MENYESAL SETELAH MENDUA

MENYESAL SETELAH MENDUA

Oleh:  Pemilik Hati  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
36Bab
51.1KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Setelah perceraian Gibran dan Alya. Ratna baru tahu jika mantan menantunya itu adalah putri konglomerat. Menyesal, tidak ada gunanya, bukan hanya Ratna yang menyesal, tetapi Gibran pun demikian. Wanita yang selama ini mereka hina dan rendahkan, perlahan akan menghancurkan Ratna maupun Gibran.

Lihat lebih banyak
MENYESAL SETELAH MENDUA Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
36 Bab
Bangkai Dalam Rumah Tangga
"Alhamdulillah, akhirnya positif. Mas Gibran pasti senang mendengar kabar ini. Ah, rasanya aku tidak sabar ingin memberitahu tentang kehamilanku ini," ucap Alya. Wanita dengan dress berwarna merah tersenyum, penantiannya tidak sia-sia, setelah satu tahun menikah, kini ia telah diberi kepercayaan. "Lebih baik aku telepon, mas Gibran saja." Alya mengambil ponselnya, dan bergegas menghubungi nomor suaminya. [Assalamu'alaikum, Mas][Wa'alaikumsalam, Sayang ada apa? Tumben tiba-tiba nelpon][Nanti sore, Mas jadi pulang kan][Insya Allah jadi, udah kangen ya][Iya udah kangen banget, aku juga punya kejutan untuk kamu][Kejutan apa? Jadi penasaran nih][Makanya, Mas buruan pulang][Iya, Sayang. Ya sudah aku lanjut kerja lagi ya][Iya, Mas. Jangan lupa makan, assalamu'alaikum][Iya, Sayang. Kamu juga, wa'alaikumsalam]Setelah itu Alya menutup sambungan teleponnya, ia kembali meletakkan pons
Baca selengkapnya
Kedatangan Madu
Pagi harinya, pukul enam Alya baru terbangun,  ia mendapati suaminya sudah tidur di sampingnya. Entah pulang kapan, Alya tidak mendengarnya, ia mengamati wajah sang suami yang terlihat begitu lelah, dan kelihatannya Gibran memiliki beban pikiran yang cukup berat. "Sebenarnya apa yang kamu sembunyiin dari aku, Mas." Alya mengusap wajah tampan Gibran. Alya melirik jam di atas nakas, setelah itu ia turun dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Sementara itu, Gibran mulai mengerjapkan matanya, cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar, membuatnya merasa terganggu. Gibran meraba samping kanan yang ternyata sudah kosong. "Alya, kok nggak ada." Gibran bangkit dan terduduk. Selang beberapa menit Alya keluar dari kamar mandi. "Mas udah bangun." Alya berjalan menghampiri suaminya. "Sudah, Sayang, maaf ya untuk yang semalam." Gibran bangkit dan berjalan menghampiri sang istri. "Iya, Mas. Kalau boleh tahu, semal
Baca selengkapnya
Madu Tak Berakhlaq
Alya menatap mata suaminya, berharap jika semua yang ibu mertuanya itu katakan tidak benar. Rasanya persendian Alya patah mendengar hinaan seperti itu, andai mereka tahu jika Alya tengah hamil. Apa hinaan itu akan berubah menjadi kasih sayang. Setelah mengetahui hal ini, Alya rasanya tidak perlu memberitahu bahwa dirinya tengah hamil. Alya akan melihat kedepannya akan seperti apa, ia yakin ibu mertuanya itu pasti akan lebih sayang pada menantu keduanya, dibandingkan dengan Alya. "Apa benar jika Safira itu istri kedua kamu, Mas?" tanya Alya. "Heh, kamu tidak dengar tadi. Safira itu .... ""Aku tanya sama, Mas Gibran bukan sama, Mama," potong Alya. Ibu mertuanya itu memang sekali-kali harus diberi pelajaran. "Alya, kamu .... ""Sekarang jawab pertanyaanku, Mas. Apa benar jika Safira itu istri kamu." Alya memotong ucapan suaminya. Dadanya naik turun menahan amarah. Gibran bungkam dan menundukkan kepalanya, p
Baca selengkapnya
Pedasnya Lidah Mertua
Alya menyeka wajahnya yang basah karena kopi, ibu mertuanya memang sudah sangat keterlaluan. Sementara, Gibran yang sebagai suaminya hanya diam, suami macam apa. Melihat istrinya diperlukan buruk hanya menonton. "Kamu mau bunuh anak saya, iya." Ratna menjambak rambut panjang Alya. "Ma, sudah mungkin Alya .... ""Diam kamu, istri seperti dia tidak perlu kamu bela. Sudah mandul, tidak tahu diri, seharusnya kamu berterima kasih karena Gibran masih mempertahankan kamu. Coba kalau Gibran menceraikanmu, siapa yang mau sama wanita mandul sepertimu!" bentak Ratna, lalu melepas jambakannya dengan kasar. "Sekarang kamu selesaikan masakanmu, kami sudah lapar," titah Ratna. "Suruh saja menantu kesayangannya, Mama untuk masak, aku bukan pembantu." Alya melenggang pergi meninggalkan ruang makan. Hatinya terlanjur sakit mendengar ucapan demi ucapan pedas ibu mertuanya itu. "Alya, berani kamu ... Alya mau kemana kamu, Alya!" te
Baca selengkapnya
Perubahan Gibran
Safira tersenyum saat melihat siapa yang datang, begitu juga dengan Ratna. Sementara Alya masih diam, ia berusaha untuk bersikap tenang. Gibran berjalan menghampiri mereka Alya dengan tatapan mata yang tajam. "Jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku iya?" tanya Gibran penuh dengan penekanan. Alya terdiam sejenak. "Memangnya kenapa? Mereka pantas mendapatkan ini. Aku bukan wanita lemah yang seenaknya diinjak-injak begitu saja."Plak, satu tamparan mendarat di pipi mulus Alya. "Sekarang kamu berubah, di mana Alya yang dulu."Alya mengusap pipinya yang terasa panas. "Aku berubah juga gara-gara kamu, dan sepertinya bukan aku saja yang berubah, tapi kamu juga. Setelah kamu menikahi sahabat tidak tahu diri itu, kamu berubah."Gibran kembali mengangkat tangannya kembali, dan hendak menampar pipi Alya kembali. Namun niatnya terhenti saat melihat sorot mata istrinya yang terlihat seperti menahan rasa sakit. Gibran sadar, jika keputusannya unt
Baca selengkapnya
Awal Kehancuran Gibran
Dengan cepat Alya mengambil amplop tersebut, ia tidak ingin Gibran tahu jika dirinya tengah hamil. Sementara itu, Gibran menatap istrinya dengan penuh selidik, ada rasa curiga jika sang istri menyembunyikan sesuatu darinya. "Amplop apa itu?" tanya Gibran. "Ini bukan punyaku, tapi punya Linda. Kemarin dia nitip," jawab Alya. Ia sengaja berbohong agar Gibran tidak mencurigainya. Gibran hanya mengangguk, setelah itu ia beranjak meninggalkan kamar istrinya. Sementara itu, Alya bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini Alya akan pergi ke rumah orang tuanya untuk mengurus masalah yang kini menimpanya. Dua puluh menit kemudian, Alya sudah siap untuk pergi. Wanita berambut panjang itu beranjak keluar dari kamar, ia melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Setibanya di bawah terlihat Ratna dan Safira tengah ribut di dapur, sementara Gibran sudah berangkat ke kantor. "Heh mau kemana kamu?" tanya Rat
Baca selengkapnya
Penyesalan Gibran
Penyesalan memang selalu datang terlambat, karena jika diawal itu namanya pendaftaran. Kini Gibran hanya bisa meratapi nasibnya, istri pergi, saham yang sudah kurang lebih satu tahun ia kelola kini diambil kembali. Rasanya Gibran ingin menangis, mungkin jika hanya saham yang diambil, ia masih bisa terima. Namun, Alya juga ikut pergi, terlebih sang istri dalam keadaan hamil. Selama setahun menantikan buah hati, setelah terwujud, justru Gibran tidak bisa memilikinya, karena sang istri memilih untuk pergi. Andai ia tidak menuruti keinginan ibunya, mungkin kejadiannya tidak akan seperti sekarang ini. Mungkin saat ini Gibran tengah berbahagia karena kehamilan Alya. "Gibran, sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ratna. Gibran menggelengkan kepalanya. "Nggak tahu, Ma. Alya sudah pergi ninggalin aku."Ratna menghembuskan napasnya. "Untuk apa kamu memikirkan dia, biarkan saja dia pergi. Yang perlu kamu pikirkan adalah, bagaimana caranya kit
Baca selengkapnya
Surat Cerai
Kini Gibran sudah ada di kantor, ia pun langsung mengecek ke gudang. Seketika tubuhnya luruh ke lantai, semua barang-barang habis dilalap oleh dijago merah. Tidak ada yang tersisa sedikitpun, entah berapa kerugian yang harus Gibran tangung. "Bisa-bisa perusahaan ini bangkrut," ucap salah satu pegawainya. "Iya, entah berapa kerugian yang harus, pak Gibran tanggung," sahut yang lain. "Iya, malah bisa-bisa kita nggak gajian, untuk menutupi ini semua," timpal yang lain lagi. "Hus, jangan keras-keras. Kalau, pak Gibran denger bagaimana, dia kan lagi berduka," sergah yang lain. Sontak mereka diam. Setelah itu Gibran bangkit, ia menatap semua pegawainya yang masih berkumpul di depan gudang. Setelah itu Gibran menyuruh mereka untuk kembali bekerja, meski terlihat jika mereka tidak memiliki semangat untuk kerja. "Anton, kapan kejadiannya?" tanya Gibran. "Satu jam sebelum para karyawan datang, Pak," jaw
Baca selengkapnya
Awal Kebangkrutan Gibran
Keesokan harinya, Gibran datang ke rumah orang tua Alya, berharap istrinya itu mau mencabut gugatannya itu. Setibanya di sana, Gibran memarkirkan mobilnya, setelah itu ia pun turun. Pria dengan balutan kemeja berwarna merah maroon mengedarkan pandangannya. Rumah nampak sepi, bahkan jika dilihat rumah sudah lama tak berpenghuni. Halaman kotor, banyak tumbuh rumput liar. Kondisi rumah juga tak terawat, semenjak menikah dengan Alya, ia memang jarang ke mertuanya itu. Mungkinkah jika mereka pindah. "Kenapa rumahnya sepi, apa mereka pindah. Tapi rumah ini sepertinya sudah lama tidak berpenghuni, lalu Alya kemana," gumam Gibran. Ia mendesah kecewa, sudah jauh-jauh datang, tapi hasilnya nihil. "Huft, nomor Alya nggak aktif lagi," gumamnya, seraya menelpon nomor istrinya. Hampir satu jam Gibran menunggu, tapi hasilnya nihil. Lelah menunggu, akhirnya Gibran memutuskan untuk pulang, ia tidak tahu harus mencari kemana istrinya itu. Namun, tib
Baca selengkapnya
Gibran Bangkrut
Seminggu telah berlalu, sejak pertemuannya dengan Alya di resto waktu itu. Kini Gibran mulai berpikir jika anak yang Alya kandung bukanlah anaknya. Rasanya sulit untuk menerima kenyataan itu, dan mungkin Gibran juga sudah termakan oleh perkataan Safira. Kini Gibran tidak peduli lagi dengan perceraian itu, bahkan dirinya tidak akan mempersulit jalannya sidang nanti. Saat ini Gibran memilih fokus pada perusahaannya yang terancam bangkrut. Gibran sudah berusaha untuk mencari bantuan, tapi hasilnya tetap sama. Sudah lebih dari dua puluh perusahaan, yang ia ajak untuk kerja sama, agar bisa menyelamatkan perusahaan miliknya. Namun hanya penolakan yang Gibran terima, rasanya ia seperti kehilangan harga diri. Hendak meminjam uang ke bank, tapi hasilnya juga sama, tidak ada bank yang mau meminjamkan uang. Gibran tidak tahu harus berbuat apa lagi, otaknya berasa ingin pecah. Terlebih saat melihat kelakuan Safira dan ibunya, yang seperti tidak memiliki pe
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status