Pelayan Hati Sang Pangeran

Pelayan Hati Sang Pangeran

Oleh:  Skavivi  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
Belum ada penilaian
120Bab
37.8KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Mereka menyambut, menjalani, dan berlari dalam setiap keterbukaan, pembelajaran dan perjalanan. Tempaan-tempaan waktu dan proses didalamnya menjadi seni yang memandu mereka dalam bekerja dan berdedikasi terhadap budaya adiluhung yang berbalut cinta. Mereka adalah Nawangsih dan Suryawijaya. Sejoli yang berusaha memberi keindahan namun juga ingin meruntuhkan dinding tak kasat mata yang memisah keduanya. "Jangan terlalu dekat, tapi jangan terlalu jauh." Suryawijaya menyarankan. "Lalu bagaimana dengan hubungan kita, ndomas?" Hari-hari terus melaju meninggalkan jejak, namun tidak bagi hubungan mereka. Keduanya tidak direstui oleh Ayahanda Raja yang hendak menjodohkan Suryawijaya untuk menebus hutang masa lalunya. Mampukah Suryawijaya meloloskan diri dari perjodohan tersebut dan tetap memilih Nawangsih menjadi permaisurinya?

Lihat lebih banyak
Pelayan Hati Sang Pangeran Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
120 Bab
Bab 1
Suryawijaya memberanikan diri menatap wajah sang ayah, dalam dadanya ia merasa geram dengan beliau yang masih menolak keras hubungannya dengan Nawangsih."Sifat ningrat dan adiluhung sudah berlaku pada diri Tania sejak ia tinggal di sini, Ayahanda. Ia sudah belajar dan mematuhinya. Ayahanda bahkan sudah melihatnya sendiri. Apalagi yang membuat Ayahanda risau?" desak Suryawijaya.Ayahanda Kaysan menatap putranya dengan tatapan datar tak terbantahkan."Tidak perlu menggurui Ayahanda, anakku. Ayahanda lebih memahami apa sifat adiluhung yang kamu mengerti." balas ayahnya disertai kegagahan saat ia menunjukkan garis darahnya yang tinggi dan makmur.Alis Suryawijaya terangkat mendengar jawaban ketus sang ayah. Ia mengembuskan napas sambil menunduk."Baiklah Ayahanda, maafkan Suryawijaya sudah lancang." Suryawijaya memberi hormat karena percuma melawan ayahnya dengan kata-kata.Ayahanda Kaysan beranjak, meninggalkan calon putra mahkota yang kerap kali ngegas jika membicarakan kisah asmaranya.
Baca selengkapnya
Bab 2
Malam merangkak semakin wening. Suryawijaya menaruh blangkonnya ke dalam lemari kaca seraya melepas baju kejawennya.Usianya memang baru genap dua puluh delapan tahun, namun tugasnya sebagai calon putra mahkota sudah berat, ia kerap mendampingi Ayahanda Kaysan pun mewakili beliau jika sedang berhalangan hadir dalam suatu acara penting. Namun jika sedang berselisih pendapat dengan beliau, kerap kali ia memilih untuk menepi.Suryawijaya menyelesaikan ritus malamnya sebelum mengepak pelengkapan pendakian ke dalam tas carrier, ia bertekad untuk mendaki gunung Merbabu setelah menggantikan peran ibunya besok pagi.Selesai mengepak. Suryawijaya merebahkan tubuhnya di ranjang, ia memejamkan mata, namun setiap kali ia menutup mata, ingatan semasa kecil bersama Tania mencuat kembali. Suryawijaya tersenyum, membiarkan dirinya mengenang saat-saat manis itu dalam ingatan.Suara lembut nan malu-malu, tubuh kering kurang gizi dan mata sayu Tania, siapa yang tidak tergerak nalurinya untuk menjaganya.
Baca selengkapnya
Bab 3
"Aku bukan tidak peka, tapi kamu sendiri tahu Ayahanda bagaimana." elak Suryawijaya yang mendengar Nawangsih mengomel-omel. "Pakai sabuk pengamannya, biar aman."Nawangsih menjep-menjep seraya memasang sabuk pengaman dengan kesal. "Ndomas sih, gak usah naik gunung. Di rumah aja, ya?" bujuk Nawangsih."Lihat nanti. Lagian kamu nggak tau kenapa aku milih gunung Merbabu, Nia?" goda Suryawijaya sambil menghidupkan mesin mobil.Nawangsih mengendikkan bahu."Itu karena aku Menanti Restu Bapak Ibumu." urai Suryawijaya yang langsung membuat Nawangsih menyunggingkan senyum.•••Perjalanan menuju sebuah desa hanya membutuhkan waktu satu jam. Keduanya keluar dari mobil, di sambut kehebohan warga yang menunggu kedatangan putra sang raja dengan antusias.Suryawijaya mengangguk ramah seperti perangi pada umumnya seorang keluarga bangsawan."Selamat pagi semuanya." Ia menebar senyuman sembari mengatupkan kedua tangannya.Meski dulu sempat mendapat julukan Introvert Prince semasa remaja, Suryawijaya k
Baca selengkapnya
Bab 4
Mobil melaju dengan kecepatan sedang seperti yang biasanya Suryawijaya lakukan. Sambil menyetir, benaknya mengingat, ada tiga aturan yang ditanamkan oleh ibunya jika berada di luar rumah bersama Nawangsih :1. Jangan bermesraan.2. Menjadi kakak sejati.3. Jangan ke tempat sepi.Hari ini, Suryawijaya melanggar aturan nomer tiga. Ia membawa Nawangsih ke tempat sepi dan angker di malam hari."Seru banget, ndomas."Nawangsih memutar tubuhnya di bawah pohon rindang, senyumnya terus merekah ketika Suryawijaya membawanya ke taman nasional gunung Merapi."Terima kasih, ndomas." ucap Nawangsih tulus. Suryawijaya mengangguk, mematik korek api seraya mengisap rokoknya dalam-dalam seperti biasa.Tanpa banyak kata, mereka berkeliling di bawah rindangnya pepohonan dan sejuknya udara di iringi suara monyet-monyet liar."Berhentilah merokok, ndomas. Kamu merusak udara di sini. Sayang kan, oksigen murni harus di barengi dengan asap rokok. Ish..." omel Nawangsih sambil mengibaskan tangannya dengan seng
Baca selengkapnya
Bab 5
Nawangsih berkeliling untuk mencari pekerjaan apa yang bisa ia lakukan pagi ini setelah urusannya melayani Ibunda Rinjani sudah selesai."Nawang, sini." panggil Citra pelan, nyaris hanya lambaian tangan yang Nawangsih rasakan.Nawangsih mengangguk seraya berjalan anggun menghampiri Citra."Ada apa, Cit? Mau gosip?" tanya Nawangsih dengan nada bercanda seraya duduk bersimpuh di dekat Citra.Citra mengangsurkan gunting bunga dan seember penuh bunga mawar agar Nawangsih membantunya menyusun bunga untuk acara malam.The Royal Highness Tea and Talk."Duduk dulu." Citra tersenyum canggung."Ada apa, kenapa wajahmu serius begitu?" tanya Nawangsih heran, ia meraih gunting bunga seraya mencampakkan daun-daun tua dan durinya.Citra, penari klasik sekaligus pelayan kesayangan Ibunda Rinjani nomer dua setelahnya itu membisikkan sesuatu di telinga Nawangsih.Nawangsih refleks menggelengkan kepalanya. Dia penuh spekulasi tapi tidak percaya dengan apa yang Citra katakan.Tidak mungkin, itu tidak mung
Baca selengkapnya
Bab 6
Nawangsih terdiam sejenak untuk memandangi Suryawijaya, laki-laki itu memiliki rambut lurus dengan potongan model taper fade, alis tebal, hidung bangir dan bibir tipis kehitaman khas seorang perokok aktif. Ia benar-benar mewarisi semua yang dimiliki oleh Ayahanda Kaysan, termasuk mewarisi keangkuhan, kewibawaan dan kesetiaannya kepada seorang wanita."Ndomas iseng, aku ngambek."Suryawijaya menggigit cemilan gurih bertekstur lembut dan lunak sembari mengerutkan kening saat Nawangsih hanya berdiri di sebrang meja."Tidak pegal? Atau memang hanya ingin berdiri sambil melihatku seperti itu?" goda Suryawijaya.Ah, Nawangsih menutup wajahnya dengan nampan, salah tingkah.Suryawijaya mempertimbangkan untuk menegur Nawangsih karena membantahnya, namun ia urungkan karena gadis itu menghampirinya seraya duduk dengan keanggunan yang sangat terlatih.Suryawijaya manaruh garpunya, ia menghabiskan kopi terenak di dunia. Tentu dunianya sendiri yang penuh dengan nama Nawangsih seorang.Suryawijaya me
Baca selengkapnya
Bab 7
Di hari yang panjang dan melelahkan untuk bersikap baik-baik saja, Nawangsih tersenyum ayu di belakang orang tua mereka yang berjalan beriringan.Disampingnya, Suryawijaya mengangkat dagu tinggi-tinggi, menyatakan ketidaksukaannya terhadap acara penuh makna malam ini. Suryawijaya memang gusar dan marah kepada siapapun karena nasib memperlakukannya dengan tidak adil. Sementara yang ia lakukan sekarang hanya demi kesopanan, martabat dan harga diri.Suryawijaya akan dengan senang hati mengabdikan diri sebagai baktinya kepada Ayahanda Kaysan dan kerajaan. Namun ia tidak mau dipaksa menikah dengan gadis lain yang tidak ia sukai. Cukup sekali sudah cukup untuk mengikuti acara Royal Highness Tea and Talk yang diadakan ayahnya demi tradisi kolot ini. Tapi baginya, mengalahkan kecerdikan pria yang memakai beskap putih itu adalah urusan harga diri. Perlu taktik yang mumpuni dan uang yang banyak sebelum melakukan pemberontakan yang terencana.Memasuki ruang tamu yang di peruntukan untuk menampung
Baca selengkapnya
Bab 8
Keesokan hari, di dalam kamar, sejak tadi Nawangsih hanya termenung di pinggir dipan sembari memeluk bantal. Dia bingung harus bersikap bagaimana saat calon Suryawijaya nanti datang berkunjung.Bersikap seolah-olah tidak cemburu?Wajahnya sudah terlihat menyiratkan kekecewaan mendalam. Mustahil ia bisa melakukannya, karena baginya untuk tidak cemberut, mecucu, ngedumel, atau sehat walafiat sangat susah karena sejak tadi malam ia sudah kepikiran.Mencoba berlagak utuh?Nawangsih mendesah. Ia beranjak, mencari cara agar ia terlihat baik-baik saja di hadapan semua anggota keluarga apalagi di hadapan Suryawijaya, laki-laki yang menoreh rasa kecewa dibenaknya tadi malam. Nihil, wajahnya sudah carut marut.Pura-pura tidak peduli?Nawangsih mendesah panjang. "Aku kan anak manis."Kesal dengan keadaan dan dirinya sendiri, Nawangsih menghempaskan bokongnya di depan meja rias."Yang penting tetap cantik, berbudi baik dan santun! Itu penting biar Ayahanda tahu betapa aku masih setegar karang, sek
Baca selengkapnya
Bab 9
Brak, Brak, Brak. Bunyi itu terus terdengar di bangsal keputren, menjadi kegaduhan langka di senyapnya bangunan itu. "Buka pintunya, Cit! Buka! Tolooong." Nawangsih memukul-mukul pintu kamar dengan lelah, ia kaget saat dirinya di suruh tinggal di kamarnya tanpa alasan yang tidak jelas. Dan yang membuatnya lebih tercengang ia dikunci dari luar oleh Citra. "Citra, tolonggg." ucapnya serak. Tenggorokannya kering, sialnya lagi, ia lupa menaruh cadangan air putih di dalam kamar."Cit, tolong buka pintunya! Aku salah apa sampai di kurung begini? Apa Ayahanda marah? Cit... Tolong jelaskan baik-baik saja, aku bakal mengerti. Jangan begini, Ibunda butuh aku!" Citra yang menjadi kambing hitam tersudut di pojokan dengan rasa bersalah, merasa tidak ada daya untuk melawan Iwan dan titah sang Pangeran. "Duh, Gusti! Piye iki." gumam Citra. Nawangsih mematung, tak ada suara yang menyaut ucapannya. Sekarang kamarnya berubah menjadi penjara cinta yang akan menawanny
Baca selengkapnya
Bab 10
Sepasang mata Suryawijaya menajam. Lagi-lagi berusaha untuk menyabarkan hati ketika Nawangsih justru memunggunginya tanpa sepatah kata setelah meneriakkan nama Citra. "Ndomas kenapa ada disini, malu ih dilihatin terus!" batin Nawangsih, ia menyerukkan wajahnya yang merah padam di bawah guling. Suryawijaya duduk gelisah di kursinya, menarik napas panjang. Ia bukan jengkel dengan Nawangsih, tapi waktu dan tempat tidak mempersilahkannya untuk berlama-lama di kamar gadis itu. "Bangun, perlihatkan wajahmu!" Nawangsih mengangguk lalu mengerjapkan mata."Tapi ndomas merem dulu. Wajahku jelek, kusut, pokoknya ambyar!" Suryawijaya kontan ternganga. Tapi hanya sesaat, setelah itu dia tersenyum samar. Iwan yang menjadi saksi hidup kisah cinta Suryawijaya dan Nawangsih membalikkan badan. "Drama di mulai." Banyak yang ia tahu sejak Nawangsih menginjakkan kaki ke dalam benteng istana. Gadis yang membawa sederet kisah hidup anak kampung yang tidak mujur, gadis ya
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status