Dipaksa Menikahi Pangeran Kejam

Dipaksa Menikahi Pangeran Kejam

Oleh:  missingty  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
9.9
Belum ada penilaian
222Bab
572.8KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Amanda White, putri pertama Baron Broke harus menjalani takdirnya sebagai pengantin Pangeran Hitam demi kepentingan politik kerajaan. Desas-desus mengatakan jika Pangeran Hitam sebelumnya telah membunuh dua orang istrinya tepat setelah malam pertama mereka. Sialnya, Amanda White tak memiliki pilihan lain selain menjalani pernikahan paksa itu. Di lain pihak, Pangeran Hitam juga merasa terbebani untuk menikahi Amanda White, sebab perempuan itu adalah keluarga jauh dari sang Ratu, seseorang yang sangat dibencinya. Beragam konflik pun mewarnai pernikahan dan lika-liku urusan kerajaan. Apakah Amanda White mampu menemukan kebahagiaan dalam pernikahan paksa itu? Apakah Pangeran Hitam bahkan mengenal apa itu ‘cinta’? IG: Inspirasikuh

Lihat lebih banyak
Dipaksa Menikahi Pangeran Kejam Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
222 Bab
I
“Selamat … kau akan menikah,” gumam seorang gadis yang berdiri di hadapan sebuah cermin antik nan indah. “Yah, kau sungguh akan menikah ...,” ulangnya lagi pada pantulan dirinya yang tampak menyedihkan dengan wajah sayu dan tatapan hampa. Alunan lagu-lagu romantis bisa terdengar di luar kamar gadis tersebut. Alih-alih terdengar merdu alunan lagu tersebut lebih mirip hymne kematian di telinganya, menyakitkan sekaligus menyesakkan dada. “Bagaimana caranya bangun dari mimpi buruk ini,” batin gadis itu dengan ekspresi pilu bercampur  takut. Dia mencengkeram gaun seputih salju yang membingkai tubuh mungilnya, merasakan sejumlah permata menusuk telapak tangannya. “Sakit … ini benar-benar kenyataan, Amanda.” Alis gadis itu bertaut, “bagaimana ini bisa terjadi?” Gadis itu masih tidak mampu menerima kenyataan di hadapannya sekarang. Ia menutup matanya, mencoba mengulang kembali kejadian dini hari tadi saat dirinya berdiri kaku di tengah
Baca selengkapnya
II
Manik ungu Amanda melebar, kedua tangannya gemetaran sambil mengenggam erat buket mawar merah. Untunglah veil putih tulang menutupi setengah tubuhnya hingga mampu menghalangi pandangan orang-orang terhadap dirinya.“A-ayah ...,” ujar Amanda dengan perasaan kalut. “Jangan buat aku malu di hadapan ratusan tamu,” bentak Baron Broke sambil menarik tangan Amanda dan melingkarkannya ke lengannya.Melihat tangannya yang  tersampir di lengan ayahnya, terbersit perasaan bahagia di dada Amanda. Walau ia tahu itu hanya kewajiban pura-pura pria tua itu sebelum mengirim dirinya sebagai tumbal pernikahan ini. Tapi bolehkah  ia sedikit bahagia, dan membuat hal terakhir yang ayahnya lakukan sesuai presepsinya?“Kasihan ...,” itu adalah kata pertama yang didengar Amanda ketika kakinya melangkah menuju Altar, gadis itu sampai menoleh, tapi hanya tatapan dingin dari ratusan pasang mata yang ia dapati.Tiba-tiba aten
Baca selengkapnya
III
“Apa benar kau dikutuk?” tanya Pangeran Hitam menyuarakan isi kepalanya.Amanda hanya membuka  dan mengisi udara dengan mulutnya tanpa ada satu pun kata yang berhasil keluar, sedangkan hidungnya seperti berhenti menghirup oksigen.“Kau penyakitan?!” tanya pria itu lagi, kali ini dengan intonasi yang lebih tinggi. Hanya isakan sebagai jawaban. Pangeran Hitam yang tak sabaran mendorong Amanda ke tembok.BRAK!Sekarang Pangeran Hitam mengungkung gadis mungil itu sembari mendongakkan dagunya. “JAWAB!”, bentaknya yang malah membuat air mata Amanda semakin tak terkendali.“Ck! Kau bisu ya? Atau tuli?!” kembali Pangeran Hitam bertanya dengan kasar.“T-ti-ti ...,” Amanda tak berhasil menyelesaikan perkataanya, akhirnya ia hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Pangeran Hitam memiringkan kepalanya, memperhatikan bibir merah Amanda yang juga gemetaran. Gadis itu sudah p
Baca selengkapnya
IV
Amanda menjerit kencang saat baju yang ia kenakan koyak oleh tangan besar Pangeran. “Ahh!” Gadis itu langsung menutupi bagian atas tubuhnya, sedangkan sosok tampan  itu masih mendominasi dirinya.“Hei ... jangan berteriak seperti itu, orang-orang bisa mengira kalau akulah orang jahatnya,” bisik Pangeran Hitam sambil tersenyum penuh arti. Setelah berkata seperti itu, dengan sekali ayun Pangeran Hitam mengangkat Amanda White dalam gendongannya. Menghempaskan gadis itu di atas ranjang, segera Amanda membuat jarak sejauh mungkin dengan pria tinggi besar itu, tapi kepala ranjang mewah itu menghalanginya.Pangeran Hitam membuka kancing baju yang ia kenakan dengan tak sabar, kemudian menjatuhkan kemeja hitam itu di sisi ranjang. Terlihat dada bidang dengan bekas guratan luka di sana-sini, seluruh tubuhnya tampak memiliki luka teriris benda tajam yang teramat dalam. Pria itu kemudian naik ke atas ranjang sembari menarik kaki Amanda sehingga gadis i
Baca selengkapnya
V
Menjelang pagi, Baron Broke dengan semangat menuju kediaman Duke Alantoin, kakak kandung Ratu sekaligus seseorang yang berada di balik layar pernikahan Pangeran Hitam dan Amanda White. Pria tua itu berencana menagih sisa imbalan yang akan ia terima ketika putrinya telah dipersunting oleh Pangeran Hitam.Baron Broke mulai berbasa-basi saat tuan rumah sudah berada satu ruangan dengannya. Duke Alantoin duduk dengan kepala mendongak dan kaki terlipat, mengacuhkan kata apa pun yang keluar dari mulut pria dengan janggut tebal itu. Sedikit kesal mendapat perlakuan tak hormat, Baron Broke langsung menyatakan tujuan sebenarnya kesini, “Duke Alantoin, aku akan mengambil sisa imbalanku, pengorbanan anakku butuh biaya yang tak sedikit.”Duke Alantoin menaikkan sebelah alisnya “Pengorbanan anakmu? Dia sudah mati?”Baron Broke menelan salivanya, “Be-belum ... .““Belum? Berarti Pangeran Hitam membawanya serta?” tanya Duke
Baca selengkapnya
VI
Dan waktu terus berjalan, tetapi siksaan dari ayah kandungnya tak pernah reda, begitu pun dari ibu dan adik tirinya. Mereka merasa Amanda adalah aib besar di keluarga Broke, selain karena gadis itu yang terlahir berbeda dari kebanyakan orang, ia juga ditinggal begitu saja setelah malam pernikahannya dengan Pangeran Hitam seolah menambah daftar panjang kenapa Amanda White begitu dibenci seluruh keluarga Broke.“Sepertinya sudah mulai memudar,” gumam Amanda, bukan merujuk pada noda hitam yang sudah tersingkir pada pantat kuali yang ia gunakan untuk bercermin melainkan pada luka memar di atas tulang pipinya. “Ayah tak pernah seperti ini. Ayah tak pernah memukulku, walau ia tak menyukaiku.”Amanda sadar, sejak lama Baron Broke seakan kehabisan napas ketika harus satu ruangan dengan dirinya. Tapi hanya saat mereka berdua, begitu ibu kandung Amanda masuk ke ruangan yang sama, suasana jadi begitu berbeda, hangat dan penuh cinta, seperti keluar
Baca selengkapnya
VII
“Oh ...,” jawab Amanda singkat mendengar kabar itu, sedangkan tiga pelayan lainnya menatap ke arahnya dengan gugup.“Dia tak akan melaporkan perbuatan kita pada suaminya, ‘kan?” bisik pelayan yang sedari tadi memerintah Amanda pada pelayan lain yang urung memakan sup di depannya.“Tenang saja ia sudah dilupakan, bahkan jika ia memberi tahu suaminya kurasa Tuan Besarlah yang pertama mati.”Amanda melirik sekilas pada mereka, kemudian kembali melanjutkan memotong tumpukan labu di hadapannya.“Kau tak tahu? Pangeran tak pernah memberimu kabar? Ayahmu tak memberi tahu?” tanya Nesa bertubi-tubi.Amanda menggeleng pelan. “Tidak” jawabnya lirih.Pelayan yang tadi berbisik itu tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya. “Lihat aku benar ‘kan, ia tak memiliki daya tarik! Pangeran terlalu jijik padanya hingga tak mau menyentuhnya dan sekarang malah sudah melupakannya!” u
Baca selengkapnya
VIII
Perhelatan besar untuk menyambut sang tuan rumah digelar di kediaman Pangeran Hitam. Tapi sebelum ke kediamannya, Illarion Black atau yang lebih dikenal dengan Pangeran Hitam memberi hormat terlebih dahulu pada sang Raja Abraham di ruang peristirahatan pribadinya. Raja tua itu masih terbujur lemah di atas ranjang yang tertutup oleh kelambu mewah berwarna merah maron. Pangeran Hitam berlutut memberi hormat pada sang Raja. “Kali ini Exilas?” tanya Raja sedikit parau tapi tak sedikit pun mengurangi karisma yang dimiliki penguasa Anarka itu. “Ya,” jawab Pangeran Hitam singkat. Raja tua itu terkekeh. “Sebuah kemenangan besar kau dapatkan, tapi kenapa nada suaramu seperti kau kalah perang, Rion?” “Maaf,” jawab Pangeran Hitam singkat sekali lagi. Tak berminat sedikit pun menjawab panjang lebar pertanyaan sang Raja. Sedikit bangkit dari sandaran kepala kasurnya, Raja tersenyum sinis. “Ah rupanya kau masih membenciku, Rion.” Pangeran Hitam masi
Baca selengkapnya
IX
Pangeran Hitam menembus dinginya malam dengan berkuda. Tujuan yang di tempuh tak begitu jauh, hanya sekitar beberapa jam saja dibanding ke kota-kota lain yang harus memakan waktu berhari-hari dari ibu kota Anarka. Sedikit cemas mengingat perkataan Raja tadi, Illarion jadi mengingat perkataanya ketika meninggalkan kediaman gadis itu terakhir kali. “Kita balik keperbatasan dan bawa semua pengawal. Dia akan aman karena syarat dari Raja sangat melindunginya, ia pun masih keluarga sang Ratu. Lagipula Raja tak memberi syarat bahwa aku harus bersamanya selama setahun.” Rion tak menyangka celah kecil dari perintah Raja yang ia temukan dianggap sebagai sebuah pengkhianatan oleh Raja. “Pria tua itu benar-benar ingin aku berkubang dengan keluarga setan wanita,” umpat Pangeran Hitam sambil terus memacu kudanya menuju Sulli. Sesampai di sana, Illarion Black heran melihat kediaman keluarga Broke yang temaram, tak semegah terakhir seperti terakhir kali yang ia ingat. Dan ha
Baca selengkapnya
X
“Duduk? Kurasa kau sudah tak menyayangi nyawanmu lagi! Benar-benar kurang ajar, hanya karena ku nikahi kau jadi besar kepala dan berani memerintahkanku untuk duduk! Kau kira aku binatang apa! Eh... .” Tiba-tiba Rion menyadari sesuatu, terlebih saat Amanda kembali berteriak hal yang sama, tapi kali ini tangan putih itu menunjuk pada kucing hitam yang sekarang sedang duduk manis sambil menjilat-jilat kaki depannya.“Nama kucing itu-,“ Rion menghentikan kalimat tanyanya.Amanda yang berlinang air mata menatap pria itu dengan ketakutan. “Ma-maaf sa-saya benar-benar minta maaf, Tuan. Tapi saya memberi nama kucing itu jauh sebelum saya mengenal Tuan. Saya benar-benar minta maaf....” Amanda masih mengucapkan beribu kali kata ‘maaf’ sambil bersujud dengan tubuh gemetar, sedangkan di sampingnya si kucing dengan polosnya masih menjilat-jilat tubuh berbulu hitamnya.Rion tercenung menyadari apa yang terjadi, ia nyaris saja me
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status