Aldrom & Arlana

Aldrom & Arlana

Oleh:  Susi_miu  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
9Bab
2.0KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Aldrom Devon Wijaya, dijodohkan ayahnya, karena memiliki masa lalu yang sulit untuk dilupakan. Namun, tiga bulan masa pengenalan yang diberikan Wijaya, justru membuahkan kesepakatan gila antara Aldrom dan Arlana.

Lihat lebih banyak
Aldrom & Arlana Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
9 Bab
Undangan Selza
Hiruk pikuk suara kendaraan di jalan saling bersahutan. Masing-masing pengendara mobil maupun motor membunyikan klakson kendaraan mereka.Seperti biasa, jalanan di Kota Jakarta selalu dipadati kemacetan. Seorang pria berpenampilan rapi melirik arlojinya. Sudah pukul 11.00 wib, dia terlambat 30 menit. Gadis yang sedang menunggunya mungkin sebentar lagi akan mengangkat kaki mengingat ketidak disiplinan yang dimiliki. Aldrom menghela napas berat, lagi - lagi tidak tepat waktu. Jika bukan karena paksaan Wijaya, sang ayah, dan perkataan terakhir ibunya. Aldrom tidak akan mungkin melakukan hal sekonyol ini. Membatalkan jadwal meeting yang seharusnya sudah berlangsung setengah jam lalu hanya untuk bertemu gadis yang dia sendiri tidak kenal. Baru mengetahui nama, seharus inikah Aldrom bertemu dengannya?Aldrom kembali menghela napas. Ponselnya bergetar, ada sebuah pesan masuk dari Wijaya. Aldrom memasang wajah pasrah membaca isi pesan itu. Ayahnya selalu saja mengingatkan Aldrom untuk berhat
Baca selengkapnya
Kesepakatan
Arlana mengetuk jari telunjuk di atas meja. Sudah sepuluh menit menunggu. Dia merasa cukup aneh dengan pria yang tidak pernah datang tepat waktu. Jika pertemuan mereka kembali gagal, bisa Arlana pastikan dia tidak mau bertemu pria itu. Sekalipun harus membantah keputusan ayahnya."Maaf, membuatmu menunggu lama." Terdengar bunyi berdecit ketika kursi ditarik ke belakang, Aldrom segera duduk berhadap-hadapan dengan Arlana bersamaan dengan kedatangan pelayan kafe yang membawa dua gelas minuman yang ternyata sudah dipesan Arlana sejak tadi dan pergi setelahnya. Terlihat Arlana melipat kedua tangannya di depan dada."Aldrom." Aldrom mengulurkan tangannya kepada Arlana."Arlana." Arlana tersenyum singkat kemudian menjabat tangan Aldrom.Hening beberapa saat, hanya ada kegiatan dua pasang bola mata beradu pandang. Tak ada yang memulai percakapan, baik Aldrom maupun Arlana sama-sama terdiam."Hahaha ...." Akhirnya Arlana memuntahkan tawanya keras-keras hingga beberapa pengujung lain menatapny
Baca selengkapnya
Makan Malam
Arlana duduk di depan cermin. Tak ada senyuman di wajah cantiknya, matanya sedikit sembap. Sudah satu jam dia menangis di dalam kamar sejak dia dilarang keluar rumah. Padahal malam ini, untuk pertama kalinya, setelah beberapa minggu terakhir. Moji—orang yang Arlana cintai mengajaknya bertemu. Katanya untuk membicarakan sesuatu yang penting untuk masa depan mereka. Arlana benci ayahnya. Egois. satu kata itu selalu Arlana ucapkan setiap kali dia berusaha melarikan diri. Arlana ingin menemui Moji, akhir-akhir ini ntah kenapa mereka jarang bertemu. Moji sibuk, pun Arlana. Tapi, sesibuk apa pun Moji, biasanya dia selalu memanfaatkan waktu untuk bertemu Arlana. Arlana rasa Moji berubah, sangat berubah.“Non, keluarga besar Tuan Wijaya sudah datang. Ayah Non, meminta Non untuk keluar.” Bi Sum terus mengetuk pintu kamar Arlana terus-menerus mengingat Arlana tak menggubris ucapannya.“Iya, Bi. Sebentar lagi aku keluar,” pekik Arlana dari dalam kamar, dia berharap Bi Sum segera pergi dari tempa
Baca selengkapnya
Kebetulan?
Aldrom fokus memainkan ponsel, sudah satu jam lebih 15 menit dia menunggu Reza, karyawan sekaligus sahabat baiknya memilih kado. Kata Reza pacarnya berulang tahun hari ini. Ya, Anisa—kekasih Reza. Reza pernah memperkenalkan mereka ketika tidak sengaja bertemu di pasar malam. Aldrom pikir Reza beruntung menjatuhkan Anisa di tangannya. Anisa gadis yang baik, sejak pertama kali melihat kebersamaan mereka Aldrom sudah tahu, Anisa sangat mencintai Reza pun sebaliknya.Aldrom menyelipkan benda pipih tersebut di saku celana, kali ini tatapannya fokus pada satu orang, Reza. Orang itu sejak pertama kali menginjakan kaki di salah satu butik ternama sama sekali tidak menunjukan perkembangan, akan memberi pakaian apa dia untuk kekasihnya, Anisa.Aldrom memutar bola mata malas melihat Reza hanya terpaku bingung memperhatikan beberapa pakaian yang tergantung rapi di tempatnya.“Diperhatikan sampai tahun depan juga gak akan ketemu yang Anisa suka, Za.” Aldrom melangkah selangkah lebih maju, tanganny
Baca selengkapnya
Penyelamat
“Cepetan tolongin.” Anisa menepuk bahu Reza hingga pria itu meringis kesakitan. Anisa berlari secepatnya mengikuti arah sumber suara. Dia bernapas lega ketika melihat Arlana masih berdiri aman. Kalau bukan Arlana, siapa? Tanya Anisa bingung.“Siapa pun, cepetan tolongin dia.” Arlana terlihat panik.Namun alih-alih menolong, orang-orang yang berdiri di pinggiran kolam justru tidak bergerak sedikit pun. Mereka hanya menatap tanpa berniat menolong. Arlana memasang wajah kesal, dia mengidahkan pandangannya ke arah para pria yang berdiri di samping pasangan mereka masing-masing. Dasar gak gentle, batin Arlana.Arlana mengangkat kaki kiri dengan tangan kanan mencoba melepas high heels yang dia kenakan. Tentu semua mata tertuju padanya, apalagi ketika Aldrom tiba-tiba datang dan menahan tangan Arlana dengan cekatan. “Aku saja.” Suara Aldrom terdengar tidak bersahabat membuat Arlana memundurkan langkahnya sedikit lebih jauh.Aldrom melompat ke dalam kolam, dia berenang dengan cepat dan segera
Baca selengkapnya
Hari Setelah Satu Malam
Arlana berjalan pontang-panting melewati trotoar, sepanjang perjalanan dia mengumpat kesal. Sebab, hari ini dia bangun kesiangan. Seingatnya, selepas dia dan Aldrom berbicara banyak. Dia tertidur di bahu pria itu bahkan saat Aldrom dalam keadaam basah. Arlana merasa tidak sanggup membuka matanya hingga akhirnya dia tertidur lelap di sana. Dia tidak merasa risih, tidak juga merasa dingin karena kemeja Aldrom yang masih terasa sangat lembap. Jika bisa marah, Arlana ingin marah pada dirinya sendiri maupun pada Aldrom. Seandainya saja Aldrom tidak mengantarnya pulang atau setidaknya Aldrom membangunkannya. Mungkin orang tua Arlana tidak akan mengira Arlana menyetujui perjodohan itu. Benar, Arlana memang tidak menolak secara langsung. Tapi, diam-diam Arlana mempunyai rencana perihal pembatalan perjodohan. Hal itu juga disepakati Aldrom, seseorang yang telah dijodohkan pada Arlana, seseorang yang meminta Arlana untuk tidak segera merumuskan keputusan secara sepihak. Arlana yakin suatu saat
Baca selengkapnya
Pernikahan Selza
Aldrom menatap gambaran dirinya di depan cermin, wajahnya jauh lebih pucat dari kemarin. Sebetulnya Aldrom kembali tidak tidur karena Selza lagi-lagi mengusik pikiran, apalagi tepat saat ini resepsi pernikahan Selza sedang digelar. Pikir Aldrom, Selza pasti terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin membalut indah tubuhnya. Betapa beruntung pria yang menjadi pilihan terakhir Selza.Aldrom mengembuskan napas kasar. Sudah satu jam dia bercermin hanya dengan meratapi diri yang terlihat tidak sehat. Bagaimanapun Aldrom harus hadir di pesta pernikahan Selza, dia tidak ingin Selza kecewa atau barangkali membuat Selza berpikir dirinya tidak berani menatap gadis itu bahagia bersama pria lain.Aldrom bergumam, merapikan kaos putih yang dibalut jas berwarna hitam. Sekarang saatnya menjemput Arlana, wanita itu pasti sudah siap. Aldrom tidak ingin mengulangi kesalahan, cukup dua kali saja dia membuat Arlana menunggu.***Arlana menghentikan mobil Aldrom ketika tiba di area gedung pernikahan yang
Baca selengkapnya
Pelukan
“Ayah,” pekik Arlana tak tahan. Dia kesulitan memapah tubuh Aldrom yang bisa dibilang jauh lebih besar darinya. Aldrom benar-benar lemah, berdiri saja sulit dilakukan apalagi berjalan sendirian tanpa bantuan orang lain.Tadi, selepas kesepakatan mereka tentang keinginan Arlana untuk menikah. Aldrom merasa sakit di kepala semakin menjadi, panas di tubuhnya pun semakin meninggi. Arlana sudah menawarkan diri membawa Aldrom ke Rumah sakit. Tapi pria itu menolak. Katanya, jadwalnya ke rumah sakit masih berkisar dua atau tiga hari. Ntahlah, Arlana tidak tahu apa maksud Aldrom. Terpenting Arlana membawa Aldrom ke rumahnya karena satu alasan, Arlana tidak tahu di mana alamat rumah Aldrom sedangkan Aldrom saat ini semakin sulit diajak bicara.Arlana meletakkan tubuh Aldrom di atas sofa, dia tidak melakukan itu sendirian, ada ayahnya yang membantu. Diam – diam Arlana menatap Aldrom dalam. Pria di hadapannya sangat sulit dipahami. Bagi Arlana mengenal Aldrom sama halnya menjawab teka-teki, per
Baca selengkapnya
Perkelahian
“Berhenti minum, Za. Kita pulang sekarang.” Aldorm berusaha menjauhkan minuman haram itu dari genggaman Reza.“Mungkin Anisa punya alasan kenapa dia memutuskan hubungan kalian.” Aldrom menarik tubuh Reza, mencoba membawa sahabatnya keluar dari tempat terlarang yang bisa dibilang untuk pertama kali Aldrom menginjakkan kaki di sana.Aldrom tidak habis pikir dengan apa yang di dalam kepala Reza, bisa-bisanya Reza berkata ingin menyetir mobil lantas membawa Aldrom ke sebuah club malam. Untuk saat ini Reza memang menumpang di mobil Aldrom dengan alibi mobilnya sedang di-service. Sebagai sahabat Aldrom tidak mungkin menolak, tapi jika begini jadinya Reza sungguh keterlaluan.“Aku sayang Anisa, aku gak mau putus,” ucap Reza dalam keadaan setengah mabuk.“Tapi caramu salah.” Aldrom menekankan setiap kata yang keluar dari bibirnya, dia memapah tubuh Reza dan perlahan menerobos kerumunan orang-orang yang tengah mengayunkan tubuh tidak jelas.“Tinggalkan aku di sini, Drom. Pergilah!” Reza duduk
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status