13. I Want You, Chiaki

I Want You, Chiaki

Crystal melangkah keluar dari kamar mandi mengenakan jubah mandi di tubuhnya, ia mendapati Chiaki sedang berdiri memunggunginya. Pria itu menatap kelamnya malam melalui jendela kaca di kamar Crystal dengan kedua telapak tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya. 

Menyadari kehadiran Crystal, Chiaki membalikkan badannya. Matanya menatap Crystal dengan tatapan dingin. "Berita kembalinya kau ke dunia musik telah tersebar luas." 

Crystal mengangguk, ia tahu konsekuensinya dari penampilannya beberapa jam yang lalu. 

"Dua Minggu lagi penampilan pertamamu di sebuah konser orkestra, kau pemain biola utama sekaligus bintang tamunya." 

Crystal nyaris tidak bernapas, bibirnya sedikit terbuka karena terkejut. Tetapi, ia tidak mengucapkan apa-apa. 

Chiaki mengeluarkan satu telapak tangannya dari saku lalu menyentuh salah satu alisnya.  "Persiapkan dirimu." 

Kali ini Crystal benar-benar tidak bernapas, ia belum pernah berperan sebagai pemain biola utama di dalam orkestra. "Chiaki, kau tahu... aku...." 

"Itu hukumanmu karena tidak patuh malam ini," sahut Chiaki terdengar cukup sinis. 

Putus asa, itu yang Crystal rasakan. "Chiaki, dua Minggu terlalu singkat untuk belajar." Ia akhirnya berhasil menyuarakan apa yang ada di kepalanya. 

Chiaki maju beberapa langkah hingga berada tepat di depan Crystal, ia meraih dagu gadis itu, bibirnya tersenyum sinis. "Wanitaku harus cepat belajar." 

Menelan ludah, hanya itu yang bisa Crystal lakukan mengingat sikap Chiaki yang tidak bisa ia tebak dan melihat kilatan amarah di mata perunggu pria di depannya membuat nyalinya semakin menciut.

"Lain kali jangan meminum alkohol tanpa seizinku, juga jangan terlalu dekat dengan Maddie atau kau tidak akan bisa melihat teman barumu itu selamanya." Chiaki mengusap bibir Crystal menggunakan ibu jarinya, sedikit kasar. "Dan... jangan pernah kau ulangi menatap pria lain selain aku lebih dari tiga detik." 

Crystal mengerjapkan matanya, ia merasakan sel-sel dalam tubuhnya sedang menggigil karena ketakutan. Chiaki benar-benar tidak bisa diajak bernegosiasi, setiap ucapannya laksana sebuah titah raja yang tidak bisa dibantah. 

Chiaki mendekatkan bibirnya ke bibir Crystal. "Kau juga diam-diam berulang kali mencuri-curi pandang pada pianis itu, apa pianis itu lebih menarik dari pada aku?" 

Kali ini musnah semua harapan Crystal untuk menjadikan Tian pengiringnya dan yang paling mencengangkan adalah Chiaki tahu jika ia berulang kali mencuri-curi pandang ke arah Tian padahal setahu Crystal, pria itu sibuk bercakap-cakap bersama Caren dan beberapa tamu lain. 

"Dia...," desah Crystal. 

Chiaki menyipitkan kedua matanya. "Ada yang ingin kau sampaikan?" 

"Dia salah satu orang yang pernah menyakitiku," ujar Crystal dengan cepat. "Aku ingin kau membantuku untuk membalasnya." 

Chiaki melepaskan cengkeramannya dari dagu Crystal. "Pembicaraan kita cukup sampai di sini, tidurlah." 

Ketika Chiaki hendak beringsut menjauh, Crystal dengan cepat meraup jas yang Chiaki kenakalan tepat di bagian pinggang hingga membuat Chiaki urung melangkahkan kakinya. "T-tinggallah di sini," pinta Crystal pelan. 

Chiaki tersenyum miring. "Jangan sekalipun memerintahku." 

Crystal menggelengkan kepalanya. "Aku memohon padamu untuk tinggal di sini, malam ini saja." 

"Apa ada sesuatu yang menarik jika aku tinggal di sini malam ini?" 

Crystal menggigit bibirnya, ia memang sedang berusaha membujuk Chiaki untuk membantunya membalas dendam kepada Tian menggunakan tubuhnya. Tetapi, ia tidak mampu menyuarakan jika ia menawarkan tubuhnya kepada pria di depannya malam ini. Perlahan Crystal melepaskan jas yang Chiaki kenakan. 

Chiaki mendekatkan wajahnya ke wajah Crystal, bibirnya berada tepat di telinga Crystal. "Senangkan aku hingga pagi maka aku akan tinggal di sini selama kau mau." 

Tanpa menunggu Crystal meletakkan tangannya di dada Chiaki, ia memagut bibir pria itu tanpa ragu-ragu, berusaha menggodanya meski sedikit kikuk karena Chiaki sama sekali tidak merespons cumbuan Crystal hingga Crystal mulai frustrasi dan menggigit bibir pria itu. Ketika bibir Chiaki terbuka, Crystal mendorong lidahnya ke dalam mulut Chiaki dan mulai membelai lidah Chiaki. 

Perlahan-lahan Chiaki menerima cumbuan Crystal, ia mulai membalas godaan lidah Crystal. Keduanya terhanyut, saling menuntut lebih. Jemari tangan Crystal menelisik di antara rambut Chiaki sementara satu telapak Chiaki berada di tengkuk Crystal seolah memperdalam cumbuan mereka, satu tangannya berada di pinggang Crystal, melingkar dengan cara yang sangat posesif.

"Jangan menyesal jika aku malam ini menyakitimu, Crys," geram Chiaki ketika tautan bibir mereka terlepas. 

"Lakukan apa yang kau mau, asal kau tinggal di sini malam ini." Crystal mulai membuka kancing kemeja yang Chiaki kenakan lalu beralih utuk membuka ikat pinggang pria itu. 

Namun, Chiaki menghentikannya. "Belum terlambat untuk mundur, Crys." 

Crystal menggelengkan kepalanya, tatapan matanya lembut menatap Chiaki. "Sejak aku bertemu denganmu, aku tidak memiliki pilihan untuk mundur." 

Chiaki membuka ikat pinggang dan celana panjangnya sendiri, menyisakan boxer-nya saja. Ia lalu membuka jas yang ia kenakan, melemparkan benda itu ke atas sofa yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia lalu melepaskan kemejanya sambil tatapan matanya menatap Crystal seolah ia seekor predator yang sedang menatap calon mangsanya. 

"Buka jubahmu," ucap Chiaki sambil memilin kemeja di tangannya hingga menjadi mirip seperti sebuah tali. "Aku akan mengikat tanganmu." 

Crystal melepaskan tali jubah mandinya, melepaskannya, dan membiarkan kain itu merosot ke lantai begitu saja lalu ia mengulurkan kedua tangannya untuk diikat. 

Perlahan-lahan Chiaki mengikat kedua tangan Crystal menggunakan kemeja yang telah dipilin lalu memerintahkan Crystal untuk naik ke atas tempat tidur. Ia memosisikan tangan Crystal di atas kepala. 

Tatapan Chiaki tampak berbahaya, matanya menyapu seluruh tubuh yang Crystal polos di atas tempat tidur. "Kau harus mengingat malam ini, Cryst. Aku tidak suka milikku terlaku dekat dengan pria lain, aku tidak suka matamu menatap pria lain lebih dari tiga detik." 

Crystal mengangguk. "Aku akan mengingatnya." 

"Bagus. Aku menyukai gadis yang patuh." Ia menekuk kaki Crystal lalu merangkak di atas tubuh gadis itu. 

"Berjanjilah untuk tidak menatap pria lain meski aku tidak berada di sampingmu." Kali ini nada suara Chiaki terdengar lebih lunak.

Jantung Crystal tiba-tiba berdetak lima kali lebih kencang hingga kehilangan iramanya seolah rongga dadanya menjadi bergemuruh, riuh, dan membuatnya sedikit gelisah tanpa ia tahu apa penyebabnya. "Aku berjanji." 

Tatapan Chiaki tampak belum puas meski telah mendengar janji yang diucapkan oleh Crystal. "Yakinkan aku, agar aku percaya padamu." 

Crystal tidak tahu harus bagaimana meyakinkan Chiaki. "Kau bisa memotong leherku jika aku melanggar janjiku." 

Chiaki tersenyum miring. "Apa aku terlihat seperti seorang yang tega membunuh wanita lemah seperti dirimu?" 

Crystal menggelengkan kepalanya, bibirnya tersenyum, matanya menatap Chiaki dengan sangat lembut tanpa ia sadari."Percayalah padaku," ucapnya sungguh-sungguh.

Ujung ibu jari Chiaki menyentuh dengan perlahan bibir Crystal, membelainya dengan penuh kasih sayang lalu perlahan telapak tangannya beralih menyentuh kulit leher Crystal, semakin turun ke bawah menelusuri tulang selangka gadis itu, dan semakin ke bawah. Chiaki meraba kulit dada Crystal yang menonjol dan tampak ranum dengan gerakan memutar lalu meremasnya dengan gerakan menggoda beberapa kali, bergantian bagian kanan dan kiri. Tangannya perlahan bergerak ke bagian perut Crystal yang rata sementara matanya menatap Crystal. Kedua mata mereka terus saling mengunci seolah mereka berbicara dari tatapan mata. 

Crystal mencari-cari sesuatu di mata Chiaki, ia masih mendapati bara amarah di mata pria itu. Tetapi, Crystal tidak yakin apakah bara itu berasal dari kecemburuan atau hanya rasa tidak suka karena barang yang di klaim miliknya terusik. 

Ia mengerang manakala Chiaki menyentuh area di antara pahanya, secara alami ia membuka pahanya semakin lebar untuk memberikan akses penuh bagi Chiaki bermain-main dengan dirinya. 

Chiaki tersenyum, ia mendekatkan bibirnya ke bibir Crystal. "Kau selalu siap untukku," ucapnya dengan nada mengejek. 

Crystal tidak memedulikan ejekan Chiaki, yang ia pedulikan hanya rasa yang lebih besar yang menyelubungi akal sehatnya. Ia menginginkan Chiaki berada di dalam dirinya, saat ini juga. 

"Chiaki...." Crystal mengerang dengan suara lemah saat jari tengah Chiaki menerobos masuk ke dalam dirinya.

Pria itu tersenyum lalu menyambar bibir Crystal, mencumbunya dengan cara yang sangat ahli dan menggoda membuat Crystal mulai gelisah karena frustrasi. Kedua telapak kakinya di gesekkan ke seprei sementara pinggulnya sesekali terangkat mengikuti tempo gerakan tangan Chiaki yang semakin cepat. 

"Aku ingin dirimu, Chiaki...."

Crystal mengerang untuk melakukan protes, sayangnya Chiaki sama sekali tidak memedulikan protesnya. Ketika gelombangnya semakin dekat, Crystal semakin gelisah dan mulai kehilangan kendali, ia memanggil Chiaki dengan erangan panjang. 

Namun, Chiaki justru menjauhkan tangannya dari tubuh Crystal, begitu juga bibirnya yang telah berhenti mencumbu bibir Crystal. 

Napas Crystal memburu, ia menatap Chiaki dengan tatapan jengkel karena pria itu mempermainkannya. Untuk pertama kali Crystal benar-benar ingin menendang pria berambut gondrong itu dari atas tempat tidur jika saja ia memiliki keberanian untuk melakukannya. 

"Kau pikir, kau bisa merayuku menggunakan tubuhmu demi pria lain?" 

Napas Crystal terasa sesak, ia memejamkan matanya, rasanya dadanya mendadak berlubang karena ucapan Chiaki. ia merasakan pria itu beringsut turun dari tempat tidur lalu beberapa puluh detik kemudian terdengar suara pintu kamarnya dibanting dengan kencang.

Crystal memiringkan tubuhnya, ia meringkuk dengan tangan yang masih terikat, sedangkan air matanya mulai membasahi kelopak matanya. 

Bersambung.....

Jangan lupa beli EBook I Win You ❤❤

Jangan lupa juga beli A Bankrupt Billionaire ❤❤❤

Salam manis dari Cherry yang manis.

🍒

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status