Menantu Bintang Lima

Menantu Bintang Lima

Oleh:  Humairah Samudera  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
96Bab
4.0KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

"Ya ampun, Mirah!" pekik Mama sambil menatap sedih pecahan piring di meja makan. Aku tak sengaja menyenggol hingga terjatuh saat membereskan meja makan tadi. "Kerja gitu aja nggak becus? Heran Mama, apa sih yang buat Arfen tergila-gila sama kamu? Cantik dan pintar dandan saja nggak cukup, Sayang! Sebagai seorang istri kamu juga harus pintar mengurus rumah, paham? Terutama jika kamu masih numpang hidup di rumah mama mertua. Oke? Arfen, Arfen! Apa sih yang sudah merasuki dia sampai harus nikah sama kamu yang ternyata wow ... Nggak jelas!" Lagi dan lagi, aku hanya bisa menunduk dalam-dalam, menahan amarah. Sakit sekali rasanya tetapi tak mampu berbuat apa-apa. Jangankan membela diri, mengangkat wajah barang satu inci pun aku tak berani. Aku yakin kalau Mama sudah marah, iblis sekalipun pasti ketakutan.

Lihat lebih banyak
Menantu Bintang Lima Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
96 Bab
Jangan Manja!
"Sudah, nggak usah cuci piring, Mirah!" cegah Mama dengan wajah lebih masam dari bulir-bulir jeruk lemon matang. "Sini, biar Mama saja yang cuci, nanti kuku kamu rusak!" ketusnya sambil menyikut lenganku. Si Mbak sedang mudik, jadi kami harus membereskan semua pekerjaan rumah sendiri untuk beberapa hari ini. Sebenarnya aku sudah berniat untuk mengerjakan semuanya, sungguh. Jangankan mencuci piring, membersihkan kamar mandi pun sudah aku niatkan. Ah, tapi sepertinya Mama tidak percaya padaku? Entahlah, hanya Tuhan Yang Tahu. "Kok, malah bengong?" tegur Mama dengan suara super keras sampai-sampai degup jantungku meningkat pesat. "Nggak dengar tadi Mama bilang apa? Cantik-cantik kok, budek?"Seumur hidup, baru kali ini aku mendapatkan sikap seperti ini. Kasar, ketus, dingin. Menyakitkan. Apakah ini yang dimaksud dengan ujian menantu baru? Mungkin. Aku nggak tahu. Rasanya nyeri sekali. "Emh, iya, Mama. Maaf …?" syukurlah, akhirnya aku bisa menjadi manusia kembali. Bisa berbicara dengan
Baca selengkapnya
Mama Yang Aneh
"Saya terima nikah dan kawinnya Mirah Delima binti Cahaya Mulia dengan mas kawin tersebut di atas tunai!" Lagi dan lagi, aku memutar video saat Mas Arfen melakukan ijab qabul. Mengikrarkan janji suci, sehidup semati. Masih terasa sakralnya walaupun sudah hampir dua minggu berlalu. Sungguh dan mungkin akan terus terasa sakral sampai tetes darah penghabisan. "Bagaimana, para saksi, sah?""Sah, sah, sah …!" Dalam video itu Mas Arfen menyeka air mata dengan sapu tangan biru laut polos. Wajah tampannya terlihat pucat, berkeringat namun sorot mata elang memancarkan rona kebahagiaan yang begitu besar. Detik berikutnya, bangkit dari tempat duduk lalu bersujud di lantai gedung LOVE, tempat istimewa pilihan kami. Ah, tak terasa air mata haruku menetes lagi. Berjatuhan. Romantis sekali suasana di dalam video pernikahan kami. So sweet, beautiful. Lihat, lihatlah betapa lembutnya ketika Mas Arfen memandangku. Terutama saat menyentuhkan kecupan di kening. Lembut sekali, menenteramkan. "Hem! Ti
Baca selengkapnya
Jujur Saja
"Sebenarnya kan, Mas, aku belum makan malam tadi." kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Sedikit menyesal tetapi segera teratasi oleh perasaan lega. Setidaknya aku sudah berkata jujur pada Mas Arfen."Ha, serius, Sayang?" Aku mengangguk, membiarkan Mas Arfen mengubek-ubek mataku dengan pandangan penuh selidiknya. Sungguh, tidak tega melihat dia menjadi kebingungan seperti ini namun bagaimana lagi? Aku hanya tidak mau memercikkan kebohongan dalam perjalanan bahtera rumah tangga kami. "Emh, aduh … Maafkan Mama ya, Sayang?" Lagi, aku mengangguk. Tersenyum getir. Dalam hati berteriak keras-keras, "Mama jahat sama Mirah!""Eh, ayo, Sayang!" Mas Arfen menarik tanganku ke luar kamar. "Kamu harus makan sekarang, aku nggak mau kamu sakit. Ya ampun, Mama …?"Pertama, aku memang sangat lapar dan ke dua, tidak mungkin menyia-nyiakan perhatian tulus Mas Arfen. Jadi, aku mengikutinya ke ruang makan. Membuka kulkas, mengeluarkan kotak makan berisi ikan nila bakar. "Sini, biar aku yan
Baca selengkapnya
Mencari Pekerjaan
"Ya ampun, Mirah!" pekik Mama sambil menatap sedih pecahan piring di samping meja makan. Aku tak sengaja menyenggol hingga terjatuh saat membereskan tadi. "Kerja gitu saja nggak becus? Heran Mama, apa sih yang buat Arfen tergila-gila sama kamu? Cantik dan pintar dandan saja nggak cukup, Sayang. Sebagai seorang istri kamu juga harus pintar ngurus rumah, paham? Terutama jika kamu masih numpang hidup di rumah mama mertua. Oke? Arfen, Arfen! Apa sih yang sudah merasuki dia sampai harus menikah sama kamu yang ternyata wow … Nggak jelas!"Lagi dan lagi, aku hanya bisa mendunduk dalam-dalam, menahan marah. Sakit sekali rasanya tetapi tak mampu berbuat apa-apa. Jangankan membela diri, mengangkat wajah barang satu inci pun aku tak berani. Aku yakin, kalau Mama sudah marah, iblis sekalipun pasti ketakutan. Braaak!Mama memukul meja keras-keras, memaksaku berbicara, mungkin. "Ma---Maaf, Mama. Mirah nggak sengaja." "Nggak sengaja?" Mama menandak, keras sekali. "Mirah, Mirah! Di sini kan, ada M
Baca selengkapnya
Semakin Bingung
[Sayang, mau dibawain apa? Aku sudah mau pulang ini.] [Martabak manis, roti bakar, hamburger, pizza atau apa?] Pesan Mas Arfen masuk tepat di saat Mama sedang memarahiku karena salah meletakkan sepatunya di rak sandal. Kupikir sama saja karena ada juga beberapa sepatu sandal di sana. Ya ampun! Sepertinya aku harus ekstra adaptasi di rumah ini. Banyak sekali hal yang berbeda. "Bilangnya saja sarjana tapi masa, bedain sandal sama sepatu saja nggak bisa? Ck, apa perlu Mama suruh Mbak Sri buat tulisan di setiap rak? Mirah, Mirah … Belajar dong, belajar! Semua yang ada di dunia ini bisa dipelajari, kok. Asalkan kamu mau belajar!" "I---Iya, Mama." Pongah, Mama tersenyum. Senyuman paling mengerikan dari yang pernah kulihat. "Bagus. Mama suka kalau kamu rajin belajar. Ingat ya, Mirah, di rumah ini semua ada tempatnya sendiri-sendiri. Jangan buat mereka tersesat!"Wow, amazing!Aku sampai tak bisa berkata apa-apa lagi. Bingung, takut sekaligus takjub. Ada ya, mama mertua seperti Mama? Men
Baca selengkapnya
Forever
Aku carper, dengan mengiris jari telunjuk? Ih, sorry!Bukan berarti menantang ya, tapi lebih baik tidak diperhatikan Mas Arfen sama sekali dari pada harus menyakiti diri sendiri. Ya ampun! Sebenarnya, Mama tuh, punya perasaan atau tidak? "Aduh, Sayang!" cekatan, Mas Argen merawat jari telunjukku. Membuka tisu yang sudah berumur darah, meletakkan di atas meja. Mencuci luka dengan alkohol? Ah, aku tak tahu apa yang paling tepat, rasanya pedih sekali. Meneteskan obat luka dan terakhir menutup dengan kain kasa, membalutnya. "Lain kali hati-hati ya, jangan sampai terluka?" "Iya, Mas. Maaf …!"Mas Arfen memegangi kedua pundakku. Memandang lekat-lekat, mesra. "Lho, kok malah minta maaf sih, Sayang? Aduh …!" suamiku yang umurnya sebelas tahun lebih tua dari aku itu, melepaskan pundakku dengan lembut. Meraih jari telunjuk kiri yang terluka, mengecupnya. "Jangan terulang lagi ya, Sayang, aku nggak mau lihat kamu sakit?"Sebagai ungkapan perasaan haru sekaligus syukur sudah diberikan suami s
Baca selengkapnya
Mourin
Tunggu, tunggu! Sepertinya aku pernah melihat wanita ini tetapi di mana, ya? Ah, kenapa sih, amnesia itu harus datang menyerang dalam keadaan genting seperti ini? Serius, sumpah, aku pernah melihat wanita ini. Bersama Mas Arfen tetapi di mana, ya? Di gallery smartphone Mas Arfen? Oh, tidak, di status-status WA Mas Arfen. Oh, my God! Apa, apakah ini yang dimaksud dengan definisi setangkai bunga tidur? Ah, tetapi kaki ini benar-benar berpijak di bumi, kok. "Siapa dia, Mas?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutku yang mendadak kering. Nyaris tak terdengar, menyerupai bisikan. "Teman kamu ya, Mas?" Mourin. Mourin. Mourin. Oh, jadi, ini yang bernama Mourin itu? Hemh, boleh juga tetapi sayang murahan!"Mourin, kenalkan ini istri saya … Mirah." gugup segugup-gugupnya Mas Arfen memperkenalkan kami. Mungkin tujuh belas hari menjadi isterinya memang belum bisa dikatakan lama tetapi percayalah, aku belum pernah melihat dia bersikap segugup ini. "Sayang, ini asisten aku di klinik,
Baca selengkapnya
Bertukar Smartphone
"Dih, kamu masih ngambek, Sayang?" Mas Arfen merangkulku dari belakang. Membisikkan kalimat sakral di telingaku yang terasa dingin. "I love you, Mirah. Kamu adalah wanita, bidadari yang paling cantik sejagat raya. Dunia dan akhirat."Siapa yang tidak marah? Giliran ditanya lebih cantik siapa di antara aku dan Mourin, Mas Arfen tidak bisa menjawab. Nah, setelah aku mengambil langkah diam seribu bahasa, segala bentuk pujian keluar dengan sempurna. Mungkin Mas Arfen lupa, aku bukan perempuan yang haus akan pujian. Untuk apa memuji setinggi langit tetapi diduakan juga? "Apaan sih, Mas? Sukanya ngegombal, deh!"Mas Arfen menggelitik nakal pinggangku membuatku menggelinjang kegelian. "Lepasin, Mas, aku paling nggak tahan digelitikin. Lepasin, Mas!" "Emuah, emuah!" alih-alih menghentikan jarinya, Mas Arfen justru menyerangku dengan ciuman. "Emuah …!""Ih, sudah, Mas … Malu, ah, sama Mommy!"Di sinilah kami berada sekarang, rumah Mommy. Rumah tempat aku dilahirkan, tumbuh dan berkembang. Ru
Baca selengkapnya
Semakin Kalut
"Lho, kok kamu malah jadi marah sih, Mas?" sampai di sini aku tak mampu lagi menahan emosi. Semuanya tumpah ruah menjadi satu dalam hati. "Kalau nggak mau ya sudah, nggak apa-apa. Nggak usah marah-marah kayak gitu. Lagian kalau hanya soal chat darurat, aku kan, bisa langsung forward? Iya kan, Mas?"Mas Arfen menggaruk-garuk kening, mengusap wajah. Mendongak ke langit-langit kamar. Membalikkan badan menghadap kepadaku. "Sorry, sorry, Sayang. Emh, tadi aku kaget banget. Hehehehe … Tiba-tiba kamu pingin tukeran smartphone sama aku. Ya, kamu tahu sendiri kan, Sayang? Dalam sehari ada ratusan chat masuk ke WA aku dan semua itu berkaitan dengan peker---""Aku tahu, Mas." kuakui, cukup emosional saat memotong perkataannya. "Ya sudah, nggak apa-apa kok, kalau kamu nggak mau.""Bukan nggak mau, Sayang tapi nggak bisa. Sorry banget."Aku mengangguk, menahan tetesan air mata. "Ya, nggak apa-apa."Mas Arfen berjalan mendekat, memegangi kedua pundakku tetapi aku dengan cepat menurunkannya. Mengamb
Baca selengkapnya
Udang di Balik Batu?
"Sumpah, aku nggak tahu, Sayang!" Mas Arfen semakin berkelit, tentu saja. Menutupi kesalahan dan seluruh kenyataan, aku yakin. "Ini, ini bukan aku. Eh, aku nggak pernah ngelakuin semua itu, sumpah." "Sumpah, demi Tuhan?" Mas Arfen terdiam. Menghirup udara malam yang sedingin es dalam-dalam. Mendongakkan wajah, menjambak rambut cepaknya lalu dengan mimik wajah bingung, terkejut plus takut memandangku. Bola matanya sudah tergenang air bening kemerahan. Wow, amazing tralala! "Sumpah, Say---!" "Nggak usah kebanyakan sumpah, Mas, nggak bagus! Nanti kamu bisa digerogoti sumpah-sumpah kamu sendiri sampai mati, lho!" "Ah, Sayang, jangan … Jangan gitu, lah, ngomongnya!" sampai di sini, Mas Arfen sudah terlihat seperti orang sekarat. "A---Aku, nggak … OK, fine. Haaargh …!" "Kenapa, Mas, kamu kenapa?" kutatap tajam dan dalam bola matanya. "Kamu dokter kandungan yang cerdas dan hebat, profesional kan, Mas? Gimana caranya asisten kamu itu bisa menjajah privacy kamu, Mas?" Mas Arfen tidak
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status