ISTRIKU GILA?

ISTRIKU GILA?

Oleh:  Okta Novita  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
108Bab
12.2KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

"Ayah!" teriak Zainab sambil menutup kedua telinga. Napasnya mulai terengah dan air matanya mulai mengalir. "Tenang, Za! Kita pulang dulu." Aku mencoba mendekat. "Gak! Gak! Bapak sudah membunuh ayah saya! Bapak pembunuh! Bapak pembunuh!" racaunya dengan tangan mendorong tubuhku. Kuraih kedua bahunya dan mengguncangnya pelan. "Maafkan aku, Za! Maaf!" Ketidaksengajaanku telah membuat nyawa ayah Zainab melayang. Sebelum laki-laki itu mengembuskan napas terakhir, aku diminta menikahi Zainab. Padahal, ada satu hati yang menungguku di tempat lain. Bagaimanakah aku harus menjalani hidup yang dipelintir oleh takdir?

Lihat lebih banyak
ISTRIKU GILA? Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
108 Bab
Pilihan Sulit
"Kamu pilih istri yang waras apa enggak bisa? Masih bocah, gila pula!"Kalimat itu selalu diucapkan oleh Ibu saat Zainab—istriku—mulai berteriak histeris dan mengamuk di dalam kamar. Seorang gadis belia berusia delapan belas tahun yang terpaksa kunikahi karena wasiat dari seorang ayah di penghujung usia. Pernikahan yang harus kujalani meskipun tidak ada cinta sama sekali. Pernikahan sebagai penebus dosa akibat kelalaian berkemudi hingga menghilangkan nyawa seseorang.Kupandangi wajah ayu Zainab yang sudah tertidur pulas di atas tempat tidur. Cantik, tetapi penuh dengan tekanan. Aku membuatnya terpuruk di usia yang seharusnya menjadi awal untuk menuju cita-cita. Gadis manis dengan lesung pipi yang sebenarnya akan meneruskan pendidikannya ke jenjang Perguruan Tinggi. Namun, semuanya pupus karena kesalahanku.Aku pun lebih sering menghabiskan waktu untuk menikmati angin malam di balkon kamar. Tidak ada keberanian untuk diri ini menyentuh dan berbuat lebih den
Baca selengkapnya
Permintaan Ibu
"Kalau kamu sayang sama Ibu, ceraikan Zainab dan menikahlah dengan Maira!"Ucapan Ibu membuatku menjadi harus memilih antara menjadi seorang suami dan seorang anak. Aku tidak ingin menyakiti hati Ibu, tapi juga tidak ingin menjadi suami yang gagal. Meskipun aku tahu jika ada satu wanita lagi yang tersakiti di sudut bumi yang lain. Maafkan aku, Maira. Cinta ini masih sama, tapi kita tidak bisa bersama. "Aku gak bisa, Bu. Aku bukan laki-laki yang suka mengingkari janji," bantahku. "Apa kamu gak sadar, Nak? Saat ini pun kamu sudah mengingkari janji pada ayahmu dan Maira. Kamu janji pada almarhum ayahmu untuk selalu mematuhi Ibu dan kamu janji akan menikahi Maira setelah mampu membeli rumah dengan keringatmu sendiri."Boom! Jawaban Ibu begitu menohok hatiku. Benar sekali jika saat ini aku sudah mengingkari janji. Namun, aku juga tidak ingin menambah derita untuk Zainab. "Lalu, apa yang Ibu mau? Ibu mau aku menjadi laki-lak
Baca selengkapnya
Hujan
Satu pekan setelah pindah dari rumah Ibu, kondisi Zainab perlahan membaik. Aku bersyukur karena tidak sia-sia mengambil cuti selama lima hari dengan imbalan senyum dari gadis berlesung pipi itu. Hari ini pun aku sengaja mengubah jadual kelas agak siang agar bisa mengantar Zainab kembali kontrol ke rumah sakit untuk memastikan kesembuhan luka di pergelangan tangannya. Sekaligus berkunjung ke psikiater yang menanganinya."Saya tidak mau ke psikiater, Pak. Saya tidak gila," tolak Zainab. Kulirik sekilas, ia menoleh ke arahku yang sedang fokus menyetir. "Tidak ada yang mengatakan kamu gila, Za. Kamu hanya ada trauma pada suatu kejadian. Nanti hanya akan ngobrol saja," jelasku dengan pandangan lurus ke depan. "Bapak jadi mendaftarkan saya kuliah, 'kan? Saya ingin segera belajar seperti dulu.""Nanti setelah dari rumah sakit, kita langsung ke kampus. Aku ada jadual kelas siang sekalian mendaftarkan kamu. Tapi kamu harus bisa mengejar ketinggalan dua bulan p
Baca selengkapnya
Pertemuan dengan Maira
Aku masih saja ingin tertawa saat mengingat wajah Zainab yang sangat lugu itu. Dia benar-benar mengira kalau aku sudah menyentuh bagian penting dari tubuhnya. Dan lagi karenanya, mi instan yang kubuat menjadi lembek dan kehabisan air. Apes! "Bapak beneran gak ngapa-ngapain saya, 'kan?" tanyanya lagi. Sekarang kami duduk di sofa ruang tengah dan menyantap makan malam yang gagal. "Iya, sudah" jawabku sambil menikmati mi instan yang lembek. "Berarti, Bapak juga udah lihat—" Ucapannya kembali menggantung. "Iya," jawabku lagi. "Tuh, 'kan! Bapak curang." Zainab merengek sembari memukul bahuku cukup keras. Aku membuang napas, lalu meletakkan sendok dan garpu dengan kasar. Kugeser tubuh hingga berhadapan dengan Zainab. Kutatap mata indah itu lekat. Zainab mulai salah tingkah dan membuang muka. Aku sama sekali tidak mengeluarkan suara dan sedikit mengangkat bagian bawah kaus yang kukenaka
Baca selengkapnya
Cemburu
"Za!" panggilku sesaat setelah mobil berhenti di tempat parkir kampus. "Iya," jawabnya dengan mata yang kembali berbinar. Kamu memang masih tergolong remaja, Za. Cantik meskipun tanpa polesan wajah sama sekali. Beberapa saat aku kembali terpesona dengan wajah cantik istri kecilku. "Ini buat pegangan. Kamu bisa pakai untuk jajan atau membeli sesuatu yang kamu butuhkan." Kuserahkan beberapa lembar uang berwarna merah untuknya. "Apa tidak kebanyakan, Pak? Ayah biasanya kasih saya uang saku cuma sepuluh ribu, paling banyak dua puluh ribu."Aku tersenyum mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya. Zainab benar-benar gadis yang sangat lugu. Aku semakin mengaguminya. "Kamu itu istriku, Za. Kamu berhak mendapat nafkah dariku.""Ini saya terima ya, Pak. Mau saya tabung buat beli handphone." Dimasukkannya uang itu secara asal di dalam tasnya. "Kalau handphone, nanti aku belikan setelah pulang dari kampus. Nanti, kala
Baca selengkapnya
Aku Harus Terima
Makan malam ini terasa sangat kaku karena aku dan Zainab sama-sama diam. Entah masakan apa ini, tapi cukup enak dan nyaman di lidahku. Aku juga tidak tahu kapan dia memasak. Ah, sudahlah! Aku tidak ingin lagi memedulikan apa yang dilakukannya setelah ucapannya yang menganggapku bukan siapa-siapa. Selesai makan malam, aku mulai mengemasi barang-barangku di kamar utama dan memindahkannya ke kamar sebelah. Lebih baik aku dan Zainab tidur terpisah. Aku tidak ingin jika cinta ini malah menyiksaku lahir dan batin. Aku harus mengakui kalau sudah ada rasa cinta di hati ini, tapi aku juga tahu diri. Mana mungkin Zainab mau mencintai pembunuh ayahnya. "Barang-barang Bapak mau dibawa ke mana?" tanyanya, tapi enggan kujawab. Zainab mengekorku hingga masuk ke kamar yang akan kutempati."Bapak kenapa? Sejak dari Mal tadi, Bapak tidak banyak bicara seperti biasanya. Bapak ada masalah?" tanyanya lugu. Dasar Zainab! Apa dia tidak
Baca selengkapnya
Zainab Sakit
Aku menatap langit-langit kamar dengan pikiran melayang pada nama Zainab. Sikap dan tingkahnya tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat semenjak pulang dari kampus. Dia tidak seperti Zainab yang kukenal dua bulan terakhir ini. "Nanti, Bapak mau aku masakin apa? Di rumah masih komplet bahan makanannya." Zainab terus menggamit lenganku hingga sampai di tempat parkir. Aku yang seharusnya senang, tapi nyatanya aku malah merasa risih karena banyak pasang mata yang memandang aneh dan penuh selidik. Kemudian, terlihat mereka saling kasak-kusuk dengan orang di sebelahnya. Aku tidak ingin jika nama Zainab menjadi gunjingan di kalangan mahasiswa karena dituduh mendekati dosennya untuk mendapat nilai sempurna. Namun, berita akan berbalik jika mereka tahu kami sudah menikah. Entah aku atau Zainab yang akan mendapat image buruk. Hingga tanpa sadar, perkataan yang tidak semestinya terlontar. "Aku gak suka dengan sikapmu yang seperti ini. Seperti
Baca selengkapnya
Aku Menyerah
Hari ini genap dua bulan pernikahan tak terencana itu. Dan lebih tepatnya satu pekan setelah Zainab keluar dari rumah sakit. Aku mengajak Zainab untuk makan malam di luar. Candle light dinner istilahnya. Gaun warna hijau muda dipadu jilbab pasmina warna senada membuat wajah Zainab yang baby face itu tampak lebih dewasa. Cantik. Aku sampai terpana saat melihatnya keluar dari salon. Meskipun make up yang diaplikasikan di wajahnya tidak begitu tebal, istri kecilku itu tampak sangat anggun dan memesona. Dia sebenarnya tidak mau memakai make up. Tidak biasa katanya. Namun, demi menuruti perintahku, Zainab menekan egonya. "Tapi jangan tebal-tebal!" pintanya dengan raut muka sedikit masam. Sebuah hotel yang cukup terkenal di kota ini menjadi tujuanku. Satu kamar dengan dekorasi indah di lantai sepuluh sudah kupesan secara khusus. Bahkan, aku meminta untuk membuatkan makan malam istimewa di balkon kamar. Aku ingin membuat satu hari istimewa untuk Zainab kare
Baca selengkapnya
Klarifikasi
Aku terkejut pada respon Zainab yang biasa saja saat kuperlihatkan berita miring yang sedang beredar di kampus. Dia malah tertawa kecil di hadapanku. Padahal, berita ini pasti akan menjatuhkan image-ku sebagai dosen yang biasanya cukup disegani oleh para mahasiswa. Namun, Zainab sepertinya tidak mengerti kegelisahanku. Sebentar lagi, pasti akan ada telepon dari Pak Syamsul selaku rektor di kampus. Tamatlah riwayatku!"Mas Idan gak perlu takut. Kita kan, sudah menikah. Kita tinggal bawa bukti surat nikah kita, dan semua beres," jawab Zainab enteng. "Aku tahu itu, Za. Namun, bagaimana dengan persepsi mereka saat melihat pernikahan kita dengan usia yang terpaut cukup jauh. Bahkan, mereka pasti mengira kalau kita menyembunyikan pernikahan ini karena ada aib.""Katanya dosen bahasa dan sastra, tapi kok, gak bisa merangkai kata?" balas Zainab. Mati aku! Kenapa Zainab malah memojokkanku seperti itu? Dia sama sekali tidak takut dengan masalah yang s
Baca selengkapnya
Mengharap Restu Ibu
Aku dan Zainab sekarang berada di ruang redaksi majalah kampus yang berisi mahasiwa jurusan jurnalistik. Kami layaknya tahanan yang diinterogasi karena melakukan tindakan kriminal. Menyebalkan! Seorang mahasiswa yang belakangan mendekati Zainab juga ada di ruangan ini. Tatapan matanya tampak sinis memandangku. "Ham, lo potoin Pak Zaidan sama Zainab!" perintah salah satu mahasiswa yang tadi mewawancaraiku dan Zainab. Aku dan Zainab diminta memegang surat nikah kami di depan dada lalu difoto oleh mahasiswa yang selalu dipanggil 'Ham'. Setelah masalah berita hoax di kampus itu tuntas, aku berencana mengajak Zainab untuk mengunjungi Ibu. Sudah satu bulan ini aku tidak pernah mengunjunginya. Tidak tega juga rasanya membiarkannya hidup sendirian di usia senja. Sekaligus meminta restu agar aku bisa dengan terang-terangan mengatakan pada dunia kalau Zainab adalah istriku. "Za, karena hari ini tidak ada kelas, aku mau nengok Ibu sebentar, ya. Nant
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status