XL

XL

Oleh:  Siti Auliya  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
8Bab
1.2KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

XL Ardhia, seorang gadis yang mempunyai berat badan berlebih tetapi mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, tapi demi ayah yang dihina oleh calon besan, ia berjuang keras untuk menurunkan berat badan dan menjadi wanita dengan berat badan ideal. Tak segan-segan Ardhia menghajar orang yang menghina dirinya, tetapi ia cukup senang dengan panggilan teman-teman akrabnya yang mempunyai panggilan kesayangan, XL. Walau badannya diatas rata-rata berat ideal tapi Ardhia tidak minder. Buktinya saat ia melamar jadi pegawai di pabrik elektronik ia diterima. Temannya lumayan banyak. Diantaranya adalah Farah, Dina dan Sonia. Ia mempunyai cerita tersendiri saat berteman dengan ketiganya. Berteman dengan Farah saat gadis itu dibully habis-habisan oleh sekelompok pemuda. Ia rela bertarung mengalahkan para pemuda tengil itu. Walau tak punya basic bela diri, badannya yang gede tidaklah letoy, tetapi cukup kekar untuk sekedar melintir tangan para cowok kurang ajar itu. Akhirnya mereka kapok dan tidak berani menggoda lagi. Aku juga mulai berteman dengan Dina, saat motor Dina keserempet sebuah mobil dan pengemudinya tidak mau bertanggung jawab karena merasa anak seorang aparat. Ia pasang badan ketika pengemudi itu ngotot merasa tidak bersalah. Ardhia mengancam akan mendatangi kantor ayahnya kalau tidak bersedia ganti rugi. Akhirnya ia mengalah dan Dina menjadi temannya. Berteman dengan Sonia adalah hal paling unik yang ia rasakan. Sonia yang kurus kering ingin sekali punya badan sedikit gemuk. Ia ingin mendapatkan sedikit tips dari Ardhia untuk membuatnya gemuk. Dunianya yang ceria seketika berubah. Dulu ada semacam perjanjian antara Ayahnya dengan temannya untuk menjodohkannya dengan anak laki-lakinya, Yudha. Istri calon besan Ayah ternyata tidak setuju karena badan Ardhia yang gendut. Kepercayaan dirinya terkikis demi melihat Ayah tertunduk sedih. Teman-temannya berusaha membuatnya percaya diri. Akhirnya pernikahan pun terjadi. Yudha rupanya mempunyai kebiasaan buruk. Ia gemar berselingkuh. Hal yang menyenangkan saat membuat jebakan-jebakan bersama dengan teman-temannya. Karena kelepasan tangan menghajar pelakor Ardhia masuk penjara.

Lihat lebih banyak
XL Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
8 Bab
JULUKAN
Hari ini adalah hari kedua Ardhia terbaring lemas di rumah sakit, setelah ia mencoba untuk tidak makan demi sebuah badan yang langsing. Tidak usah langsing deh berkurang beberapa ons saja sudah membuat dirinya bahagia.Ia ingat dua hari yang lalu, Ardhia bertahan hanya dengan beberapa gelas air dan potongan buah. Tentu saja sudah dari malam kepalanya pusing cenat-cenut, tapi ia tidak memperdulikannya. Terkadang memang suka minder dengan berat badan yang berlebih, bayangkan saja seratus kilogram dengan tinggi 160 cm, apa gak kelebihan empat puluh kilogram kalau menurut perhitungan berat badan ideal. Debam debum debam debum, begitu kata anak-anak kompleks kalau ia lewat di gang. Mungkin langkahnya berhasil menggetarkan dunia. Mending saja kalau karena kecantikan dunia ikut berguncang, lah ini ...."XL ...."Suara teriakan teman-temannya dari balik pintu berhasil mengalihkan dunia, eh lamunannya. Mereka tertawa cengengesan sambil memamerkan bawaannya.
Baca selengkapnya
KEHILANGAN IBU
"Ini apa?" tanya perawat.Teman-teman Ardhia pucat wajahnya. Mereka seperti tersangka dalam sebuah kasus."Kaa--mi hanya memberinya ku--kue coklat," kata Dina terbata-bata."Nah itu masalahnya, pasien dengan masalah pencernaan akut tidak boleh makan coklat dulu, asam lambungnya bisa naik," ujar perawat menjelaskan."Ooh, maafkan kami, kami sungguh tidak tahu," kata Farah. Nampak raut mukanya sedih melihat keadaan Xl."It's oke, semua akan baik-baik saja, sebaiknya kalian pulang, biarkan pasien beristirahat," pinta perawat kepada mereka."Oh, iya ... iya, kami pergi sekarang," ujar Sonia cepat."XL, kami pulang dulu, ya, cepat sembuh, tidak usah diet lagi, kami semua sayang kamu." Dina berpamitan. Sonia dan Farah ikut menanggukan kepala. Mata mereka basah, 'Rupanya para mahluk tengil ini bisa juga terharu,' pikir Xl.Ardhia berusaha untuk tersenyum, walau mungkin kelihatannya seperti sebuah seringai. Sudahlah yang penting bibir
Baca selengkapnya
FARAH
Samar-samar Ardhia melihat wajah setengah tua itu memandangnya dengan perasaan sayang yang luar biasa."Nak, kamu tidak apa-apa, kan?" bisiknya. Mungkin ia menyangka Ardhia masih tertidur.Gadis itu memperhatikan Bapak sudah mulai tua, keriput di wajahnya sudah muncul satu persatu. Begitu juga uban sudah tumbuh di kepalanya. Laki-laki luar biasa ini sudah begitu banyak pengorbanannya demi dirinya. Akan tetapi ia merasa belum berkesempatan untuk membalas segala kebaikannya itu."Ardhia," Bapak memanggil dengan lirih. Nampak kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya."Bapak," bisik Ardhia pula. Ia meraih tangan Bapaknya dengan sebelah tangan. Menciumnya dengan takzim."Bagaimana keadaanmu?" tanya Bapak."Baik, Bapak sudah pulang kerja?""Iya, Nak," jawabnya.Bapak nampak cape habis pulang kerja, ia bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kecamatan. "Banyak kerjaan ya, Pak?" tanya Ardhia melihat kelelahan di wajah Bapa
Baca selengkapnya
DINA
"Baiklah ... baiklah, tapi aku ngantuk ini, mungkin efek dari obat," keluh Ardhia. Matanya tiba-tiba terasa berat, kepala terkulai karena rasa kantuk yang menyerang."Baiklah tidur saja, bercerita bisa kapan saja," sahut Farah. Ia membenarkan letak selimut Xl. "Aku tungguin sambil baca novel digital kesayanganku, IPRIT," imbuhnya.Ardhia hanya menganggukkan kepala, karena ucapan Farah semakin lama semakin samar. Ia tertidur dengan cerita Farah yang masih terdengar tentang novel kesayangannya.Lamat-lamat Ardhia mendengar Farah tengah asyik bercerita tentang seorang pendekar bernama Wisaka, tokoh dari novelnya tersebut. Namun, Ardhia lebih tertarik dengan seorang bayangan yang berdiri di dekat jendela kamar rumah sakit ini. 'Ibu ... benarkah itu Ibu?' batinnya.Silau sekali sinar lampu kamar ini. Tunggu, bukan sinar dari lampu yang menyamarkan wajah Ibu, tetapi sinar dari wajahnya sendiri. Perempuan itu terlihat tersenyum ke arahnya. Xl mengangkat tangan k
Baca selengkapnya
CALON SUAMI?
Tok tok tok.Suara ketukan halus di pintu itu terdengar lagi. Terasa horor sekali karena hari sudah lewat tengah malam. Tanpa menunggu kami membukakan pintu, pintu didorong dari luar, ya, karena pintu memang tidak dikunci. Seraut wajah ayu dengan baju putih menyembul dari balik pintu."Permisi, cek malam, Mbak," katanya. Ia mengecek infusan dan memberi Xl sebutir pil.Ahh ... ternyata perawat yang jaga malam. Terlihat Farah dan Dina mengempaskan napas, begitupun Xl, mereka mengira hantu yang ingin mengganggu karena menurut yang mereka dengar, mahluk seperti itu banyak terdapat di rumah sakit.Dina menutup pintu setelah perawat itu keluar, lantas mengelus dada, mungkin merasa lega, karena bukan suster ngesot yang muncul."Untung perawat beneran, coba kalau seperti yang di film-film, mati berdiri aku, Rek," katanya, logat Surabayanya nongol."Dikira memang apa?" tanya Xl."Ya seperti di film, suster ngesot lah, suster melayang, tiren at
Baca selengkapnya
MELAMAR ATAU DILAMAR
Semua kaget termasuk Xl. Malah Sonia hampir menelan sendok kalau tidak segera dikeluarkan. "Uhukkks," Dina terbatuk-batuk. Entah keselek apa dia, mungkin biji durian, tapi kan mereka tidak sedang makan durian, oh mungkin keselek bijian nasi. Intinya mereka semua kaget dengan ucapan bapaknya Xl.Mereka semua memandang bibir bapak, menanti ucapan yang akan keluar selanjutnya. Namun, bapak hanya tersenyum sok misterius. Tentu saja kami sangat penasaran."Jangan sekate-kate ya, Pak," sergah Xl. Matanya mendelik ke atas, mungkin akan terlihat lucu dan menggemaskan bagi yang melihatnya. Ooh, sepede itukah dia? Hihihi."Iya, Pak, kalau bawa info itu yang akurat, benarkah Yudha calon suami XL?" tanya Farah sambil mendekati bapak."XL?" Bapak mengernyitkan keningnya. "Eh ... eh ... Ardhia maksudnya, Pak, hihihi," jelas Farah sambil tertawa, kemudian menutup mulutnya.Ardhia melotot memberi kode kepada Farah. Nanti Bapak marah anakn
Baca selengkapnya
MELAMAR KERJA
'Kok, Yudha sih, duh ada apa dengan diriku ini?' Hati Ardhia berteriak-teriak. Sepertinya ia tak rela hatinya berceloteh tentang Yudha. Bukankah tadi siang dia sudah menyebutnya gendut, tapi kan bilang cantik juga? Bingung deh jadinya Xl, hati terbelah menjadi dua kubu, yang satu membenci Yudha, satu lagi tertarik. Aduh dia harus ikut yang mana sedangkan dua-duanya adalah hatinya yang utuh kalau bersatu. "Ngelamunin apa, hayo?" kata Bapak. "Bapak mengagetkan saja, bagaimana kalau anak Bapak yang cantik tiada duanya ini kena serangan jantung," rutuk Ardhia.Bapak cuma tertawa, giginya yang putih masih berbaris rapi di tempatnya, belum ada yang tanggal. Xl pikir dan pandang-pandang Bapak itu memang ganteng. Jadi, sudah tahu ya sekarang, Xl cantik itu turunan dari mana? gadis itu senyum-senyum sendiri."Lah itu, malah senyum-senyum gak jelas," kata Bapak. "Pasti lagi mikirin pacar, eh anak Bapak memang sudah punya pacar?" sambungnya bertanya.
Baca selengkapnya
HALU TINGKAT DEWA
"Sini, dengarkan," bisik Ardhia."Apa?" jawab Farah."Pas dia lewat, aku sebarkan ini di depannya, lantai keramik kan licin, jadi ... brukkk!" Xl membalikkan tangan sambil mendelikkan mata, terlihat lucu sih.Farah tertawa sambil menutup mulutnya, Xl pun ikut-ikutan tertawa. Dasar memang pada gak ada akhlak, orang kena musibah malah senang, hihihihi. 'Inilah aku, Xl, daripada makan hati dibully orang, masih mending putar otak untuk membalas, benar kan?' kata batinnya.Seharian ini Xl belajar banyak tentang pekerjaan barunya, pokoknya siapa yang keteteran di kelompok, maka kursi ditarik ke sana. Menyenangkan sekali, bekerja tidak terlalu capek. Ardhia melihat Mbak Titik, orang yang tadi terjatuh di kantin, memandang padanya dengan sorot mata yang aneh. Ih masa bodoh lah ya, siapa suruh mentertawakan. Bukankah Ardhia dan dia sama-sama ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.Sepulang kerja Ardhia dan Farah berencana mau makan-makan di warung pecel
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status