Clell Justin Blake
Clell Justin Blake
Author: Koala
clell justin blake

marianna school tempat justin bersekolah. 

Justin anak yang susah di atur. Ia sering sekali membuat ayah nya marah dan menghukum dirinya. Justin juga seorang anak nakal yang selalu memakai obat terlarang dan beberapa kali tertangkap polisi. Beruntung ayahnya yang mengenali juga seorang yang berdampak di kota tersebut membuat Justin tidak di penjara. 

Justin anak tunggal dalam keluarganya membuat dia sangat di sayang ibu nya. Justin mempunyai Geng yang ia nama sendiri dengan nama 'kapak berdarah' yang terdiri dari siswa anak sekolahan lain juga sekolahan nya sekarang. 

Justin hampir tidak pernah mengikuti pelajaran dan hampir setiap hari juga ia membolos sekolah. Justin menjadi ketua geng yang harus mengontrol semua anak buahnya, menjadikannya seorang anak yang kuat. Justin sangat disegani para teman-temannya bahkan guru-gurunya juga tidak ingin berurusan dengan dirinya. 

Justin tidak memandang siapa yang dia lawan kecuali ayah juga ibu nya. 

Pada suatu hari Justin seperti biasa membolos sekolah dan pergi ke markas dekat dengan sekolah nya. Ayahnya akan mengunjungi Justin pada saat jam istirahat. Justin akan kembali nanti pada saat sebelum istirahat. Justin sudah meminta bawahannya untuk dapat berkomunikasi ketika ada ayah nya nanti. 

Justin bermain dengan teman-teman nya di basecamp, lalu menggunakan obat terlarang. Justin yang sudah teler tidak bisa bergerak. Ia mendengar suara dari handphone nya namun tidak dapat di raih. Lalu semakin lama pandangan nya kabur membuat dia tidak sadarkan diri. 

Saat Justin terbangun ia masih berada di tempat basecamp nya. Kepalanya terasa pusing tidak karuan. Lalu ia melihat handphonenya yang sudha menunjukkan pukul 5 sore. Suda sekitar 9 jam ia berada di tempat tersebut. Dan sudah banyak telfon masuk dari temannya itu. Justin yang masih pusing bangkit berdiri. Lalu ia menyadari bahwa teman-temannya telah mati di hadapannya. Semua tempat itu banyak darah juga tubuh dari pada temannya. 

Justin terduduk dengan kaki gemetar. Wajahnya memucat bagai mayat. Tangan gemetar juga dengan mulutnya. Lalu ia melihat seekor hewan yang menyeramkan tepat di hadapan nya yang sedang menggigit satu temannya tersebut. Ia perlahan meraih tongkat lalu memukul nya dengan sangat keras. 

Justin menjatuhkan tongkjat tersebut ketika hewan itu tidak bereaksi sama sekali dengan pukulannya. Kaki nya semakin gemetar juga lemas. Lalu temanya yang masih hidup meminta Justin untuk lari. Justin yang suda tidak bisa berlari terjatuh. Hewan itu berada di atas Justin. Ia mengelus wajah Justin juga menjulurkan lidahnya yang penjang. Lalu hewan itu melompat keluar dan menghilang ke hutan. 

Justin membuka bajunya berusaha menahan darah yang keluar dari tubuh temannya tersebut. 

"Tidak Justin, sudah terlambat. "

"Tidak ... Tidak ... Tidak!"

"Sampaikan pesanku pada orang tua ku, aku meminta maaf pada mereka. Juga sampaikan pesan pada mereka kalau aku tidak bisa membuat mereka bangga."

"Jangan berkata seperti itu Van! Akan aku bawa kamu ke dokter."

"Tidak Justin, biarkan aku menghembuskan nafas terkahir disini ... Di tempat kita berbagi kenangan sama yang lain, lu jangan jadi orang yang lemah ya Justin! Thank you for your memory."

Hembusan nafas terakhir telah d keluarkan teman Justin. Justin menggoncang tubuh temannya itu berteriak memanggil namanya. Justin yang tidak kuasa menahan airmata pun keluar. Ia menangis sejadi-jadinya. Kini di dada nya seperti ada tancapan besi yang tepat mengenai hati. 

Justin membawa mayat dari temannya tersebut menuju rumah nya. Justin selama perjalanan memandangi wajah temannya dan tidak berhentinya menangis. Sekujur tubuhnya sudah di penuhi bercak darah. 

Sesampai di rumah temannya, ia mengetuk pintu. Pintu di buka kan oleh ibu dari temannya.

"Eh Justin, kenapa? Si Van belum pulang ... Katanya tadi di sekolah Van juga gak masuk."Justin mengeluarkan airmata nya. "Eh Justin kok nangis?"

Justin membuka kain yang menutupi wajah temannya. Betapa terkejut ibunya melihat anak nya di penuhi dengan darah juga banyak luka. Ibu nya menangis lalu terjatuh pingsan kemudian. Tak lama datang ayah nya yang melihat istri tercinta nya telah tidak sadarkan diri. Ia menanyakan kepada Justin namun tak sengaja ia melihat anak nya yang sudah terbaring kaku. Justin membantu membangunkan ibu dari temannya. 

Saat sudah bangun, ibu nya memeluk anak nya dengan isak tangis. 

"Van ... Kenapa kamu duluan yang pergi, Justin ... Ivan kenapa Justin? Ivan masih ada kan? Iya kan?"

Suami nya merangkul istrinya lalu meminta Justin untuk pergi dari rumahnya. Sebelum pergi, Justin diberi tahu ayah temanny itu kalau ia akan melaporkannya ke polisi. 

Justin berjalan dengan firkian yang kosong. Ia mengetuk pintu rumah nya disambut dengan ibu nya yang membuka pintu. Ibu Justin memeluk denga erat. Ia melihat bahwa baju Justin telah penuh dengan darah. Lalu keluar ayah Justin yang dengan cepat menampar Justin. 

"Kau! Kau hanya bisa mempermalukan keluarga! Kenapa ... Kenapa kamu membunuh teman mu itu? Ayah sudah tahu semua, ayah Ivan menelfon dan mengabarkan semuanya. Dia akan menelfon polisi lalu, KAU! Di pastikan masuk penjara." Ayah Justin memegang pipi Justin lalu menarik rambut Justin. Justin hanya terdiam melihat ayahnya, "berulang kali sudah ku bilang jangan berbuat hal yang mempermalukan keluarga! Sekarang ... Sekarang kau lihat, tidak ada yang bisa ku lakukan. AKU AKAN KEHILANGAN DIRIMU JUSTIN! Kau anak yang bodoh." Sekali lagi dengan cepat ayah Justin menampar nya.

Ibu Justin meredakan ayah nya. Ayah Justin duduk dan menangis. Justin mekuaht airmata keluar dari ayahnya. Baru pertama kali ia melihat ayah nya keluar airmata karena dirinya. Justin berlutut perlahan. Ia menempelkan kepalanya ke lantai, lalu meminta maaf.

"Sudah terlambat Justin, sudah terlambat."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status