja pulang sekolah. Kenapa? Penting emang?” “Oh, yaudah. Nanti aja kalo kamu uda buka. Maaf ya ganggu kalian.” Katanya langsung meninggalkan kami. “Lah emang pesannya ga kamu buka?” tanya puput kepadaku. “Ngga, dia nge-chat aku waktu aku mau tidur, ya mana sempet akku buka.” “Terus, pagi kenapa ga kamu buka?” saut Anggi. “Pagi sibuk banget, ga nutut lah buat ngebuka hp. Hehe.” Jawabku sambil terkekeh. Sesampainya di cafe itu kami langsung memesan makanan dan minuman favorit kami, bermain kartu, bercanda, membicarakan orang lain dan s
Baca selengkapnya
Patah Hati Terbesar
Setiap dua minggu sekali, aku, bunda dan adik-adik selalu mengunjungi rumah kakek dan nenek. Pasti sudah tau kan mengapa tidak bersama ayah? Ya, ahay memang sangat tidak suka berkumpul dengan saudara-saudaranya, termask saudaranya sendiri. ayah lebih suka menyendiri atau bersama teman-temannya, yang jelas bukan keluarganya sendiri. Setaun belakangan ini, kakek memang sakit-sakitan. Namun, penyakitnya itu bukan penyakit yang besar atau bahaya. Jangan sampe lah. Penyakitnya hanya sebatas kelelahan hingga membuatnya tipes atau sendinya yang memang sudah tidak mampu untuk berjalan seperti biasanya. Kakek yang sudah pensiun masih saja beraktivitas seperti ketika ia belum pensiun, bedanya hanya ia tidak bekerja saja. Tiap pagi ia selalu jalan pagi kee pasar bersama nenek, menyiram tanaman, bersih-bersih bersama nenek dan memasak cemilan yang tiapp harinya akan dikirimkan ke rumah kami. Berbeda ketika kami semua ke rumahnya, aktivitasnya akan berbeda. tiap pagi ia akan berm
Baca selengkapnya
Setelah Kepergian Kakek
Kematian kakek meninggalkan luka yang mendalam untukku. Kakek yang selalu membela dan berusaha sekuat mungkin untuk melindungiku dan bunda, pergi meninggalkanku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku selanjutnya. Apakah aku masih bisa bertahan dengan papa atau tidak. Ketika kakek akan dimakamkan, kami semua sangat kerepotan untuk mengurus ini itu. Namun, berbeda dengan ayah yang malah leha-leha sambil merokok dan melihat tamu berlalu lalang. Buyut yang jauh datang dari pulai lain juga tidak dihiraukan oleh ayah. Seminggu setelah kepergian kakek, ayah sudah membuat ulah. Rumah yang saat ini ditempati oleh keluarga kami diam-diam akan dibalik nama oleh ayah. Untung saja pejabat yang mengurus tanah tersebut memihak pada keluarga kami. Pejabat tersebut langsung menghubungi bunda. “Halo mbak, permisi maaf ganggu waktunya. Sebelumnya saya turut berduka cita atas kepergian bapak sampeyan nggih, mbak.” “Oh, iya pak. Terimakasih, ada apa ya pak? K
Baca selengkapnya
Belum Usai
Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, bunda akhirnya diperbolehkan pulang. Padahal, sebaiknya bunda dioperasi terlebih dahulu karena tulang hidungnya bengkok dan nantinya akan menyebabkan gangguan lain. Namun, bunda tidak mau karena takut terlalu lama dan ayah akan semakin menjadi-jadi. Sesampainya di rumah, kami ditemani oleh nenek beberapa hari karena nenek masih khawatir dengan kondisi bunda. Ayah yang sudah menunggu di teras dan seperti bersiap untuk menghajar bunda mengurungkan niatnya dan pergi keluar setelah melihat nenek ikut pulang ke rumah.  Lalu kami beraktivitas seperti biasanya. Perbedaannya hanya pada ayah yang tidak marah-marah seperti biasanya dan cenderung diam. Di rumah hanya makan dan tidur tidak seperti biasanya yang ditambah dengan adegan kekerasan. Setidaknya selama seminggu kami sangat tenang dan bahagia. Kemudian nenek harus kembali ke rumahnya karena tidak mungkin bibi hanya sendiri di rumah. Namun, sebelum nenek kembali,
Baca selengkapnya
Hampir Usai
Selesai ujian nasional, aku menunggu hasil dengan melakukan berbagai aktivitas bersama bunda dan adik-adik dirumah. Pagi hari aku memandikan adik dan menyiapkan alat sekolah adik. Setelah itu langsung mengantarkan mereka. Beberapa hari lagi sudah menmasuki bulan puasa! Aku bunda dan adik-adik sangat senang sekali dan mempersiapkan banyak bahan makanan dan membersihkan rumah sebelum Buan Ramadhan tiba. Tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya karena sudah tidak ada kakek. Namun, nenek selalu mengatakan bahwa kita tidak boleh sedih terlalu lama karena kakek tetap akan menjaga kita semua dari atas sana. Pada hari pertama melakukan sahur, mata ini sangat sulit untuk membuka karena belum terbiasa. Mata yang sulit membuka ini langsung bangun ketika aroma masakan bunda masuk ke dalam kamarku. Sumpah, aromanya sangat waww! Aku pun langsung bangun dan pergi menuju dapur. “Bunda masak apa ini enak banget kayanyaa!” “Cuci muka dulu kali kak, terus ambil piring.”
Baca selengkapnya
Benar-Benar Usai
Ketika hari lebaran tiba, ayah masih saja membuat masalah dengan memaksakan nenek dan bibi untuk harus pergi ke desa ayah terlebih dahulu. Namun, nenek menolak dan tetap ingin segera bertemu saudara yang berasal dari kakek. Sepanjang perjalanan, bunda dan ayah hanya diam dan tidak berbicara. Namun, nenek dan bibi yang tidak tahu apa yang sedang terjadi tetap bercengkrama kepadaku dan adik-adik. Ketika sampai di sana, ayah langsung mengasingkan diri dan tidak mau bertemu dengan saudara kakek. Padahal, saudara dari kakek mencarinya dan bunda beralasan bahwa ayah sedang berada di kamar mandi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami sore langsung pulang dan mengantarkan nenek serta bibi ke rumah. Seolah mengerti apa yang akan terjadi, adik langsung menangis dan tidak ingin membiarkan nenek dan bibi pulang. Benar saja, diperjalanan menuju desa ayah, ayah tidak ada henti-hentinya mengomel kepada bunda. Mulai dari mengapa bunda tidak bisa membujuk nenek untuk mau ke de
Baca selengkapnya
Bebas
Setelah aku, bunda dan adik-adik pindah ke rumah nenek, kami merasa lebih bebas dan lebih merasa hidup. Aku yang sudah lama terkungkung di rumah langsung keluar rumah terus menerus. Selama tujuh belas tahun hidup, baru kali ini aku benar-benar merasakan bebas.Ketika tahun ajaran baru segera dimulai, aku dan bunda berbelanja alat tulis untuk keperluan sekolah, menjahit seragam baru dan peralatan sekolah lainnya.Bunda kala itu juga merasa sangat bebas, kami berempat bisa makan di luar dengan tenang, bisa berbicara dan bercanda tanpa takut dimarah oleh siapapun.  “Kakak, mau apa lagi abis gini?”“Mau makan pizza gak?”“Mauuu!”Setelah itu, kami pergi ke restoran pizza terdekat, dan menikmati berbagai makanan yang telah dipesan oleh bunda.“Kak, adik, bunda abis gini kerja lagi ya. Gabisa temenin seharian full kaya sebelumnya.”“Loh, nda boleee.” Kata adik sambil m
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status