Karma Sang Penggoda

Karma Sang Penggoda

Oleh:  Azzila07  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
175Bab
18.0KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Pengkhianatan yang tertoreh, terlalu mudah jika berakhir dengan perpisahan. Wanita sepertiku tidak pantas untuk tersakiti. Berbahagialah bersama jalang barumu. Setelah ini akan aku pastikan kau berlutut bersimbah darah di kakiku.

Lihat lebih banyak
Karma Sang Penggoda Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
175 Bab
Terbongkar.
Pengkhianatan yang tertoreh, terlalu mudah jika berakhir dengan perpisahan. Wanita sepertiku tidak pantas untuk tersakiti, berbahagialah dengan jalang barumu. Setelah ini akan kupastikan kau berlutut bersimbah darah di kakiku.  ***ofdMataku mengerjap saat tangan dingin mengusap lembut pipi, lalu satu kecupan mendarat hangat di keningku."Morning, sayang." sapa suara seseorang yang selalu kurindukan.Membuka mata perlahan, mendapati wajah tampan memenuhi penglihatan."Maaf mengganggu tidurmu," ucapnya sambil mengelus kepalaku.Aku tersenyum manja menanggapi ucapannya."Semalam aku pulang larut, tak tega membangunkanmu."Dengan gemas dia menciumi wajah ini, menggelitik perut hingga aku meronta dan memeluknya."Aku tunggu di meja makan," ucapnya sambil bangkit dari peraduan."Oke ..." dengan mata setengah terbuka aku mengacungkan jempol.Memaut diri di depan cermin, memoles tipis lipstik. Setelah
Baca selengkapnya
Bab 2 -Lepas Amarah
Anitta meronta dan menjerit histeris, sumpah serapah serta cacian keluar dari mulut kotornya. Sementara aku, berjalan dengan anggun menuju balkon tanpa mengindahkan ocehannya. Senyum manis tak lepas dari bibir ini, menatap Mas Daniel yang terduduk lesu di hadapanku. Matanya mengisyaratkan kekhawatiran yang mendalam, mendengar jeritan di dalam ruangan. Keringat sebiji jagung nampak jelas di keningnya. Sebesar itukah rasa pedulinya terhadap Anitta? Gundik suamiku. Entah apa yang Paman perbuat. Aku tidak peduli. Jeritan serta teriakan si gundik begitu merdu di pendengaran, membuat bibir ini melengkung dengan sempurna. "Kamu lelah sayang?" suaraku yang lembut mampu membuatnya terkejut. Mas Daniel tersenyum kecil kearahku, mencoba menutupi raut gelisah diwajahnya. "Bukankah dia cantik?" tanyaku dengan senyum yang m
Baca selengkapnya
Bab 3 - Lelah
Tiga kali tongkat ini mendarat kuat di punggung suamiku. Membuat tubuh, Mas Daniel ambruk mencium aspal. Aku mendecih melihat kondisi tongkat baseball. Kurasa pukulan ini terlalu keras, hingga tongkat kesayanganku sedikit retak. Lihatlah Mas, bahkan aku lebih khawatir dengan tongkat ini dibanding dirimu. "Apa dia masih bernafas?" Paman berjongkok membalik badan Mas Daniel, mendekatkan ujung jari di hidungnya. "Masih, Non." ucapnya sambil mengangguk. "Huh ... sayang sekali." aku mendecih kecewa. "Urus dia Paman, aku masih ada pekerjaan lain." Paman menggangguk tegas, sambil membangunkan tubuh Mas Daniel. Aku berjalan menuju mobil, kulihat diujung gerbang security memandang tajam kearahku. Kubalas dengan anggukan serta senyum
Baca selengkapnya
Bab 4 - Pengorbanan.
Mas Daniel masih bersimpuh, di sertai isak tangis. Tangisnya pecah dengan badan yang bergetar hebat. Rusak sudah semua cintaku, Mas. "Tolong jangan siksa perasaanku, ampuni aku. Kumohon ..." ucapnya terbata-bata. Siapa disini yang lebih tersiksa? Bukankah aku? Mengapa dia seperti orang yang paling tersakiti. "Aku akan melakukan apa pun. Kumohon ..." sambungnya lagi. "Sudah kah?" tanyaku dengan suara datar. Mas Daniel mendongkkan kepala, dengan mata penuh penyesalan. "Sekalipun kau menangis darah, itu tidak akan mengubah apapun." ucapku sambil menatap dalam matanya. Mas Daniel terperangah mendengar ucapanku, bibirnya bergetar dengan mata yang kembali berembun. Lihatlah Mas, kau bahkan sangat menye
Baca selengkapnya
Bab 5 - Berdebat.
Ibu Anitta terpaku di tempatnya, air mata yang tadinya bercucuran. Kini terhenti seolah tersumbat oleh krikil. "Kanapa diam?"  Kupamerkan senyum semanis madu, Ibu Anitta nampak gelagapan saat wajahku sedikit maju. "Buktikan pengorbananmu ..." suaraku berbisik. "Kurang ajar! Berani sekali kau menghina Ibuku!" sembur Anitta dengan wajah garang. Tangannya mengepal kuat hingga urat-uratnya keluar. "Keterlaluan kamu, Fiona!" suara Mamih menggelegar. Mata Mamih hampir keluar seakan ingin menerkamku. "Aku tidak menghina Ibumu, aku hanya mengabulkan ucapannya." pandanganku beralih pada wanita setengah baya, yang masih berlutut di kakiku. Wajah Ibu Anitta nampak pias, keringat mulai membasahi keningnya. Pandangannya beralih pada Mamih, meminta pembelaan. Ay
Baca selengkapnya
Bab 6 - Muak.
Apa dia sedang bercanda? Aku disuruh mengurus gundik suamiku? Yang benar saja. "Kalau, Mamih yakin dia sedang mengandung cucumu. Kenapa tidak, Mamih sendiri saja yang pelihara. Bukankah rumah ini cukup luas?" balasku dengan senyum sinis. "Berani kamu membantah, Mamih!!" sengit Mamih. Netranya membesar seakan mau keluar dari tempatnya. Aku balas dengan tatapan dingin, sedingin hatiku. Kini. "Sekali lagi berani menyahut, kau tidak aku anggap menantu lagi!" sambungnya tidak main-main. Aku mendecih dengan senyum hambar, lalu berjalan mendekatinya. Kutatap Mamih dan Anitta bergantian. "Dengar baik-baik ..." ucapku sambil mengusap pundak mertuaku, seakan membersihkan sesuatu. "Saat kau bilang akan menikahi anakmu dengan gundik ini. Aku sudah tidak mengan
Baca selengkapnya
Bab 7 - Logika.
Meneguk kembali minuman kaleng yang tersisa sedikit. Dengan langkah gontai, aku menaiki tangga menuju kamarku. Meninggalkan Mas Daniel, yang tergolek lemah dimeja makan. Biarlah ... semoga ini yang terbaik. Semoga tidak ada yang mengganggu, jalan kema--tianmu, Mas! Menutup pintu dengan rapat lalu menguncinya. Berjalan menuju toilet, mengisi air dalam bathtub bersiap menenggelamkan tubuh lelahku didalamnya. Biasanya perasaanku menjadi lebih baik setelahnya. Membuka jendela kamar lebar-lebar. Seketika udara segar menyerang wajah dan indra penciuman. Melihat langit, banyak bintang yang berkelip indah dengan sang bulan disisinya. Lihatlah ... bahkan bulan selalu setia menemani bintang. Hah, hatiku kembali perih. Mengingat suamiku yang tidak setia. Pandanganku beralih pada pagar rumah yang terbuka setengah, tidak biasanya seperti itu. Apa Pama
Baca selengkapnya
Bab 8 - Pov Daniel.
"Mas, aku boleh minta tolong?" tanya Fiona saat aku keluar dari toilet.   "Kenapa sayang?" jawabku sambil mengambil kemeja di dalam lemari, lalu memakainya.   "Tolong setor uang ini ke bank yah .. hari ini aku sibuk banget," ucapnya sambil menunjuk amplop coklat besar.   Semenjak pegawai terpercayanya, membawa lari uang penjualan mobil. Kini Fiona sendiri yang turun tangan mengurus semuanya. Dia bahkan lebih sibuk di banding aku.   "Boleh ... apa sih yang enggak buat istri tercinta," sahutku sambil menerkam manja tubuhnya.   Fiona tergelak melihat tingkahku, dengan gemas aku menciumi setiap inci wajahnya. Manatap dalam mata indah milik Fiona perlahan bibir kami berpagut dalam buaian syahdu.   Walau pernikahan kami sudah memasuki usia lima tahun, rasa cinta tidak pernah ber
Baca selengkapnya
Bab 9 - Terjebak
Terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Aku tersentak saat mendapati Anitta melingkari tangannya ditubuhku.   "Apa yang terjadi!" teriakku panik, membuat Anitta menggeliat dari tidurnya.   Anitta tersenyum dengan mata yang setengah terbuka.   "Kau menjebakku!" seruku murka saat mendapati badanku hanya terlilit selimut yang sama dengannya.   "Aku tidak menjebakmu, kau sendiri yang memohon untuk ini." ucapnya santai.   "Arghh ... dasar brengsek!"   Dengan sekali hentak, aku langsung bangkit mengambil kemeja dan celanaku yang tercecer di lantai. Dengan cepat ku pakai semua pakaianku lalu berjalan keluar kamar membanting pintu dengan keras.   Memasuki mobil, tangan memukuli stir  membabi buta. Merutuki
Baca selengkapnya
Bab 10 - Ketahuan
Sentuhan Anitta, kini bagai candu untukku. Sesuatu yang tidak bisa aku dapetkan dari Fiona. Anitta tau apa yang aku butuhkan, mengerti apa yang aku inginkan. Hubungan kami  bahkan semakin lengket, hampir setiap hari bertemu. Memadu kasih.  Tidak terasa hubungan terlarang ini memasuki bulan ke empat, dengan senyum genit Anitta menyodorkan alat tes kehamilan dengan garis dua. "Selamat sayang, kamu akan jadi Ayah," ucapnya dengan suara mendesah. "Ini.. beneran anak aku?" Tanyaku memastikan. Anitta memajukan bibir sensualnya. Mendekap dada dengan kedua tangannya, lalu memunggungiku "Fikirmu ini anak setan," ucapnya dengan suara ketus. Kurengkuh tubuh indah yang mampu membuatku berpaling. Lalu mencium tengkuk lehernya, membuat dia mendelik seketika. Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status