BAB 5

Mike baru saja menyelesaikan rapat dan dia berjalan menuju ruangannya hanya untuk mengambil beberapa dokumen dan tentu saja MacBook miliknya yang tertinggal di atas meja. Baru saja dia hendak masuk ke lift saat Jake memanggil dan berlari tergesa-gesa sehingga napasnya sedikit terputus-putus. Mike menghentikan jarinya yang hendak menekan tombol lift dan melemparkan tatapan membunuh pada sahabatnya, karena pria itu tidak menghadiri rapat dan pergi entah ke mana.

“Bagus, kau datang di saat aku menyelesaikan rapat dan hendak pulang ke rumahku yang nyaman,” sindir Mike dengan mimik datar dan tatapan mencela.

Jake menormalkan napas, meminta jeda pada Mike agar dia diberi waktu untuk menghirup oksigen yang menipis di paru-parunya. Setelah merasa cukup, Jake melihat Mike dengan pandangan meminta maaf. Dia tahu bahwa dirinya melakukan kesalahan dengan meninggalkan tanggung jawab.

“Berikan satu alasan masuk akal sebelum aku pergi dan mengirimmu surat pemecatan besok pagi.” Mike tidak benar-benar melakukannya, itu hanya gertakan yang tidak bernilai di mata Jake, karena perkataannya tadi lebih mengarah pada rasa kesal.

“Kau harus tahu bahwa mangsamu sedang dalam masalah dan bila tidak kau tandai, dia akan pergi bersama pemburu lainnya.”

Mike menatap Jake dengan jijik karena tidak mengerti maksudnya, dia tidak suka mendengar kata pemburu dan apa itu ... mangsa, terdengar seperti mereka baru saja memainkan kata berburu di padang ilalang. Jake memang bisa menjadi orang yang suka mendramatisir keadaan, dan membuat Mike takjub karena sahabatnya memiliki otak yang cerdas berbanding ke bawah dengan kepribadiannya.

“Perjelas dengan bahasa manusia Jake!” ketus Mike masih berdiri dengan posisi seolah-olah dirinya adalah senior yang mengerjai juniornya.

Jake mendengus kesal, dia tahu Mike paham maksud perkataannya, tetapi mereka seakan berputar-putar di tempat yang sama. Mike masih berdiri dengan sabar, tetapi rasa pegal menguasai hingga dia memilih memasuki lift dan melakukan pembicaraan di ruangannya saja sehingga tidak ada yang mendengar sandi-sandi dari mulut Jake.

Ketika Mike telah sampai di ruangan kekuasaannya, barulah Jake memilih buka suara dan hendak mengatakan semua.

“Rentenir-rentenir itu mendatanginya dan sepertinya gadis itu tidak bisa melunasi hutang Hendri, aku takut dia diperlakukan semena-mena oleh mereka,” kata Jake menjelaskan sedangkan Mike hanya duduk santai di kursi seolah tak acuh dengan penjelasan itu.

“Lalu, apa kau memiliki rencana?” Mike membereskan meja kerja dan menaruh semua barang-barang miliknya ke dalam tas, lalu bergabung bersama Jake di sofa.

“Mike, kalau kita menunggu hingga jatuh tempo, dia pasti sudah dibawa entah kebelahan dunia yang mana. Ada baiknya kita memberitahukan masalah kontrak itu sekarang,” kata Jake sembari mengeluarkan ponselnya yang bergetar. Dia berhenti berbicara dan menatap layar ponsel itu lama. Wajahnya mendongak, melihat Mike dengan takut-takut.

“Ada apa Jake?” tanya Mike sedikit tidak suka dengan perubahan suasana yang tiba-tiba.

Jake menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Mmm... Mike, itu....” Jake melihat Mike yang hanya memandanganya tanpa menjawab. Dia tahu, Mike tidak sedang menunggunya berbicara, hanya saja pria itu diam karena tidak berminat melanjutkan, namun ini sesuatu yang penting dan Mike harus tahu.

“Gadis itu sudah ada di rumahmu, dan ... dia baru sa-

ja ...

Belum sempat Jake menyelesaikan ucapan, Mike pun membentak. Kilatan marah serta emosi tertahan menguar kuat dari wajah Mike yang sudah mengeras dengan rahang mengetat.

“Sejak kapan aku memperbolehkanmu membawa gadis itu ke rumahku?! Bukankah aku menyuruhmu untuk menunggu beberapa bulan lagi?!”

Jake menggaruk kepalanya dengan salah tingkah. Dia bergerak gelisah dari tempat duduknya dan matanya berkedip tanda ragu.

“Aku tahu, tapi sudah kukatan padamu alasannya di awal tadi. Bagian mana yang membuatmu tidak mengerti kalau gadis itu dalam bahaya?” tanya Jake masih dengan pembawaannya yang tenang.

Mike mendengus jengkel. Dia menyadari itu, hanya saja dia tidak suka ada orang asing berada di rumahnya. Orang asing? Pantaskah dia menyebut wanita yang akan segera dia nikahi sebagai orang asing?

“Lalu, apa lagi?” Kini Mike sudah bisa mengontrol suara.

Jake menatapnya bingung membuat kejengkelan Mike bertambah.

“Bukankah kau bilang kalau dia di rumahku dan ucapanmu masih belum selesai!”

Akhirnya Jake paham. Dia mengangguk dan melanjutkan kembali apa yang sempat tertunda. Mike menggeleng melihat Jake berubah menjadi idiot di matanya.

“Dan ... dia ... melempari peralatan rumahmu hingga membuat keributan serta—” belum selesai Jake mengatakan semua, Mike langsung berdiri dan menyeretnya keluar dari sana.

“Mike, apa yang kau lakukan? Jangan menyeretku di depan karyawanmu!” bentak jake, memandang malu-malu pada kumpulan wanita yang mereka lewati. Karyawan di MikeHill Corporate menatap mereka berdua dengan geli, namun mereka membuang pandangan seolah tidak melihat kejadian barusan.

“Sejak kapan kau peduli dengan karyawanku? Kau bahkan tidak pernah menganggap mereka sebagai bawahanku, melainkan sebagai target wanita kencanmu. Dan biarkan saja mereka melihat betapa memalukannya dirimu,” desis Mike masih terus menarik Jake hingga ke lift.

“Ya Tuhan, lenyapkan saja aku dari sini. Oh Mike! Ini benar-benar memalukan, kau boleh memperlakukanku seperti apa yang kau mau, tapi tidak dengan cara ini!” katanya, berusaha melepaskan cengkraman Mike di kerah jasnya yang membuatnya terseret dengan langkah tertatih-tatih hingga mereka tiba di dalam lift.

Jake bergerak menjauh dan mendengus kesal. Dia tidak menutupi perasaannya dan tidak berusaha untuk melakukannya. Mike hanya diam selama meninggalkan MikeHill Corporate dengan chevrolet kesayangan Mike yang diberinya nama Chevi.

...............

Mereka tiba empat puluh lima menit kemudian. Mike lebih dulu keluar dan Jake mengikuti dari belakang. Keduanya tidak mendengar suara keributan apa pun di sana, tetapi saat memasuki ruang tengah barulah kedua pria itu melihat dengan jelas bahwa tempat itu baru saja menjadi arena perang dengan amunisi perabotan mahal serta vas keramik milik Lyly, ibunya Mike yang telah lama meninggal. Rasa marah sudah di ubun-ubun. Ingin rasanya Mike menyeret gadis itu ke hadapannya, tetapi dia menahan diri untuk tidak melakukannya dan lirikan tajam dia arahkan pada satu-satunya orang yang seharusnya bertanggung jawab atas kekacauan yang baru saja terjadi.

“Baiklah, aku akan membereskan ini dan membicara-kannya dengan gadis itu,” kata Jake dengan raut menyesal yang tulus. Dia tahu betapa berharga perabotan itu, bukan karena harganya yang mahal tetapi sejarah dan juga siapa pemilik dari benda-benda itulah yang membuat Mike merasa kehilangan.

“Aku ingin kau menyelesaikan ini. Katakan padanya bahwa dia berhutang padaku atas kekacauan yang baru saja dia perbuat,” ucap Mike dengan intonasi rendah, namun mampu menggetarkan bulu roma siapa saja yang mendengar.

Mike berjalan ke kamar dan dia tidak peduli dengan kekacauan yang ada di bawah. Dirinya terlalu lelah dan ingin segera istirahat. Sementara itu, Jake menghela napas keras, dia merasa pusing dan juga bingung harus berbuat apa.

♥♥♥

Diana meringkuk sambil terisak di tepi tempat tidur. Dia tidak tahu siapa orang-orang itu dan tujuan mereka membawa-nya, namun jelas sekali bahwa mereka bermaksud mengurungnya di kamar yang dia tempati ini. Sekelibat pertanyaan menghantam kepalanya. Berkali-kali dia berspekulasi negatif bahwa dirinya telah dijual oleh rentenir-rentenir itu tanpa sepengetahuannya. Ada perasaan ingin lari dari sana, tetapi dia sudah mencoba tadi, berusaha melakukan apa saja termasuk melempari barang dan melukai pria-pria yang selalu mengapit ke mana pun dia bergerak.

Tetapi tetap saja dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Dia merasa bodoh dan patut ditertawakan karena membuat keributan yang sia-sia. Berkali-kali Diana menghapus air mata yang sudah meleleh sejak beberapa menit yang lalu, dan dirinya tidak tahu apa yang akan orang-orang itu perbuat padanya setelah ini.

Suara gemerincing kunci dan bunyi pintu terbuka membuat bahu Diana menegak waspada. Matanya menatap awas pada pintu kamarnya yang berwarna krem. Seseorang tampak memasuki ruangan dengan senyum yang ramah. Rasa marah bersatu dengan rasa takut saat pria itu semakin mendekat. Diana melirik seisi kamar dan tanpa pikir panjang, dia melempari bantal serta apa pun yang ada di dekatnya.

Pria itu meringis mendapat lemparan darinya, membuat Diana semakin bersemangat untuk terus melempar peralatan yang memenuhi meja di sebelah tempat tidur. Namun dia berhenti saat tidak ada lagi yang bisa digunakan untuk menjadi senjata. Amunisinya sudah kandas. Dengan takut-takut Diana melirik pria yang kini terduduk di lantai dengan wajah meringis. Ada benjolan di keningnya dan hal itu semakin menambah ketakutan Diana.

Aku pasti mati di sini. Ya Tuhan dia pasti membunuhku saat ini juga.

Batinnya dengan tubuh bergetar menahan tangis. Pria itu berdiri, membersihkan celana formal miliknya dan juga jas hitam yang sudah tidak berbentuk terkena taburan bedak. Dia menghela napas dengan frustrasi.

“Kau memang luar biasa, dan kuharap kau benar-benar jadi menikah dengannya,” katanya, menatap Diana dengan manik mata abu-abunya yang tegas. “Dan pasti akan sangat menarik melihat kalian berdua berada dalam lingkaran yang sama. Aku tidak sabar menantikan hal itu.”

Diana menahan perutnya yang mulas saat mendengar kata menikah yang pria itu ucapkan. Kepalanya terasa berputar. Kali ini dia yakin bahwa dirinya telah dijual, atau mungkin lebih buruk dari itu.

Related chapters

DMCA.com Protection Status