Menikah Dengan Keponakan

Menikah Dengan Keponakan

Oleh:  Aeris Park  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
127Bab
77.3KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Dewasa 21+ Karena sebuah kesalahan Aeris dan Leon terpaksa harus menikah. Tidak ada cinta di antara keduanya. Perbedaan usia dan sifat yang mencolok selalu menjadi masalah utama dalam rumah tangga mereka. Apakah Leon yang bersifat dingin bisa bertahan menjalani hidup rumah tangga dengan gadis abnormal seperti Aeris? Bagaimana jika cinta pertama Leon datang? Apa lelaki itu akan tetap mempertahankan rumah tangganya? Atau memilih kembali bersama cinta pertamanya?

Lihat lebih banyak
Menikah Dengan Keponakan Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
127 Bab
1. Jangan Panggil Aku Tante!
Gadis lajang berusia dua puluh sembilan tahun itu mematut diri di depan cermin. Floral dress tanpa lengan berwarna putih gading melekat indah di tubuhnya. Rambut hitam panjangnya dibuat sedikit bergelombang di bagian bawah, menutupi bahunya yang sedikit terbuka. Make up tipis membuat penampilan gadis bertubuh mungil itu terlihat semakin cantik."Okay, semua sudah perfect," ucap gadis bernama Aeris itu setelah memoles lipstik berwarna nude di bibirnya. Sebentar lagi dia akan menghadiri acara reuni yang diadakan oleh keluarganya setiap setahun sekali. Aeris harus siap menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh keluarga besarnya. Mulai dari pekerjaan, hubungan asmara, juga pernikahan. Entah apa yang membuat Aeris betah melajang di usianya yang hampir kepala tiga. Padahal saudara perempuannya sudah banyak yang menikah, bahkan memiliki anak."Mau pergi ke mana, Amor?" Aeris memutar bola mata malas mendengar ucapan lelaki berkulit tan yang tinggal di sebelah apartemennya."Jangan pa
Baca selengkapnya
2. Pergi Ke Kelab Malam
Leon berdecak kesal melihat kemeja putihnya yang berubah warna menjadi kecoklatan. Padahal kemeja tersebut hadiah terakhir dari mantan kekasihnya saat dia berulang tahun yang ke dua puluh. Semua karena Aeris, adik mamanya yang sangat ceroboh. Leon benar-benar tidak habis pikir, padahal umur Aeris hampir kepala tiga, tapi tingkahnya masih seperti gadis berusia belasan. Kekanakan. Sifat Aeris sangat berbeda dengan sang ibu yang begitu lembut dan anggun. Apa benar Aeris adik kandung mamanya? Suasana rumah keluarga Yasodana yang begitu ramai membuat Leon merasa kurang nyaman. Si kembar sedari tadi tidak pernah bisa diam. Mereka terus berlarian ke sana ke mari membuat kepalanya terasa pusing. Leon tidak betah berada di tengah keramaian seperti ini. "Kamu mau pergi ke mana, Sayang?" tanya Aerin yang melihat Leon beranjak. "Leon ada janji, Ma." "Tapi acara reuni keluarga kita belum selesai." "Tapi, Ma ...." Leon menatap Aerin dengan penuh harap. Semoga saja Aerin memberinya izin untuk
Baca selengkapnya
3. Bertemu Tante
"Ne!" "Ada apa?" "Temanmu masih lama?" Aeris meremas kesepuluh jemari tangannya yang terasa dingin karena mulai merasa tidak nyaman. Dia ingin pulang. Anne melihat benda mungil bertali yang melingkari pergelangan tangan kirinya. "Tunggu sebentar lagi." Aeris mengembuskan napas panjang. Mau tidak mau dia harus menunggu teman Anne datang karena tidak tahu jalan pulang. Tidak lama kemudian ada dua orang laki-laki datang menghampiri mereka. Kedua mata Anne seketika berbinar melihat lelaki yang berdiri di depannya. "Liam?" "Yes, I'm Liam." Lelaki bernama Liam itu mengulurkan tangan kanannya yang disambut ramah oleh Anne. "Aku membawa seorang teman untuk menemaniku datang ke sini." "Aku, Daniel." Teman Liam tersebut memperkenalkan diri. "Who is she?" tanya Liam saat melihat Aeris. "Dia temanku, Aeris." Anne pun memperkenalkan Aeris pada Liam dan Daniel. "She is so pretty," puji Liam. Aeris tersenyum kaku mendengar pujian Liam untuknya. "And sexy," imbuh Daniel menatap Aeris sepe
Baca selengkapnya
4. Gadis yang Merepotkan
Brian menarik napas panjang, berusaha meredam amarahnya agar tidak memaki Leon karena membuat wajahnya lengket. "Mau pergi ke mana kamu?" tanya Brian karena Leon tiba-tiba berdiri. Leon berjalan dengan cepat menghampiri Aeris dan Daniel mengabaikan pertanyaan Brian karena tantenya itu sudah sangat mabuk hingga tidak menyadari jika Daniel berbuat kurang ajar. "Singkirkan tangan kotormu itu darinya." Leon menahan tangan Daniel yang ingin menyentuh Aeris, kedua matanya menatap Daniel tajam. "Memangnya siapa kamu?" "Aku keponakannya." Daniel malah tertawa. "Kamu pikir aku percaya? Mana mungkin Aeris punya keponakan yang sudah besar seperti kamu. Sebaiknya kamu cari wanita lain karena malam ini dia milikku." Daniel menarik tubuh Aeris ke dalam dekapan, lalu mengecup pipi gadis itu singkat. Wajah Leon mengeras, rahangnya pun mengatup rapat. Leon sangat membenci lelaki hidung belang yang suka merendahkan wanita. Bugh! Leon melayangkan sebuah pukulan tepat di pipi Daniel hingga membu
Baca selengkapnya
5. First Kiss
Rasa panas sontak menjalari wajah tampan Leon bahkan merambat hingga ke telinga. Dia cepat-cepat meraih selimut yang ada di dekatnya untuk menutupi tubuh polos Aeris lantas beranjak beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi Leon memutuskan untuk berbaring di sofa. Dia ingin beristirahat sebentar sebelum pulang sambil menunggu kemejanya kering.***"Sshh ...." Aeris meringis sambil memegangi kepalanya. Rasanya seperti ada batu seberat satu ton yang menimpa kepalanya saat pertama kali dia membuka mata. Aeris beranjak ke dapur untuk mengambil minum karena tenggorokannya terasa kering."Ah!" Aeris berteriak keras karena melihat seorang lelaki yang sedang tidur di sofanya sambil bertelanjang dada. Sedetik kemudian dia kembali berteriak saat menyadari penampilannya hanya memakai celana dalam.Leon mengerjabkan kedua mata perlahan karena mendengar teriakan Aeris yang sangat nyaring. Aeris pun segera bersembunyi di balik rak buku agar Leon tidak bisa melihatnya."
Baca selengkapnya
6. Ridiculous
Aeris meremas ujung kemeja yang dipakainya karena gugup. Sementara Leon yang duduk di sebelahnya tampak tenang-tenang saja."Ibu sudah mengambil keputusan, kalian akan menikah Minggu depan.""Apa?! Menikah?!" Aeris sontak berdiri dari tempat duduknya dan menggebrak meja lumayan keras."Nenek tidak boleh mengambil keputusan sepihak seperti itu." Leon yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara. Bagaimana mungkin Hana menyuruhnya dan Aeris untuk menikah karena menangkap basah dirinya sedang mencium Aeris di parkiran.Apa wanita itu itu sudah kehilangan akal?"Ini demi kebaikan kalian. Coba kalau nenek tadi tidak datang tepat waktu, nenek tidak bisa membayangkan apa yang akan kalian berdua lakukan selanjutnya." Hana tersenyum penuh arti, entah apa yang wanita itu pikirkan.Leon mendesah panjang. Masa depannya bisa hancur jika harus menghabiskan sisa hidup dengan gadis abnormal seperti Aeris.Aeris melayangkan tatapan membunuh ke Leon. Hana tidak mungkin menyuruh mereka untuk menikah jika
Baca selengkapnya
7. Keputusan Sulit
Anne menyemburkan es kopi yang sedang diminumnya karena melihat Aeris. Untuk apa sahabatnya itu datang ke tempatnya bekerja. Apa Aeris ingin memutilasi tubuhnya? Anne tanpa sadar beringsut mundur saat Aeris mendudukkan diri di kursi yang berada tepat di hadapannya. Dia takut Aeris benar-benar akan mencincang tubuhnya untuk dijadikan makanan anjing. "Aku tidak datang menemuimu, tolong jangan mutilasi aku," ucapnya takut-takut. "Aku mau kawin, hue ...," teriak Aeris lumayan keras hingga membuat karyawan di tempat Anne bekerja mengalihkan pandang ke arahnya. Anne tertawa keras mendengar ucapan Aeris barusan. "April Mop masih jauh, Aeris. Bercandamu tidak lucu sama sekali." Aeris pun menunjukan sebuah undangan berwarna biru navy dihiasi pita berwarna emas ke Anne. Di undangan tersebut tertulis jelas nama kedua calon pengantin, Aeris dan Leon. Anne tercengang melihat undangan tersebut. "Gila, dua belas Januari?! Bukankah itu tujuh hari lagi?" Aeris menyambar es kopi milik Anne lalu me
Baca selengkapnya
8. Tak Punya Hati
Aeris berjalan dengan gontai menuju mobilnya yang berada di parkiran. Tangannya tiba-tiba gemetar saat ingin membuka pintu karena kepalanya terasa sangat berat. Aeris pun bersandar pada mobilnya agar tidak jatuh."Kamu baik-baik saja, Aeris?"Aeris mengangkat kepala perlahan, menatap lelaki berkulit tan yang menghampirinya. "Kai?""Kamu sakit?" tanya Kai terdengar khawatir karena wajah Aeris terlihat sedikit pucat.Aeris menggeleng pelan. Dia tidak boleh sakit karena ada urusan yang harus diselesaikan dengan Leon."Apa kamu ingin pergi?"Aeris malah masuk ke dalam mobilnya begitu saja. Dia merasa malu karena Kai melihatnya berciuman dengan Leon di parkiran."Kai, apa yang—" Aeris berteriak karena Kai tiba-tiba membuka pintu mobilnya lalu menggendongnya ala brydal style. Dia sontak mengalungkan kedua lengannya di leher Kai karena takut jatuh."Turunkan aku, Kai."Kai hanya diam. Dia malah membawa Aeris menuju mobilnya lalu mendudukkan gadis itu di kursi samping kemudi. "Kamu ingin per
Baca selengkapnya
9. Get Merried
Hari itu akhirnya tiba, Aeris terlihat cantik memakai gaun pengantin model sabrin yang menjuntai hingga ujung kaki. Gaun pengantin model tersebut sangat cocok dipakai Aeris karena memiliki postur tubuh tidak terlalu tinggi. Sebuah mahkota yang terbuat dari perak berhias batu berlian membuat penampilan gadis itu semakin terlihat cantik.Aeris meremas ujung kerudung pengantinnya karena gugup. Perutnya seperti dililit sebuah tali yang tidak terlihat. Mulas. Waktu pemberkatan sebentar lagi akan dimulai, tapi sampai sekarang Leon belum juga datang. Di mana keponakannya itu? Apa Leon kabur meninggalkannya sendirian di hari pernikahan mereka?"Kamu sudah coba menghubungi Leon, Aeris?" Hana tidak kalah panik. Sebentar lagi Aeris dan Leon harus menjalani proses pemberkatan. Namun, cucu tertuanya itu sampai sekarang belum juga datang. Dia takut Leon dan Aeris batal menikah."Sudah, Bu, tapi ponsel Leon tidak aktif," jawab Aeris lesu.Hana menggeram kesal. "Dasar anak nakal, Ibu akan menjewer te
Baca selengkapnya
10. Mimpi Buruk Aeris
"Kamu itu sudah menikah. Kenapa ingin ikut ibu pulang, Aeris?"Aeris memasang wajah sesedih mungkin agar Hana mengizinkannya ikut pulang ke rumah. Malam ini sang ibu sengaja memesan sebuah kamar hotel untuknya dan Leon setelah acara resepsi pernikahan mereka."Tapi, Bu ...." Aeris terus memohon.Hana menggeleng. "Kamu boleh pulang setelah memberi ibu cucu.""Ibu!" Aeris melotot. Hari ini Hana berhasil membuatnya menikah dengan Leon. Wanita tua itu sekarang malah menginginkan cucu darinya. Aeris benar-benar tidak menyangka Hana setega itu pada dirinya. Apa Hana tidak menyayanginya lagi?"Nikmati malam pertamamu, Sayang." Hana mengecup kedua pipi Aeris sekilas sebelum pergi.Aeris menutup pintu lumayan keras untuk melampiaskan kekesalan. "Ibu lama-lama bisa membuatku gila!""Tante nggak mandi?" Leon keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Butiran air menetes dari rambutnya yang sedikit basah, membasahi dada bidang dan perutnya yang kotak-kotak.
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status