Share

Unconditional Love for Riski
Unconditional Love for Riski
Author: Queen yu

Bab 1 : Pertemuan yang Tidak di Sengaja.

Di sebuah rumah megah, di Kota Bandung.

Ada seorang laki-laki tampan sedang asik memainkan mainan baru yang baru dibeli oleh sang Kakak. Ia sangat bahagia, saat bisa bermain bersama kakaknya. Namun, saat tengah asik bermain tiba-tiba sang Kakak menerima telepon penting dari klien. Segera mungkin sang Kakak langsung meninggalkan adiknya di rumah seorang diri, karena asisten rumah tangga sedang pergi ke pasar membeli keperluan rumah mereka.

Dia itu dari kecil sudah memiliki sindrom peter pan. Ia sudah berumur 23 tahun, namun sikapnya masih seperti anak yang baru berusia 5 tahun.

Kedua orang tuanya bahkan kakaknya sudah mencari seseorang untuk merawat pria tampan ini. Namun, setiap sudah menemukan orang yang akan merawatnya, mereka tidak bisa bertahan selama sebulan. Ada saja yang dilakukan pria tersebut agar orang-orang yang merawatnya menjadi takut dan membuat mereka tidak betah untuk merawat pria tampan tersebut.

***

Malam hari pun tiba semua orang sudah pulang ke rumah, dan waktunya beristirahat karena lelah seharian bekerja. Pria itu hanya diam di dalam kamarnya, sambil meminum susu yang dibuatkan oleh asisten rumah tangga. Terdengar suara ketukan pintu lalu pria itu segera membuka pintu tersebut.

"Tuan Riski, Nyonya menyuruh untuk ke ruang keluarga," ucap pekerjaan yang mengurus rumahnya.

"Bi, Riski tidak mau bertemu mereka," balas Riski dengan nada seperti anak kecil yang sedang berbicara.

"Tapi nanti Tuan dimarahi Nyonya loh," sambung asistennya sambil mengusap rambut Riski.

"Biarin! Riski ngambek!" balasnya lagi dan menutup pintu kamarnya.

Asisten-nya pun hanya menghela napas dan turun ke bawah, untuk memberitahu majikannya bahwa Riski tidak ingin bertemu mereka. Setelah memberitahu majikannya, mereka pun langsung naik ke lantai atas untuk menemui Riski.

"Hei buka! Ini Ayah!" teriak Tuan Bima.

"Jangan seperti anak kecil, kau sudah dewasa. Kau sudah berumur 23 tahun, haruskah kami memanjakan mu lagi?! Kau tidak tau Ayah dan ibumu capek kalau kau terus seperti ini!" bentak Nyonya Putri yang sudah sangat emosi melihat anaknya yang berbeda dari orang lain.

"Sudahlah Ayah, Ibu.  Mungkin dia cuma ingin bersama kalian, luangkan waktu untuk dia," sahut Adam.

"Tidak ada gunanya meluangkan waktu untuk dia yang berbeda darimu Adam. Dia hanya bisa menyusahkan keluarga ini!" bentak Tuan Bima kepada Adam putra pertamanya.

Riski hanya memeluk lututnya dan entah kenapa air mata tiba-tiba menetes membasahi pipinya. Ia duduk di sudut kamar, karena ketakutan mendengar Ayah dan ibunya sudah membentaknya di depan kamar.

"Me-mang aku ber-beda dari Kak Adam. Ta-pi aku kan juga in-gin disayang oleh Ayah dan Ibu," ucap Riski dengan terbata-bata karena sedang menangis tersedu-sedu.

Hujan telah mengguyur Kota Bandung, petir menyambar pepohonan hingga terjatuh. Riski memasukkan mainan-nya ke dalam tas ransel, tak lupa ia membawa tabungan miliknya. Ia mengikat beberapa kain dan setelah kain tersebut panjang, pria itu langsung mengikat kain tersebut ke pagar balkon kamarnya. Ia turun ke bawah dengan kain tersebut dan pergi dari rumahnya.

"Riski tidak akan mengganggu Ayah, Ibu dan Kakak lagi," ucapnya dan berlari menjauhi kompleks rumahnya.

Baju dan celana bahkan tas-nya sudah basah karena terkena hujan. Ia mencari tempat untuk berteduh, Riski memegang sebuah mainan mobil kecil sambil memakan roti yang ia bawa dari rumah. Namun, tiba-tiba ada beberapa Mahasiswa menatap Riski dengan tatapan jijik.

"Astaga! Mainan apa ini?!" ucap salah satu Mahasiswa membuang mainan Riski.

"Kak itu punya Riski," balasnya mengambil mainan tersebut.

Mahasiswa itu memegangi tubuh Riski dan memukul wajah pria tersebut. Sehingga bibirnya pecah dan mengeluarkan darah.

"Dih! Kau sudah dewasa masih saja memainkan mainan anak kecil! Ah dasar penyakitan," salah satu Mahasiswa kembali menampar wajah Riski.

"Riski tidak pernah mengganggu Kakak, tapi kenapa Kakak jahat sekali padaku?" tanya Riski yang menangis karena wajahnya sudah dipenuhi banyak memar dan bibirnya sudah berdarah.

"Berani kau berbicara padaku!" teriak Mahasiswa yang akan memukul Riski.

Namun, tangan Mahasiswa tersebut ditahan oleh seorang gadis yang menatap mereka dengan tatapan tajam. Gadis itu memegang tangan Riski dan menyembunyikan pria itu di belakangnya.

"Kau!" teriak salah satu Mahasiswa.

"Pergi atau tulang kalian akan aku patah'kan!" bentaknya sambil menekan perkataan tersebut.

Semua Mahasiswa yang membully Riski tadi langsung melarikan diri, agar tidak dipukul oleh gadis yang menolong pria tampan itu. Gadis tersebut mengambil mainan Riski dan memberikannya pada pria yang ada di sampingnya.

"Ini, mainan kamu," ucapnya.

Riski hanya diam dan mengambil mainan-nya sambil memegang wajahnya yang penuh dengan memar, bekas pukulan Mahasiswa tadi.

"Mau ikut dengan ku? Nanti akan aku obati lukamu biar tidak sakit lagi," tawarnya.

Riski mengangguk dan gadis itu pun menggenggam tangan pria tersebut, dan membawanya ke sebuah Minimarket terdekat. Ia membelikan obat untuk mengobati memar di wajah Riski. Ia duduk di sebelah Riski yang sedang memakan es krim, yang dibeli dengan uang tabungannya.

"Kau membeli es krim?" tanya gadis yang menolongnya.

"Iya," balas Riski sambil memakan es krim-nya dan memeluk tabungannya.

"Saya obati wajahmu ya," meminta izin pada Riski.

Ya, pria itu mengangguk dan menatap gadis tersebut. Ia langsung mengobati memar di wajah Riski dan tanpa sengaja ia melihat memar di punggung pria tersebut.

"Ada yang memukulmu selain pria jahat tadi?" tanya gadis tersebut yang penasaran dengan memar di punggung Riski.

"Ibu memukul Riski, karena sudah memecahkan piring-nya. Setiap Riski berbuat salah, kedua orang tua Riski pasti memukul dengan menggunakan kaki atau benda tumpul," ucap Riski dengan polos.

Gadis itu menatap Riski dengan tatapan kasihan dan mengobati memar yang ada di punggung pria itu. Riski secara tiba-tiba memegang pinggang gadis tersebut, dan membuat gadis itu sangat terkejut.

"Kakak tau, aku tidak pernah dipeluk oleh siapapun, karena aku berbeda," jelas Riski dengan nada sedih, sambil memeluk pinggang gadis yang ada di hadapannya.

Gadis itu menepuk pelan punggung Riski dan mencoba menenangkan pria tersebut. Riski pun tertidur pulas di pelukkan gadis yang menolongnya.

"Pria tampan seperti ini disiksa oleh ibunya, hadeh mending jadi suamiku aja, ah mantap," ucap gadis itu mengusap surai Riski yang tengah tertidur pulas.

To be continued

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status