Suamiku Berondong Seksi

Suamiku Berondong Seksi

Oleh:  Gleoriud  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
17Bab
2.2KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Cantik, kaya, sukses, semua ada pada Anita. Kecuali suami. Di usianya yang ketiga puluh dua, dia masih melajang. Saat desakan menikah bagaikan teror, Anita pikir, dia butuh suami kontrak. Dan Edo, si pengamen ganteng cocok untuk itu.

Lihat lebih banyak
Suamiku Berondong Seksi Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
17 Bab
1
Anita melempar tasnya asal. Sepatunya pun dibiarkan tergeletak dan berceceran di pintu kamar. Satu tujuannya, dia butuh tidur.Tak mudah memang, memimpin perusahaan keluarga yang telah diwariskan turun temurun. Mau tak mau dia harus mengemban amanah karena dia adalah anak satu-satunya keluarga besar Sultan Yusuf.Hari ini, dia menjalani rapat tanpa henti. Para pemegang saham harus berfikir keras bagaimana perusahaan tidak gulung tikar di masa krisis begini.Anita mulai memejamkan mata saat ketukan kecil menganggunya."Boleh ibu masuk?"Pertanyaan ibunya sebenarnya tak berguna, tanpa dijawab pun, wanita yang rambutnya mulai ditaburi uban itu telah berjalan mendekat ke ranjangnya.Anita memaksa tubuhnya yang lelah untuk bangun, matanya dipaksa untuk terbuka."Kamu pasti belum mandi," tebak ibunya, dan Anita tau, itu hanya sekedar basa-basi. Pasti ada hal mendesak sampai-sampai ibunya menemuinya ke kamar di jam sebelas malam."Iya, Bu. Belum." "Ibu mau ngomong, boleh?"Anita sudah mendu
Baca selengkapnya
2
Perasaan Anita sedikit lega, perut kenyang dan dia akan tidur dengan nyenyak. Untungnya, besok adalah hari Sabtu, walaupun terlambat bangun, dia bisa agak santai sedikit dibanding hari kerja.Jam dua belas malam, bukankah ini terlalu larut malam? Anita tak peduli, sebagai wanita yang berumur lebih dari tiga puluh tahun yang kemana-mana biasa sendiri, dia tak pernah dikekang oleh orangtuanya. Kecuali perkara calon suami.Entah kenapa, ingatan Anita melayang pada pemuda manis itu."Gila," gerutunya pada diri sendiri. Dia menyalakan mobilnya. Sesekali Anita mengeluarkan sendawa.Anita tiba-tiba menepikan mobilnya. Pemuda tadi, si pengamen tengah berjalan kaki sendiri sambil menghitung uang yang berada di dalam plastik bekas makanan yang dilihatnya beberapa saat yang lalu. Wajahnya terlihat kecewa.Tin! Tin! Suara klakson Anita menghentikan langkah itu, seiring dengan turunnya kaca mobil miliknya."Tinggal di mana?""Mbak seratus ribu?"Anita mendengus, julukan apa itu? Sangat tak enak di
Baca selengkapnya
3
Edo berulangkali mencari posisi yang pas agar matanya bisa terpejam, jam dua dini hari, artinya beberapa jam lagi waktu subuh akan datang.Percakapan dengan wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Anita itu masih terngiang-ngiang sampai saat ini."Pekerjaan? Mbak serius?" Dia menjawab antusias, Anita terseyum tipis. Lalu mengangguk mantap."Iya, pekerjaan, dengan gaji yang bisa kamu tuliskan berapa yang kamu mau."Edo melebarkan matanya, apa yang dibicarakan wanita ini terdengar mustahil, tapi melihat kendaraan yang dimilki Anita, Edo tau wanita ini bukan orang sembarangan."Kalau boleh tau, apa pekerjaannya?" tanya Edo penuh semangat."Menjadi pacar pura-pura aku." Anita menjawab santai, dia berkata dengan enteng, sambil menghabiskan coklat panas yang tersisa.Wajah semangat Edo berubah surut."Maaf, saya tak bisa.""Alasanmu? Bukannya kau bilang tak punya pacar, tak pernah menikah, apalagi duda. Kenapa tak bisa?""Saya tak mau menjadi pembohong. Pacaran itu harus dengan hati."An
Baca selengkapnya
4
"Aku butuh pacar," kata Anita santai."Eh?" Edo melongo."Bukan, bukan pacar sebenarnya, tapi pacar pura-pura. Kamu hanya perlu melakukan apa yang aku katakan, tidak berat, bukan?""Sampai sejauh ini, saya belum faham akan alasan Mbak Anita. Dengan semua yang Mbak miliki, tentu sangat mudah bagi Mbak memiliki pacar."Anita tersenyum, dia menggulung rambutnya, jika dinilai secara sekilas, dia wanita yang tak mau ribet, salah satunya, bertelanjang kaki dan tak menggunakan sepatunya. Cukup unik."Aku adalah wanita 30 tahun, cukup tua, jadi aku tak perlu pacar. Aku butuh pacar pura-pura untuk menghentikan ayahku yang terus menjodohkan dengan anak koleganya.""Maaf, di usia 30, saya rasa yang dibutuhkan adalah suami, bukan pacar.""Suami pura-pura?" Anita terkekeh geli. "Aku tak berencana untuk menikah."Edo heran dengan wanita yang satu ini, dengan kekayaan dan kecantikannya, dia malah tak berniat untuk menikah. Ado rasa, wanita seperti Anita tak sama dengan wanita pada umumnya."Jadi, ke
Baca selengkapnya
5
Anita menepikan mobilnya sebelum sampai ke sebuah rumah megah yang memiliki pagar tinggi menjulang. Sepanjang perjalanan, Anita tak berhenti-berhentinya mengoceh, bahkan Edo sampai pusing mendengarnya. Sejujurnya, dia tak nyaman dengan wanita yang cerewet."Kamu harus mengingat semua yang aku sampaikan barusan. Aku tak ingin pertemuan pertama malah kacau." Anita sebenarnya juga tak yakin, tapi apa salahnya dia mencoba, bukan? "Yang mananya?""Ya, ampun," Anita menatap Edo tak percaya."Banyak hal yang Mbak katakan, bagian mana yang harus saya ingat?""Semuanya. Jika ayahku bertanya, berapa lama kita telah berpacaran, apa yang akan kau jawab?""Dua tahun?""Apa pekerjaanmu?""Pengusaha hotel.""Di mana orangtuamu?""Di luar negri.""Nah, itu cukup." Anita menjawab puas. Itu yang paling penting. Aku yakin kau bukan pria yang bodoh, tak ada waktu lagi untuk bermain peran, ayo! Ingat, naikkan dagumu, kau adalah seorang pengusaha kaya yang memiliki usaha perhotelan. Nasibku ada di tanganm
Baca selengkapnya
6
Anita hanya bisa pasrah menghadapi ayahnya itu, usaha pertama gagal sudah. Dia tak mau lagi memakai jasa Edo, Edo tak ada bakat sedikit pun, hanya bisa mengacaukan rencana.Ayahnya bukan orang yang bodoh, setelah tatapan ragunya pada Edo kemaren, Anita yakin, tak ada lagi kesempatan untuknya."Jadi, kalian telah berpacaran selama bertahun-tahun?"Anita tau, ayahnya takkan berhenti sampai di sana, dia tipe orang yang persis seperti detektif, menggali sumber ke akar-akarnya."Benar, Ayah.""Ayah baru tau, seleramu aneh, dia bukan tipe laki-laki yang bisa diharapkan.""Dia laki-laki yang baik.""Baik saja tidak cukup. Apa benar dia seorang pemilik hotel? Apa dia tak menipumu? Karena saat ayah menanyakan masalah saham, dia kebingungan menjawab, ayah tak mau, kamu malah dimanfaatkan oleh pria yang salah.""Aku tak mengerti.""Dia bisa saja berpura-pura kaya, demi mendapatkan harta darimu."Bibir Anita gatal untuk menjawab, bahwa Edo tidak seperti itu, buktinya, dia mengembalikan semua uang
Baca selengkapnya
7
Dia masih Taksa yang sama, wajah rupawan yang murah senyum. Tak ada yang berubah bahkan setelah sepuluh tahun tak bertemu. Taksa bahkan tak memperlihatkan kerutan di wajahnya, di usia yang hampir menuju akhir tiga puluh.Sementara, wanita yang berstatus sebagai istri pria itu, telah berubah banyak, tubuh langsingnya telah berubah gendut, walau pun mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Anita heran, bagaimana seorang Taksa bisa jatuh cinta pada Irma, yang bahkan menurut Anita hanya wanita kampung biasa yang tak pandai berdandan. Wanita itu tengah sibuk dengan tepung dan bahan-bahan kue lainnya, Irma dan ibu Anita begitu cocok. Sedangkan Anita tengah duduk di ruang tamu dengan Taksa, dan ayahnya."Apakah tak ada laki-laki yang mengalahkan gantengnya Mas di kota ini? Sampai saat ini kau belum juga menikah."Guyonan yang bagi Anita begitu memuakkan. Dia masih Taksa yang sama, menjengkelkan, dan juga ... Taksa yang masih menghadirkan debaran di hatinya."Anita wanita yang terlalu pemil
Baca selengkapnya
8
Anita memandang tajam Taksa. Apa lagi kali ini? Dua hari di rumahnya, laki-laki itu semakin leluasa keluar masuk ke dalam kamarnya. Taksa menutup pintu kamar Anita. Tak peduli dengan tatapan protes wanita itu."Mas? Kenapa masuk?""Aku ingin berbincang denganmu, boleh?""Tunggu di tepi kolam renang," sahut Anita ketus. Taksa mengangguk, sebelum berbalik, dia melempar senyum terlebih dulu.Seharusnya Taksa berlaku seperti orang asing, tak baik jika dia bertingkah seperti tak terjadi apa-apa pada mereka. Tapi, laki-laki itu masih seenaknya menarik ulur hatinya bahkan saat dia telah punya istri.Anita duduk di tepi kolam renang, Taksa menggulung celananya, mencelupkan kakinya ke sana. "Ada apa?" tanya Anita sinis."Kenapa berwajah begitu? Aku hanya ingin mengajakmu bicara, tidak boleh?" Wajah Taksa begitu ceria."Mana Mbak Irma?" Anita tak mau kedekatan mereka membuat Irma salah faham, bagaimana pun wanita itu adalah wanita yang baik."Dia pergi dengan ibumu, kursus memasak.""Oh, dia
Baca selengkapnya
9
"Boleh aku masuk?" Suara lembut itu menyentak Anita, Irma tengah berada di ambang pintu kamarnya dengan wajah yang sulit diartikan. Tiba-tiba perasaan Anita menjadi tak enak. Tak biasanya Irma ingin bicara langsung dengannya, mereka tak sedekat itu."Silahkan! Mbak," sahut Anita. Irma berjalan sungkan, lalu duduk di sofa panjang yang menghadap ke televisi."Kamu masih secantik dulu, An." Anita belum bisa meraba ke mana muara basa-basi Irma."Persis seperti yang dikatakan Mas Taksa." Anita terkejut, wanita ini begitu pintar membuat kejutan, setelah memuji, dia akan memberi kalimat yang sukses membuat Anita bertanya-tanya."Mbak Irma mau ngomong apa sebenarnya?" tanya Anita, dia tak suka berbasa basi. Walaupun dia memiliki perasaan pada Taksa, tapi dia tak pernah berniat merebut laki-laki itu dari Irma. Taksa hanya masa lalu yang belum berhasil dia lupakan."An, kamu sudah tau, kan? Kami akan bercerai?" Ada luka di pancaran mata Irma. Anita tergagap, apa artinya dia menguping pembic
Baca selengkapnya
10
Mata tajam ayahnya seakan ingin melenyapkannya dari muka bumi. Bagi ayahnya, kehormatan dan nama baik adalah sesuatu yang sangat dijunjung tinggi di keluarga ini, dan ... Untungnya pria yang kebetulan adalah ayahnya itu memiliki jantung yang sehat, sehingga tak perlu kena serangan jantung. "Siapa?" tanya pria itu tegas. Sedangkan yang lainnya, ikut duduk di ruangan keluarga, seakan juga menunggu apa yang akan keluar dari mulut Anita. Bahkan Irma, memandangnya dengan wajah tak terbaca, sedangkan Taksa, wajahnya menegang menahan marah. Ibunya, mengusap air matanya berkali-kali."Jawab! Siapa laki-laki itu?" Suara sang Ayah menggelegar memenuhi rumah. Ibunya memejamkan mata. "Fernando," sahut Anita tegas. Ayahnya terperangah, ibunya menatapinya tajam, Irma melongo, dan Taksa mengepalkan tinjunya di atas meja."Anak kurang ajar." Ayah Anita benar-benar marah, matanya memerah."Dia ... Dia akan bertanggung jawab." Anita mengutuk kekonyolannya, bahkan. Utusan Edo pasti bisa diurus belakan
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status