Share

Bab 2. Raysaka

Kalau Raysaka bisa memilih, dia pasti tidak mau menikah dengan Rani.

Gadis itu, hanya teman bermainnya saat kecil.

Ia tidak pernah berharap bisa berakhir dengan gadis itu.

Apalagi semenjak ia tahu siapa gadis itu.

Maharani Aqila Dewi, walaupun namanya Maharani, tapi dia bukan ditakdirkan untuk menjadi permaisurinya Saka.

Saka tidak pernah menginginkan atau bermimpi menjadi suami dari Rani.

Sampai suatu saat, ia sadar, bahwa ayahnya hanyalah bawahan dari ayah Rani.

Ayah Rani, Dewangga meminta Saka untuk menjadi suami anaknya.

Saka tentu saja awalnya menolak, ia hanya pernah sekedar bermain dan hanya menganggap Rani adalah temannya. Tidak lebih dari itu.

"Rani kelihatannya suka sama kamu, lebih dari perasaan yang kamu miliki. Saya ingin kamu melamar dia, agar kamu bisa selalu menjaganya."

Cih! Saka tahu pikiran Dewangga. Pria itu hanya ingin anaknya mendapatkan apa yang anaknya suka. Saka benci Rani! Anak manja itu hanya bisa meminta, meminta dan meminta. Tidak ada satupun tingkah dewasa yang bisa Rani lakukan.

Satu hal yang Saka tidak bisa mengerti.

Kenapa harus Saka? Kenapa Rani bisa menyukainya? Sedangkan Saka saja tidak pernah melakukan hal spesial kepada gadis itu.

"Tapi, saya..."

Baru saja Saka ingin menjelaskan betapa tidak bisanya ia menjalankan hubungan tanpa rasa cinta, dan juga hubungan dengan rasa benci atau hal lainnya. Dewangga sudah memotongnya.

"Kamu tahu kan, apa yang bisa saya lakukan. Setiap ucapan yang saya lontarkan, maka itu harus terjadi. Saya tidak perlu mendengarkan apapun lagi."

Rasa sombong atas memiliki semuanya dari pada yang lain.

Itu adalah hal lainnya yang dibenci oleh Saka.

Ayah Saka, Yudis hanya bisa menuruti semua keinginan atasannya. Tanpa memperhatikan perasaan anaknya.

Semua manusia di bumi ini sampah.

Saka tidak bisa lagi membedakan mana yang bodoh dan mana yang benar-benar bodoh.

Mana yang berpura-pura dan mana yang budak.

Mana yang berterima kasih dan mana yang tidak tahu terima kasih.

Walaupun Raysaka tahu, siapapun tidak akan ada yang menolak Rani. Siapa yang tidak suka dengan gadis itu? Gadis itu memiliki pesona yang bisa menarik jutaan orang.

Tinggi semampai, mata hitam yang selalu berbinar, wajah mungil yang membuang gemas, hidungnya pun mancung. Bahkan jika gadis itu daftar menjadi bintang idola, Saka yakin gadis itu akan diterima dengan senang hati.

Tapi bukan itu yang Saka inginkan, ia tidak butuh gadis yang cantik dan kaya raya.

Ia hanya ingin membangun keluarga sederhana dan saling mencintai. Hidup dalam keadaan damai dan harmonis.

Seberapa keras ia mencoba untuk mencintai Rani, rasanya ia malah semakin kesal setiap melihat gadis itu. Ada rasa penolakan kental yang ia rasakan di tubuhnya, bahkan darah yang mengalir di tubuhnya pun rasanya menolak berdekatan dengan gadis itu.

Ia hanya tidak ingin bergerak terlalu jauh, ia akan menunggu gadis itu hingga bosan bermain dengannya, mungkin itu lebih baik.

Bagi Rani ia hanya mainan bukan?

Boneka yang sebentar lagi akan dibuang jika ada boneka lain.

"Hanya Rani yang boleh mencampakkan kamu. Kamu tahu apa yang bisa kamu lakukan."

Perkataan-perkataan itu menyakiti dirinya setiap saat. Dewangga begitu jahat. Semua terngiang di telinga Saka, apalagi jika berdekatan dengan Rani.

Rasa-rasanya Saka ingin mengasingkan diri, menghilang dan bahkan pergi dari dunia.

Semua hal-hal manis yang terpaksa ia lakukan.

Pacaran, pertunangan, lamaran hingga pernikahan.

Hanya saat empat hal itu saja yang ia lakukan dengan wajah manis.

Setelah itu, semuanya pahit.

Saka tidak pernah mencoba-coba untuk memalsukan segala sesuatu yang ia benci.

Entah sampai kapan ini akan terjadi.

'Jiwa yang tersiksa itu lah neraka, jiwa yang bahagia, itu lah surga.'

Sampai kapan Saka akan berada di neraka naungan Dewangga.

Setidaknya umurnya masih cukup muda untuk menanti ini semua.

Ia lebih memilih untuk sendirian saja di hidupnya setelah ini, setelah semuanya berakhir.

"Permisi, Mas Ray."

Ucapan sekretaris Saka, Putri begitu hendak masuk ke dalam ruangan.

Penampilan putri sangat dewasa. Berbeda dengan Rani yang seperti girlband korea yang unyu-unyu, Putri menampilkan kesan berani dan seksi.

Tapi mau seperti apapun penampilan manusia berjenis kelamin perempuan yang berada di hadapan Saka, ia sudah tidak berselera. Bukan berarti ia menyukai sesama kaumnya.

Namun, entahlah, ia sudah kehilangan selera untuk semuanya.

Saka hanya menoleh, dan Putri sudah melenggak-lenggok ke arah Saka.

"Ini ya mas berkas yang harus dibaca dan ditandatangani."

Saka mengambil berkas itu.

"Kamu boleh keluar."

Putri tersenyum manis.

"Baik, mas."

Rahang Saka mengeras. Jijik dengan perempuan-perempuan yang ia temui. Semua senyuman itu seperti tidak ada artinya.

Kenapa mereka tersenyum bahkan ketika tidak ada hal yang harus disenangi?Apakah senyum mereka begitu murah?

Saka tidak begitu menyukai keramaian, tentu juga suara berisik.

Ia memang tidak banyak suara, tapi juga bukan pendiam.

Bukan introvert, tapi bukan juga ekstrovert. Lalu apakah dia ambivert? Mungkin.

Saat membaca berkas, ia melihat berkas yang istrinya tadi ambilkan.

Saka sedikit melamun.

Semua kejadian ini, karena dirinya sendiri yang pelupa, harusnya tadi malam setelah lembur ia langsung memasukkan berkas ini ke dalam tas kerjanya. Harusnya dia ingat, karena meeting hari ini ia harus hadir dengan baik dikarenakan Dewangga akan datang dan hadir.

Saka menarik napas dengan dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan.

Saat ia memejamkan matanya sebentar untuk menetralkan pikirannya sendiri, tiba-tiba ada yang membuka pintu tanpa mengetuk, Saka terkejut.

Ia pun langsung tegak dan tunduk hormat.

"Pak Dewangga."

Dewangga berjalan dan duduk di sofa yang berada di tengah ruangan Saka.

"Apakah anakku membuatmu lelah?"

Saka bingung, ke arah mana Dewangga berbicara. Ia hanya akan mendengarkan Dewangga saja.

"Melihat wajahmu yang lelah, aku harap akan membuahkan hasil. Karena aku juga cukup tua dan sudah cocok mempunyai cucu."

Lagi-lagi Saka terkejut.

Bagaimana bisa Dewangga mempunyai cucu sedangkan anaknya saja tidak pernah Saka sentuh?

"Aku harap aku bisa segera menggendongnya. Mengingat sudah... Dua tahun usia pernikahan kalian."

Dewangga memantau reaksi Saka, ia tahu anak muda di depannya ini membencinya, dan bagaimana kelakuan anak ini terhadap anaknya.

Dewangga tahu semuanya.

Memang matanya hanya dua, tapi mata-matanya ada dimana-mana.

"Doakan saja."

Hanya itu yang bisa terucap dari bibir Saka.

Dewangga hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

"Jangan biarkan aku terlalu lama tidak melihat putriku sendiri. Walaupun dia milikmu sekarang tetapi aku juga ayahnya."

Saka ingin sekali berdecih.

Milikku? Jelas-jelas aku lah yang miliknya.

Saka ingin memberikan tepuk tangan yang paling meriah untuk ayah mertuanya ini. Hebat sekali aktingnya. Anak jadi idol, ayah menjadi aktor. Cocok sekali.

"Kalau begitu, Minggu ini kami akan ke rumah anda."

Saka masih tidak bisa memanggil Dewangga dengan sebutan Ayah.

Hatinya masih belum menerima.

Ia hanya akan memanggil pria itu Ayah di saat-saat tertentu, misalnya saat ada Rani diantara mereka.

Dewangga pun tegak dari tempat duduknya,

"Ku tunggu."

Sambil mengetuk-ngetuk jarinya beberapa kali, Dewangga melanjutkan lagi ucapannya.

"Presentasi lah dengan baik. Menantu yang baik tidak akan mempermalukan mertuanya."

Lalu dewangga keluar dengan pelan dari ruangan itu. Setelah pintu benar-benar tertutup, Saka menggebuk sofanya dengan tangannya sendiri. Anggap saja ia seorang pengecut buangan.

Ia ingin teriak. Sekian lama ia sudah mendengar ucapan demi ucapan Dewangga, tapi tetap saja ia tidak bisa menahan rasa kesalnya sendiri dan tidak ada perlawanan yang bisa ia lakukan.

Untuk apa Dewangga selalu melontarkan kalimat-kalimat seperti itu?

Padahal Dewangga tahu bahwa Saka tidak pernah membuat kesalahan sedikit pun.

Salah apa yang Saka miliki sehingga Dewangga bisa bersikap seperti ini.

Yudis, ayahnya saja selalu setia dengan Dewangga.

Lalu apa?

Ponsel Saka berbunyi, menandakan bahwa ada pesan yang masuk.

Maharani

Saka makan apa siang ini? Rani udah masak lho kalau Saka mau pulang. Tapi kalau Saka ga pulang, jangan lupa makan ya.

Rani sayang Saka.

Isi pesan Rani selalu dibaca oleh Saka.

Tapi Saka tidak pernah membalas.

Yang penting-penting saja yang akan ia balas.

Saka melihat foto profil Rani, foto mereka berdua saat resepsi pernikahan mereka.

Hanya Rani yang tersenyum sampai terlihat gigi rapihnya.

Saka hanya tersenyum kaku.

Kenapa juga Rani harus memasang foto profilnya yang malah membuat dirinya sendiri menyedihkan.

Saka langsung menyimpan ponselnya kembali ke dalam kantung celananya.

Jangan harap ia akan pulang.

Saka akan pulang saat urusan kantor sudah selesai nanti.

Cukup saja ia sudah pulang tadi dan harus mengganti kemejanya. Sudah seperti apa saja.

Untung saja tidak ada yang memperhatikan atau tidak ada yang menanyakan kenapa ia mengganti kemejanya.

Besok-besok tidak akan ada lagi seperti hari ini.

Pokoknya, tidak.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status