Maaf Om, Karena Cintaku Menyusahkanmu

Maaf Om, Karena Cintaku Menyusahkanmu

Oleh:  IfaZuzu  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
Belum ada penilaian
126Bab
64.7KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Reyna Saraswati Pradipta jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Hans Alexander Wijaya, teman dari pamannya Anjas Birawa. Rentang usia yang begitu jauh dan status Hans yang sudah mempunyai kekasih tak mengendurkan niat Reyna untuk terus berjuang. Hingga saat usaha Reyna untuk melindungi Hans disalah artikan oleh pria itu membuat Reyna terluka dan memilih pergi. Tali takdir yang mengikat mereka berdua tak bisa membuat Reyna bertahan. Ia memilih melepas simpul tali yang mengikat Hans dan pergi dengan tali yang melilit dirinya. Tali yang mampu menopangnya untuk tetap berdiri kokoh. Namun tali takdir pun tak berpihak padanya meskipun sudah ia genggam dengan erat. Tali itu terurai dan terlepas membuat Reyna berkubang dalam penyesalan dan rasa bersalah. Enam tahun kemudian Reyna kembali pada keluarganya dalam keadaan yang tidak utuh. Karena kepiawaiannya dalam bersandiwara tak ada orang yang menyadarinya. Tekanan demi tekanan yang ia dapatkan dari orang yang menjadi sumber kesakitannya di masa lalu membuatnya tak bisa mengontrol diri. Saat semua terungkap hanya penyesalan yang mereka semua rasakan. Terlebih untuk Hans, si pembuat luka. Mengemis maaf dari Reyna adalah terakhir yang bisa dilakukannya.

Lihat lebih banyak
Maaf Om, Karena Cintaku Menyusahkanmu Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
126 Bab
Prolog
 Aku berada di sebuah kebun bunga yang begitu indah. Bahkan sekarang aku berada di bawah pohon sakura yang berbunga dan sesekali burguguran dan tersangkut dirambutku. Sakura? Bukankah bunga ini tumbuh di Jepang? Tapi aku sangat yakin bahwa aku sedang berada di tanah kelahiranku, Indonesia.Hi...hi...hi...Aku mendengar tawa anak kecil yang tak asing bagiku."Reihan? Reihan!"Kupanggil pemilik suara itu sambil berjalan diantara tanaman bunga yang membentuk labirin."Ayo cari aku!" Suara itu semakin menjauh membuatku panik."Reihan! Kamu dimana?"Hi...hi...hi...Suara itu semakin terdengar samar membuatku semakin panik bahkan air mataku mulai menganak sungai. Aku berlari menyusuri labirin bunga itu dengan sesekali menyeka air mata dengan punggung tanganku.
Baca selengkapnya
Sorry 1
 Suasana party malam ini begitu crowded. Maklumlah pestanya kaum jetset dan aku bisa di sini pun karena ajakan om Anjas adik dari mama. Terkadang aku tak habis pikir sama orang-orang ini buang-buang duit untuk acara gak penting. Kalau kelebihan duit mending disumbangkan ke orang yang gak mampu. Sebenarnya aku malas ikut tapi om Anjas memaksaku untuk ikut karena dia sedang tidak punya pacar.Mama? Jangan tanya mamaku mengizinkan atau tidak. Secara om Anjas itu adik bungsu kesayangan mama alias anak bontot dari kakek dan nenek jadi mama gak akan keberatan aku ikut ke party kaya' gini bahkan mama begitu antusias mendandaniku seperti main boneka barbie. Ini kesempatan buat mama untuk bereksperimen dengan wajah cantikku. Karena di hari biasa aku malas berdandan sampai mama ngomel-ngomel. Malas banget berurusan dengan bedak dan kawan-kawannya yang membuat wajah kaku itu. Apalagi di party seperti in
Baca selengkapnya
Sorry 2
"Om... stop laughing!" kataku semakin kesal."Hans itu teman SMA om. Dulu sering main ke rumah.""O ya? Kapan?""Dulu. Waktu umurmu 2 tahun," om Anjas menjelaskan tanpa beban mental sedikitpun dan berhasil membuatku menganga lebar.Waktu umurku masih 2 tahun katanya? Ini om Anjas yang rada-rada karena belum dapat orgasme atau karena aku yang gagal paham sih?"Bukannya waktu itu om Hans yang ngejenguk Reyna di rumah sakit pas Reyna baru aja berojol dari perut mama ya Om?" tanyaku sarkastik.Dan kalimat sarkasku disambut tawa oleh ketiga om menyebalkan yang sialnya sexy as hell yang mengelilingiku membuatku ingin mencakar wajah mereka satu persatu.----Suasana kantor siang ini sedikit lengang orang-orang sedang mengerjakan pekerjaan di lokasi proyek mereka masing-masing. Dimulai dari opa, ayah dari papaku yang adalah seorang ars
Baca selengkapnya
Sorry 3
Malam ini Reyna tak bisa tidur lagi. Lewat tengah malam dan matanya tak bisa terpejam barang lima menit saja. Pernyataan om Anjas tentang rencana kepergian om Hans ke Jerman sudah pasti berpengaruh pada mood ku. Demi apa, aku baru memberi jeda pada perasaanku tapi kenapa om Hans melangkah semakin jauh dari jangkauanku. Yeah, memang dari awal om Hans tak pernah mendekat ke arahku tapi aku kan berusaha. Hey, jangan menghakimiku, aku memang masih labil umurku belum genap 18 okey jadi wajar.Tapi membayangkan om Hans pergi jauh dari jangkauan udah buat aku senewen apalagi disana ada rivalku. Dan layaknya sepasang kekasih yang habis LDR mereka pasti melakukan.... Uhh... aku tak mau mengatakannya tapi kalian pasti paham maksudku. Tolong otakku yang cerdas come on mulai berpikir. Tapi sekeras apapun aku berpikir tidak akan merubah apapun. Om Hans sudah pergi."Kenapa loe pucet banget sih? Itu apaan mata panda?" cerca Rayan saat menjemputku."Diem deh g usah bawel pagi-
Baca selengkapnya
Sorry 4
 "Baliiiiii......! I love you so damn much!""Jangan norak Rey, bikin Om malu aja!""Biarin, yang penting Rey seneng!"Tanpa menghiraukan omelan om Anjas aku berlari menyongsong air di tepian pantai. Aku sengaja menggunakan bikini one piece dibalik kain pantaiku. Makanya dari tadi om Anjas tidak berhenti mengomel bahkan mengumpat sedangkan aku hanya tertawa menanggapinya.Ombak bergulung-gulung di kejauhan menuju pantai. Di sini emang surganya para peselancar. Sayang aku gak bisa surfing. Kulupakan sejenak kegalauan tentang om Hans. Biarlah dia bahagia dengan pilihannya dan aku akan belajar melupakannya. Aku sudah mantap untuk lanjut di Monash. Jarak yang membentang semoga bisa membantuku untuk berproses, proses melupakannya tentu saja. Insomniaku semakin parah, aku bisa tiba-tiba terbangun di tengah malam karena mimpi buruk tentangnya. Bukan, bukan tentang om Hans yang celaka atau semacamnya tapi senyum mengejek om Hans atau tatapan mata taj
Baca selengkapnya
Sorry 5 (21+)
Wanita itu mengangguk dan terus terisak sambil menggumamkan terimakasih. Beberapa saat kemudian wanita itu pergi meninggalkan Reyna yang menatap kepergiannya dengan tatapan kosong.'Mbak harus cepet masuk, ya. Mas yang di dalem butuh bantuan banget,' pesan wanita yang barusan pergi dan meletakkan card akses masuk ke kamar Hans. Tak mau membiarkan Hans menunggu terlalu lama Reyna bergegas membuka pintu dengan card yang diberikan wanita tadi.Dengan tangan gemetar dan perasaan gamang Reyna masuk ke kamar hotel. Saat masuk pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah pakaian yang berserakan di lantai tapi Hans tak terlihat. Suara gemericik air terdengar dari balik pintu di sisi kanan ranjang yang ia yakini adalah kamar mandi.Saat masih bingung memikirkan apa yang harus dilakukannya tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan muncul Hans hanya dengan mengguna
Baca selengkapnya
Sorry 6
 Reyna menangis tanpa suara. Tidak hanya fisiknya yang terluka tapi hatinya juga. Hari ini keperawanannya direnggut. Memang orang yang dicintainya yang mengambil keperawanannya tapi prinsipnya ia tak mau melakukannya sebelum menikah. Dan sekarang ia melanggar prinsipnya sendiri. Dia datang bermaksud menolong tapi dirinya sendiri tak tertolong.Terdengar dengkuran halus dari arah belakang tubuhnya, yang menandakan Hans sudah terlelap. Diraihnya tas tangan yang tadi dibawanya dan mengambil ponsel yang ia simpan di dalamnya. Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, beberapa misscall dan pesan dari Anjas menanyakan keberadaannya.Sorry om, Reyna udah tidur  SendTak lama kemudian notifikasi pesan berlogo hijau muncul, balasan dari Anjas masuk.Ok. Lanjutkan tid
Baca selengkapnya
Sorry 7
"Menikmati harimu, Rey?"Suara itu membuat Reyna menegang dan mengangkat pandangannya dari ponsel yang sedari tadi berada di tangan kirinya. Matanya bersiborok dengan mata hitam legam yang menatap tajam ke arahnya dan smirk yang tersungging di bibir seksi pria di depannya. Seketika tubuhnya meremang.Reyna masih membisu dan berusaha fakus pada makanannya yang tiba-tiba terasa hambar padahal sebelumnya terasa nikmat."Beresi barang- barangmu aku sudah pesan tiket untuk kita berdua," kata Hans sedikit kesal karena sejak tadi diabaikan oleh Reyna.Reyna berhenti menyuap dan mengangkat wajah berusaha terlihat tenang. Dia tidak mengatakan apapun tapi keningnya yang berkerut menjelaskan bahwa ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Hans."Anjas tak memberitahumu?" sekarang giliran Hans yang heran karena Reyna tetap bergeming."Apa?" satu kata meluncur dari bibir Reyna.<
Baca selengkapnya
Sorry 8
 "Loe harus bantuin gue lah.""Bantuin apaan?"Seketika senyum smirk terukir di bibir Reyna. Perasaan Rayan tidak enak melihat senyum itu. Jelas sekali Reyna punya rencana licik untuknya. "Perasaan gue gak enak, Rey.""I love you too, Ray," ucap Reyna full senyum sambil mengedipkan sebelah matanya. "Uhh... gue tahu loe pasti numbalin gue lagi," Rayan cemberut dan kembali menelentangkan tubuhnya kembali sambil memikirkan kata- kata apa yang harus diucapkannya pada orang tua Reyna nanti."Udah gak usah banyak mikir, ayo kita ke bawah sekarang," Reyna menyeret tubuh Rayan untuk segera bangkit. Tapi tubuh Rayan yang segede gaban tak beranjak sedikit pun."Biarin gue cari wangsit dulu, Rey," Rayan menyentak tubuh Reyna hingga tubuhnya menindih tubuh Rayan yang masih terbaring telentang.Tepat saat itulah pintu kamarnya dibuka dari luar dan muncul Anjas serta Hans di belakangnya. Empat pasang mata yang saling
Baca selengkapnya
Sorry 9
 Reyna tidak berani menceritakan peristiwa di Bali hampir satu bulan lalu kepada siapapun. Termasuk keluhan mual yang dialaminya akhir- akhir ini. Dia berharap apa yang dipikirkannya salah. Dia tidak mau mengecewakan semua orang terlebih lagi ia tak mau hidup bersama seorang pria bermulut sampah seperti Hans. Kalau apa yang dipikirkannya benar maka ia memilih pergi.Dengan tangan gemetar Reyna mengambil test pack yang ia beli kemarin secara sembunyi- sembunyi. Dibacanya dengan teliti tata cara penggunaannya sebelum menyobek bungkus dan mengeluarkan isinya. Lima belas menit paling menegangkan dalam hidupnya saat menunggu hasil dilaluinya dengan mondar- mandir di dalam kamarnya. Saat melihat hasilnya dia tak kuasa menahan isak tangis yang menyesakkan di dadanya. Reyna merosot duduk di ujung ranjang, mengacak rambutnya frustasi sesekali memukul dadanya yang sesak.Bagaimana masa depan anak yang dikandungnya adalah hal pertama yan
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status