Our Beautiful Sin (Bahasa)
Our Beautiful Sin (Bahasa)
Author: Cookysé

Chapter 01

Aurel Khanza, seorang anak yatim piatu; kedua orang tuanya tewas pada saat dirinya berumur dua puluh tahun. Mau tak mau, dia harus ikut dengan Kakak perempuannya yang tinggal bersama suaminya..

Jessica Khanza, Kakak perempuan Aurel, satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Setelah kematian kedua orang tuanya. Jessi merasa harus membawa adiknya tinggal bersamanya. Jessi tak mau jika adiknya yang baru saja berusia 20 tahun itu malah terjerumus pada pergaulan yang salah..

"Kak Jessi Aurel bisa tinggal sendiri Kak." Rengek Aurel saat Kakaknya menarik dirinya masuk kedalam rumahnya. Rumah yang selama 10 tahun ditinggali oleh Kakaknya bersama suaminya, Alva.

Alvarendra Mahardika, lelaki matang nan tampan. Sepertinya umur tidak akan pernah mengurangi ketampanan lelaki itu. Lelaki yang berumur dua kali lipat dari Aurel itu masih sangat menawan. Tak heran jika banyak wanita yang tergoda hanya melihatnya.

Jessi dan Alva sudah menikah 10 tahun, namun keduanya belum juga dikaruniai seorang anak. Entah mereka yang memang tidak berusaha atau memang Tuhan yang tidak memberi mereka kesempatan.

Keduanya menikah karna sebuah perjodohan. Perjanjian konyol diantara kedua orang tua mereka yang ingin besanan berbuntut pada pernikahan paksa. Keduanya terpaksa menerima perjodohan ini, baik itu Jessi ataupun Alva.

Alva tidak bisa mengedipkan matanya saat melihat Jessi, wanita yang berstatus istrinya masuk dengan seorang perempuan berumur 20 tahun.

"Alva? Kamu gak ke kantor?" tanya Jessi begitu melihat keberadaan Alva didapur.

"Tidak, aku gak enak badan. Dia?" Alva menunjuk Aurel yang sedang duduk diruang tamu.

"Kamu gak ingat itu siapa? Itu Aurel adikku."

Alva diam tidak menjawab, matanya menatap wanita yang jika diurutkan dalam susunan keluarga adalah adik iparnya.

Keduanya memang hampir tidak pernah bertemu, terakhir mereka bertemu adalah 8 tahun yang lalu saat mereka berlibur bersama. Aurel dan orang tuanya tinggal di negara yang berbeda dengan Jessi dan Alva, membuat Alva tidak pernah bertemu Aurel.

"Kamu gak masalah kan kalau dia tinggal bareng kita disini? Aku agak khawatir kalau dia tinggal disana sendirian."

"Tap---"

"Hanya sebentar, setelah dia lulus kuliah dia bakal tinggal sendiri. Itu perjanjian aku dengan dia."

Alva menghela nafas panjang. Apa boleh buat dirinya dan Jessi juga jarang berada dirumah ini, hitung-hitung Aurel ada untuk menjaga dan merawat rumah ini.

"Boleh kan?"

Alva hanya bergumam pelan. Setelah itu Jessi mengajak Alva untuk bertemu dengan Aurel, setidaknya untuk berbasa-basi. Jessi tau jika Alva sangat tidak suka dengan ini.

"Aurel."

"Iya Kak." Aurel menoleh pada Jessi dan juga pada Alva yang berjalan dibelakang Jessi..

"Rel, ingat Kak Alva kan?"

Aurel tersenyum manis dan mengangguk kepalanya menyatakan bahwa dia ingat dengan Abang iparnya itu..

Alva menatap Aurel lamat-lamat. Alva ingat jika dulu saat dia menikah dengan Jessi, Aurel hanya anak kecil yang suka memeluk boneka kesayangannya. Anak kecil yang bisa dikatagorikan sangat aktif, Aurel sangat suka berlari kesana kemari dengan teman seumurannya.

Dan kini, Aurel berdiri didepan Alva dengan wajah manis dan kalem. Tidak ada lagi anak kecil yang aktif seperti 10 tahun yang lalu. Kini hanya ada Aurel yang sangat manis, pendiam dan sangat lembut.

Alva menatap wajah Aurel perlahan. Terlihat dengan jelas wajah cantik Aurel dengan bola mata indah dan bibir tebal berwarna pink yang menunjukkan kesan sexy. Kulit putih bersih juga tak luput dari penglihatan Alva. Perlahan pandangan Alva turun kebawah, tubuh kecil Aurel terlihat sangat kontras dengan bentuk dadanya yang terlihat jelas dibalik bajunya. Sangat penuh dan montok. Alva tidak bisa melepaskan pandangannya dari sana. Aurel benar-benar sangat molek dan menggiurkan.

Benarkah ini gadis kecil 10 tahun lalu? Bagaimana dia bisa berubah menjadi wanita yang menggiurkan seperti ini? Gumam Alva

Aurel masih mempertahankan senyumnya saat mengulurkan tangannya pada Alva. "Hai Kak Alva."

Alva menjabat tangan mungil Aurel, menggenggam tangan halus Aurel dan tersenyum pada Aurel.

"Aurel boleh tinggal disini Kak?" Tanya Aurel yang masih mempertahankan jabatan tangan diantara keduanya..

"Boleh, kenapa enggak?" Ujar Alva sambil melepas genggaman tangannya pada Aurel. Merasakan betapa halusnya kulit wanita ini.

Kenapa enggak Aurel? Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti. Lanjut Alva dalam hati dengan senyum khasnya.

*****

Berminggu-minggu sejak Aurel tinggal bersama Alva dan Jessi. Ketiganya sibuk dengan urusannya masing-masing. Sangat jarang ada makan bersama di meja makan. Ketiganya akan makan sendiri dengan waktu yang berbeda-beda.

Sudah beberapa hari terakhir Jessi harus pergi keluar kota untuk berkerja. Tinggallah Aurel dan Alva dirumah. Malam ini hujan turun deras diluar. Aurel keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk membuat coklat panas.

Saat Aurel keluar bertepatan dengan Alva yang baru saja masuk kedalam rumah. Aurel yang melihat itu langsung menyapa Alva..

"Kak Alva, baru pulang."

"Iya, hujannya terlalu deras jadi harus pelan-pelan jalannya."

"Baju Kakak basah, pasti dingin. Aurel mau buat coklat panas, Kakak mau juga?"

"Hm, gimana kalau kopi panas?"

Aurel tersenyum tipis, " Boleh Kak, Kakak mandi dulu terus ganti baju. Bajunya basah, kalau lama-lama bisa sakit."

Alva mengangguk pelan dan naik keatas untuk segera mandi dan turun kembali untuk menikmati Aurel, ralat menikmati kopi Aurel.

Setelah Alva naik keatas Aurel langsung membuat coklat panas dan menyedu kopi untuk Alva.

*****

Setelah mandi dan berpakaian Alva turun kebawah. Dibawah Aurel masih berada didapur sambil menikmati coklat panasnya. Dehaman pelan dari Alva membuatnya menoleh.

"Hmm Kak, ini kopinya." Aurel menyodorkan kopi pada Alva yang duduk diseberang nya..

"Terima kasih Aurel."

Aurel hanya tersenyum tipis begitu Alva menyeruput kopi buatannya..

"Hmm ini enak." puji Alva sambil menatap Aurel. Aurel tersenyum atas pujian Alva.

Damn! Batin Alva saat tidak sengaja melihat belahan dada Aurel yang terpampang nyata didepannya. Terlihat sangat menggiurkan. Ingin rasanya Alva memegangnya, meremas, mencium dan menyusu sepuasnya pada dada montok itu. Alva meneguk salivanya kasar.

"Kak Alva?"

"Ya?"

"Aurel nanya, Kakak sama Kak Jessi sering banget kerja ke luar kota ya?"

"Hm ya, terkadang sekali sebulan saya atau Jessi harus keluar kota."

Aurel mengangguk pelan.

"Aurel."

"Ya Kak?"

"Apa kamu sudah memiliki pacar?"

Aurel menggelengkan kepalanya pelan.

"Karna itu kamu berada dirumah malam minggu seperti ini?"

Aurel terkekeh pelan disertai dengan anggukannya. Aurel kembali menyeruput coklat panasnya, lalu berdiri ke wastafel meletakkan gelas kotornya..

"Tidak usah dicuci, biar saya saja nanti."

"Tap---"

"Kamu sudah membuatkan saya kopi, jadi biar nanti saya yang mencuci gelasnya."

"Gak papa Kak?"

"Tidak, saya sudah biasa jika hanya mencuci gelas."

"Hm yaudah deh. Makasih Kak, Aurel kekamar dulu ya."

Alva menganggukkan kepalanya. Mata Alva mengikuti kemana tubuh moleh itu berjalan.

Lenggak-lenggok Aurel membuat matanya tidak bisa berpaling. Hotpants yang dikenakan Aurel menunjukkan betapa penuh dan montoknya Aurel.

Alva menghela nafas panjang. Sambil melihat kebawah nya. Dan tersenyum mengejek..

"Alva sadarlah, kau bukan lagi remaja kemaren sore. Yang hanya melihat tubuhnya saja sudah membuat mu berdiri."

Melihat kemolekan tubuh Aurel berhasil membuat kejantanannya berdiri sempurna. Alva tidak mau munafik, dia sangat ingin merasakan kehangatan pada kewanitaan Aurel.

*****

"Damn! Aku benar-benar seperti anak kemarin sore! Mengurut sendiri untuk mencari pelepasan!"

Saat ini Alva sedang mengurut kejantanannya yang mengacung tegak sedari tadi. Sejak tidak sengaja melihat belahan dada Aurel.

Membayangkan dirinya menyetubuhi Aurel sudah menjadi fantasi liarnya sejak pertama melihat Aurel datang kerumahnya..

Membayangkan dirinya mencium setiap inchi tubuh Aurel, memberikannya tanda kepemilikan disetiap sisi kulitnya. Meremas dadanya menyusu sepuasnya dan merasakan kehangatan dititik kewanitaan.

Damn! Membayangkan itu membuat nafsu Alva kembali naik. Dia harus mengurut kejantanannya untuk mencari pelepasan. Dan here we go..

"Aurel, euhmm" Alva meneriakkan nama Aurel saat dirinya berhasil mendapatkan pelepasannya. Dan kini Alva tertawa sumbang melihat cairan putih yang mengalir disisi kejantanannya. Cairan miliknya sendiri setelah mendapatkan pelepasan.

"Aurel, kau harus bertanggungjawab untuk ini. Aku akan membuat mu tunduk dibawahku."

Sialan! Membayangkan Aurel tunduk dibawahnya dan mendesah nikmat kembali membuat kejantanannya yang baru saja mendapatkan pelepasan kembali menegak.

Alva berlari kekamar mandi untuk mencari pelepasan lagi. Membayangkan Aurel memang sangat berbahaya untuk Alva.

*****

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Jasmin Mubarak
wuihhh imajinasi tingkat tinggi.... gaswatttt😃😃😃
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

DMCA.com Protection Status