MENGAPA CINTA MENYAPA

MENGAPA CINTA MENYAPA

Oleh:  Marthino Mawikere  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
137Bab
3.8KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Rania berjuang keras untuk sukses di perusahaan yang baru. Ia menghadapi tantangan ketika ketahuan bahwa sebetulnya proses diterimanya dia bekerja adalah karena faktor kecurangan yang dilakukan perusahaan headhunter karena ia adalah penderita kleptomania. Itu hanya secuil dari masalah yang perlu dihadapi karena masih ada konflik, skandal, penipuan, bisnis kotor, konflik keluarga, termasuk permintaan sang ibunda yang merindukan momongan. Ketika masalah dan drama sudah sebagian selesai, tiba-tiba ia jadi tertarik pada Verdi. Gayung bersambut dan pria itu juga memiliki perasaan yang sama. Masalahnya, umur keduanya terpaut teramat jauh karena Verdi itu dua kali lipat usianya. Beranikah ia melanjutkan hubungan ke level pernikahan dimana survey menunjukkan bahwa probabilitas keberhasilan pernikahan beda umur terpaut jauh hanya berada di kisaran angka 5%? Seberapa jauh ia berani mempertaruhkan masa depan dengan alasan cinta semata?

Lihat lebih banyak
MENGAPA CINTA MENYAPA Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
137 Bab
Ribut Di Pelataran Parkir
“Damned!”Rutukan satu patah kata itu keluar dari mulut Rania di balik kemudi kendaraan yang dikendarai. Kejengkelannya beralasan. Sangat beralasan. Sudah hampir seperempat jam kendaraan yang dikemudikannya berputar-putar di areal parkir gedung perkantoran. Toh, tetap tidak ada tempat baginya untuk memarkir kendaraan. Ia tidak mau mencoba mencari di basement karena pada umumnya di areal parkir bawah gedung sudah dalam keadaan tersewa oleh para tenant, perusahaan perkantoran penyewa ruangan-ruangan gedung. Ini adalah hari pertama Rania bekerja di perusahaan yang terletak di salah satu kompleks gedung perkantoran. Mestinya ia datang tepat waktu. Tapi, uh! Hari pertama ini ternyata harus ia lalui dengan kejengkelan yang mudah-mudahan bukan pertanda jelek akan timbulnya kejengkelan-kejengkelan berikut di hari yang sama. Ia tak mau kalau keterlambatan bisa jadi penyebab kinerjanya dinilai buruk. Rania melirik
Baca selengkapnya
Songong Lu!
Pria itu mengangguk-angguk kepala sebelum kemudian bertanya lagi.“Dengan panjang jalan di parkiran sejauh tiga puluh meter serta badan jalan lima meter, dan dua kelokan tajam, artinya saat awal melaju tidak ada kendaraan yang bisa melebihi 40 kilometer per jam.” Rania tersentak. Ia bukan ahli matematika yang bisa melakukan kalkulasi di luar kepala segitu cepatnya. Tapi info lawan bicaranya kemungkinan besar memang benar. Dan kelemahan Rania adalah bahwa ia mudah sekali terpojok ketika sadar dirinya melakukan kesalahan.“Anda tahu berapa kecepatan kendaraan saya yang baru saja keluar dari tempatnya parkir?” Rania terdiam. Bodoh sekali dirinya! Tentu saja pria itu benar. Tidak ada kendaraan yang keluar dari tempat parkir yang langsung terbang dengan kecepatan tinggi! Rania masih belum tahu mau berbicara apa-apa ketika pria tadi mengambil dompet dari saku celananya dan menyerahkan tiga lembar seratusan rib
Baca selengkapnya
Siapa Suruh Telat?
Saat melihati lembaran aneka surat itu mendadak sesuatu meluncur jatuh ke atas meja dimana dirinya verada. Ia memungut benda yang adalah sebuah pas foto yang tentu saja merupakan pas foto dari kandidat yang pada akhirnya diterima sebagai manajer junior tadi. Ia melihati sesaat. Semenit, dua menit. Mungkin malah lebih lama.Pas foto itu menampilkan sosok Rania, sang manajer junior baru, yang ternyata cantik. Begitu cantik.“Inikah penyebabnya?” tanyanya. Retoris. * Hari yang merupakan hari pertama Rania bekerja pada perusahaan makanan ringan terbesar di kawasan Asia Pasifik itu, ternyata pada perjalanan waktu berikut berjalan menyenangkan. Mungkin setidaknya hingga satu hari itu. Edwin, sang manajer Logistik sebagai atasannya dan orang yang pertama harus ditemui, menyambutnya ramah. Ia ingat saat pertama kali bertemu orang itu di sesi wawancara sebulan lalu, Rania sempat kaget. Bagaimana tidak, c
Baca selengkapnya
Tanggung Jawab: Ngemil
Rania menjentik tombol laptop dan tampilan skema mengenai struktur organisasi perusahaan yang baru saja ia pelajari langsung lenyap seketika. Hhhh … Rania menarik nafas panjang. Dirinya baru saja memperhatikan struktur yang ada pada Research and Development, sebuah departemen yang dikepalai Verdi, lengkap dengan deskripsi tugasnya. Selama sebulan terakhir perusahaan memang tengah mengadakan internal audit dimana satu departemen saling mengaudit departemen lain. Dan Verdi kebetulan adalah orang yang ditunjuk untuk melakukan audit atas departemen Ekspor yang Rania pimpin. Sudah dua hari ia di perusahaan dan masih belum menemui orang tadi. Rania sedikit bisa bernafas lega karena departemennya sudah melakukan audit atas departemen lain saat manajer lama masih bekerja. Ini artinya, dirinya tidak perlu terlalu sibuk untuk menjadi auditor. Dengan sebagian tugas telah dilakukan pendahulunya, ia berharap tidak banyak yang ia perlu lak
Baca selengkapnya
OMG. It's Him!
            “Lu kenapa harus tersinggung dibilang bocil sih?”            “Kan gue bukan anak kecil lagi.”             Nurul, rekan Rania, terkikik mendengar pengalaman tak terduga yang dialami rekannya. Baginya adalah satu berbanding seribu dimana orang yang kita omeli dan mengomeli ternyata secara tak terduga adalah orang yang harus ditemui setiap hari. Saat ia mendengar jawaban Rania, gadis itu tertawa makin keras.             Bosan menunggu Nurul berhenti tertawa, jutek alias kejudesan tingkat tinggi yang merupakan tabiat dadakan Rania, bangkit lagi.            “Tau gak, gue nelpon lu supaya dapet advis, saran, masukan atau
Baca selengkapnya
Perkenalan Yang Kaku
Rania mengangguk. Bukannya menjawab pertanyaan Verdi, ia malah membelokkan topik pembicaraan. “Mengenai kejadian waktu itu di areal parkir, aku yang salah.”Verdi menaikkan alis mata. “Aku nggak percaya kamu ke sini untuk ngomongin lagi kejadian menyebalkan itu.”“Memang nggak sih,” Rania menyibak rambut pirangnya yang tergerak di bawah bahu.“Tapi aku rasa kasus kemarin, bagaimana pun juga, perlu diselesaikan.”Verdi nampak berpikir sebelum mulai menjawab. “Bukannya kasus itu memang udah selesai?” Rania tidak langsung menjawab. Verdi menyambung ucapannya. “Atau kasus serempetan itu kamu anggap belum selesai? Aku sih nggak keberatan koq kalau harus kembali mengajukan biaya perbaikan.”“Nggak, bukan itu,” Rania cepat-cepat menjawab. “Maksudnya aku senang kasus itu dianggap selesai, Pak.”"Aku nggak suka dipanggil begitu. Verdi
Baca selengkapnya
Gosip Kantoran
Rania keluar dari ruang kerja Verdi dengan kekesalan bertumpuk.‘Kalau dia berpikir bahwa aku sebagai orang baru harus mengikuti kemauannya maka pria sombong itu salah besar,’ kata Rania membatin.Tak lama lagi Verdi akan menyadari bahwa ia berhadapan dengan orang paling keras yang ia pernah temui. - *             Perusahaan tempat Verdi dan Rania bekerja menempati dua lantai di menara gedung yang disewa, tepatnya lantai 14 dan 16. Ketika harus menuju departemen di lantai berbeda, daripada menunggu lift, ia lebih suka naik atau turun menggunakan tangga darurat. Tak perduli walaupun tangga darurat itu pun sudah menjadi areal kumpul-kumpul tak resmi bagi beberapa orang yang belum bisa melepaskan diri dari ketergantungan merokoknya.             Saat itu ketika Verdi melangkah turun
Baca selengkapnya
Sang Penodong Sang Penolong
            Ini membuat Rania berpikir pragmatis. Ia butuh uang namun di saat yang sama tak boleh membiarkan uang menguasai dirinya. Itu idealis sekali. Namun tentu saja tak semudah membalik telapak tangan ketika tiba di ajang pembuktian. Apalagi ia saat ini berada di depan mesin ATM dan menemukan bahwa saldo menunjukkan angka yang tak lebih dari lima digit.             Benar-benar memalukan. Dirinya adalah seorang manajer tapi memiliki sisa dana amat minim. Ia bisa saja berkilah bahwa ia masih berbilang hari di posisi di atas sehingga belum menikmati madu pertama alias gaji perdana. Tapi apa yang dialami benar-benar memalukan. Mama rupanya terlambat mentransfer uang untuk kebutuhannya sehari-hari.             Ruang ATM dimana dirinya berada dalam keadaan sepi. Bahkan lokasi sisi
Baca selengkapnya
Konflik Lagi
            Almarhum Papa benar.             Foto dan video itu membawa kenangan dan kejadian di masa lalu dan memberikan kenangan manis dan kuat bagi keluarga yang ditinggalkan. Semua itu terasa manis walau – bagi Rania khususnya – mendatangkan duka mendalam karena merasa begitu sedikit waktu kebersamaan yang terjadi.             Namun, let gone be by gone. Itu prinsipnya. Serpihan kenangan masa lalu dalam bentuk gambar dan video itu ia jadikan petunjuk betapa Papa almarhum sangat mencintai keluarganya. Gambar dan video itu juga sekaligus jadi bukti betapa Papa begitu memanjakan Rania dan menjadikan puteri kecilnya adakalanya terlihat lebih diistimewakan daripada James, kendati ia adalah si bungsu.         
Baca selengkapnya
For Me Please
“Rapatnya dipercepat. And you know what? Dipercepatnya ke jam dua belas.”“Ha? Koq bisa sih ngadain meeting saat jam istirahat?”“Yah, suka nggak suka begitulah tabiat GM kita.” Vonny menarik kursi dan kemudian duduk di atasnya.“Rania di rapat nanti ikut bicara kan?”Rania teringat sesuatu. “Mmm, aku emang diminta untuk bikin presentasi mengenai departemen ini. Bahan presentasinya udah siap sih. Mudah-mudahan nanti nggak ditanya macam-macam. Apalagi yang di luar konteks.”“Kalo yang biasanya kritis di rapat gituan sih biasanya Pak Verdi." Tulang Rania mendadak terasa linu-linu. Mendung seolah menaungi raut wajahnya. Sayangnya perubahan itu tak disadari Vonny. Vonny malah kini melirik nakal ke arahnya.“Sampai hari ketiga ini, udah ketemu dia apa belom?”“Sudah.”“Well? Tanggapan Rania
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status