Barra's Mine
Barra's Mine
Author: MaharKu
Patah Hati itu Sakit

Terima Kasih dan Selamat Tinggal

Patah Hati Itu Sakit

"Patah hati. Cinta pertama yang berjalan tidak baik." Hanggara mulai menimbang kembali pernyataan Kian selaku tangan kanan paling setia menemaninya selama belasan tahun. Meskipun kini lelaki itu sudah nampak berusia dan mungkin sebentar lagi sudah pensiun, tetapi loyalitas tanpa batas membuat Hanggara tidak bisa melepaskan begitu saja pun dengan keadaan bahwa putra dari Kian kini sedang membuat hati putri kecilnya patah.
Ya. Kian memang mengatakan semuanya secara gamblang, bagaimana putra bungsunya menolak putri sulung Hanggara.

"Mereka takkan pernah belajar jika tidak ada pengalaman. Benar?"

Kian mengangguk tegas. Benar, kisah remaja seperti cinta pertama yang tak sampai memang mengajarkan kepada banyak hal.
"Takahashi muda memiliki banyak sekali mimpi, dan memang sebaiknya ia menolak Sven agar bisa sama-sama fokus dengan pendidikan mereka. Sven akan segera berangkat ke Jerman, dan putramu juga akan menuju ke tempat yang sama. Sedikit menjadi kekhawatiranku bila mereka bertemu sementara Sven belum bisa benar-benar mengendalikan perasaannya." Menarik napas panjang, Hanggara menjentikkan ujung cerutu ke tempat pembuangan. "Hanya seorang ayah yang tidak menyukai ketika melihat putri kecilnya bersedih."


"Maafkan Takahashi muda, Tuan."


Mengibaskan tangan kanan, Hanggara beranjak dari tempatnya duduk. Berdiri di depan jendela kaca besar yang menampilkan siluet flamboyan. Sepasang sipit tersebut menatap apa yang tersaji di hadapan.
"Sven tidak pernah jatuh cinta, dan harus merasaka kecewa di saat yang sama. Tidak apa, memang begini cara cinta bekerja."

Hanggara menarik napas dalam, dipandangi lamat-lamat apa yang terlihat di depan mata.
"Katakan kepada putramu untuk tidak berjarak terlalu dekat dengan Sven, dia membutuhkan waktu dan jarak agar bisa mengobati luka-lukanya."

Kian membungkuk hormat lalu dia dan Hanggara keluar dari ruang direktur utama.

Di tempat lain, Sven sedang sibuk melukis, sudah menghabiskan dua belas jam waktunya di ruangan khusus yang dibuat papi untuk menyalurkan hobi. Sang mami terlihat mencemaskan Sven yang sejak beberapa hari lalu selalu saja makan paling akhir, lalu tidur juga paling akhir.

Sebagai ibu, ia sangat mencemaskan kondisi putri tercinta. Bertanya-tanya di dalam hati apakah yang sudah terjadi sehingga membuat si periang kini berubah muram.

Membawa si kecil yang masih berusia dua bulan dalam gendongan, ia berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut, nampak Sven sedang melamun. Kuas di tangan bahkan membentuk setitik lebar kehitaman. Membuat lukisan yang tengah dikerjakan jadi terlihat cacat.

Sang ibu berjalan mendekat, dengan Aiko dalam dekapan hangatnya ia menyapa si sulung.
Terkejut mendegar suara ibunya yang tentu saja tidak disadari kapan tiba di ruangan pribadi milik Sven ini.
Sven meletakkan kuas, mengusapkan telapak kotornya pada celemek khusus. Usai memastikan kedua tangannya sudah cukup bersih, Sven mengambil sang adik dan memangkunya penuh sayang.

"Kau sudah makan?"

Sven mengangguk pelan, "sudah dengan selembar roti dan segelas susu." hanya saja kalimatnya tidak diucapkan melainkan terangkai dalam benak saja.

"Ibu melihatmu begitu sibuk, apakah perjalanan ke Jerman sangat menguras energimu?"

Sven menarik napas panjang, kalimat pembuka menyambut harinya yang sudah suram. Sebenarnya, ia begitu ingin mengabaikan perhatian sang Ibu apalah daya, dia bukan anak yang dengan teganya membuat perasaan ibunya tersakiti.

"Sven, adakah yang kau sembunyikan dadi ibu?" sang ibu bertanya penuh kehati-hatian sebab dia tahu bahwa putri sulungnya ini bukan tipe orang yang dengan mudahnya mengatakan isi hatinya.

Menangkup punggung tangan Sven, ibu dari lima orang anak tersebut meminta perhatian putrinya sejenak dan Sven tahu ia harus menuruti mami.

"Aku hanya sedang jatuh cinta--" Sven memandangi lukisan di hadapannya. Sebuah gambar pemandangan. Seperti taman yang berisi dua bangku yang jaraknya teepisah jauh. Di sana juga terlihat bagaimana ada sepasang manusia yang satu berada di dekat pancuran air sedang berdiri menatap ke arah langit sedang si perempuan dalam lukisan berada di sisi yang lain sedang tertunduk seakan dirinya tengah memandangi punggung lelaki itu. "Hanya saja, Sven tidak cukup beruntung." Sven menampilkan senyumannya. 

"Sven, kadangkala cinta pertama itu memang tidak seindah yang kita bayangkan. "

Ibunya Sven lantas menarik napas panjang. "Kau tahu, aku pun dulu pernah merasakannya. Seorang lelaki di sekolahan Ibu mengatakan bahwa dirinya jatuh cinta kepada Ibu. Dia memberikan seluruh perhatiannya kepada Mami, tetapi Mami malah jatuh cinta kepada orang lain." Senna tersenyum mengingat masa mudanya, saat dirinya hanyalah seorang siswa sekolah biasa saja.
"Mami jatuh cinta kepada seorang pemuda? Apakah itu bukan Papi?" Ibu Sven terkekeh geli lantas menggeleng.

"Bukan, tapi jangan mengatakannya kepada siapapun, oke?"
Senna pun mulai bercerita. Mengenai sosok yang dulu sering membuatnya salah tingkah jika berada di dekat pemuda tersebut.

Sven mendengarkan dengan baik, bagaimana saat sang ibu tersipu dengan pipi kemerahan ketika mengingat kenangannya tersebut.
"Apa Mami merasa sakit hati karena hanya dimanfaatkan?"

Senna menggeleng. "Tidak, Sayang."

"Cinta pertama memang tidak semulus yang kita duga, Sayang, kadangkala membutuhkan usaha yang sangat keras agar bahagia yang kita impikan bisa terwujud."

"Kau bisa mendapatkan yang kau mau dengan mudah tetapi sesuatu yang tidak dalam kendalimu, Mami rasa harus ada bagian dari hatimu untuk bisa terbiasa terluka."

"Sven, Mami tahu kalau kau menyukai seseorang meskipun Sven enggan mengatakannya. Namun, ada baiknya bila dirimu saat ini lebih fokus kepada pendidikan. Gapai cita-citamu, dan jadikan mereka sebagai langkah yang akan menunjukkanmu bagaimana indahnya dunia di luar sana."

"Tentu saja, Mami. Sven takkan pernah lupa kalau dunia ini tidak berisi satu lelaki saja. Hanya, bagaimanapun juga perasaan ini masih terasa janggal. Mami tahu bukan kalau menata hati kembali itu bisa memakan waktu?" Sven mengecup puncak kepala adiknya tercinta.
"Sven akan mendapatkan cinta lagi, tidak peduli bentuk dan rasanya akan menjadi seperti apa. Aku akan menikmatinya sebagai bagian dari perasaan syukur. Cinta pertamaku memang gagal tapi Sven tidak masalah. Mami tidak usah cemas."

Setelah percakapan ringan antara ibu dan anak, Sven pun pergi ke kamar mandi. Dia meredam perasaan ingin menangis dan merasa terlukai, tidak ingin melihat diri sendiri lemah dan hancur. Usianya masih sangat muda dan perjalanan hidupnya masih sangat lama.

Usai membersihkan diri, Sven mendatangi ponselnya yang sedang berkedip-kedip.
Sebuah nama yang tertera, satu nama familiar yang sampai detik ini telah membuatnya patah hati. Kenzo Takahashi. Menimbang-nimbang sebentar, pada panggilan kedua Sven pun mendial ikon telepon. Mendekatkan benda pipih itu di telinga kiri lalu berkata, "Ya, ini Sven."

"Sven, bisakah kita bicara?"

Sven menarik napas dalam, dia memang menyukai Kenzo tetapi ketika perasaannya tidak berbalas dengan baik dan pada saat ini hatinya masih terluka, seperti kata ibunya dia boleh menepi. Maka, Sven pun menolak untuk bertemu.

"Maaf, aku tidak bisa."

Gadis delapan belas tahun itu memandangi berkas cahaya senja yang mengintip di sela-sela kelambu putih, menarik napas pelan lalu mengembuskannya perlahan bersemoga di dalam hati agar rasa tak nyaman ini segera musnah.


***
Jangan Lupa tekan love dan masukkan cerita ini ke rak bukumu!

Love,

Mahar

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status