Dan Akhirnya Istriku Diam

Dan Akhirnya Istriku Diam

Oleh:  Dewi Mega  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
9.1
Belum ada penilaian
54Bab
174.6KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Alan menatap tak percaya, ia sungguh heran dengan perubahan drastis sikap manja istrinya, Rima yang amat menyebalkan dan sangat boros di matanya, kini lebih banyak diam dan dingin. Istri yang berhasil menumbuhkan rasa benci di hatinya selama tiga tahun ini.

Lihat lebih banyak
Dan Akhirnya Istriku Diam Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
54 Bab
Bagian 1
KETIKA ISTRIKU BERUBAH Alan meletakkan handuk yang baru saja dipakainya dengan sembarang, tapi Rima hanya diam seraya mengambil handuk itu. Tak seperti biasanya yang mengoceh panjang seperti kereta api. "Aku tidak akan sarapan di rumah," ucap Alan. Rima hanya mengangguk tanpa sepatah kata.  Lagi ... Alan termangu. Biasanya satu kata itu berhasil menciptakan sebuah drama panjang dengan tangisan. "Kenapa gak mau makan? Masakanku gak enak? Iya aku memang tak pintar masak, aku gak becus jadi istri," celoteh Rima panjang sambil berkaca-kaca yang pada akhirnya Alan pun mencicipi makanannya. Tapi kali ini, Rima diam. Istri yang ia nikahi selama tiga tahun itu melenggang keluar kamar sendirian dan menikmati nasi gorengnya yang asin pun sendirian. Alan memperhatikan dari jauh, tapi tak berani bertanya apa pun. Sud
Baca selengkapnya
Bagian 2
DAN AKHIRNYA ISTRIKU DIAM BAGIAN 2 [Mas, ini tidak benar! Sebaik-baiknya wanita adalah istrimu, Rima.] Satu baris kalimat balasan dari Gayatri membuat Alan seketika tidak fokus pada pekerjaannya. Gayatri memang ia kagumi sejak lama, jauh sebelum ia menikah dengan Rima. Gadis sederhana yang membuatnya terpukau, kepintarannya dibalut dengan kelembutan yang sempurna. Sosok yang begitu mempesona bagi seorang Alan.  Hingga ... satu langkah menggapai cinta Gayatri kandas, ketika Rima mendatanginya dengan binar penuh cinta. Sebuah perasaan yang tidak bisa ditolak, satu kenyataan yang membuat Gayatri mundur perlahan. Gayatri dan istrinya adalah dua sahabat yang begitu dekat, mereka saling menyayangi seperti kakak beradik, sosok Gayatri yang merupakan anak dari seorang tak berpunya, kemudian dibawa oleh orang tua Rima yang kaya raya, ia diber
Baca selengkapnya
Bagian 3
"Jawab saja! Aku kuat kok, Mas!" ucap Rima tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun. Ia masih menunggu apa yang akan dikatakan pria di hadapannya itu. Apakah ia akan berkata jujur atau kembali bersandiwara. "Jawab, Mas!" Alan hanya mengangguk, ia tak lagi bersandiwara. "Bahkan setelah kita menikah?" Alan kembali mengangguk. Dada seketika begitu sesak, mulut tak lagi dapat berkata. Rima membuang pandangannya, menyembunyikan mata yang mulai memerah. Alan pun terlihat bingung, ingin mendekat tapi seperti tertahan. Hingga ... akhirnya Rima kembali menegakkan pandangannya seraya menyeka air mata. "Maaf ... aku pikir aku kuat, ternyata ini lebih sakit daripada yang aku bayangkan. Seharusnya tadi kamu bersandiwara saja, aku rasa itu jauh lebih baik." "Maaf," ucap Alan pelan dengan segenap perasaan bersalah.
Baca selengkapnya
Bagian 4
   Rima menunggu. Ia hanya ingin tahu saja, Alan masih menatapnya, kini ia berdiri, mereka saling berhadapan terhalang meja. "Aku mengatakan, kamu cantik dengan anting kecil itu." Rima termangu. "Kamu memujinya?" Alan menganggguk ragu dengan wajah bingung dan mungkin juga sebuah perasaan bersalah. "Di hadapanku?" Alan terdiam. "Bahkan kamu tidak pernah melakukan itu padaku." Alan masih mematung, menatap Rima dengan perasaan bersalah.  "Senang juga sepertinya dipuji laki-laki dengan kebohongan manis, sudah lama tidak ada yang seperti itu padaku, sepertinya aku haru mulai membuka diri," lanjut Rima yang kemudian segera berlalu ke mejanya tanpa mendengar balasan apa pun dari
Baca selengkapnya
Bagian 5
  "Tidak akan ada perceraian!" jawab Alan tenang seraya berhasil membuka gesper. "Egois!" jawab Rima. "Kamu pikir berpisah semudah itu?" "Kamu pikir semuanya akan lebih mudah ketika hidup bersama dengan orang yang tidak mencintai kita. Bayangkan, tiga tahun kamu bergumul dengan kebohongan, Mas! Apa kamu pikir aku tidak sakit?" Alan diam, jauh di lubuk hatinya ada sebuah perasaan bersalah, tapi ia tidak bisa mengungkapkan segala apa yang ia rasakan saat ini. Setelah tidak ada jawaban dari Alan, dengan kecewa Rima pergi meninggalkan suaminya itu. Tapi ia tidak masuk ke dalam kamarnya, melainkan kamar lain yang selama ini untuk tamu. "Kamarmu di sini Rima!" ujar Alan seraya memegang tangan istrinya dan menunjuk kamar mereka. "Mulai malam ini aku tidak
Baca selengkapnya
Bagian 6
Alan mematikan teleponnya ketika melihat Rima masih mematung di sana, menatap dirinya dengan sejuta curiga. "Aku mau mengambil bajuku, maaf kalau mengganggu aktivitasmu," ucap Rima kemudian masuk dan langsung berjalan ke arah lemari, lalu mengambil beberapa pakaian. "Aku hanya menelpon Gayatri dan menanyakan tentang pekerjaan." "Aku tidak bertanya," jawab Rima. "Tapi aku tahu kamu sedang curiga." Rima menghentikan aktivitasnya, kemudian membalikkan badan dan dengan sinis menatap Alan. "Rasa cemburuku sudah hilang ketika satu kenyataan akhirnya aku tahu. Satu hal saja yang aku sayangkan, kenapa aku begitu bodoh tak bisa membedakan mana orang yang sedang jujur atau berpura-pura." Ia kembali membalikkan badan, tapi Alan menahannya dengan membawa memegang tangan Rima. 
Baca selengkapnya
Bagian 7
Please jangan lupa komen, like dan subnya yaa"Bukankah kamu tahu bila aku tidak suka disela?" ucap Alan. "Bukankah kamu tahu juga bila aku tidak suka dibohongi, Mas? Masihkah harus ku jelaskan segala rasa sakit atas sebuah kenyataan yang akhirnya ku ketahui." "Pembicaraan kita hanya berputar di situ saja, tidak akan pernah selesai." "Karena ini yang jadi masalah kita dan belum selesai!" ucap Rima. "Maka dari itu, mari kita bicara agar mendapatkan titik temu." Rima diam, ucapan suaminya itu memang benar, mereka saat ini hanya butuh bicara bersama, apa pun hasil yang akan di dapat pada kisah akhir. "Baik, mari kita bicara." "Selama ini kamu terlalu mengejar dan mencintaiku, Rima!" Wanita di sampingnya itu segera melihat ke arah su
Baca selengkapnya
Bagian 8
Please like, komen dan Sub ya. Biar upnya tambah semangat.  Gayatri meninggalkan rumah Rima dengan segenap perasaan kecewa atas sikap orang tua Rima yang masih saja mengatur dirinya hingga saat ini. Menangis saja rasanya tak cukup menenangkan hati, entahlah mengapa, semesta seperti tidak pernah berpihak padanya. Bahkan di dalam keluarganya sendiri, Gayatri merasa tak menemukan kenyamanan. Satu-satunya titik nyaman yang ia punya pun seolah terampas tanpa menyisakan apa pun kecuali luka. Sementara Rima dan Alan masih dalam percakapan yang tak berujung. "Kita itu seperti berada di jalan buntu, Mas." "Tidak! Sebetulnya jalan kita tidak buntu, hanya kamu saja yang tidak mencoba memberi jalan padaku." Rima tidak tahu lagi harus membawa pembicaraan ini kemana, ia pun mulai jengah dan beranjak henda
Baca selengkapnya
Bagian 9
Gayatri keluar dari kamar mandi dan menatap heran ke arah Rima dan dompet yang tergeletak tak jauh dari jangkauan sahabatnya itu. "Kenapa, Rim?"  "Enggak, dompetmu kayaknya gak ganti sejak dulu, ada kali sepuluh tahun." "Ini kan dulu hadiah ulang tahun dari kamu, sayang banget mau ganti karena masih bisa dipakai, barang branded lagi. Aku gak akan mampu beli, hehe," jawab Rima mengambil dompetnya dan memasukkan ke dalam tas. Ia pun mencicipi makanan yang baru saja ia hangatkan. "Kamu tidak pulang, Ay?" tanya Rima mengalihkan pembicaraan. Gadis di hadapannya menggelengkan kepala pelan, selalu ada gurat kesedihan pada Gayatri ketika berbicara tentang keluarganya. "Mereka tidak membutuhkan aku pulang, mereka hanya butuh uang yang dikirim dengan sesering mungkin." "Mereka masih sep
Baca selengkapnya
Bagian 10
Sepanjang jalan menuju rumah orang tuanya, Rima tak banyak bicara, sementara Alan fokus pada kemudinya. "Kamu tahu tentang hidup Gayatri, Mas?" Rima membuka suara. "Tak perlu membahas orang lain saat kita sedang berdua." "Dia bukan orang lain, dia bagian paling penting, baik untuk hidupku untuk hidupmu." Alan diam, ia tak menanggapi ucapan istrinya. Pembicaraan ini hanya akan berakhir pada hubungan yang akan membuat semakin dingin. Sampai detik ini, Alan tak mengerti, mengapa untuk sekadar melepaskan Rima adalah sesuatu yang sulit ia lakukan. Terlebih lagi orang tuanya begitu menyayangi Rima, bukan karena ia anak orang kaya, tapi sikap manja Rima mampu meluluhkan hati orang tuanya yang tidak memiliki anak perempuan dan saat ini Rima menjadi menantu satu-satunya. Tak berapa lama, mobil mereka tiba di sebuah rum
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status