The  Lycan's King Breeder

The Lycan's King Breeder

last updateLast Updated : 2023-06-18
By:  Author TayCompleted
Language: English
goodnovel16goodnovel
7
2 ratings. 2 reviews
110Chapters
6.7Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"What if I can't give you an heir?" I asked, my voice trembling. Maximus's eyes darkened even further. "Then you will be of no use to me," he said, his tone dismissive. I could feel the tears starting to prick at the corners of my eyes. I had always known that my life would be hard, but never had i imagined myself in this position. *** Sold into a forced marriage, Felicity believes her fate is sealed. But when she realizes the cruel and dominating alpha king is her mate, everything changes. She gives him a son, hoping for her freedom, but instead learns she's nothing but a breeder to him. Heartbroken, she flees with her unborn child. Now a single mommy pursued by many alphas, will the alpha king recognize his true feelings and chase her back? Or will her be forever haunted by a love that was never meant to be?

View More

Chapter 1

Sold to the Lycan King

Adrian kembali setelah menemui Sera dan mendapati aku sudah menunggunya di ruang tamu. Dia melepas mantel, lalu langsung menarikku ke dalam pelukannya, suaranya rendah dan sarat emosi. "Sayangku, sudah nungguin hasilnya sepagi ini?"

Pelayan membawa kertas undian yang dia tarik. Seperti setiap tahun, Adrian memegangnya dengan kelembutan yang sama dan hati-hati, siap membukanya untukku.

Aku menatapnya dengan pikiran kosong. Selama bertahun-tahun ini, aku mengira kekecewaan dalam suaranya setiap kali dia bilang bahwa dia tidak mendapatkan namaku itu nyata. Tidak pernah terbayang olehku bahwa semuanya hanyalah sandiwara.

Dia menangkup wajahku dengan kedua tangan. "Apa pun isinya, cintaku padamu nggak akan berubah. Kamu tahu itu, 'kan?"

Aku tersenyum padanya, tanpa suara, tanpa tenaga. Pelayan membuka kertas itu. Kosong. Tepat seperti yang kutaruh. Aku tetap tenang sepenuhnya.

Alis Adrian berkerut. Dia menyadari ada yang tidak beres, menyadari bahwa aku tidak bereaksi seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak menangis, tidak hancur, tidak memohon agar dia memelukku. Dengan hati-hati, dia berkata dengan lembut, "Irene? Kenapa kamu diam saja tahun ini?"

Jarinya menyisir rambutku. "Kita akan mendapatkannya tahun depan. Kalau aku nggak menarik namamu, aku nggak akan menikahi siapa pun."

Aku tersenyum kecil. "Nggak perlu. Nggak perlu lagi. Kamu ... sebaiknya ikuti saja rencana keluarga dan menikahi Sera."

Adrian terdiam. Ekspresinya menggelap, sedikit demi sedikit. "Irene, kamu benar-benar nggak percaya padaku?"

"Sayang," gumamnya, lembut tetapi tegas. "Ya, para tetua terus bilang menikahi pewaris Keluarga Morel akan mengamankan posisiku. Mereka takut Sera menikah dengan pewaris Keluarga Darmawan dan posisiku akan runtuh dalam semalam."

Dia tertawa pelan, hampir putus asa. "Itulah sebabnya nggak satu pun dari mereka pantas menjadi bos mafia."

Ibu jarinya mengusap pipiku saat dia berbicara, suaranya rendah, tenang, dan sepenuhnya yakin.

"Kekuasaan nggak dibangun dari siapa yang kunikahi. Kekuasaan dibangun dari kasino yang kumiliki, pelabuhan yang berjalan atas namaku, dan uang yang kuputar, cukup besar sampai FBI pun berpikir dua kali sebelum mengetuk."

Dia menghela napas, meraihku. "Aku cuma mencintaimu. Kamu satu-satunya yang ingin kunikahi. Menurutmu, kenapa aku melawan mereka setiap tahun?"

Aku melangkah menjauh dari tangannya tanpa suara. Kemudian, aku bertanya pelan, "Kamu nggak pernah merasa bersalah pada Sera, 'kan?"

Adrian terdiam, lalu tertawa kecil, tak berdaya. "Tentu saja nggak. Cinta nggak bisa dipaksakan. Aku akui, dia sudah banyak berkorban untukku. Lahir sebagai pewaris Keluarga Morel, tapi tetap di sisiku cuma sebagai asistenku."

"Pernah suatu kali dia mabuk, memelukku sambil menangis, berkata hari pernikahanku akan menjadi hari tergelap dalam hidupnya. Tapi dia dan aku sama-sama tahu kebenarannya. Dia tahu aku nggak mencintainya. Dia tahu aku cuma mencintaimu. Dan mungkin satu-satunya alasan aku nggak pernah menarik namamu selama ini adalah ... kehendak Tuhan."

Dadaku mendadak terasa dingin. Tiba-tiba aku mengerti.

Inilah alasan dia menyetujui aturan bodoh "undi nama lalu menikahinya" itu. Jika dia menarik namaku, dia harus menikahiku dan semua orang akan mengira dia melanggar kesepakatan antar keluarga. Masalah, tekanan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak ingin dia hadapi.

Namun, jika namaku tak pernah muncul, dia bisa mempertahankanku, tanpa perlu memasangkan cincin di jariku, tanpa pernah mempertaruhkan posisinya sebagai bos mafia.

Empat tahun penantianku bukanlah kesetiaan. Itu caranya meredam keadaan dengan Sera dan menjaga gelarnya sebagai bos mafia tetap kokoh. Dalam kepalanya, aku sudah disingkirkan. Baginya, aku tak lebih dari alat yang dipakai saat berguna. Maka tak heran dia masih berani menatapku, mengucapkan kata-kata seolah dialah yang paling mencintaiku.

Saat kami baru mulai berpacaran, Sera dipaksa menunda pertunangannya dengannya karena aku. Di sebuah jamuan, orang-orang menunjuk ke arahnya, mengejek karena dia disingkirkan oleh Adrian. Aku berdiri di ujung aula, melihatnya dikerumuni, pucat, sambil mencengkeram gelasnya.

Sedangkan Adrian? Dia hanya meliriknya dingin, lalu menggenggam tanganku dan menarikku pergi. Dulu, aku mengira itu pengabdian, mengira dia memilihku dengan tekad yang tak tergoyahkan. Semua panggilan lembut "Sayangku" itu terasa seperti cinta.

Namun, sekarang sudah jelas. Jika dia menikahi Sera, dia akan kehilangan aku. Jika dia menikahiku, dia mungkin kehilangan gelarnya. Jadi dia memilih untuk tidak menikahi satu pun dari kami dan menyamarkannya sebagai "pilihan Tuhan" lewat undian itu agar dia tak perlu kehilangan apa pun.

Natal selalu menjadi hari penderitaanku. Namun tahun ini ... tahun ini yang terburuk. Meski rasanya menyakitkan, setidaknya kini aku akhirnya melihat kebenarannya. Aku selesai terjebak di sini.

Aku menyelinap ke sudut yang sepi, mengeluarkan ponsel, dan menelepon ibuku.

"Gimana hasil undiannya tahun ini?" tanyanya, suaranya penuh kecemasan. "Kalian bisa menikah?"

"Ibu, aku mau pulang. Aku akan menjalani pertunangan yang Ibu dan Ayah atur."
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Author Tay
Author Tay
please if you love the book leave a comment here . love y'all .........
2023-06-21 16:59:08
3
0
Charleen Schulte
Charleen Schulte
sorry, after the second alpha it just gets in my nerves
2024-01-14 20:55:28
0
0
110 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status