FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)

FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang)

Oleh:  Bintu Ikhwani  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
132Bab
6.3KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Apa jadinya, jika cinta yang kau kira telah hilang terhapus waktu, tiba-tiba muncul kembali? Kau yakin sudah melupakannya, namun kenangan itu mengoyak ingatanmu kembali. Menjerembapkan dirimu dalam hasrat tak terbendung. Kau ingin menolaknya, tapi keinginanmu lebih besar untuk menerimanya. Itulah yang terjadi pada Nadya. Setelah berupaya menahan diri, pertahanan Nadya harus tumbang oleh ketidakmampuannya dalam menjaga hati. Nadya terjebak dalam cinta terlarang. Bagaimana akhir kisahnya? Bacalah.

Lihat lebih banyak
FORBIDDEN LOVE (Cinta Terlarang) Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
132 Bab
1. Surga yang Dicuri
Setelah menunggu hampir dua jam, waktu menunjukkan pukul tujuh malam saat akhirnya Nadya mendengar deru mesin mobil berhenti di halaman rumahnya. Meski begitu ingin keluar lalu mengomel; atas sikap menyebalkan seseorang sore tadi, juga atas keterlambatan yang seolah disengaja, Nadya memilih menahan diri sampai orang yang ditunggu masuk. Namun, semenit ... dua menit ... tiga menit ... sampai entah berapa menit, tak juga terlihat tanda-tanda seseorang akan muncul. Tak sabar, Nadya bangkit. Dia melangkah gusar menembus pintu menuju teras. Di sana, dari tempatnya berdiri yang bercahayakan remang, samar dilihatnya orang yang ditunggu masih duduk di kursi kemudi dengan tubuh yang mencondong ke jok kiri. Detik berikutnya, laki-laki itu menegak dengan dua jari yang memijat kedua mata. Lalu saat membuka mata, laki-laki itu terpaku, oleh keberadaan perempuan yang berdiri di teras dengan kedua tangan terlipat di dada. Pandangan mereka bertemu cukup lama, seolah bisa menyelami dalamnya lautan
Baca selengkapnya
2. Bukan Mantan, Bukan Musuh
Ini terjadi beberapa hari sebelumnya. “Kita mau ke kondangan ya, Ma?” tanya Tasya pada Nadya—sang Ibu—yang tengah mengikat rambutnya. “Iya, betul,” jawab Nadya, “ke rumah buyut. Tasya suka?” “Suka-suka-suka. Sama papa?” “Hm ... papa cuma antar, nanti nyusul, soalnya ada yang harus diurus.” Nadya meletakkan sisir ke meja lalu menatap seraut wajah cantik bocah antusias di hadapan sebelum melangkah keluar kamar. Perempuan itu menghela napas. Lihat bocah itu. Dia hanya tahu senang tanpa tahu tempat itu masih sangat ibunya hindari setelah sekian tahun berlalu. Pandangan Nadya kini berpaling pada lipstik di atas meja rias, meraihnya, lalu meletakkan kembali setelah mengoleskan sebagai sentuhan terakhir riasan naturalnya pagi ini. Nadya menatap sekali lagi pantulan wajah wanita berusia dua puluh sembilan tahun di cermin. Cantik. Dia tahu itu. Detik berikutnya, terdengar suara ketukan disusul pintu terbuka. Itu suami Nadya—Pramono Aji. “Sudah?” tanyanya seiring langkah mendekat. “S
Baca selengkapnya
3. Pertemuan Dua Lelaki Bag. 1
“Apa kabar, Nad?” Terdengar suara bariton bertanya dari belakang. Meski sudah sekian lama, Nadya tahu betul siapa pemilik suara itu. Ali. Wanita itu menoleh hanya untuk menyeka air mata dengan ujung jari. Lebih dari itu, dia tengah berupaya mempersiapkan diri untuk menghadapi Ali. Lebih tepatnya, menghadapi perasaannya sendiri. “Baik, Mas. Alhamdulillaah.” Nadya menjawab lirih tanpa benar-benar melihat siapa yang bertanya. Dia tahu, tidak seharusnya. Tapi memandang Ali lagi setelah sekian lama, nyatanya membuat hatinya kacau dalam sekejap. “Boleh duduk?” tanya laki-laki itu lagi. Nadya mengangguk samar. “Silakan.” Detik berlalu dalam hening. Bagi seorang teman, tak bertemu setelah sekian lama akan memunculkan banyak kalimat yang terucap. Tapi tidak bagi Nadya. Tenggelamnya dia dalam keheningan adalah bukti bahwa perasaannya masih sama setelah sekian lama. ‘Astaga.’ Nadya menghela napas. Tak ada obrolan apa pun melainkan pandangan yang sesekali Ali curi dari wajah perempuan di
Baca selengkapnya
4. Pertemuan Dua Lelaki Bag. 2
“Dek, Mas dalam perjalanan balik, kamu mau titip apa?” Jantung Nadya tersengat saat membaca pesan dari suaminya. Dia tak menyangka Pramono akan pulang secepat itu. Lebih tak menyangka karena Ali juga terlambat membawa pulang Tasya. ‘Tidak akan lama, katanya? Ini hampir satu jam.’ Nadya gusar. Beberapa kali dia menguatkan genggamannya pada ponsel di tangan akibat kegelisahannya yang tak beralasan. Kalian tentu tahu, ketika hati merasa bersalah, akal akan berusaha mencari alasan sebagai pembenaran, atau cara untuk menutupinya. Nadya cemas memikirkan apa jawaban yang akan dia berikan kepada Pramono, karena sadar Tasya tak bersamanya dan justru bersama .... Barangkali, jika Nadya tidak merasa bahwa Ali adalah seseorang yang pernah berarti lebih, akan mudah baginya menjawab, Ali memang hanya teman. Tak lebih. Nyatanya akal sibuk mencari jawaban lain. Berharap bisa menutupi dan tak menampakkan dia seperti seseorang yang istimewa, meski raga sering kali mengatakan sebaliknya. Sudah sa
Baca selengkapnya
5. Masih Berdebar?
“Mas keluar, ya. Kamu di sini, atau?” “Nad nyusul nanti, Mas. Tasya biar lelap dulu.” Pramono mengangguk. Sebuah kecupan mendarat di dahi sang istri sebelum melangkah keluar kamar. Setelah menidurkan Tasya di salah satu kamar Maryati, Nadya menyusul keluar untuk ikut mendengar kajian yang sengaja dihadirkan untuk mengisi malam jagongan—begitu orang menyebut acara berkumpulnya laki-laki di malam setelah hajatan selesai dilangsungkan. Pramono sudah berbaur bersama tamu lain di halaman. Sementara Nadya memilih bertahan di teras mendengarkan dari sana. Bersembunyi di balik tirai pemisah antara halaman dan teras. Tersamarkah oleh cahaya remang. Kecuali ada yang melintas, tak ada yang tahu ada orang di sana. Hujan sejak sore, menjadikan malam terasa membeku. Nadya memeluk tubuh di antara aktivitas menyimak suara di panggung sana. “... maka dari itu, kunci kebahagiaan rumah tangga ada pada kepercayaan dan saling menghargai ...” terdengar Ustadz melanjutkan bicara. Belum sampai mendenga
Baca selengkapnya
6. Kenangan Lalu Bag. 1
Tujuh tahun sebelumnya. Deru knalpot terdengar berhenti di halaman rumah Ikhsan. Tak berselang lama, Nadya mendengar sapaan salam. Dadanya tiba-tiba memanas disusul debar tak beraturan. Dia kenal suara itu. Dengan langkah buru-buru, Nadya berlari ke arah jendela. Membuka tirainya sedikit, demi memuaskan rasa ingin tahunya. Lalu debar-debar halus itu kian menggila saat akhirnya, dia benar-benar melihat siapa yang datang. ‘Nggak mungkin, ‘kan? Mau apa dia?’ Nadya menggigit bibir. Ada yang seketika bergemuruh, namun Nadya tak bisa menghentikannya. Setelah sekali lagi mencoba menenangkan diri, hati-hati Nadya membuka pintu. Lalu tampaklah wajah Ali dihiasi selarik senyum lembut di antara sorot mata teduhnya. “M—Mas Ali ... ?” “Ya.” Ali kembali mengulum senyum. “Aku.” “S—silakan, Mas.” Nadya menggeser diri, memberi jalan pada Ali untuk masuk. Lalu mempersilakannya duduk. Masih tak percaya pada apa yang dilihat, sesaat Nadya berdiri kikuk memandang laki-laki itu seperti orang bodoh y
Baca selengkapnya
7. Kenangan Lalu Bag. 2
Sepanjang perjalanan, hanya deru knalpot yang terdengar. Ali melirik kaca spion. Tangan kirinya terulur untuk membetulkan letaknya agar bisa menangkap pantulan seseorang di balik punggungnya. Seseorang yang tubuhnya bergetar sejak mereka berangkat tadi. Seseorang yang dia kecewakan meski selama ini dia tahu bagaimana perasaannya sejak dulu. Di kafe bambu tak jauh dari rumah mereka, Ali membawa Nadya masuk. Sengaja dia memilih kursi paling ujung dekat jendela karena cuaca mendadak hujan. Bukan hanya karena dia suka suasananya, tapi juga itu jarak terjauh dari pengunjung lain. Mencegah orang mendengar apa pun yang mereka bicarakan. Tak lama kemudian, dua cangkir kopi tersaji lengkap dengan kue keju kesukaan Nadya. Rasa manis adalah ‘booster’ terbaik saat hati sedang kacau. Meski keduanya sama-sama tahu makanan manis apa pun tidak akan bisa mengubah apa yang mereka rasakan sekarang. Hening masih menguasai, sampai Ali mulai membuka suara, “Maaf, ya. Mas terlambat. Meski tahu bagaimana
Baca selengkapnya
8. Malam Terakhir
Akan ada masa kita menyesal pada apa yang telah terjadi. Itulah sebab, pentingnya memikirkan dengan baik sebelum menentukan pilihan. Menghindari penjara berupa “andai-andai” yang tak mungkin lagi terjadi. Tepat pukul sepuluh malam, kajian walimah selesai. Setelah seharian hatinya terguncang oleh pertemuan dengan Ali, Nadya memutuskan pulang. Dia beruntung karena esoknya Pramono harus Dinas, sehingga memiliki alasan pulang lebih awal. “Nggak nginep aja, Nduk?” Dinar bertanya penuh harap. “Maunya, Bu, tapi Mas Pram besok harus Dinas pagi-pagi sekali.” Nadya bohong. Dinar mengangguk. Meski firasatnya sebagai orang tua terlalu terasah untuk dibohongi setelah melihat mata sembab putrinya lagi. Perempuan itu tahu, di sana, tepat di halaman rumah yang berada paling ujung, seorang lelaki tengah diam-diam memandang putrinya di balik gelapnya malam. Pemuda berhati lembut yang harus menyesali keterlambatannya memperjuangkan cinta dan berakhir dengan patah hati tak berujung. Ali. “Sedang a
Baca selengkapnya
9. Dinasnya Pramono
Baru tiga hari Pram pergi dinas, Nadya mulai sadar betapa lelahnya mengurus anak dan rumah sendirian. Pekerjaan rumah yang semula dikerjakan bersama, mendadak terasa dua kali lipat banyaknya selama suaminya tak di rumah. Ditambah rengekan Tasya yang berkali-kali tantrum menanyakan sang ayah. Menuntut papanya pulang disertai teriakan histeris. Menekannya pada titik terendah pertahanan diri. Nadya, mulai tumbang. Sakit. Harus diakui, dekatnya jarak dengan suami selama ini, menjadikannya berada pada zona nyaman. Di mana pun, kapan pun dia butuh, Pram akan sigap turun tangan. Memperlakukan istri laiknya putri. Pun dalam pengasuhan Tasya. Menggunakan alasan, kedekatan anak perempuan dengan sang papa akan membentuk karakter kuat dalam diri anak, menjadikannya lupa—bahwa mungkin akan ada masa seseorang harus jauh dari sosok laki-laki seperti sekarang ini. Karier Pram yang mulai menanjak, memaksanya pergi dinas bersama orang dan ke tempat-tempat baru yang terbilang jauh. Meninggalkan mereka
Baca selengkapnya
10. Perbincangan Dua Lelaki
“Halo, Al,” Pramono menyapa Ali yang kedapatan tengah duduk sendirian di jajaran kursi tamu. Sebagian besar tamu sudah meninggalkan acara, menyisakan beberapa orang saja. Ali menoleh. “Hai.” “Sendirian aja?” Pram kembali bertanya. Lalu menyusul duduk di samping Ali setelah meraih satu gelas teh hangat di meja tak jauh dari mereka. Ali mengangguk. Di tangannya gawai yang masih menyala buru-buru dia matikan dan masukkan ke dalam saku. Pramono yakin dia sempat melihat foto seorang anak bergaun putih dengan rambut terikat. Sekilas tampak mirip Tasya. Mengingat belum lama tadi dia pergi bersama bocah itu, tak aneh jika bocah dalam foto itu adalah Tasya. Satu hal yang akhirnya Pramono ketahui, Ali suka anak-anak ... atau mungkin .... Sudut hati Pramono mendadak ngilu menghadirkan sensasi melilit di lambungnya. ‘Pikiran apa ini?’ “Thanks, tadi sudah membawa Tasya main.” Pram meletakkan teh yang baru disesapnya ke atas meja, “tak menyangka, Tasya akan secepat itu akrab dengan orang asing
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status