BAB 5 PRIA PAYAH

Sudah beberapa jam mereka menunggu tapi masih belum juga terjadi apa-apa. Berulang kali Jemy mendongak ke angkasa dan yang dia lihat hanya lalu lalang burung camar yang mulai seperti mengejek mereka dengan ocehannya.

"Mungkin tidak ada jalur penerbangan yang melintas di sini," kata Adam dan Jemy langsung buru-buru menoleh padanya.

"Oh, sial sekali hidupku karena bertemu denganmu."

"Sebaiknya kita nikmati saja dulu pantainya, lihatlah ini pulau yang indah!" saran Adam terdengar sinting.

"Terserah kau saja!" Jemy memilih berdiri karena bosan cuma duduk dan menunggu.

Adam memang benar mengenai pulaunya yang indah dan berpasir putih seperti surga. Pohon-pohon kelapa, burung camar dan laguna dengan airnya yang hijau nan jernih. Jemy sudah berkeliling dan kakinya mulai terasa sakit serta perih. Ternyata berjalan tanpa alas kaki cukup menyakitkan apa lagi begitu hendak menginjak tanah dengan butiran kerikil yang lebih besar bercampur pecahan cangkang kerang, Jemy sudah coba berjinjit-jinjit tapi percuma, kakinya semakin terpincang-pincang. Gadis itu mulai memperhatikan benda apa saja yang tersangkut di bibir pantai. Coba menemukan sesuatu yang bisa dia pakai sebagai alas kaki. Sampah plastik adalah material yang paling banyak dibawa arus, botol-botol bekas minuman, kaleng, styrofoam, bahkan galon-galon besar juga ada. Bertapa mengerikannya ulah manusia yang sudah mengotori tiap sudut planet ini. Bahkan tempat yang belum pernah mereka injak pun bisa ikut mereka kotori. Tapi dalam kondisi seperti ini barang-barang sampah  tak berguna yang biasanya hanya mereka abaikan itu bisa jadi sangat berharga.

Jemy kembali menghampiri Adam yang sedang menjemur sepatunya di atas karang. Pria itu masih terkejut melihat Jemy kembali dengan sepasang sendal jepit beda jenis dan warna bahkan sepertinya sendal yang dia pakai itu kana semua. Sungguh sebenarnya Adam  ingin tertawa jika bukan karena wanita itu lebih dulu menegurnya.

"Jangan tertawa!"

Bayangkan saja bagaimana wanita yang biasanya mengenakan sepatu Louboutin tiba-tiba harus memungut sampah untuk dia pakai.

"Sudah kubilang jangan tertawa!" bentak Jemy sekali lagi karena Adam masih belum mau berpaling dan bahkan sengaja melipat tangan di dada seolah sangat  menikmati pemandangan di depannya.

Bukannya takut pria itu jadinya malah benar-benar tertawa.

"Silahkan kau gila sendiri di sini!" Jemy hanya berdesis kesal baru kemudian segera  berpaling  mengabaikan Adam.

"Kau mau kemana?" heran Adam melihat Jemy berjalan ke dalam pulau.

"Mencari air!" tegas gadis itu lumayan ketus.

"Untuk apa?"

"Itu hal pertama yang diajarkan untuk bertahan hidup. Kita bisa hidup selama dua minggu tanpa makanan  tapi kita akan segera mati dalam tiga  hari tanpa minum.

"Dari mana gadis sepertimu bisa tahu hal macam itu?" cemooh Adam seolah tidak percaya sama sekali.

"Kau pikir aku hanya menyaksikan America's Next Top Model? aku juga mengikuti tayangan Bear Grylls!"

"Mungkin aku akan lebih memilih minum air kelapa dari pada air dari tanah yang juga diminum binatang."

"Tunggu saja tiga hari kau akan diare dan lebih cepat mati karena dehidrasi," acuh Jemy tetap pergi mengabaikan pria manja di belakangnya.

Tadi sebenarnya Jemy sudah mencicipi air di laguna, tapi semuanya payau dan tidak bisa diminum. Karen itu dia pikir ia harus masuk lebih dalam lagi jika ingin menemukan sumber air.

Jemy mulai menyibak semak-semak hampir setinggi lutut karena memang sama sekali tidak ada jalan setapak yang menandakan jejak keberadaan manusia. Tepian pulau sebenarnya tidak terlalu lebat karena tanahnya masih berpasir tapi beberapa semak dan pandan berduri tajam harus tetap dia hindari apa lagi dengan pakaiannya yang minim seperti ini. Jemy juga tidak tahu jika duri-duri tersebut bisa saja beracun, dia harus waspada karena mereka sedang tidak memiliki persediaan medis sama sekali.

Jemy sudah masuk cukup dalam tapi belum juga menemukan apa pun yang menyerupai sumber air atau bekas aliran air karena tanahnya masih tetap berpasir. Ia mulai cemas karena pulau dengan perbukitan rendah seperti ini bisa jadi memang tidak memiliki sumber air tawar. Sudah hampir satu jam dirinya berputar-putar tapi tetap belum mendapatkan  hasil  apa-apa dan hanya tenggorokannya saja yang terasa semakin kering karena memang dirinya belum minum apa-apa sepanjang hari ini. Sebenarnya Jemy ingin masuk lebih dalam kebagian yang lebih lebat tumbuhannya, tapi agak takut jika sendiri. Jemy tahu pasti akan banyak ular atau kala jengking di tempat seperti ini.

Jemy kembali menghampiri Adam yang sedari tadi ternyata memang hanya bersantai seperti orang yang sedang berlibur di pantai sambil berjemur dan memandangi ombak untuk membuat kulitnya coklat.

"Kenapa kau kemari apa kau sudah dapat air?" tanya Adam sambil mengeryitkan matanya yang silau.

"Belum tapi aku keburu haus, apa kau bisa memetik kelapa dulu?"

"Belum pernah kucoba."

"Ayo bangunlah dulu aku haus." Jemy memaksa pria itu untuk bangkit agar tidak bermalas-malasan dan segera sadar jika hidup mereka sedang dalam bahaya.

Jemy menarik Adam ke salah satu pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi tapi sudah berbuah.

"Bagaimana cara memetiknya?" dia malah balik bertanya.

"Kau harus memanjatnya."

"Dari mana?" Adam benar-benar terlihat tidak tahu apa-apa.

"Jangan bilang kau tidak bisa memanjat kelapa!" heran Jemy dan pria itu memang menggeleng tanpa rasa berdosa.

"Jika aku jadi Erica, aku tidak akan mau menikah dengan pria sepertimu!"

"Semua pria sebenarnya sama brengseknya," acuh Adam.

"Bukan tentang itu!" tegas Jemy. "Yang jelas bukan jenis pria payah yang bahkan memanjat kelapa saja tidak bisa."

"Ini bukan tentang kemampuan aku bisa memanjat atau tidak," kelit Adam tak mau kalah. "Kau lihat sendiri pohon itu sama sekali tidak ada cabangnya kau pikir bagaimana aku bisa memanjat tanpa keahlian."

"Memang sejak kapan pohon kelapa bercabang!"

"Lagi pula untuk apa kau pusing-pusing memikirkan jenis pria, sedangkan yang ada di sini hanya aku."

Jemy langsung menyeringai jijik.

"Bayangkan bagaimana jika kita tidak pernah ditemukan. Artinya cuma aku satu-satunya pilihanmu."

"Walapun aku tidak ditemukan seumur hidup aku tidak akan menyukai pria sepertimu!"

"Baiklah, jangan terlalu jauh dulu berpikir," ralat Adam. "Bayangkan dalam beberapa bulan saja dan  kita mungkin sudah tidak punya pakaian."

Jemy langsung mengoreksi pakaiannya sendiri yang sudah robek bagian tepinya karena tadi tersangkut semak berduri. Gadis itu langsung sadar dan mendekap dadanya sambil melirik curiga pada pria di sampingnya.

"Apa yang kau pikirkan?" ketus Jemy. "Dasar pria otak kotor!"

"Mungkin akan kupinjamkan bajuku dulu jika pakaianmu yang lebih dulu lapuk,"santai Adam sambil balas melirik wanita muda di sampingnya yang tiba-tiba terlihat lucu. "Artinya kau yang akan melihatku telanjang lebih dulu. Seharusnya aku yang lebih khawatir."

"Sudah hentikan omong kosong ini!  lebih baik mulai pikirkan cara  bagaimana kau  bisa memetik kelapa!"

"Apa tidak ada pohon yang lebih rendah."

"Jika ada aku bisa memetik sendiri tidak akan butuh bantuanmu!"

Adam cuma memperhatikan Jemy sambil memiringkan sedikit kepalanya.

"Apa lagi yang kau pikirkan!" tegur gadis itu mulai waspada dengan pria mata keranjang yang kali ini sedang memperhatikan bentuk tubuhnya.

"Berapa berat badanmu?"  tanya Adam tiba-tiba.

"Memang apa urusanmu!"

"Naiklah ke atas punggungku jika beratmu tidak sampai enam puluh kilo."

Jemy diam untuk ikut berpikir. Memang sepertinya dia bisa memetik sendiri jika naik ke punggung Adam. Tapi masalahnya sekarang Jemy hanya memakai sweater rajut sepangkal paha dan harus berdiri di atas punggung seorang pria.

"Apa lagi yang kau tunggu? ayo!" Adam sudah berjongkok mempersilahkan Jemy untuk naik ke atas punggungnya.

"Aku tidak bisa naik ke punggungmu," ragu gadis itu ketika menggeleng pelan.

"Memangnya kenapa?" Adam segera kembali berdiri dan baru sadar ketika melihat gadis di depannya merapatkan paha.

"Aku tidak akan melihat."

Jemy masih belum bergeming.

"Kau boleh menutup mataku jika tidak percaya!"

"Ayo cepat sebelum aku berubah pikiran!" Sepertinya kali ini Adam yang mulai kesal. Karena dia sudah kembali jongkok dan Jemy tetap belum juga bergerak. "Tidak biasanya aku sebaik hati ini mengizinkan seseorang naik ke punggungku."

Terpaksa Jemy memberanikan diri untuk naik ke atas punggung Adam dari pada dituduh rewel.

"Tunggu jangan berdiri dulu biar aku berpegangan."

"Jangan lama-lama, ingat aku belum makan dari kemarin dan harus mengangkat tubuhmu."

"Sudah jangan banyak bicara nanti energimu habis sia-sia."

Adam mulai berdiri dan Jemy meraih buah kelapa yang paling rendah, artinya itu juga buah yang paling tua. Ternyata memetik buah kelapa juga tidak semudah kelihatannya sudah cukup lama dia memutar-mutar buah tersebut tapi tangkainya belum juga mau lepas.

"Apa masih lama?" tanya Adam karena dia tidak diijinkan untuk ikut melihat ke atas.

"Sebentar lagi."

"Ayo cepat punggungku nyeri."

Jemy segera melempar buah kelapa yang berhasil dia tarik dengan luar biasa gembira.

Begitulah akhirnya mereka berdua berhasil memetik buah kelapa meskipun mengunakan cara yang aneh seperti itu tadi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status