Sheet 6

Pesan dari Bryce membuat perasaanku memburuk. Aku bahkan tak mau pulang ke flat karena membuatku terus berpikiran. Akhirnya, aku memutuskan untuk tetap tinggal di rumah Mommy, menghabiskan waktu bersama Kelsea. 

Aku sedang sarapan walau bangun terlambat, karena tetap terjaga semalaman dan tak bersemangat sepanjang hari. 

Musim dingin memang membuatku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, padahal aku tak boleh bermalas-malasan, Mommy selalu mengajarkan kami untuk dispilin, musim dingin bukan menjadi alasan untuk bermalas-malasan. 

"Hari ini Mommy masak soup buntut. Musim dingin kita butuh yang hangat-hangat." Aku tersenyum pada Mommy yang mulai sibuk di dapur. Wanita ini begitu lincah dan tak pernah merasa lelah, setiap hari bolak-balik ada saja yang dilakukan. Mommy bukan orang yang senang untuk berleha-leha, tangannya seolah dibuat untuk terus bekerja. Semangat Mommy perlu dicontoh, walau sekarang aku tak bersemangat sedikitpun. 

Daddy, Verena, Asher sudah pergi sedari tadi. Kelsea belum bangun. Mommy juga tidak cerewet jika kami bangun terlambat, Mommy lebih suka melakukan semuanya sendirian walau kami diajarkan untuk mandiri sedari kecil. 

Kulihat Kelsea baru bangun dengan wajah kusutnya, bahkan dia tidak cuci muka. Ya siapa yang mau menyentuh air yang sedingin es, lebih baik semuanya memilih terus mengurung diri di balik selimut. 

Kelsea langsung membuatkan sarapan untuk dirinya. Membuat oat dengan potongan buah-buah di atasnya. 

Aku sudah memberi pesan pada Paula dan Lisie jika aku akan terlambat ke toko hari ini, atau mungkin rencananya aku tidak akan kesana. 

Kelsea makan begitu lahap, seperti orang kelaparan betul. Makannya begitu rakus, bahkan minum susu seperti orang kehausan setelah lari maraton setelah lari 10 kilometer. 

Kelsea melihatku yang memperhatikannya dan melanjutkan makan. Kelsea menuangkan lagi susu dalam mangkok dan langsung meminumnya, terkadang saudariku ini berubah. Aku tak lagi mengenal Kelsea yang ceria, tapi wajahnya selalu jutek. 

"Ngapain lihatin aku terus?" tanya Kelsea jutek. Aku langsung menggeleng. 

Kelsea langsung ke dapur dan mungkin membantu Mommy, aku sebenarnya malas tapi daripada aku merasa suntuk. Kelsea seperti tahu dan langsung memotong bawang, membersihkan kentang, dan banyak bumbu lainnya. 

"Cuci dagingnya." Kelsea mencuci dagingnya dan Mommy menumis bumbunya. 

"Kok kamu pandai masak sekarang?" Aku berdiri di samping Kelsea, dia mengedihkan bahunya. 

"Di rumah nenek, kalau nggak kerja nenek ngomel terus. Jadi tiap hari bantu nenek terus." 

"Oh ya?" Kelsea menatapku dan menarik napas panjang. 

Dia sekarang langsung membereskan, semua barang-barang yang berserakan. Dan mencucinya. Waoh, Kelsea berubah rajin, padahal seingatku ia begitu pemalas dan aku jadi terikut pemalas, malah Kelsea begitu rajin sekarang. 

Dapur sudah bersih, dan Mommy juga sudah memasukan sayur-sayuran setelah daging empuk. 

"Skye mau makan lagi?" Aku menggeleng. Mommy langsung meletakkan soup tadi di mangkok dan menyuruh Kelsea meletakan di meja makan. Kelsea begitu rajin mengemas sekarang, apa benar ia berubah dan jadi rajin? Apa mungkin Bryce sialan meninggalkan aku karena aku pemalas? 

"Skye mau ke toko roti? Biar Mommy antar." Aku menggeleng lagi. 

"Sama Kelsea." Aku menunjuk Kelsea yang sibuk membersihkan dapur. 

"Oh boleh. Kelsea temanin Skye ke toko roti." Kelsea memandangku jutek, sepertinya ia malas untuk keluar karena cuaca dingin, tapi aku lihat apapun perkataan Mommy Kelsea seperti tak bisa membantahnya. 

"Tidak apa-apa pergi sendiri aja." Aku mencegah Mommy. Tapi kulihat Mommy malah melotot ke Kelsea yang sedang berjongkok membersihkan kulkas. Akhirnya Kelsea berdiri dan keluar dari dapur. 

"Tapi kalau mau istirahat di rumah aja. Nanti Mommy yang ke toko roti." 

"Jangan! Aku bisa kesana." Aku mencegat Mommy. Demi apapun, aku tak ingin merepotkan Mommy. 

Aku langsung masuk ke kamar dan mengganti Coat saat melihat Kelsea keluar dari kamarnya memakai coat tebal berwarna hitam, dan sedikit pemerah di bibir mungkin biar bibirnya tidak kering dan pecah-pecah. Musim dingin membuat kami harus memakai vitamin bibir jika tidak ingin bibir pecah-pecah. 

Kelsea langsung menyambar kunci mobil Mommy. Aku langsung memeluk Mommy dan pergi. 

💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸

Aku dan Kelsea keluar dari mobil dan melihat beberapa pengunjung. Aku tersenyum, kecil-kecil toko roti ini bisa menghiburku. Membuatku memiliki aktivitas yang bermanfaat alih-alih bersedih dengan nasibku yang tak ada habisnya. 

"Itu Bryce." tegur Kelsea. Aku mengepalkan tanganku. Kukira si sialan ini sudah mati, kenapa malah dia kesini lagi? Ingin mengejekku? Tidak cukupkah ia membuat hidupku menderita? 

"Selamat pagi—baiklah sudah siang. Aku ingin memakan roti buatanmu." Bryce sialan tersenyum miring dan mengejekku. Benar aku bilang, dia kesini hanya ingin mengejekku. 

Aku mengepalkan tanganku. Kelsea langsung berdiri di sampingku dan mencubit pinggangku, akhirnya aku mengalah dan masuk ke belakang. 

"Pelanggan kita yang itu terus mencarimu." Aku hanya mengangguk, dan memakai apron mulai langsung memanggang roti yang sudah Lisie masukan sebelumnya. 

Aku mengintip keluar dan melihat Kelsea duduk satu meja bersama Bryce dan kekasihnya. Sialan! Pemandangan apa itu? Sangat-sangat menganggu estetika di mataku. 

Apa aku pernah bilang jika Bryce adalah teman sekolah kami? Kenapa dia bisa akrab bersama Kelsea? Karena awalnya si sialan itu menyukai Kelsea, tapi Kelsea menolaknya berkali-kali dan mungkin ia melirikku. Dari dulu, jika disandingkan dengan Kelsea aku selalu jadi yang kedua. Mungkin alasan ini juga Kelsea mengalah dan ia pindah ke Indonesia, karena ia ingin aku menjadi yang nomor satu karena selama ini semua orang akan melihat pada Kelsea setelah itu padaku. Tapi hal itu tidak lantas membuatku membenci saudariku, aku tahu kadang Kelsea lebih mengalah dengan adik-adiknya. 

Semua laki-laki akan menjadikanku yang terakhir setelah dibuang Kelsea. Aku tak pernah membandingkan fisik kami, karena tahu semua orang punya sisi yang menarik masing-masing. Tapi tetap saja, aku selalu jadi yang terakhir setelah Kelsea. Jika Kelsea tidak melirik mereka maka, mereka akan melirikku. Bisa dibilang, si Bryce sialan itu laki-laki sad boy yang dicampakkan saudariku berkali-kali, mungkin ia menyerah dan langsung melihat ke arahku yang langsung menerimanya dengan tangan terbuka. Terkadang aku tak mau suudzon, tapi begitu faktanya. 

Aku takut—takut sekali jika suatu hari Bryce kembali mengejar Kelsea. Status kami berubah dan Kelsea juga belum terikat jadi tidak ada yang tidak mungkin. Satu-satunya hal yang membuatku berpikir waras adalah orang tua kami yang tidak akan menyetujui hal bodoh itu. Hanya itu satu-satunya pengangan buatku. Walau aku juga percaya pada Kelsea. 

Aku menarik napas panjang. Rasanya mau menangis, tapi cukup sudah air mataku keluar untuk si  Bryce sialan itu. Aku tak ingin meratapi apapun yang berhubungan dengannya. Aku melirik ke perutku yang rata, bagaimana mungkin aku bisa membawa anak dari laki-laki sebrengsek Bryce. 

"Rotinya gosong." tegur Lisie. Aku menyeka air mataku, tak bisa, air mata ini turun tanpa bisa kucegah. Lisie langsung mengeluarkan roti tadi. Karena penerangan tidak begitu terang, aku yakin Lisie tak bisa melihat air mataku, walau dari gesture semuanya terlihat jelas. Bertemu Bryce membuat moodku terjun bebas. 

Aku keluar dari ruang belakang dan melihat Kelsea dan Bryce sudah tertawa. Bahkan sudah begitu akrab dengan kekasih Bryce. Apa Kelsea tidak curiga, jika si sialan itu membawa kekasihnya? 

"Aduh lama sekali rotinya. Ususku bisa putus kelamaan menunggu." gerutu Bryce. Shit! Bisa-bisanya aku mencintai manusia tak punya hati seperti ini? Apa jangan-jangan aku yang tidak waras sebenarnya. 

"Well, aku sepertinya harus bilang, jika pelayanan di toko roti ini tidak menyenangkan sama sekali." sindir Bryce. Rasanya aku ingin mengambil roti panas dan melemparkan langsung ke wajah Bryce agar ia membuka matanya dengan begitu lebar dan berhenti menyebalkan. 

Dengan mengelakkan tanganku dan ekspresi wajahku yang siap melahap orang, aku melayani si sialan ini. Sekarang ia bertingkah seperti seorang penggangguran bukannya bekerja. 

"Aku mau juga rotinya." pesan Kelsea. Ini akan menambah daftar panjang mereka duduk di sini. 

Aku langsung meletakkan roti itu di hadapan Kelsea dan Bryce. 

"Mungkin kau harus mengundangku ke Indonesia?" Kelsea mengangguk. Sialan! Bentuk penjajakan baru, apa aku harus suudzon juga sekarang? Tapi Kelsea adalah saudariku, dia tak mungkin seperti itu, tapi aku tak berhak untuk cemburu, hubunganku dan si sialan ini hanya sebatas mantan. Pernikahan itu kandas bahkan belum saatnya kami merayakan satu tahun pernikahan. Apa si sialan ini sengaja mengikatku, setelah itu dia akhirnya memilih Kelsea seperti ia remaja dulu? Memikirkan semua ini rasanya kepalaku mau pecah. 

"Skye duduk sini." Yang kulakukan hanya mampu mengepalkan tanganku dan akhirnya berani mendekat. 

"Ini dia Alicia teman sekolah kita dulu." Aku mengangkat alisku. Benarkah? Rasanya aku tak pernah tahu punya teman bernama Alicia. Atau mungkin masalahku akhir-akhir ini yang membuatku tak kenal orang lain lagi. Semua karena Bryce sialan! 

"Duduk di sini aja." Aku hanya diam, dan melirik pada Bryce yang terus saja mengejekku. Si sialan ini! Entah kenapa melihat wajah Bryce membuatku ingin terus mengumpat dan mengeluarkan banyak kata kasar sebanyak mungkin. 

"Bukankah Indonesia itu negara yang padat?" 

"Ya padat sekali. Populasi manusia terbanyak ke 4 di dunia." Sepertinya Bryce sengaja ingin menarik perhatian Kelsea. Apa aku harus suudzon. Aku meremas coat tebal yang bahkan belum kubuka. 

"Kalian bahkan bisa bulan madu di sana. Walau orang di sana, bulan madu kebayankan memilih di sini." Rasanya malas sekali mendengar pembicaraan yang tidak bermutu sama sekali. Atau karena hatiku dipenuhi dendam. Anggap saja aku memang cemburu. 

Dulu, saat si sialan ini melamarku, aku merasa memang ia sudah benar-benar melupakan Kelsea. Apalagi saat masa pacaran dan awal pernikahan kami ia begitu manis. Mungkin tujuannya untuk memiliki Kelsea sirna dan tujuannya tidak tercapai. Karena dari awal Kelsea tak pernah meliriknya. Bryce sad boy yang menyedihkan, tapi saat dipikirkan lagi rupanya hidupku yang lebih menyedihkan. 

"Aku sakit perut. Sepertinya aku pulang saja." Aku berpamitan pada Kelsea agar dia pulang saja, karena aku ingin pulang juga. Meringkuk seharian di flat dan terus menangis meratapi nasibku yang tak ada bagusnya. 

Aku membuka apron dan langsung keluar menuju flat. 

Aku hanya menunduk. Aku tahu akhir-akhir ini aku bersikap sangat kekanakan, tapi apapun yang berhubungan dengan Bryce aku selalu merasa sial. 

"Kamu cemburu!" What? Sialan! 

"Kamu cemburu sayang? Jadilah perempuan yang smart, agar tidak dibodohi orang lain sayang." Semua perkara Bryce membuat pipiku makin memanas. 

"Apa dengan merendahkan orang lain, kamu sudah merasa jadi superior?" Aku berbalik dan membalasnya tapi aku selalu terlihat lemah di hadapannya karena air mataku tak bisa kucegah. Aku memang bodoh dan lemah. Trus kenapa? Si sialan akan merayakan dan berpesta karena semua kebodohanku? 

"Ikut aku!" Bryce langsung menarik tubuhku. Sialan! Bagaimana kalau aku keguguran sekarang? Apa saat tahu aku hamil, laki-laki ini bisa bersikap lembut? Atau malah tak bersikap seenaknya seperti ini? Atau malah Bryce tak mau mengakui anaknya? Memikirkan ini membuat kepalaku mau pecah. 

"Aku tak mau!" 

"Atau mau kugendong? Kau sepertinya rindu, aku mengendongmu ke kasur dan kita bercinta dengan panas. Atau kau mau yang seperti itu?" 

"Mati saja kau pergi ke neraka!" Aku langsung menginjak kaki Bryce karena kesal, kelewat kesal. Bagaimana mungkin manusia sialan seperti ini, bisa menghirup oksigen sebebas mungkin? 

"Ahhh sialan! Turunkan aku!" Bryce langsung mengangkat tubuhku. Aku yakin, Kelsea bisa melihat adegan ini. 

💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸

"Kau wanita bodoh, naive, dan keras kepala!" guman Bryce. Lihat? Dia seperti tak punya otak untuk mengatai orang lain seperti itu. Sepertinya dia akan puas jika dia mengejekku. 

"Terima kasih pujiannya." jawabku sarkas. 

"Memang saudarimu lebih baik daripada kau!" 

"Kenapa kau tak menikah sama dia saja?!" Aku sudah berteriak. Kesabaranku habis, dan Bryce terus mengerus semua stok kesabaran. 

"Sebentar lagi!" Aku mengepalkan tanganku dan siap menampar Bryce. Dia malah menahan tanganku. Si sialan ini memarkirkan mobilnya, dan aku merasa sangat asing dengan tempat ini. Tempat apa ini? 

"Turun!" Aku sengaja tak mau turun. Tapi Bryce mengode untuk turun, tapi aku malas sekali untuk melayani dirinya. 

"Turun atau aku kugendong lagi? Kau memang ingin bermanja-manja denganku sayang." 

Aku langsung keluar dan membanting pintu mobil Bryce sekuat mungkin, kalau boleh ingin agar mobil itu patah. 

Bryce langsung menggengam tanganku, aku langsung terdiam. Dasar wanita kurang belaian! Sialan! 

"Inilah kebodohamu yang ingin kutunjukan." Aku langsung mencubit tangan Bryce tapi ia tak terpengaruh sama sekali. Huh, enyah saja manusia sialan ini dari planet bumi. 

"Untuk apa kita ke kuburan?" 

"See? Kamu mempertanyakan kebodohamu lagi!" 

"Bryce sialan! Aku serius." Aku berteriak. Bryce berdiri dan memperhatikan aku, laki-laki ini seperti terhibur sekali melihatku berteriak seperti orang kesurupan. 

"Aku ingin menunjukan kebodohanmu, yang akan disembunyikan oleh keluargamu." Kami berdiri di sebuah sebuah makam. 

Alicia Poldi. 

Aku seperti tidak asing dengan nama ini. Tapi lupa nama siapa.  

"Itu adalah kembaranmu!" Aku melirik pada Bryce. Wajahnya serius. Apa benar aku punya kembaran? Tapi itu tidak mungkin! Mustahil! Mommy tak pernah menyingung anak kembar atau kehilangan anak. 

"Ck! Sudah berapa ratus lagi kebodohamu!" decak Bryce. Aku langsung menginjak kakinya karena kesal. Dia selalu membuatku darah tinggi. 

"Coba lihat tanggal lahirnya, apakah tanggal lahirnya sama?" Aku membaca lagi tanggal lahirnya. 5 Juni. Wait! Aku lahir tanggal 2 September. Jadi makaudnya bagaimana? 

"Otakmu sebenarnya isinya berapa Pentium?" 

"Sialan Bryce! Kenapa kau terus saja merendahkanku?" 

"Dengar Skye Nerve. Nama itu adalah nama yang orang ini berikan." 

"Bagaimana mungkin?" tanyaku tak percaya. 

"Karena Alicia ini adalah ibu kandungmu!" Rasanya seperti disambar petir. Bahkan, anak dalam perutku ikut tersambar petir! Bagaimana mungkin? Tapi tidak! Aku menolak semua ini. Mommy-ku adalah wanita paling luar biasa yang kutemui. Mommy sangat menyayangiku, Mommy tak pernah memarahiku alih-alih memarahi Kelsea. Jika menyuruh Mommy lebih menyuruh Kelsea daripada menyuruhku. Mommy seperti segan untuk menyusahkan aku dan aku tahu itu bentuk kasih sayang Mommy padaku. 

"Maksud kau apa Bryce?" Aku mendongak menatap Bryce dengan air mata penuh. 

"Bisa dibilang kau dibodohi oleh semua keluargamu! Bagaimana mereka menyimpan semua ini dengan rapi, jika aku tak bilang maka selamanya kau tidak akan pernah tahu siapa wanita yang telah melahirkan kau ke dunia." Aku memandangi tanggal kematian dan itu terjadi sekitar 18 tahun yang lalu. Bukankah ini sudah lama sekali? 

"Aku tak pernah percaya sedikitpun pada keluargamu!" 

"Dan kau menyuruhku untuk membenci keluargaku sendiri? Kau bajingan Bryce! Kau pantas mati!" 

Aku langsung berlari dari kuburan itu. Bryce gila! 

Tanpa Bryce dan semua orang sadari, sebenarnya aku sudah tahu kasus ini. Tapi hingga detik ini aku masih denial, jika ibu kandungku orang lain. Bukan wanita luar biasa yang selama ini merawatku, aku masih berusaha mengelak takdir dan berharap masuk dalam perut Mommy dan bisa keluar dari perut Mommy. 

Aku menolak semua konspirasi ini! Hanya Mommy orang tua kandungku! 

💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸💸

Untuk bagaimana Skye bisa tahu awal ibu kandungnya, aku bahas di kisah Kelsea. Tapi aku masih belum matang mikirin konsep cerita Kelsea seperti apa. Jadi tungguin aja hehehe. 

Ikutin terus kisah mereka ya🥳🥳🥳🥳. 

Yg belum baca orang tua Skye baca Guten Tag Mommy. Bagaimana semua kisah ini dimulai. Kalian akan berkenalan sama Alicia. 

See you🥰🥰🥰🥰🤩🤩🤩🤩.

Kasih rate🥰🥰🥰🥰🥰🥰. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status