BALADA CINTA FANI (Sekuel Nafkah Lima Belas Ribu)

BALADA CINTA FANI (Sekuel Nafkah Lima Belas Ribu)

Oleh:  Nay Azzikra  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
Belum ada penilaian
120Bab
180.0KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Fani, gadis yang selalu bertingkah apa adanya tengah mencari cinta sejati. Akan tetapi, perjalanan itu tak seindah harapan. Banyak pria yang ia sukai, tapi pada kenyataannya, pria tersebut telah memiliki tambatan hati. Diantaranya adalah Doni, sopir pribadi sang kakak ipar yang tampan dan alim. Akan tetapi, baru berada dalam satui mobil yang sama saat diantar ke kampus, ia harus berurusan dengan Ilma. Sosok gadis paling cerdas di kampus, cantik dan berkepribadian terpuji, teman dekat Doni. Namun, siapa sangka, dibalik perilakunya itu, Ilma memiliki perilaku yang sangat jahat. Karena ketakutan akan kehilangan Doni, Ilma melakukan suatu hal yang jahat pada Fani dengan memanfaatkan kedekatannya dengan seorang dosen, yang akhirnya dosen itu memperkosa hingga ia hamil. Fani memiliki seorang teman satu kelas bernama Yuda, yang selalu mengajak bertengkar. Setiap kali bertemu, keduanya seperti kucing dan tikus. Gadis yang selain kuliah juga menjual berbagai produk kecantikan pada teman-teman kampusnya itu, memiliki sebuah perasaan terpendam pada Arya, dosennya yang tampan. Akan tetapi, belakangan diketahui bahwa dosen tersebut ternyata sudah memiliki pasangan. Namun ternyata, pertunangan yang keduanya jalani karena terpaksa dan dalam lubuk hati Arya justru menyukai Fani. Kisah cinta Fani yang rumit semakin membuatnya bingung, manakala Yuda menyatakan perasaan yang sebenarnya ia pendam selama ini.

Lihat lebih banyak
BALADA CINTA FANI (Sekuel Nafkah Lima Belas Ribu) Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
120 Bab
Bab 1
Cerita ini adalah sekuel dari cerita Nafkah Lima Belas Ribu, yang menceritakan perjalanan hidup fani, adik kandung Nia. Jadi, bila Anda ingin membacanya, mohon untuk membaca cerita Nafkah Lima Belas Ribu minimal sampai bab 50-an. Agar paham jalan cerita serta tokoh di dalamnya. Terima kasih. ***POV FANI Aku tipe cewek yang membingungkan, tomboy tidak, feminim juga tidak. Hanya saja, setelah Mbak Nia  terjun, lebih tepatnya menggeluti bisnis jual produk kecantikan, dia memaksaku untuk lebih merawat diri. Katanya sih, buat endorse gitu. Aku paham, sebenarnya Mbak-ku itu hanya memanfaatkan wajahku secara gratis agar dapat menarik konsumen dari kalangan teman-teman kampus.Tipe cowok idamanku itu benar-benar high class, itu menjadi salah satu sebab diriku menjadi jomblo selama hidup. Bukan karena tidak menemukan pria yang menjadi pacar,  tapi mereka yang aku taksir selalu menjauh secara halus setelah tahu keanehan sikapk
Baca selengkapnya
Bab 2
Patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu. Yang mati Umar, yang tumbuh, cowok-cowok baru dong! Itu adalah prinsip baru dalam hidupku. Kepergian Pak Arya bukan Saloka bersama seorang wanita yang sok imut menimbulkan kepedihan mendalam buatku. Tega sekali dia, mematahkan mimpi yang sudah terlanjur membumbung tinggi. Aku berjalan gontai, menyusuri jalan kampus yang sepi, beberapa mahasiswa yang beruntung memiliki pasangan, melewatiku sambil berboncengan mesra. Beberapa yang kukenal membunyikan klakson, pura-puranya menyapa, padahal, hanya mau pamer saja. “Duluan ya, Fan …” Salah satu teman cewek yang satu kelas denganku, Anya namanya, menepuk pundak sambil setengah berlari. Eh, ternyata, di depan sana, di atas motor, telah nangkring cowoknya menunggu. “Ya …” jawabku ketus. “Ay, maaf ya, telat. Tadi harus nunggu dosen lama soalnya …” lebay banget dengar dia bicara sok diimutin sok dimanisin gitu. Padahal, kalau di kelas suaranya cempreng level
Baca selengkapnya
Bab 3
“Wanita yang baik hanya untuk lelaki yang baik juga …” begitu selalu yang dikatakan Bapak saat memberiku nasehat agar selalu bisa menjaga diri.Mungkin inilah alasannya, mengapa sampai sekarang, diriku menjadi jomblo yang tidak bahagia. Karena aku terlalu baik untuk mereka yang pernah kucintai. Tapi, apakah iya, seorang Pak Arya bukan Saloka adalah pria yang buruk untuk diriku? Bahkan, dirinya adalah pria paling baik yang pernah aku kenal. Ah, sudah berapa kali aku mencintai lelaki sebenarnya? Tak terhitung! Benar-benar memalukan. Aku ini cewek yang tidak punya harga diri. Memiliki perasaan dengan banyak orang yang bahkan, melirikku-pun, tidak! Sampai-sampai, otak ini lupa, siapa cinta pertama dulu.Bila dosen keren itu tidak berjodoh denganku, lantas, itu berarti, aku-lah yang sebenarnya tidak pantas untuknya? Bisa jadi!Sedang merenung sembari menunggu Dinda, sahabat yang selalu berbeda pendapat denganku, yang sedang ikut mata kuliah di kamp
Baca selengkapnya
Bagian 4
Beberapa kali bertemu Doni membuat diri semakin sering memikirkannya. Ada hasrat untuk selalu memandang wajah yang teduh.Dari aura yang terpancar, kelihatan sekali kalau Doni pemuda yang sholeh. Bikin betah gitu kalau lama-lama memandang. Aku berpikir, bila itu sebuah dosa, setelah memandangnya, aku mengucap istighfar yang banyak.Doni benar-benar berbeda jauh dari Umar. Entah mengapa, saat melihat cowok aneh itu, perutku selalu mulas. Bahkan, baru melihat melihat bayangannya saja, rasanya aku ingin ke toilet. Tapi, bukankah kriteria pendamping hidupku kelak, dia harus lulusan S2? Sedangkan Doni sepertinya cuma lulusan SMA. Dinda, kawan baikku pasti akan tertawa sambil menari di pelaminan.Mungkin, ini sudah menjadi nasib gadis yang selalu memasang selera tinggi.“Lelaki yang sholeh hanya untuk perempuan yang sholeh, Fani … dan kamu tuh harusnya sadar diri, jangan berharap yang tinggi-tinggi, kalau kamu-nya aja masih rendah …,”
Baca selengkapnya
Bagian 5
Suatu ketika, aku harus berangkat bersama Doni ke kampus. Karena harus membawa banyak barang dagangan. Terkadang aku merasa, kalau diriku lebih mirip pembantunya Mbak Nia. Ketimbang adiknya. Bagaimana tidak? Demi mendapatkan rupiah, aku harus membantu berdagang."Jadilah wanita yang mandiri, Fani! Belajar dari sekarang. Agar kelak, kamu bisa menghadapi kerasnya hidup. Kamu harus banyak mengambil pelajaran dari hidup Mbak dulu. Agar suatu ketika saat kamu menikah dan suami tidak bisa memenuhi kebutuhan, kamu bisa mencari uang sendiri," kata Mbak Nia suatu hari."Ya kali, aku dapat suami macam Agam. Enggaklah, Mbak! Jangan Mbak wariskan hidup Mbak yang sengsara sama aku," sahutku kesal."Mbak cuma kasih nasehat Fani!" ujar Mbak Nia menerangkan."Mbak gak kasih nasehat, Mbak itu lagi nyumpahin aku."Jadilah kami berdebat. Begitulah aku dan Mbak Nia. Kami benar-benar berbeda. Dia selalu membicarakan hal-hal yang menderita, sementara aku, sebaliknya. Su
Baca selengkapnya
Bagian 6
Ilma tersenyum manis sekali. Aku tidak bisa kalau disuruh untuk bertanding dengan senyumannya itu. Wajahnya teduh. Membuat nyaman siapapun yang memandang. Aura keshalihan jelas terpancar. Sementara aku?Tiba-tiba, Yuda menggeret lengan ini dengan kasar. Membuatku sedikit terhuyung."Temani aku ke ruang dosen! Mau tanya jadwal bimbingan skripsi," ucapnya tanpa merasa bersalah."Lepasin ah, Yud! Tanganku sakit!" teriakku kencang. Tapi, Yuda tidak peduli. Hingga akhirnya, pegangan tangannya ia lepaskan saat kami sudah di depan ruang dosen."Apaan, sih?" protesku kesal."Kamu jangan jadi penguntit! Mereka berdua sedang berduaan. Ngapain di belakang mereka tadi?" tanya Yuda serius."Dih, apaan juga? Tadi itu, cowok yang bersama Ilma yang antar aku. Dia sopir kakak iparku!" jelasku sewot.Yuda nyengir kuda. Membuat diriku sebal dan langsung meninggalkannya menuju kelas.Aku dan beberapa teman lain memang mengambil jadwal skripsi lebi
Baca selengkapnya
Bagian 7
Mulai hari itu, aku mencoba merubah sikap. Dari yang semula urakan menjadi pendiam. Jangan ditanya bagaimana beratnya! Aku sungguh tersiksa dengan ini semua. Apalagi, saat Yuda menggodaku dengan berbagai macam kalimat yang menjengkelkan. Sungguh! mulut ini rasanya ingin berteriak. Terkadang malah terlanjur teriak walaupun cuma satu kata. Namun, urung karena sadar harus merubah diri demi mendapatkan hati Doni. Apakah aku mampu menaklukkan hati Doni? Pertanyaan itu selalu hadir menghantui pikiran. Suatu ketika, aku berada di perpustakaan. Mencari referensi buku untuk daftar pustaka skripsi. Di sana masih sepi. Namun, ada sesosok mahluk yang membuat bulu kudukku merinding. Dia duduk dengan anggun menghadap setumpuk buku. Menyadari ada suara langkah yang mampir di telinganya, makhluk itu menatapku. Senyum tersungging dari bibir tipisnya. Ah,
Baca selengkapnya
Bagian 8
 Karena pekerjaan Doni sebagai sopir pribadi Pak Irsya yang saat ada acara keluarga selalu diajak, membuat Fani semakin sering bertemu dengan bujangan alim itu. Segala gerak-gerik Doni tidak lepas dari tatapannya. Sikap sopan pada Pak Irsya dan juga Nia, membuat kekaguman Fani semakin lama semakin bertambah. Pak Irsya dan Nia sadar, kalau adik mereka memendam sebuah rasa pada sopir yang sebentar lagi bergelar Master itu. Namun, Fani sendiri masih menyembunyikan. Meski begitu, tetap saja, Doni tahu jika adik dari majikannya itu menaruh sebuah rasa. Hal itu membuat Doni menjadi merasa tidak enak. "Fani sering memperhatikan kamu, Don!" ucap Pak Irsya kala mereka bersama dalam satu mobil. Doni yang berada di balik kemudi hanya menanggapi dengan senyuman. "Ah, mana mungkin, Pak. Saya ini cuma sopir. Sedangkan Fani, dia adik Bu Nia, istri Bapak, majika
Baca selengkapnya
Bagian 9
Part 9   Doni ragu, antara masuk atau tetap menunggu di luar.  Akan tetapi, bila dirinya tidak ikut mendampingi Fani yang masih dalam tahap observasi oleh dokter.  Dengan ragu, pemuda itu masuk ke dalam ruangan dengan dominasi warna putih.  Di salah satu bed terbaring Fani dengan didampingi Nia juga Dinda.  Sementara Pak Irsya berdiri di luar sekat pemisah antara pasien IGD dengan yang menunggu. Melihat Doni datang, pria yang tengah mondar-mandir jadi berhenti.   "Pak, saya minta maaf," ujar Doni setelah mereka berdua saling berhadapan.  Pak Irsya menghela napas panjang.  "Dokter mengat
Baca selengkapnya
Bagian 10
Part 10   Doni termenung di dalam mobil yang terparkir di jalan depan kost Dinda dan Fani, hingga adzan Ashar terdengar berkumandang, menyadarkan pria itu dari segala pikiran yang menerka terhadap apa yang Fani alami.   "Benarkah, sakitnya Fani ada hubungannya denganku, juga Ilma?" gumamnya lirih, sebelum akhirnya, menginjak gas mobil dan menjalankan kuda besi milik majikannya, menembus jalan yang mulai basah oleh gerimis.   Tidak ada sesuatu yang terjadi di luar kuasa Allah. Bahkan, sehelai daun yang jatuh-pun atas ijin dari Sang Pemilik Hidup. Jadi, apapun yang menimpa Fani--terlepas ada hubungan dengan dirinya maupun Ilma--atau tidak, itu sudah menjadi takdir dari Allah. Begitu yang Doni pikirkan saat selesai berdzikir.   Pemuda i
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status