07 - Otak Mesum

By the way, jangan lupa buat kasih review yah buat cerita ini.

*****

Ricard bukanlah tipe bos-bos galak dan dingin seperti kebanyakan cerita di novel. Dirinya termasuk pimpinan yang ramah terhadap bawahan meskipun tidak berlebihan. Ia selalu membalas sapaan yang diberikan karyawan padanya.

Akan tetapi, hari ini begitu berbeda, Ricard tersenyum lebih lebar dari biasanya. Berjalan santai dengan memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. Para wanita yang bekerja di kantornya yang kebetulan sedang berada di lobi, segera berpegangan agar tidak jatuh karena lemah melihat pesona bigboss-nya yang berkali-kali lipat kadar ketampanannya.

CEO mereka hari ini terlihat begitu bahagia. Steven yang melihatnya pun segera mengejar Ricard untuk masuk ke dalam lift yang sama.

"Selamat pagi, Steven!" sapa Ricard terlebih dahulu dengan senyum cerianya.

Steven menaikkan sebelah alisnya, cukup penasaran apa yang melatarbelakangi seorang Ricard terlihat begitu bahagia.

"Tampaknya kau ceria sekali pagi ini," ucap Steven.

Ricard membenahi dasinya dan menatap wajahnya dipantulan kaca dalam lift sambil mengelus dagunya.

"Hari senin, tentu kita harus bersemangat,"

"Tapi sepertinya kau berlebihan semangat pagi ini," kata Steven.

Ricard menatap wajah Steven, "benarkah? Aku rasa aku masih seperti biasanya."

"Susah kalau berbicara dengan orang yang sedang kasmaran," sindir Steven.

"Hei, siapa yang kau maksud sedang kasmaran?" sangkal Ricard.

"Yang jelas bukan aku, tapi bisa jadi itu kau. Wajahmu berseri-seri seperti remaja jatuh cinta,"

"Sialan! Aku hanya ingin menebar energi positif," elak Ricard.

"Sudahlah, tidak perlu malu untuk mengakuinya. Jadi wanita mana yang berhasil membuatmu seperti ini? India? Belgia? Uzbeskistan? Moskow? atau?" tanya Steven penasaran.

"Indonesia!" ucap Ricard dengan ekspresi bahagia tercetak jelas di wajahnya.

"Jangan banyak bertanya, urus saja jadwal cutiku!"

Steven menatap Ricard bingung, "Cuti? Kenapa begitu mendadak? Jangan bilang kau akan pergi menemuinya?"

Ricard hanya tersenyum sambil bersiul, berjalan meninggalkan Steven yang hanya berdiri memperhatikan bos sekaligus sahabatnya itu memasuki ruang kerjanya.

Kemarin, setengah hari penuh, Ricard menghabiskan waktu berbincang dengan Zeline melalui WhatsApp video. Selain cantik, ternyata wanita itu juga pintar. Tanpa mencari tahu dengan bantuan detektif mengenai kehidupan Zeline, wanita itu secara senang hati menceritakannya sendiri. Zeline tipikal wanita yang jujur dan cukup sederhana menurut pengamatan Ricard.

Ada kejadian lucu yang terjadi kemarin saat mereka melakukan Video Call yang membuat Ricard sampai detik ini ingin tertawa mengingat ekspresi Zeline.

✈✈✈✈✈

"Gila!" umpat Zeline.

Ketiga sahabatnya terkekeh melihat kepergian Zeline. Zeline membanting pintu kamar Mesya dengan cukup kencang.

Sesungguhnya, ia begitu kehilangan wajah pada Fello. Pria itu pasti berpikir yang tidak-tidak padanya.

Memikirkan itu membuat Zeline menggeleng kuat. Ia mencoba menghirup udara malam yang masuk melalui hidungnya.

Saat ini Zeline sedang berada di rumah Mesya. Mereka semua sepakat untuk menginap. Mesya akan mengadakan syukuran menjelang hari pernikahannya. Ya, Mesya dan tunangannya sudah di desak untuk segera meresmikan hubungan mereka ke jenjang pernikahan.

Ibu Mesya sudah gerah melihat anaknya yang memilih tinggal satu atap dengan Pradipta, tunangannya. Tidak ingin lebih banyak gosip yang timbul akibat tingkah laku anaknya yang bebas itu. Kedua keluarga sepakat untuk menikahkan segera Mesya dan Pradipta.

Flashback!

Semalam Zeline memilih untuk berdiam diri di kamar tamu dan menghabiskan waktu sebelum tidurnya untuk berbincang dengan Fello. Entah kenapa, dari sekian banyak pria yang ia kenal dari aplikasi kencan online itu, hanya Fello yang tingkahnya sedikit waras, meskipun pria itu sepertinya selalu kekurangan baju.

Zeline dengan nyamannya bertukar informasi seputar kehidupan mereka masing-masing. Yang Zeline tahu, Fello merupakan seorang karyawan swasta yang bekerja di suatu perusahaan otomotif. Zeline tidak mempertanyakan lebih jauh mengenai jabatan ataupun detail pekerjaannya karena Zeline tidak ingin mengorek privasi orang lain. Intinya Zeline cukup senang, jika Fello bekerja dan bukan seorang pengangguran.

Saat keduanya larut dalam candaan, tiba-tiba ketiga sahabatnya masuk ke dalam kamar dan mulai berulah. Fini menonton televisi dan memilih channel luar negeri yang menampilkan film erotis. Demi Tuhan, Zeline ingin sekali membakar layar tv dan juga menendang Fini.

Zeline memutar layar Macbooknya membelakangi TV, Zeline pikir semuanya telah selesai namun ternyata lebih parah. Vera menaiki treadmill dan berlari disana dengan suara desahan yang mengundang spekulasi jika orang hanya mendengarnya tanpa melihat apa yang sedang dilakukan.

Zeline ingin pingsan saja saat suara Vera semakin menjadi-jadi. Suaranya dibuat mendesah-desah seperti orang yang melakukan kegiatan Shit! itu. Demi apapun, Zeline ingin sekali melakban mulut Vera.

Fello bertanya, apakah salah satu temannya sedang making love dan ketika itu pula wajah Zeline memerah karena malu. Zeline hanya menggeleng pelan, ia malu saat ini. Fini mendekat ke layar macbook Zeline dan membuka piyama tidurnya dengan gerakan lambat. Fello menatapnya dengan intens, seperti menunggu hal apa lagi yang akan dilakukan sahabat Zeline itu di depannya.

"Cause I wanna touch you baby

And I wanna feel you too

I wanna see the sunrise

On your sins just me and you

Light it up, on the run

Let's make love tonight

Make it up, fall in love, try"

Fini menyanyikan sepenggal lagu milik Zayn Malik yang berisikan ajakan bercinta. Sungguh, Zeline kehilangan wajahnya. Fello hanya tertawa menanggapi nyanyian Fini di seberang sana.

"Jangan pedulikan mereka! Mereka sudah kehilangan akal sehatnya !"

"Sahabatmu seksi dan memiliki suara yang bagus,"

"Terima kasih, Fello! Aku memang luar biasa seksi dan menggoda. By the way, kau tidak ingin ke Indonesia?" Fini menjeritkan suaranya dari atas sofa.

"Tidak perlu kau dengarkan ocehannya! Membeli tiket pesawat New York – Indonesia, bukan seperti membeli spagetty,"

"Benar! Aku perlu menambah tabunganku agar bisa bertemu denganmu langsung,"

Baru saja Zeline akan menanggapi pernyataan Fello, suara teriakan di belakangnya seketika membungkamnya dan membuat wajah Zeline menjadi merah padam.

"Jika kau kemari, jangan lupa siapkan stamina dan buat sahabatku ini orgasme,"

"Suruh dia belajar blowjob yang baik!"

"Fuck her so hard!"

Jangan ditanya bagaimana ekspresi Zeline. Rasanya wanita itu ingin mati saja. Ia bersumpah untuk tidak akan melakukan video call lagi jika di sekitarnya ada Mesya, Fini dan Vera. Sungguh! Ini memalukan, sangat memalukan.

Fello terkejut sekaligus salah tingkah. Bingung harus merespon apa atas ucapan yang dilontarkan ketiga sahabat Zeline. Pria itu menatap Zeline dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Minggu ini, aku menikah. Aku akan menyuruh Zeline mengirimkan undangan untukmu. I hope u'll come to my wedding," ucap Mesya tanpa rasa dosa.

"I'll call u later. Have a great day. Bye!"

Belum sempat Fello membalas ucapan Zeline. Zeline sudah mematikan macbooknya secara paksa. Ia menatap sinis wajah ketiga sahabatnya itu.

"Gila!" umpat Zeline.

✈✈✈✈✈

Ricard memandang isi gudang pemeliharaan barang-barang koleksinya dari layar MacBook yang tengah dipegangnya.

Sudah begitu lama pria itu tidak memakai private jet-nya untuk berpergian. Omong kosong sekali, ia harus menabung terlebih dahulu jika ingin membeli tiket pesawat. Ia bahkan bisa dengan bebas menaiki pesawat secara gratis dengan fasilitas First class, karena Daniello Corp memiliki beberapa perusahaan yang mengelola maskapai penerbangan.

Setelah sibuk dengan mengamati isi gudangnya dan menekuni beberapa dokumen di hadapannya. Ricard mengambil ponselnya dan mengetikkan nama Zeline pada kolom search instagramnya. Tak lama wajah wanita itu muncul dan seketika pula Ricard mengumpat kasar.

"Damn! Shit!"

"Crazy! Celanaku tiba-tiba menyempit dan keras begitu saja! Hell! Siapa wanita ini sebenarnya!" umpat Ricard saat men-stalking akun instagram Zeline.

"Apa maksud dari perkataan ketiga sahabatnya semalam! Jangan bilang kalau ... Astaga! Damn!"

Ricard meraih gagang telepon dan menghubungi seseorang.

"Siapkan keberangkatanku ke Indonesia. Lusa aku ingin semuanya selesai," perintah Ricard tidak bisa diganggu gugat.

Ricard pergi ke kamar mandi yang berada dalam ruang kerjanya. Ia harus menuntaskan hal yang membuatnya pening seketika.

"Sialan! ini pertama kalinya aku menggunakan sabun! Oh, Zeline, Shit!" gerutu Ricard.

*****

KOMEN YAHH
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Muhammad Subhan
cerita bagus
goodnovel comment avatar
Willny
wkwkwk, fello shock liat zel pake bikini
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status