Burung Suamiku Menghilang

Burung Suamiku Menghilang

Oleh:  Widya Yasmin  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
35Bab
6.0KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Sebuah daerah digegerkan dengan tragedi naas yang menimpa seorang lelaki. Kajadian naas itu membuat semua orang bergidik ngeri dan membelalakan mata saat melihat seorang lelaki yang bergelimang darah dari bagian alat vitalnya.

Lihat lebih banyak
Burung Suamiku Menghilang Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
35 Bab
Tetangga Baru
Malam itu aku melayani suamiku dengan sepenuh hati, tetapi setelah selesai melakukannya, tiba-tiba kulihat raut wajah tak menyenangkan darinya."Punyamu udah gak enak!" ucapnya sambil bangkit dari tempat tidur lalu langsung mengenakan celanananya.Ucapannya benar-benar membuatku tersinggung. Setelah melahirkan empat orang anak untuknya, wajar saja jika aku tak sama seperti saat awal menikah.Akhir-akhir ini aku merasa sikapnya banyak berubah, ia sering ceplas ceplos, bahkan bersikap arogan tanpa memperdulikan perasaanku. Rasanya menyakitkan setiap kali menerima perlakuan tak menyenangkan darinya. Namun, yang bisa kulakukan hanya bersabar, berharap ia bisa semanis dan selembut dulu saat awal membina rumah tangga.Aku segera mengenakan pakaianku saat kulihat ia berjalan ke luar."Mau kemana?" tanyaku."Mau cari angin segar, di rumah membosankan, tiap waktu lihat istri gemuk dan tak sedap dipandang," ucapnya sambil melangkah pergi.Lagi-lagi dia mengatakan hal yang menyakitkan, tanpa m
Baca selengkapnya
Teror
____Aku langsung membawa suamiku ke rumah sakit dibantu Surti dan Mas Parto. Sepanjang perjalanan darahnya terus mengalir hingga membuatku ngeri. Walaupun ia bukanlah suami yang baik, karena akhir-akhir ini sikapnya banyak berubah padaku, tetapi aku tak tega melihat keadaannya yang tragis.Tiba-tiba suamiku mengerang kesakitan, matanya terbelalak seolah menahan rasa sakit yang teramat dalam, lalu tiba-tiba ia kembali lemas dan tak sadarkan diri."Bang Indra, sadar, Bang!" Aku menjerit histeris hingga membuat Surti dan Mas Parto terkejut."Sabar, Mir, sabar, doakan suamimu selamat." Mas Parto yang tengah menyetir mencoba menenangkanku yang tengah gelisah.Setibanya di rumah sakit, suamiku langsung dibawa ke UGD. Namun, tiba-tiba Dokter keluar dengan wajah lesu."Disini apakah ada pihak keluarga korban?" tanya Dokter."Saya istrinya," jawabku."Suami Anda telah meninggal," jawabnya hingga membuatku terkejut.Aku tak menyangka semua ini bisa terjadi, padahal tadi dia masih ada dihadapan
Baca selengkapnya
Tukang Sate
Malam itu tercium aroma sate yang begitu menusuk hidung. Gegas kulangkahkan kaki keluar rumah, kulihat gerobak sate berada tepat di depan rumah kosong itu. Namun, anehnya tak terlihat batang hidung penjual sate itu. "Mah, aku mau sate," ucap Yuna dan Yura saat mencium aroma sate.Aku mengangguk dan menyuruh abang-abangnya untuk menjaga mereka. Gegas ku berjalan menuju gerobak sate itu, walau sebenarnya bulu kudukku mulai meremang saat melihat rumah kosong itu. Sejak suamiku meninggal, aku tak pernah keluar rumah setelah magrib hingga pagi. Namun kali ini aku memberanikan diri saat melihat tukang sate itu."Mas Eko--- Mas Ekoooo---!" Aku berteriak memanggilnya dari kejauhan, karena jujur saja aku masih paranoid jika harus mendekati rumah itu.Hening, tak ada jawaban.Tiba-tiba terdengar suara tawa Mas Eko dari dalam rumah."Mas Ekoooo------!" Aku berteriak lebih kencang, tetapi Mas Eko malah terus tertawa dari dalam rumah kosong itu tanpa memperdulikan teriakanku.Aku merasa bingung h
Baca selengkapnya
Korban Lagi
Keesokan harinya kulihat Mas Parto berjalan celingukan sambil bersiul. Matanya terus melihat ke atas sambil sesekali celingukan kanan kiri."Cari apa, Mas?" tanyaku."Burung saya menghilang," jawabnya hingga membuatku terkejut dan langsung menoleh ke arah celana bagian depannya."Itu masih ada," tunjukku. "Eh Astagfirullah, ngapain saya." Seketika aku langsung menutup mata karena malu."Oalah, bukan ini toh Mir, burung kakaktua jambul hitam itu loh, harganya mahal, Mir, sayang banget kalau hilang," ucap Mas Parto.Tiba-tiba terdengar suara kicauan burung dari dalam rumah kosong depan rumahku yang membuat Mas Parto seketika berlari ke arahnya."Hati-hati, Mas, nanti burung yang lain yang hilang," ucapku sambil tetap berdiri dari kejauhan. Rasanya masih mengerikan saat mengingat suara cekikikan semalam yang masih terngiang-ngiang di telinga."Sini, Mir, temani saya!" teriaknya.Aku langsung mengangguk, mengingat dia yang selalu sigap membantu setiap aku membutuhkan pertolongan. Selama
Baca selengkapnya
Wasiat
Mas Parto dan warga lainnya ke rumah sakit. Aku tidak mengenali lelaki itu, tetapi ada beberapa warga yang kenal dengannya. Mereka bilang kalau lelaki itu berasal dari kampung sebelah. Kejadian itu membuat kami semua bergidik ngeri, aku juga merasa khawatir kalau orang itu akan mengalami nasib seperti suamiku yang tak tertolong nyawanya, kalaupun ia bisa selamat, lalu bagaimana kelanjutan hidupnya tanpa burung.Entahlah, aku merasa bingung dengan penghuni rumah kosong itu yang masih misterius. Mengapa ia harus sampai menghilangkan burung-burung lelaki yang mencoba masuk ke rumah itu, tetapi Mas Eko dan Mas Parto tidak ia ganggu sama sekali.Keesokan harinya terdengar kabar bahwa lelaki yang bernama Parman itu bisa selamat, tetapi harus menjalani operasi yang biayanya tak sedikit. Kasihan sekali karena ternyata operasi itu tak bisa mengembalikan burungnya, entahlah bagaimana kelanjutan hidupnya tanpa burung.Malam itu, terdengar suara pintu rumahku diketuk hingga membuatku ketakutan. S
Baca selengkapnya
Harta Warisan
Aku tersentak kaget saat mendengar suara tangis anakku yang berusia tiga tahun. Aku merasa bingung saat kusadari bahwa diriku tengah terbaring di depan televisi bersama anak-anak. Rupanya tadi aku ketiduran setelah Surti pulang, lalu memimpikan ayah dan Ibu."Mama tadi ngorok kenceng banget," ucap Yudha yang tengah mengerjakan PR, sementara adik-adiknya asyik menonton televisi.Aku hanya menggaruk-garuk kepala lalu tersenyum malu. Setelah itu beranjak ke kamar dan melihat kolong ranjang. Mimpi tadi membuatku penasaran, seolah itu pertanda dari kedua orangtuaku. Aku segera menggeser ranjang berbahan kayu jati peninggalan kedua orangtuaku lalu kulihat ada beberapa keramik yang tampak ditandai dengan cat berwarna hitam. Karena penasaran, aku langsung mencongkelnya menggunakan pisau scrab.Keramik itu akhirnya bisa terbuka, lalu tiba-tiba aku melihat seperti kayu yang ditutupi pasir. Aku segera menyibak pasir itu, lalu kulihat sebuah peti kayu berbentuk persegi. Gegas kuangkat peti kayu i
Baca selengkapnya
Wanita Misterius
Aku terus kepikiran ucapan Kang Dedi tentang wanita gemuk tetapi bisa berlari dengan cepat. Ada seseorang dengan ciri-ciri seperti itu, tubuhnya gemuk, tetapi gerakannya sangat lincah. Namun, aku harus memergokinya dengan mataku sendiri, agar aku tak salah menduga.Malam itu aku sengaja tidur di ruang depan untuk bisa memergoki wanita yang selalu menerorku itu. Aku sengaja memadamkan lampu agar si peneror tak melihat bayanganku."Mama sedang apa disini gelap-gelapan?" tanya Yudha sambil mengucek-ngucek kedua bola matanya."Yudha kenapa bangun?" tanyaku lirih."Aku haus," jawabnya.Aku membiarkannya ke dapur lalu tiba-tiba ia kembali sambil berbisik bahwa ia melihat bayangan seorang perempuan dari kaca jendela dapur. Aku dan Yudha mengendap-endap ke dapur, tampaknya si peneror sengaja lewat belakang agar tak melewati rumah Kang Dedi. Semua itu membuatku yakin bahwa si peneror adalah orang yang berbeda dengan wanita misterius yang mengaku tinggal di rumah Kang Dedi.Aku dan Yudha mengen
Baca selengkapnya
Kang Dedi
Keesokan harinya kulihat Kang Dedi yang tengah menyiangi rumput. Tiba-tiba ia menoleh kearahku saat menyadari keberadaanku yang tengah memperhatikannya sejak tadi. Ia tersenyum lalu menyapaku dengan wajah santai, seolah tak tahu apa yang telah terjadi semalam padaku."Hallo, Mir, pagi-pagi ngelamun aja?" sapanya.Aku langsung berjalan mendekati lelaki berkulit sawo matang yang kini memangkas dahan pohon jambu kristal."Kang Dedi, semalam saya dikejar Kuntilanak." Aku memberanikan untuk bercerita walaupun mungkin tanggapannya akan menertawakanku."Hahahahahahahhaha." Benar saja, ia tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar ceritaku."Dimana?" tanyanya setelah tertawa begitu lama sambil keluar air mata."Kuntilanak penghuni rumah Kang Dedi," sahutku."Kok Kuntilanak itu gak pernah nemuin saya, padahal lumayan buat nemenin selama saya tinggal disini," sahutnya santai.Aku hanya menggeleng, benar juga, mengapa Kuntilanak itu tidak mengganggunya."Semalam Kang Dedi ngobrol sama siapa?" tan
Baca selengkapnya
Mie Goreng
Keesokan harinya kulihat Kang Dedi telah bersiap kembali ke Kalimantan, terlihat ia telah memakai pakaian rapi juga menenteng sebuah koper. Tidak berapa lama kemudian tiba-tiba sebuah mobil travel berhenti tepat di depan rumahnya."Pamit dulu, Mir!" teriaknya sambil menoleh kearahku yang tengah berdiri mematung sambil memegangi sapu."Iya, Kang, hati-hati di jalan," sahutku.Setelah itu Kang Dedi melambaikan tangan lalu masuk mobil. Tiba-tiba terlihat sesosok wanita dari balik gorden rumah Kang Dedi yang sedikit terbuka, ia tampak melambaikan tangannya ke arah mobil travel itu. Lalu tiba-tiba ia kembali menutup gorden itu setelah mobil travel yang dinaiki Kang Dedi telah meluncur jauh.Deegh-- Jantungku terasa berdegup lebih kencang. Wanita misterius itu ternyata benar-benar menempati rumah itu. Rupanya Kang Dedi selama ini berbohong dengan keberadaannya. Namun, bagaimana caranya ia bersembunyi disaat para polisi menggeledah semua sudut ruangan bahkan sempat mengepung sekeliling rumah
Baca selengkapnya
Kuntilanak
Kami semua terus berjaga di semua pintu juga jendela saat para polisi tengah menggeledah setiap sudut ruangan. Namun, hasilnya masih tetap nihil. Wanita misterius itu tak ada di setiap ruangan manapun yang telah digeledah polisi, entah ilmu apa yang ia pakai sehingga ia begitu licin seperti belut. Polisi menemukan stok makanan beku, sayuran, makanan instan bahkan bahan makanan lengkap dalam kulkas . Ini menunjukan bahwa di rumah ini ada seseorang yang menghuni, karena tak mungkin Kang Dedi menyetok makanan begitu banyak juga sengaja memenuhi rumah ini dengan perabotan lengkap, jika tak ada orang lain selain dirinya.Dalam kebingungan kami, tiba-tiba terdengar suara sepeda motor yang berhenti tepat di depan rumah ini. Para polisi langsung keluar dari rumah lalu menemui siapa yang datang."Kalian semua sedang apa di rumah anak saya?" tanya seorang wanita renta yang rambutnya telah memutih semua."Di rumah ini pernah terjadi penganiayaan, makanya rumah ini masih kami pantau karena kami
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status