Pengantin yang Tertukar

Pengantin yang Tertukar

Oleh:  Yenita Wati  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
40Bab
5.6KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Apa jadinya jika seorang pria lupa akan hari pernikahannya dan terpaksa digantikan oleh saudara kembarnya? Harry Alexander lupa bahwa dia akan menikah dengan gadis yang akan dijodohkan dengannya. Karena keadaan mendesak, William yang merupakan kakak kembar Harry menggantikan posisi Harry di hari itu. Sedangkan Harry harus menikah dengan gadis sombong yang harusnya dijodohkan dengan William. Bagaimana kah kisah rumah tangga mereka yang mempunyai pasangan dengan sifat berbanding terbalik dengan karakter masing-masing? Dan bagaimana ketika satu persatu kebenaran terungkap di dalam kehidupan pernikahan mereka? Instagram @yenitawati24

Lihat lebih banyak
Pengantin yang Tertukar Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
40 Bab
Keadaan Darurat
Suasana di depan sebuah ruangan VIP rumah sakit tampak tegang. Pasalnya akan ada sebuah prosesi akad nikah, namun mempelai pria tak kunjung datang. "Bu, bagaimana ini? Aku sudah mencari Harry kemana-mana tetapi aku tidak menemukan dia," lapor William pada Haira, ibunya. "Ya Allah, kemana Harry? Padahal malam tadi ibu sudah mewanti-wanti dia untuk tidak melupakan hari ini. Ini salahku karena membiarkan dia membeli rumah untuknya. Harusnya ku tahan sampai dia menikah" Haira merutuki dirinya sendiri. "Sabar sayang, aku yakin Harry pasti tidak jauh dari sini." Aiden, ayah William dan Harry mencoba menenangkan. "Ayah!! Ayaaaah!!!" Terdengar seorang gadis berteriak dari dalam ruangan tersebut. "Kenapa Ella?" tanya Haira setelah memasuki ruangan tersebut. "Ayah semakin kritis, paman," sahut gadis yang bernama Ella yang tak lain adalah wanita yang akan dinikahkan den
Baca selengkapnya
Malam
Haira dan Aiden serta Harry pun pulang. Di perjalanan, Haira memberikan banyak nasihat pada Harry. "Mulai malam ini kau akan tinggal di rumah ayah dan ibu sampai kau menikah dengan Selena. Ibu tidak ingin hari ini terjadi lagi. Kembaran mu hanya satu, kau tidak punya cadangan kembaran lagi, mengerti?" "Aku mengerti bu. Maafkan aku, aku akan berusaha semampuku untuk mengingat hal-hal penting. Oh ya, mengenai Selena, apa dia mau menjadi istriku?" tanya Harry. "Kita akan tau besok. Ibu rasa Selena lebih cocok denganmu. Ingatannya tajam persis seperti ayahmu. Dia sering membantu ayahnya saat mencari barang hilang. Dia sudah seperti detektif saja. Pintar, cantik, elegan, dan perfeksionis persis seperti bibi Resya." "Tapi aku dengar dia itu cerewet bu. Dia sombong dan angkuh. Apa menurut ibu kami akan cocok? Dia lebih cocok bersama William." "Ya ibu tau, tapi perlu diingat William tida
Baca selengkapnya
Perjanjian
Hari ini adalah pertemuan keluarga Aiden dan Selena. Rencananya, mereka akan memberitahukan masalah pertukaran pengantin dimana Selena akan menikah dengan Harry, bukannya William. Kini mereka tengah berada di sebuah restoran yang sudah direservasi. Ada Aiden, Haira, Harry, William, Ella dan juga kedua orang tua Selena yang sebenarnya sudah mengetahui hal ini. Sejak mereka datang ke restoran itu, Selena melihat kejanggalan dimana Ella terus bersama William. Setahu dia, Ella harusnya terus bersama dengan Harry. Bahkan kini William dan Ella duduk bersebelahan. Aiden dan Haira tau bahwa saat ini, Selena sedang bingung. Mereka pun memulai pembicaraan penting malam itu. "Begini, Selena. Pertemuan kita ini untuk membicarakan tentang pernikahan." Haira tampak ragu menyebutkan pernikahan Selena dan Harry. "Ya, bibi." Selena terlihat menunggu lanjutan kalimat Haira. "S
Baca selengkapnya
Sakit
Sepulang dari restoran, William dan Ella masuk ke kamar masing-masing. Namun, baru beberapa detik William merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, sebuah ketukan pintu terdengar. Dengan malas William berjalan ke arah pintu dan melihat siapa yang mengganggunya. "Ada apa?" tanyanya dengan wajah datar. "Will, apakah AC di kamarku bisa dimatikan dan diganti kipas angin saja?" tanya Ella dengan ragu. "Di rumah ini tidak ada benda itu. Bahkan kamar pelayan di rumah ini menggunakan AC juga." William menolak permintaan Ella. "Tapi sudah beberapa hari aku tidak tidur dengan nyenyak. Aku selalu kedinginan setiap malam dan malam ini kepalaku terasa sangat pusing karena masuk angin." William memerhatikan wajah Ella yang agak pucat. Pantas saja selama di restoran dia diam saja dan tidak terlihat sehat. "Baiklah, tapi besok saja aku belikan kipas anginnya. Jika kau tidak tahan
Baca selengkapnya
Terlalu Jujur
William sudah pulang dari bekerja. Namun, sepanjang jalan perasaannya tidak enak terus. Bahkan saat sampai di rumah, hatinya semakin tak karuan. Baru saja dia melangkah melewati pintu, aura seram sudah merebak di seluruh ruangan. "Pasti ibu belum pulang." William bergumam. Ia menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. "Bismillahirrahmanirrahim, lindungi aku Ya Allah." Melanjutkan langkah menuju kamar Ella. Ia menapaki anak tangga dengan sekuat hati. Hingga pada saat mencapai ambang pintu kamar Ella, aura menakutkan semakin kuat. Terlihat Haira, ibunya sedang berdiri dengan menyilangkan tangan di dada serta wajah masam. "Hai, Bu, kapan datang?" William mencoba berbasa basi meski hatinya kian berkecamuk. "Kapan datang atau kapan pulang?" Haira semakin melotot pada William. William menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Tidak, Bu, aku senang ibu ke sini." Berjalan
Baca selengkapnya
Pernikahan Harry dan Selena
Beberapa minggu telah berlalu. Hari ini adalah hari pernikahan Harry dan Selena. Akad nikah diselenggarakan di gedung Alexan Group milik ayahnya, Aiden. Dan resepsi akan diselenggarakan pada malam harinya bersamaan dengan William dan Ella. Aiden dan Haira benar-benar menjaga ketat Harry malam tadi. Mereka mengurung Harry di kamar agar ia tidak lupa lagi hari pernikahannya. Mereka juga sampai menyuruh pengawal menjaga setiap pintu rumah itu agar Harry tidak keluar. Pernikahan pun segera dimulai. Pernikahan kali ini penuh drama karena Harry harus latihan terus agar pada saat ijab qobul dilakukan, ia tidak salah menyebut nama. Hingga pada akhirnya para saksi dan tamu mengucapkan kata "SAH" sebagai pertanda bahwa pernikahan tersebut telah sah di mata agama dan hukum. Aiden dan Haira mengucapkan syukur atas lancarnya pernikahan Harry dan Selena. Pada malam harinya, resepsi pernikahan
Baca selengkapnya
Kelelahan
Sesampainya di rumah, Harry dan Selena masuk ke dalam rumah besar milik Harry. "Mana kamarku?" tanya Selena yang menguap tiada henti karena sangat mengantuk. Sekarang sudah jam satu dini hari ketika mereka menginjakkan kaki di lantai rumah itu. Harry menepuk dahinya. "Kenapa? Apa kau lupa mempersiapkan kamar terpisah untuk kita?" Selena membelalakkan matanya. Ia sudah menduga ini akan terjadi. "Iya, aku...lupa." Selena kembali mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. "Baiklah, kita lewati saja ini. Aku ingin segera tidur. Dimana kamarmu?" "Ada di lantai dua." Harry menunjuk ke atas. "Baiklah, hoaaam." Selena segera melangkah menapaki anak tangga satu persatu. "Tunggu, sebenarnya kau tidak perlu...." "Ssssstttt, aku mengantuk." Selena melanjutkan langk
Baca selengkapnya
Bulan Madu
"Ada apa, Ayah?" tanya William yang penasaran. "Ini hadiah untuk pernikahan kalian." Haira menyerahkan dua lembar tiket kepada William dan Ella. William dan Ella saling pandang. William bingung karena itu adalah tiket ke luar negeri. Sementara Ella bingung itu tiket untuk apa. "Ayah dan Ibu tidak perlu repot-repot mempersiapkan ini semua." "Ya sudah, ambil. Agar kerepotan kami tidak sia-sia." Haira meletakkan tiket ke tangan William. "Besok kalian akan berangkat ke Paris untuk berbulan madu. Persiapkan semua keperluan kalian mulai dari sekarang," ujar Haira. "Ba-baik, Bu." William mengangguk pasrah. "Besok jangan terlambat. Ibu juga akan meminta Selena untuk mengingatkan Harry agar besok ia tidak lupa." "Apa? Jadi mereka akan pergi bersama kami?" William membelalakkan matanya. "Kenapa? Apa kau Keb
Baca selengkapnya
Kencan Ganda
William kembali ke kamar hotelnya untuk menemui Ella. Sebelum ia pergi, ia sempat melihat bahwa benda yang seperti kepala berambut hitam yang terombang-ambing di tengah laut adalah sebuah wig entah punya siapa. William telah sampai ke kamar hotel. Ia melihat Ella sedang duduk di sebuah kursi sambil menatap keluar jendela. "Ella." "Mandilah, Will, air laut tidak bagus berada lama-lama di tubuhmu." Ella tidak menoleh. Ia masih terus menatap hamparan ombak di lautan. "Ella, aku..." "Nanti kau bisa sakit jika tidak mengeringkan tubuhmu." Masih tidak menoleh. "Aku ingin...." "Aku sudah memanggil dokter untuk memeriksa keadaanmu. Mandilah, sebentar lagi dia akan datang." Kali ini Ella menoleh sambil tersenyum. William pergi ke kamar mandi. Ia terus memikirkan reaksi yang diberikan Ella. Senyuman barusan itu bukanlah senyuma
Baca selengkapnya
Siapa Kau?
Selena dan Ella tengah asyik memakan hidangan makan malam di restoran hotel. Sesekali Selena terlihat menggerutu tentang kejadian yang baru saja mereka alami. "Memangnya mereka pikir mereka siapa? Seenaknya saja memanfaatkan tampang kembar mereka." "Kenapa kau kesal sekali?" tanya Ella. "Bagaimana aku tidak kesal. Tadi itu aku berdansa dengan William dan rasanya sangat tidak nyaman." Selena memotong daging steak dengan kasar hingga menimbulkan suara. Menumpahkan semua rasa kesalnya pada makanan lezat itu. "Apa kau menyukai William?" Ella menunggu reaksi di wajah Selena. "Awalnya. Aku kira bersama dengan orang yang sama diamnya seperti aku akan membuat hidupku lebih nyaman. Ternyata membosankan. Baru beberapa menit aku berbincang dengannya rasanya sangat tidak nyaman." Selena mengaduk minumannya lalu menikmatinya dengan sedotan. "Tapi William masih menyukaimu." <
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status