Share

Panitia Pemilihan CR (5)

"Bu, katering masih bisa terima pesanan kan?" Tanya Raina pada Ibu segera setelah sampai ke rumah. Hari ini Radit tidak mengantarkan dirinya pulang, katanya ada keperluan dengan temannya, terpaksa Raina pulang dengan Yasmin sampai di tengah jalan dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan kota karena Yasmin harus menjemput pacarnya. Hal ini membuat hati Raina bertambah kesal. 

"Buat kapan?" Tanya Ibu, sedikit heran, jarang sekali anak gadisnya ini menanyakan masalah usaha kateringnya. 

"Ada acara dua minggu lagi Bu. Acara pemilihan CR, tadi aku tawarin katering Ibu buat konsumsinya, lumayan Bu untuk sekitar 100 porsi" jelas Raina. 

"Dua minggu lagi?" Tanya Ibu ulang. Raina mengangguk. 

"Bisa" jawab Ibu, wajahnya berubah cerah, kateringnya dapat kerjaan lagi, batin ibu senang.

"Tapi senior minta tester masakan Bu" lanjut Raina lagi.

"Boleh, mau kapan?" Balas Ibu. Riana menaikkan bahunya tanda tidak tahu, dia harus menanyakan Tama mengenai hal ini, dan itu adalah hal yang paling tidak Raina sukai. 

"Kabari aja Ibu, besok juga bisa" lanjut Ibu lagi, bersemangat. 

"Nana harus tanya dulu Bu, tadi baru aja Nana kirim menu via email ke senior" jelas Raina. 

"Tanya aja, besok ibu bisa kok," lanjut Ibu lagi, dari tatapan matanya, jelas Ibu bersemangat sekali karena mendapat pelanggan baru, dalam jumlah yang tidak sedikit pula. Raina mengiyakan, dia mengambil ponselnya dan menghubungi Tama. 

"Halo Tam, gue baru aja kabari Ibu tentang katering, Ibu gue bilang bisa terima orderan itu, tester juga bisa dikasih besok, boleh minta tolong tanya Teh Devi kapan mau cobain testernya?" Ucap Riana dengan cepat. Dia sangat enggan untuk berlama-lama berbincang dengan manusia kanebo kering yang kaku dan dingin ini. 

"Oke, gue tanyain, nanti dikabari" balas Tama, tidak kalah cepat dengan Raina. Sepertinya dia juga enggan berlama-lama ditelpon dengan Raina. Lelaki itu juga langsung menutup sambungan telepon, tanpa ada ucapan pamit, apalagi terimakasih. Bukannya harusnya dia mengucapkan terimakasih karena Raina sudah membantu menyelesaikan masalah konsumsi, batin Raina, bertambah kesal. 

"Tsk! Dasar laki kanebo kering, bilang makasih kek!" Umpat Raina kesal. dia menatap layar ponselnya sambil bersungut-sungut. 

"Kenapa Na?" Tanya Ibu dengan wajah bingung. Dia heran mengapa anak gadisnya ini malah jadi marah-marah. 

"Ini Bu, ketua angkatan Nana, nyebelinnya bukan main," jelas Raina. 

"Kamu ini, mudah banget kesal sama orang" balas Ibu, sedikit memberi nasehat agar tidak terlalu sering mengatakan kalau orang itu menyebalkan, salah satu kebiasaan buruk Raina. 

"Ih, ibu enggak tahu sih orangnya gimana" balas Raina lagi. Dia masih cemberut. 

Dua menit kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Raina. Gadis itu cepat-cepat melihat ponselnya. Benar saja, dari Tama, sesuai dengan dugaannya. 

"Besok bawa testernya ke kamar jaga, jam 3, kita langsung ketemu disana" tulis Tama. 

"Oke" balas Raina cepat. 

"Bu, besok jam 3, mereka mau coba testernya" Raina langsung memberi tahu ibunya yang masih duduk santai disampingnya.

"Oke, kalau gitu Ibu mau belanja sekarang, kamu mandi terus istirahat gih," balas Ibu, bersemangat. 

Raina cukup terkejut mendengar balasan Ibu, biasanya dia akan dimintai tolong untuk mengantar Ibu membeli bahan-bahan kebutuhan kateringnya, tapi Ibu malah menyuruhnya untuk beristiraha, ini sungguh diluar dugaannya. 

"Hmmm, tahu begitu, aku sering-sering aja kasih Ibu job buat kateringnya" gumam Raina pada dirinya sendiri. Sesuai perintah Ibunya, gadis itu pergi ke dalam kamar, mandi lalu pergi tidur. Dia harus menyiapkan otak dan hatinya untuk berurusan lagi dan lagi dengan manusia kanebo kering besok siang.

________________

Esok hari, tepat pukul 3 sore, Raina sudah berada didepan kamar jaga. Dia membawa tas kain besar di kedua tangannya. Isinya ada berbagai jenis makanan yang sudah dibuatkan Ibu untuk dicoba oleh senior-seniornya. Ada gurame asam manis, capcay, udang goreng tepung, cumi pada hitam, ayam saus mentega, bistik lidah, beberapa sup untuk makanan pembuka, gado-gado, rujak dan asinan, lalu juga berbagai makanan penutup. 

Tama sudah berada disana juga, dia hanya menatap Raina sebentar lalu membukakan pintu kamar jaga setelah mengetuk terlebih dahulu. Kebetulan pintu itu terbuka sedikit.

"Udah ditungguin" jawab Tama. Tidak berekspresi seperti biasa. Raina melangkah dengan wajah datar juga. Tama sama sekali tidak membantu Raina yang dengan susah payah sudah berjalan jauh dengan dua plastik besar yang cukup berat itu.

"Mau gue bantu?" Tanya Tama. Raina tidak menjawab, menurut Raina itu sungguh pertanyaan retoris, bagaimana mungkin dia bertanya mengenai hal itu, sudah jelas-jelas Raina kerepotan dengan tas makanannya. 

Di dalam, Devi dan beberapa senior lain sudah menunggu. Raina dan Tama tersenyum dengan hormat. Tama, akhirnya mengambil satu tas yang ada di tangan Raina, gadis itu pun membiarkan saja. Seharusnya dia sudah membantu Raina dari beberapa menit sebelumnya, batin Raina. 

"Ini testernya?" Tanya Devi, sedikit terkejut. Dia pikir hanya beberapa jenis makanan saja, tapi ini sungguh banyak sekali. 

"Iya Teh, ada beberapa yang di luar paket, kata Ibu saya bisa request kalau adanyajg akang teteh suka" jelas Raina. Dia mengambil tas makanan dari tangan Tama, mengeluarkan kotak-kotak makanan itu, dan membuka tutupnya satu persatu, aroma berbagai makanan mulai memenuhi kamar jaga. Raina mulai menjelaskan makanan itu kepada senior-seniornya. Sebagian besar tidak memperhatikan, mereka sibuk mencicipi satu persatu makanan yang sudah dibuat Ibu dari pagi hari. 

"Hmm, ini enak, pilih ini Dev" masing-masing senior, yang Raina tidak mengetahui siapa namanya, mulai memuji dan memilih makanan favorit mereka. 

"Ssssttt! Berisik pada deh, coba gue denger dulu ini makanannya apa aja, lu pada ribut mulu!" Balas Devi, mengomeli rekan-rekannya.

"Mohon maaf, maklum residen kebanyakkan anak kos, kurang makan" jelas Devi pada Raina. Wanita itu juga mencoba satu per satu, meresapi rasanya, mirip seperti chef juri sebuah program masakan. 

"Duh, kok masakannya enak-enak banget sih" puji Devi. Raina merasa senang. Katering ibunya memang tidak terlalu terkenal, tapi rasa, jelas bisa diadu dengan katering lain yang lebih terkenal.

"Oke gue udah putusin, menu utama ini sama ini, menu sayur ini, makanan pembukanya sup ini, desert nya ini" jawab Devi, menentukan pilihannya. Beberapa orang tampak kecewa dengan piliham Devi, karena makanan yang dia mau tidak terpilih, tapi tampaknya mereka lebih takut kalau Devi marah. Mereka hanya bisa mengeluh dalam hati sambil mencicipi lagi makanan yang mereka suka. 

Raina sendiri langsung mencatat pilihan Devi. Dia juga mendiskusikan sebentar masalah paket dan harga tambahan karena ada makanan yang akan diganti. 

"Oh iya Teh, kata Ibu nanti ada bonus minuman dan buah potong" jelas Raina lagi. 

"Oke, thanks banget, kalian bener-bener membantu sekali" ucap Devi dengan tulus. Tama merasa lega mendengarnya. Yang dia ketahui angkatan Devi adalah angkatan yang cukup sulit "ditaklukkan" oleh junior. 

"Sama-sama Teteh" jawab Raina, senang. Hari ini dia berhasil membuat Ibu dan seniornya merasa senang. 

"Apa ada lagi Teh yang bisa saya bantu?" Tanya Raina lagi. Devi menggeleng. 

"Kalian pulang aja, nanti bekas tempat makanannya kita beresin dulu ya, besok bisa diambil disini, enggak apa-apa kan? Kasian kalau lu harus nunggu lama" pinta Devi. 

"Oh, tentu Teh" jawab Raina. Dia dan Tama pamit. 

"Gue duluan" balas Raina, berjalan cepat meninggalkan Tama. Dalam hati dia menggerutu. 

"Tahu begitu mending enggak usah dateng itu manusia kanebo, enggak ada faedahnya juga, " batin Raina, selalu saja ada kekesalan dalam hatinya bila bertemu Tama. 

Di depan kamar jaga Tama hanya bisa memandangi punggung Raina yang semakin lama semakin menjauh. Dia bingung sekali dengan sikap gadis ini, apa ada yang salah dengan dirinya, pikir Tama. Lelaki ini memang tidak mahir menebak isi kepala seseorang. 

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Rizma Ristanti
raina jng benci sama tama.. entar jd cinta loh... hehee
goodnovel comment avatar
Reno Vera
emang udh dari awal ya.. Raina udh kesel duluan dg Tama, dan Tama yg selalu bingung dg sikap Raina.. tp ya itu dech, emang Tama nya gak peka juga ama cewek, itu mgk yg bikin Raina kesel wkwkwk smangat ya thor ??
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status