
Aku Pria Biasa yang Tinggal dengan Enam Wanita Berbahaya
Raka Pratama hanyalah pria biasa yang hidup dari gaji kecil dan utang lama keluarganya. Saat ia menerima tawaran menjadi pengelola Rumah Nawasena, ia mengira hidupnya akhirnya akan membaik. Ia salah.
Rumah itu dihuni enam wanita dengan latar belakang berbeda dan masalah yang sama-sama berbahaya: Aira, mantan petarung yang kasar dan penuh luka; Kirana, janda CEO yang dingin dan angkuh; Sera, dokter pendiam yang menyimpan rahasia kelam; Naya, aktris cantik yang kabur dari skandal; Livia, gadis kaya yang menolak perjodohan; dan Maya, sahabat masa kecil Raka yang tahu sesuatu tentang kematian ayahnya.
Kontrak yang Raka tanda tangani ternyata tidak bisa dibatalkan. Semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin jelas bahwa Rumah Nawasena bukan tempat tinggal biasa, melainkan pusat rahasia, utang, konflik, dan ancaman dari orang-orang kuat.
Awalnya Raka hanya ingin bertahan hidup. Tapi ketika satu per satu wanita itu mulai mempercayainya, ia sadar bahwa pria biasa sepertinya mungkin justru menjadi orang paling berbahaya bagi semua musuh mereka.
Read
Chapter: Bab 145: Singularitas (Tamat)Hujan Arktik merobek langit malam Skotlandia layaknya ribuan peluru es. Di atas tebing curam Cape Wrath, antena-antena raksasa dari fasilitas Durness OTH-B berdiri menjulang seperti kerangka tulang rusuk naga purba yang menantang badai. Selama beberapa dekade, tempat ini terlelap dalam keheningan, dilupakan oleh dunia. Namun malam ini, Cape Wrath telah menjadi medan perang terakhir bagi umat manusia.Di luar fasilitas, suara dentuman artileri mengalahkan gemuruh guntur. Aira tengkurap di balik barikade beton yang hancur, senapan runduk pneumatiknya yang kini dimodifikasi dengan kumparan elektromagnetik memuntahkan tembakan tanpa henti. Di bawah lereng tebing, lusinan unit Hound-Battalion—mesin pemburu merangkak berbentuk serigala baja—berusaha merangsek naik, mata merah mereka menembus kegelapan malam."Kael! Sisi kiri jebol!"
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: Bab 144: Jaring PhoenixAngin Arktik bertiup kencang melewati celah-celah batu Kawah Sunyi, membawa aroma garam dan lumut laut yang tajam. Di pelataran latihan yang diubah dari bekas landasan helikopter berkarat, suara benturan kayu terdengar ritmis, memecah keheningan pagi.TAK! TAAK!Raka terhuyung ke belakang, sepatu botnya menggesek lantai beton kasar. Ia kehilangan keseimbangan sejenak. Bahu kirinya yang kosong secara refleks bergerak maju, seolah masih ada lengan paduan titanium di sana untuk menangkis serangan, namun yang menyambutnya hanyalah udara kosong.Sebelum Raka bisa memperbaiki kuda-kudanya, ujung tumpul dari tongkat kayu ek milik Aira telah berhenti tepat satu sentimeter di depan tenggorokannya."Kau sudah mati lagi, Arsitek," kata Aira dingin. Penembak jitu itu menarik tongkatnya k
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: Bab 143: Hitung Mundur Menuju AbuSirene evakuasi di Platform Odin-7 melolong dengan nada tinggi yang menyayat telinga, membelah udara yang kini dipenuhi bau tajam dari kabel silikon yang terbakar dan logam superkonduktor yang meleleh. Di bawah telapak sepatu bot Aira, anak tangga logam bergetar hebat. Pengeboman itu belum dimulai, namun struktur platform sudah merintih akibat kegagalan beruntun pada sistem pendingin di Dek Gamma.Aira memanggul tubuh Raka di bahu kanannya seolah pemuda itu hanyalah sebuah ransel berisi perlengkapan taktis. Berat badan Raka, ditambah sisa-sisa logam di pangkal lengannya, bukanlah beban yang ringan, namun adrenalin dan insting bertahan hidup membuat otot-otot Aira bekerja jauh melampaui batas lelahnya."Satu menit empat puluh detik!" Naya berteriak dari belakang, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin panas yang berembus naik melalui lorong tangga putar. Ia memegang komputer sakunya yang ter
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: Bab 142: Katedral KuantumDarah yang mengalir dari telinga kiri Raka terasa hangat, sebuah kontras yang ironis dengan udara beku yang masih menyelimuti sisa-sisa badai halon di Dek Beta. Naya merobek ujung lengan bajunya sendiri, menggunakannya untuk menekan luka di telinga pemuda itu sambil menuntunnya berjalan melewati bangkai Garmr yang masih mengeluarkan asap berbau ozon.Di depan mereka, stasiun distribusi lokal berdiri tegak di sudut koridor—sebuah menara terminal setinggi dua meter yang dipenuhi jalinan kabel serat optik dan lampu indikator peringatan yang berkedip merah dengan ritme yang memburu.Aira mengambil posisi di dekat persimpangan lorong, membelakangi mereka dengan senapan pneumatik yang terangkat. "Sistem otomatis sedang merutekan ulang protokol keamanan. Aku bisa mendengar dengungan pintu sekat (bulkhead) ditutup di dek bawah. Jika kita ti
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Bab 141: Labirin GarmrUap panas yang membubung dari bak penampungan air pendingin Dek Alpha perlahan menipis saat Raka, Naya, dan Aira melangkah lebih jauh ke dalam perut baja Platform Odin-7. Lorong-lorong di bawah dek ini terasa sempit, pengap, dan basah oleh kondensasi air laut. Setiap langkah yang mereka ambil di atas gril besi bergema seperti detak jarum jam yang menghitung mundur sisa hidup mereka.Di bawah mantel wol tebalnya, sisa saraf di bahu kiri Raka terus berdenyut. Denyutan itu bukan lagi sekadar rasa gatal atau sakit fisik biasa. Itu adalah gema elektromagnetik. Setiap kali turbin generator utama platform di atas mereka berputar, sisa-sisa mikroskopis serat paduan kuantum Genesis-Core di dalam tubuh Raka menangkap fluktuasi medan magnetnya, menerjemahkannya menjadi getaran saraf yang mual dan menyakitkan. Rasanya seolah-olah ia sedang dipaksa mendengarkan simfoni kebisingan ind
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Bab 140: Antarmuka BasahDi dalam lambung Vantablack Interceptor-B, ruang terasa begitu sempit hingga napas lima orang di dalamnya menciptakan embun konstan pada dinding titanium yang dingin. Kapal selam taktis itu meluncur menembus kegelapan pekat Laut Norwegia pada kedalaman tiga ratus meter.Tanpa baling-baling konvensional, sistem penggerak magneto-hidrodinamik (MHD) bekerja dengan cara mengalirkan air laut melalui saluran magnetik raksasa di bawah lambung, menciptakan dorongan murni yang hanya menyisakan desisan halus, nyaris tak terdengar bahkan oleh sensor akustik paus pembunuh.Raka duduk di sudut kompartemen yang sempit. Bahu kirinya yang terbalut perban kini dipasangi sabuk sensor khusus buatan Naya—sebuah susunan elektroda perak berdiameter mikro yang menempel langsung pada sisa-sisa akar sara
Last Updated: 2026-07-16