Share

Lexa 4

Marcus dan Lexa kini sudah sampai di rumah Marcus, jam sudah menunjukan pukul 12 malam tapi rasa kantuk belum dirasakan oleh keduanya. Setelah sampai di kamar Marcus, tak lupa mengunci pintu kamar. Lexa kaget dengan reaksi Marcus mencium bibir Lexa dengan menggebu-gebu tak lupa tubuh Lexa makin terpojok karena Marcus mendorong Lexa hingga tubuh mereka saling menempel satu sama lain.

Dengan tidak rela Marcus melepas pagutan bibirnya karena ia merasakan Lexa membutuhkan pasokan udara. Nafas keduanya tersengal dengan kening yang saling menempel dan kedua pasang mata masih terpejam.

“Sekarang kita mandi ya?” tanya Marcus lembut. Lexa semakin mnegeratkan pelukannya di leher Marcus menhirup aroma Marcus sebagai penghantar tidurnya sambil menggelengkan kepala.

“Kenapa gak mau?”

“Aku Cuma mau tidur di pelukan kamu aja.”

Marcus tidak menggubris ucapan Lexa, ia langsung mengangkat badan lexa seperti koala dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lexa hanya pasrah saat Marcus mulai melepaskan baju yang ada di tubuhnya dan menuntun masuk ke dalam bathup untuk berendam air hangat.

Lexa duduk dipangkuan Marcus dengan posisi saling berpelukan. Mereka mandi tanpa sehelai benang, dan saat ini Marcus benar-benar menahan gairah agar tidak menusuk vagina Lexa dengan juniornya. Ia sadar diri kalau belum saatnya mereka melakukan hubungan seksual karena status mereka masih menjadi mahasiswa dan Marcus tidak ingin nama baik keluarganya di coreng akibat tindakan senonoh jika Marcus menuruti gairahnya.

“Sayang?” Lexa hanya bergumam pelan di dekapan hangat Marcus.

“Kamu masuk organisasi kakak saja ya?” usul Marcus lembut. Lexa menjauhkan kepalanya dari dada Marcus, menatapnya sesaat sebelum berujar Kembali.

“Apa tidak apa-apa?” tanya Lexa dengan kening berkerut.

Astaga, kucubit nanti kau sayang. Batin Marcus. Marcus tidak habis pikir dengan pertanyaan polos Lexa yang menurutnya sangat lucu.

“Gak masalah sayang.” Marcus benar-benar gemas dengan raut wajah Lexa yang sedang menahan ngantuk.

“Terserah padamu saja.” Jawab Lexa malas dan Kembali menyender di dada bidang Marcus. Dasar manja, yang kuliah siapa yang suruh daftar siapa. Batin Marcus.

“Yuk bangun, gak baik berendam lama-lama.” Lexa dan Marcus akhirnya beranjak dari bathup untuk membilas tubuh mereka dibawah guyuran shower, setelah itu mereka Kembali ke ranjang untuk istirahat.

Keesokan harinya. Di rumah Lexa.

Marcus memutuskan untuk mengantar Lexa pulang ke rumahnya setelah makan siang. Setelah mereka sampai di pekarangan rumah Lexa, dilihatnya mobil orang tua Lexa sudah parkir di halaman yang menandakan kalau Alyicia dan Derril sudah sampai di rumah. Lexa langsung turun dari mobil Marcus dengan Langkah tergesa berlalri masuk ke dalam rumah.

“Mommy!” teriak Lexa menggelegar begitu ia melihat Alyicia dan Dirk sedang berdiiri di ruang tengah berbicara dengan pelayan di rumahnya.

Alyicia yang mendengar teriakan Lexa terlonjak kaget dan langsung tersenyum sumringah melihat putri semata wayangnya berlari kecil dan langsung menghamburkan pelukan ke Alyicia.

“Lexa kangen sama mommy.”

“Iya mommy juga kangen sama Alex.” Alyicia membalas pelukan Lexa sama eratnya.

“Gak kangen sama daddy nih?” tanya Derril pura-pura merajuk melihat kedekatan Lexa dengan istrinya.

“hehe. Daddy jelek kalau lagi merajuk.” Jawab Lexa sambil menghamburkan pelukannya ke Derril. Setelah puas berpelukan, Derril memberikan 2 buah paper bag sebagai oleh-oleh untuk Lexa dari Swiss.

“Yey! Coklat!” Lexa begitu senang mendapatkan cokelat salah satu oleh-oleh khas Swiss dan Lexa juga dibelikan Jam tangan brand Swatch model terbaru. Derril memberikan 1 buah paper bag lagi kepada Marcus yang berdiri di belakang Lexa.

“Ini untuk kamu, sampaikan salam om untuk Dirk. Kamu menginap saja disini, sebagai bentuk terima kasih karena sudah menjaga Lexa selama om dan tante tidak di rumah.” Ujar Derril setelah memberikan paper bag.

“Terima kasih om. Kalau begitu Marcus pulang sebentar ke rumah.”

“Aku ikut!” seru Lexa sambil bergelayut manja di lengan kiri Marcus. Alyicia dan Derril hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku putri kesayangan mereka.

Lexa dan Marcus kini sudah Kembali berada di rumah Marcus untuk mengemas beberapa barang, sementara Lexa kini berada di ruang keluarga bersama Fanny. Fanny begitu antusias menerima sedikit buah tangan dari Alyicia dan Derril Ketika pulang dari Swiss. Sungguh calon besan masa depan.

Fanny juga mengijinkan Marcus untuk menginap beberapa hari di rumah Lexa karena Alyicia dan Derril juga menyayangi Marcus sebagai anak mereka sendiri. Jadi bukan masalah besar bagi Fanny.

Selagi berbincang, Marcus sudah Kembali ke ruang keluarga beserta tas gym yang berisi beberapa pakaian Marcus serta kebutuhan kuliah nanti. Mengingat besok adalah hari Senin, sehingga Marcus dan Lexa sudah Kembali dengan aktivitas baru mereka di kampus. Lexa sebagai mahasiswa semester 1 dan Marcus sebagai mahasiswa semester 5.

Lexa dan Marcus berpamitan dengan Fanny dan sekarang mereka sudah berada di dalam mobil Marcus. “Besok kamu kelas jam berapa?” tanya Marcus setelah keheningan beberapa menit.

“Akua da kelas jam 10 pagi. Kamu sendiri?” tanya Lexa balik.

“Sama aku juga jam 10. Besok kita sekalian berangkat bareng saja.”

“hmm.. akum au mampir ke toko buku sebentar bolehkah?”

“ada perlu apa?”

“I need more stationary baby. Aku rasa alat tulis aku belum lengkap.”

“Baiklah kita mampir sebentar mumpung masih sore.”

Lexa dan Marcus sampai di toko buku setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam. Lexa begitu antusias memilih berbagai alat tulis, mulai dari pulpen, pensil mechanic beserta isinya, correction tape, binder, index dan sebagainya. Lexa begitu terobsesi dengan berbagai macam alat tulis, bahkan meja beajarnya begitu apik dengan berbagai rak organizer yang berisi berbagai macam pulpen warna, stabile, beserta spidol yang ia pisahkan berdasrkan warna dan merk.

Marcus yang melihat Lexa belanja seperti itu hanya menggelengkan kepala, Lexa membeli semua tidak melihat harga yang tertera jadi jangan heran dengan sekali belanja bisa menghabiskan uang minimal lima ratus ribu rupiah. Sungguh hedon.

“Sudah sayang?” tanya Marcus sambil membantu bawa barang belanjaan Lexa. Marcus tidak habis pikir, Lexa hanya boros dengan alat tulis bukan hal lain seperti make up atau pakaian dan tas dari brand mahal. Tetapi Marcus harus bersyukur dengan kepribadian Lexa yang tidak membuang uang hanya untuk mengikuti trend sepatu, tas, atau pakaian.

“Sudah hehe.”

“Kamu sering belanja alat tulis?” tanya Marcus, sungguh ia benar-benar penasaran dengan jawaban Lexa.

“Tidak hanya 6 bulan sekali setiap mau mulai awal semester baru. Memang kenapa?” tanya Lexa Balik.

“Tidak. Aku hanya bingung aja, kamu begitu hedon kalau belanja alat tulis.”

Lexa hanya terkekeh geli mendengar penuturan Marcus. “Entahlah, ini salah satu hobiku. Tapi aku selalu belanja dengan hasil simpanan uang bulanan. Jadi mommy sama daddy tidak pernah ngomel.”

Marcus tidak merasa heran dengan tingkah Lexa, karena saat Marcus menyelinap ke kamar Lexa, Marcus benar-benar terpukau dengan kamar Lexa, terutama meja belajarnya yang sangat rapi. Dan ia cukup bangga karena Lexa adalah kekasihnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status